POV Rafandra Langkahku tergesa saat mobil Kak Satria berhenti tepat di depan IGD. Aku segera turun dari mobilku dan berlari menghampiri. Kak Satria membuka pintu belakang, dan aku segera memapah Aulia yang tubuhnya masih gemetar. “Pelan-pelan, Raf,” ucap Kak Alesha yang mendampingi kami dari samping. Aulia bersandar padaku, lemah. Wajahnya pucat, matanya sembab. Tapi genggaman tangannya erat di lenganku, seolah takut jika aku melepaskan. Pintu ruang UGD terbuka. “Pasien perempuan, pingsan di tempat tertutup, mengalami trauma ringan hingga sedang, dan menunjukkan tanda-tanda syok,” ucapku cepat kepada perawat. Tanpa banyak tanya, perawat dan dokter jaga segera membawa Aulia masuk ke dalam. Aku hanya bisa berdiri di ambang pintu, napasku tercekat. “Bapak atau saudara pasien?” tanya se

