Dibalik keheningan cinta

1497 Kata

Di Dalam Masjid Pesantren Setelah shalat Isya berjamaah, masjid mulai sepi. Barra tetap duduk di shaf paling depan. Tasbih berputar di tangannya, namun suaranya tak terdengar. Hanya air mata yang jatuh tanpa suara. Ia berdzikir dalam hati. > “Ya Allah… jika ini jalan-Mu, maka kuatkan aku. Aku kehilangan orang yang kucintai… tapi aku tak ingin kehilangan Engkau.” Sujud panjang dilakukannya, seperti ingin meluruhkan seluruh luka di lantai suci rumah Allah. Dalam diam, ia berbicara dengan Tuhan, dengan jiwa yang rapuh dan hati yang koyak. > “Aulia… jika kau bahagia bersamanya, aku akan mencoba merelakan. Aku hanya ingin kau bahagia, meski bukan denganku. Aku akan belajar mencintaimu dalam diam, dalam doa, dalam keikhlasan. Ini bukan akhir hidupku. Ini awal dari perjalanan baru—bers

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN