Kupeluk pinggangnya, pelan… malu-malu. Tapi cukup membuatnya menoleh sekilas dan tersenyum melalui kaca spion. Ya Allah, ini nyata, kan? Aku tidak tahu bagaimana masa depan kami nanti. Tapi saat ini, aku tahu satu hal dengan pasti: aku jatuh cinta pada Rafandra. Dan pagi ini adalah awal dari kisah kami yang baru. Langkah kaki mereka terhenti di parkiran kampus, namun genggaman tangan Rafandra pada tangan Aulia justru semakin erat. "Mas, lepasin, ih... malu," bisik Aulia pelan, pipinya mulai bersemu merah. Rafandra menoleh, matanya menatap wajah manis gadis itu penuh makna. "Nggak. Biar semua tahu, kamu milik siapa." Aulia hanya bisa menggeleng kecil. Tak bisa menolak, hatinya sudah terlanjur luluh. Mereka berjalan beriringan, tangan masih bertaut erat. Beberapa mahasiswa yang mengena

