Chapter 3 "Terima kasih, untuk menjaga anakku."

1528 Kata
Dionald melepas snelli yang dipakainya. Dia melipat benda itu dan menyimpannya diatas meja. Pria itu berjalan ke arah sofa dan meletakkan punggung tangannya di dahi Arashi. “Panas nya sudah turun.” Gumamnya “Achi, ayo bangun. Kita pergi makan. Papa lihat bekal mu masih ada di dalam tas.” Ucap Dionald sambil menepuk-nepuk pelan pipi anaknya. Beberapa saat setelah itu, Arashi mulai menggeliat pelan. Bocah lucu itu perlahan membuka matanya dan menatap Dionald dengan seulas senyuman kecilnya. “Papa!” Arashi berseru dan bangkit dari posisinya. Anak itu memeluk leher Dionald dengan erat. “Achi pikir, tadi Achi bermimpi.” Lanjutnya “Apa yang kau mimpikan?” sahut Dionald sambil mengusap dahi Arashi yang basah karena keringat “Mama.” Senyuman Dionald perlahan memudar, tapi saat menyadari jika Arashi memperhatikannya, Dionald kembali mengulas senyumannya. “Ayo kita pergi makan.” Ajak Dionald sambil beranjak dari posisinya. Dia menggenggam tangan Arashi dan hendak berjalan keluar dari ruangan pribadi nya. Sebelum hal itu terjadi, pintu ruangannya terlebih dahulu di ketuk. “Dokter Dionald, saya Ersya.” Seru seseorang dibalik pintu Dionald berdeham, “Masuk.” Dan pintu ruangan terbuka. Perempuan itu masuk ke dalam ruangan dan menebar senyuman nya pada Arashi yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya. “Hai, kau sudah lebih baik?” tanya Ersya sambil menyentuh dahi Arashi Bocah itu mengangguk dan mengerjapkan matanya, “Aunty yang tadi jemput Achi, kan?” Ersya mengangguk dan tersenyum. Pandangannya kemudian mengarah pada Dionald, tangannya terulur memberikan sebuah box berisi makan untuk pria itu. “Apa ini?” tanya Dionald “Makan sore untuk Bapak dan Achi. Kantin rumah sakit terlalu ramai, dan saya tidak yakin Bapak mau makan disana. Jadi saya pergi ke seberang rumah sakit, disana ada yang menjual kotak makan siang. Higienis dan tentu saja pasti akan disukai anak anak.” Jelas Ersya panjang lebar. Dirinya tidak berbohong, dia melakukan hal ini karena tahu betapa mengerikannya rumor yang ada. Belum genap satu hari Arashi ada di rumah sakit ini, rumor sudah mulai berhembus. Dan Ersya tidak akan membiarkan anak itu mendengar semuanya. “Achi mau?” tanya Dionald Anak laki laki itu mengangguk, “Achi mau, Papa. Papa juga sedang bekerja, kan? Jadi Papa tidak akan bisa pergi jauh.” Dionald mengerjapkan matanya, dia menunduk dan menyamakan tingginya dengan Arashi, “Kalau Achi mau yang lain, kita bisa pergi keluar. Papa tidak sibuk.” “No, Papa. Aunty ini bilang jika Papa adalah dokter yang hebat. Karena itu Papa selalu sibuk disini. Dan Achi juga tidak mau merepotkan Papa dengan adanya Achi disini.” Dionald tertegun. Pria itu mengulas senyuman kaku sebelum akhirnya meraih kantung kertas yang ada di tangan Ersya. “Terima kasih. Berapa harga nya? Akan aku ganti.” Ujar Dionald pada Ersya Perempuan itu menggeleng, “Tidak perlu. Itu hadiah dari saya agar Achi cepat sembuh.” Ersya menyentuh pipi Arashi dan tersenyum lebar, “Cepat sembuh, Achi. Aunty harap kau suka makanan nya.” “Terima kasih, Aunty.” Balas Arashi yang langsung diangguki Ersya. Perempuan itu berbalik pergi dan keluar dari ruangan Dionald. “Papa, apa tadi teman Papa?” tanya Arashi pada Dionald Dionald mengangguk, dia membawa Arashi untuk duduk di meja kerja nya. “Kenapa? Dia jahat padamu? Biar Papa pecat dia.” Tanya Dionald “Pecat itu apa?” “Memberhentikan nya dari rumah sakit ini.” Jelas Dionald secara halus Arashi dengan cepat menggeleng, “Tidak, tidak, tidak. Aunty tadi sangat baik. Dia jemput Achi dan melindungi Achi dari orang orang lain diluar sana. Jangan pecat Aunty tadi, Papa.” Larang nya Dionald tersenyum, “Begitu ya?’ “Iya. Aunty tadi mirip seperti Mommy. Achi suka.” **** Jam kerja nya sudah usai. Ersya mengemas semua barang barangnya. Perempuan itu meregangkan tubuhnya sebelum akhirnya keluar dari ruangan perawat. Sesekali dia akan membalas sapaan dari rekan kerja nya. Saat keluar dari rumah sakit, kaki perempuan itu langsung mengarah pada deretan taksi yang ada di halaman rumah sakit. Sesaat sebelum dia benar benar masuk ke dalam taksi, perempuan itu meringis. ‘Aku tidak punya uang.’ “Maaf, Pak. Aku melupakan sesuatu.” Sesal nya pada sang supir sebelum akhirnya menutup pintu mobil. Perempuan itu berbalik dan berjalan menyusuri parkiran rumah sakit. Dia menatap satu persatu mobil yang mulai meninggalkan pelantaran rumah sakit. “Sepertinya aku akan jalan saja.” Gumam nya “Yahh, olahraga malam hari tidak buruk juga.” Lanjutnya Ersya melangkah pelan. Dia bersenandung sambil menatap langit oranye yang mulai menggelap. Perempuan itu berhenti di pinggir jalan, bersiap untuk menyebrang ke sisi lain dari jalan raya dihadapannya. TIN TIN Ersya menatap mobil berwarna hitam yang ada di hadapannya. Dia memundurkan sedikit tubuhnya, mengira jika mobil itu tidak bisa jalan karena terhalang oleh dirinya. Dahinya berkerut saat melihat jika mobil di hadapannya tidak juga beranjak. Sesaat setelahnya, Ersya memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Namun lagi lagi, mobil itu mengikutinya. Ersya menghembuskan nafasnya, dia berniat mengetuk jendela mobil sebelum akhirnya benda itu terbuka, menampilkan Dionald dan juga Arashi yang duduk di dalam nya. “Masuk.” Perintah Dionald “Uh, tidak perlu Pak. Terima kasih.” Tolak Ersya sambil menggeleng dan tersenyum tipis “Masuk, Aunty. Sudah malam, lho~ nanti ada orang jahat.” Ujar Arashi menakut-nakuti “Aku kan sudah besar, nanti orang jahat yang takut padaku.” Sangkal Ersya sambil mengusak pelan rambut Arashi “Orang jahat biasanya lebih besar dari mu. Masuk, aku antar kau pulang.” Desak Dionald Ersya melirik jalan yang akan dia lalui, gelap. Jujur, dia bukan perempuan yang pemberani. Jika ada orang yang berbicara dengan suara keras saja, dia akan takut dan diam diam menghilang. Dan dirinya juga tahu, jika di jalan yang hendak dia lewati juga sering dilalui oleh pria yang mabuk. “Masuk.” Paksa Dionald Ersya akhirnya mengangguk kecil, dia tidak mau naif. Dia takut. “Uhm Pak, saya… duduk dimana?” ringis Ersya Arashi dengan cepat keluar dari mobil, dia mendorong Ersya untuk masuk dan mengisi tempat nya disamping Dionald. “E-eh? Lalu Achi duduk dimana?” tanya Ersya “Achi duduk di pangkuan Aunty, boleh?” balas Arashi Perempuan itu tersenyum dan mengangguk, dia menepuk paha nya pelan, mempersilahkan Arashi untuk duduk disana. “Kemari.” Arashi mengulas senyuman lucu nya dan segera masuk. Dia duduk dengan nyaman di pangkuan Ersya. “Dimana rumah mu?” tanya Dionald “Panti asuhan kasih.” Jawab Ersya Jawaban singkat dari perempuan itu membuat Dionald terdiam sebelum akhirnya mengangguk kecil. Dia mengunci pintu mobil dan mulai melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. “Papa, panti asuhan itu apa?” tanya Arashi “Rumah. Achi tahu? Di dunia ini ada banyak jenis rumah. Mansion, penthouse, apartemen, dan panti asuhan adalah sebuah rumah.” Jawab Dionald “Ahh,” decak Arashi mengerti. Tanpa berkata apapun lagi, anak itu diam dan mengamati lampu jalanan yang dilaluinya. Sesekali, dia akan mengajak Ersya untuk menghitung jumlah mobil yang ada di jalanan berdasarkan warna. “Achi, aku sudah menghitung sampai 12. Bagaimana denganmu?” tanya Ersya “……..” Perempuan itu mengerjapkan matanya, tubuh Arashi rasanya jauh lebih berat. Saat dia membenarkan posisi Arashi, barulah dia mengetahui jika anak itu sudah tertidur pulas. Ersya tersenyum dan menggeser pelan tubuh Arashi, memastikan agar anak itu tidur dengan lebih nyaman. “Dia tidur?” tanya Dionald tanpa mengalikan pandangannya dari jalanan “Iya, sepertinya kelelahan setelah berhitung.” Jawab Ersya. Tangannya dengan lembut mengusap rambut Arashi yang jatuh didahi anak itu. “Maaf ya, dia pasti be-ck, apa lagi ini?” gumam Dionald Mobil yang ditumpanginya dihentikan secara tiba tiba oleh orang orang tidak dikenal. “M-mereka sepertinya bukan orang baik.” Ucap Ersya saat melihat penampilan dari orang orang itu. “Kau tunggu disini. Kunci pintu nya. Jangan dibuka apapun yang terjadi.” Perintah Dionald. Pria itu melepas seatbelt nya dan segera berjalan keluar dari mobilnya. Ersya mengangguk kecil, dia mendekap erat Arashi di d**a nya. Kedua matanya menatap khawatir Dionald yang menghadapi orang orang itu. “Astaga!” pekiknya panik. Dionald dipukul oleh balok kayu berukuran besar saat berbicara dengan mereka. “Aunty…” panggil Arashi. Anak itu mengejapkan matanya pelan. Sebelum Arashi benar benar terbangun, Ersya segera menepuk punggung anak itu. Mencoba kembali membuat Arashi tertidur lelap dan tidak perlu melihat apa yang sedang terjadi. Ersya meringis saat melihat bagaimana perlawanan Dionald terhadap orang orang itu. Sesekali dia akan memejamkan mata saat samar samar terdengar suara pekik kesakitan dari para orang asing itu. Cukup lama Ersya berada dalam posisi itu. Kedua tangannya sudah sangat dingin. Cemas, khawatir, gelisah, semuanya campur aduk. Perempuan itu terperanjat saat mendengar pintu mobil terbuka. Secara naluriah dia merapatkan tubuh Arashi dengan dirinya, melindungi anak itu dari berbagai kemungkinan yang ada. “Ini aku.” Saat mendengar suara yang dikenalnya, barulah Ersya mendesah lega. Perempuan itu menatap Dionald yang sudah kembali duduk di kursinya. “Bapak… baik baik saja?” tanya Ersya “Hm. Mereka bukan apa apa.” Jawab Dionald. Pria itu melirik Ersya yang memeluk hangat anaknya, dia bisa melihat jika perempuan itu benar benar menjaga Arashi dengan baik, orang yang melihatnya pasti akan mengira jika Arashi adalah anak dari Ersya. “Terima kasih.” Ucap Dionald tiba tiba “….untuk?” “Menjaga putraku dengan sangat baik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN