Chapter 4 "Niat jahil Arashi"

1123 Kata
Dionald pulang ke rumahnya saat hari sudah sangat gelap. Dia menatap Arashi yang tertidur di samping kursi pengemudi dengan bibir yang sedikit terbuka. Pria itu tersenyum dan segera meraih tubuh mungil anaknya ke dalam gendongannya. Dia menyerahkan kunci mobil pada petugas valet yang ada di mansion, membiarkan pria itu memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Belum sempat pria itu membuka pintu rumah nya, benda itu terbuka lebar dari dalam. "Baru pulang? Semalam ini?" tanya David saat melihat adiknya di depan pintu "Iya. Aku mengantar seseorang terlebih dahulu untuk pulang." jawab Dionald sambil melangkah masuk. Dia menatap Joyceline yang tertidur di sofa, "David, kenapa Joyceline tidur disana? Kalian bertengkar?" tanya nya pada David "Sembarangan!" ketus David. Dia melangkah menuju sofa dan menyimpan buku yang ada di pangkuan Joyceline ke atas meja kecil disamping sofa, "Aku dan Celine ketiduran disini karena menunggumu. Tadi aku mendengar suara mobilmu, karena itu aku terbangun." jelas pria itu "Ah, maaf." sesal Dionald "Jangan di pikirkan. Kau tidurkan saja Arashi di kamarnya, lalu pergi istirahat." perintah David sambil membawa istrinya berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian, pasangan yang satu itu menghilang dibalik pintu. Dionald segera beranjak naik ke lantai dua, dia menatap Arashi yang tertidur lelap. Tadinya, dia akan menidurkan anak itu dikamar yang sama dengan anak David. Tapi niatnya urung saat mengingat jika Arashi sempat demam siang tadi. "Aku takut dia demam lagi malam ini." gumam Dionald. Dia kemudian mengarahkan kakinya untuk memasuki kamarnya sendiri. Pria itu membaringkan Arashi dan mengganti seragam TK anak itu dengan piyama tidur. Dionald mengecup singkat dahi Arashi sebelum akhirnya beranjak menjauh dari ranjang. "Mama..." Pergerakannya terhenti. Dionald melirik Arashi dan menghela nafasnya pelan. "Lagi lagi kau memimpikan Mama mu, ya?" gumamnya "Sayangnya, hasil tes DNA itu belum keluar." lanjutnya pelan Dionald melonggarkan dasi yang dipakainya sebelum akhirnya melepas benda itu dan melemparnya ke sofa. Pria itu berjalan memasuki kamar mandi dan menanggalkan semua pakaiannya. Suara gemerincik air dari shower memenuhi kamar mandi. Dionald berdiri dibawah pancuran dengan mata tertutup. 'Tapi, jika tes DNA itu sudah keluar, apa yang akan aku lakukan?' Arashi adalah anaknya. Dia sangat meyakini hal itu. Tidak ada yang membuatnya ragu tentang kenyataan jika Arashi merupakan darah daging nya. Tapi dia tidak yakin siapa Ibu dari anak ini. Seingatnya, dia hanya melakukan hal itu satu kali dan dengan satu orang. Karena itu, dirinya hanya ingin memastikan melalui tes DNA. 'Apa benar dia sudah meninggal seperti yang dibicarakan oleh pria yang mengantar Arashi saat bayi?' Memikirkannya, Dionald mengacak rambutnya sendiri dengan perasaan kesal. Dia berdecak dan membuka kedua matanya. Dengan tergesa dia menyelesaikan mandi nya dan segera memakai handuk. Pria itu berjalan dan meraih tas kecil milik Arashi. Dia mengambil dompet kecil berisi uang tunai yang selalu disimpannya disana jika sewaktu-waktu Arashi membutuhkan uang untuk membayar taksi seperti tadi. "Uang nya utuh." gumam Dionald sambil kembali menghitung lembaran uang berwarna biru yang ada di dalam dompet kecil itu. "Apa jangan jangan taksi tadi tidak dibayar?" terka Dionald. Tapi sesaat setelah nya dia menggeleng, "Tidak mungkin." Pria itu berjalan menuju ponselnya yang masih berada di dalam tas kerja nya. Dia meraih benda kotak itu dan meminta rekaman cctv halaman rumah sakit pada petugas keamanan. "Perempuan itu yang membayarnya? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku?" ucap Dionald. Dia memijat pelan dahinya dan melempar benda kotak itu keatas sofa. "Tak apa. Aku bisa menggantinya besok." Dionald menghela nafasnya dan berjalan menuju lemari yang ada di kamarnya. Dia meraih piyama dan memakai nya sebelum akhirnya naik ke atas ranjang dan memejamkan matanya, mencoba untuk terlelap menyusul anaknya ke dunia mimpi. *** "Achi, kau tidak perlu pergi sekolah ya? Papa, Mommy dan Daddy sepakat, kau hanya boleh sekolah setelah sembuh total." ujar Joyceline yang tengah menyiapkan sarapan untuk semua orang yang ada di rumahnya. Di meja makan, Arashi memasang wajah mengantuk nya. Dia menoleh kesana kemari mencari sosok pria dewasa yang dia panggil dengan sebutan 'Papa'. "Mommy, mana Papa?" tanya anak itu "Papa, Daddy, main. Lari lari." timpal Izekiel dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh anak anak dan Joyceline "Papa dan Daddy mu sedang olahraga. Tunggu saja. Sebentar lagi pulang." jelas Joyceline sambil tersenyum lembut Arashi menatap Joyceline yang tengah berjalan menuju ke arahnya dengan seulas senyuman kecil. Sejak dia bayi, hanya ini satu satunya perempuan yang menemani dan merawatnya. Sebenarnya, Arashi sangat ingin bertanya. Kenapa ada Mommy dan Daddy, dan hanya ada Papa tanpa Mama. Tapi anak itu mengurungkan niatnya saat menyadari ekspresi Papa nya akan berubah murung jika Arashi membahas tentang itu. "Mommy," panggil Arashi sambil memainkan sendoknya "Ya?" "Jika Achi tidak sekolah, Achi boleh ikut Papa?" tanya anak itu ragu ragu Joyceline menatap Arashi dengan seulas senyuman lembut yang tidak pernah hilang di wajahnya, "Achi, Mommy tidak yakin Papa mu akan menyukai hal ini. Dia akan bilang jika rumah sakit, menjadi tempat yang banyak penyakit nya. Tempat itu kurang bagus untuk Achi." "Jadi... Achi hanya boleh diam di rumah?" tanya Arashi murung "Eumm, bagaimana jika siang nanti kita pergi mengantarkan makan siang untuk Daddy dan Papa mu?" bujuk Joyceline. Perempuan itu mengusap pipi Arashi yang terlihat sedih. "Papa mu mungkin tidak akan suka jika kau berdiam disana dalam waktu yang lama. Tapi jika hanya sebentar, Mommy yakin dia tidak akan keberatan. Bagaimana? Ini lebih baik daripada tidak keluar rumah sama sekali." sambung perempuan yang dipanggil 'Mommy' oleh nya itu Arashi terdiam sebentar. Dia menggembungkan pipinya dan melirik Mommy nya yang terlihat menunggu jawaban dari nya. Hingga sesaat kemudian, anak itu tersenyum lebar. "Mau, mau! Achi mau, Mommy!" seru Arashi pada akhirnya "Bagus! Kita rahasiakan hal ini. Kita akan memberikan surprise pada Daddy dan Papa mu." balas Joyceline "Mommy, tapi Papa tidak akan marah, kan?" ringis Arashi "Papa mu? Marah? Pada kita? Tidak mungkin. Achi adalah satu satunya orang yang tidak mungkin dimarahi oleh Papa. Sedangkan Mommy? Papa mu akan dimarahi oleh Daddy jika dia memarahi Mommy." sahut Joyceline dengan senyuman bangga nya Anak laki laki berumur lima tahun itu terkikik bahagia. Dia berdiri dari kursi makan nya dan melompat ke arah Joyceline, memberikan perlukan hangatnya pada perempuan yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang itu. "Thanks, Mommy. Achi sangat senang." Sesaat setelahnya, pintu rumah terbuka lebar. Izekiel melompat turun dari baby chair nya dan berteriak memanggil Daddy nya. Sementara Arashi menahan senyuman nya, 'Achi bisa bertemu Aunty baik yang kemarin!' pekiknya dalam hati "Achi, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik? Demam mu sudah turun?" tanya Dionald sambil mengusap rambut anak itu "Fine, Papa. Aku lebih baik setelah memakan bubur abalon buatan Mommy!" jawab Arashi Anak itu memandang Joyceline dengan penuh arti. Seolah mengerti maksud dari tatapan Arashi, Joyceline tertawa dan memberikan senyuman riangnya. Menyadari dua hal itu, David mendadak terdiam. 'Apa yang direncanakan Joyceline dan Arashi? Itu kan wajah mereka saat akan membuat ulah. Sayang nya, Dionald pasti tidak mengetahui hal ini.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN