Chapter 6 "Menghemat ongkos"

1094 Kata
"Ersya!" "Ersya!" Dionald berdecak kecil saat melihat Ersya berlari cepat melewati parkiran mobil di pelantaran rumah sakit. Pria itu dengan cepat masuk ke dalam mobil nya dan memutar kemudi untuk menyusul Ersya yang sudah berlari keluar dari rumah sakit. "Ck!" decak Dionald saat kemacetan terjadi di depan nya. Pria itu kemudian keluar dari dalam mobil dan menyusul Ersya yang terlihat mulai kesulitan untuk berlari karena banyak nya orang orang yang ada di tepi jalan. Maklum, ini adalah jam makan siang. Dimana orang orang yang bekerja kantoran akan segera pergi keluar dari tempat kerja mereka dan mencari makanan mereka. "Ersya! Astaga!" panggil Dionald sambil mencekal tangan perempuan itu "Pak Dionald? Kenapa Bapak disini?" tanya Ersya terkejut Dionald berdecak dan menatap sebal perempuan yang ada di depannya itu. Dia membawa Ersya menuju ke mobilnya yang masih terjebak kemacetan. Tanpa berkata apapun, dia mendorong perempuan itu agar masuk ke dalam mobilnya. "Pakai sabuk mu." perintah Dionald "K-kenapa Bapak disini?" balas Ersya "Kenapa kau tidak bilang jika kartumu kau pakai untuk dijadikan jaminan saat menjemput Arashi?" tanya Dionald Ersya menipiskan bibirnya, "Kenapa bapak tahu?" "Arashi yang mengatakannya. Dan kau berniat berlari? Ditengah hari ke sekolah? Ersya, sepuluh menit pun tidak akan cukup!" ujar Dionald "Kenapa bapak mengira jika saya akan berlari? Bisa saja saya naik taksi di depan sana, kan?" sangkal Ersya Dionald mengalihkan pandangannya pada Ersya, "Kau bodoh atau apa? Di halaman rumah sakit, selalu ada taksi yang siap mengantarmu. Kau tidak perlu berlari secepat itu jika memang mau menaiki taksi." tegur nya "Pak, bisa saja saya melakukan itu untuk menghemat ongkos nya, kan? Bapak bisa menurunkan saya di depan." elak Ersya "Dan kau akan semakin hemat jika menurut untuk aku antar. Diam dan duduk saja. Anggap ini sebagai permintaan maaf dan terima kasih ku karena kemarin kau mengantar Arashi padaku." timpal Dionald. Pria itu langsung menginjak gas nya saat jalanan mulai lenggang. Tangannya lihai memutar kemudi, membawa mobil hitam mengkilap itu melintasi jalanan dengan kecepatan sedang. Beberapa menit kemudian, mobil itu memasuki wilayah yang cukup sepi. Dionald memberhentikan mobilnya di depan gerbang dan memperlihatkan tanda pengenalnya pada satpam yang menjaga gerbang. "Oh, tuan Legiond." sapa nya "Tunggu disini." ujar Dionald pada Ersya yang langsung diangguki dengan patuh oleh perempuan itu. Dionald beranjak turun dari mobilnya. Dia berjalan menuju sebuah pos satpam berukuran sedang yang ada di dalam gerbang. "Aku mau bertanya, apa kemarin ada seorang perempuan yang meninggalkan tanda pengenalnya disini?" tanya Dionald Seorang satpam yang berjaga segera mencari barang dimaksud oleh Dionald di sebuah kotak barang. "Hanya ada satu. Apa atas nama 'Ersya'?" tanya satpam itu memastikan "Ya. Apa aku bisa mengambilnya?" balas Dionald "Tentu, tuan. Apa kemarin tuan muda Arashi sampai dengan selamat di rumah?" ucap satpam itu "Iya. Kemarin yang menjemputnya adalah asistenku. Apa kau bisa memasukan nama nya ke dalam nama orang yang teridentifikasi? Agar dia tidak perlu meninggalkan lagi kartu identitasnya disini." tukas Dionald yang langsung diangguki satpam itu Dionald melirik nama Ersya yang ada didalam list. Dia mengangguk dan menggumamkan terima kasih pada satpam tadi sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil. "Ini." ujar Dionald sambil menyerahkan kartu itu pada Ersya "Terima kasih, Pak." sahut Ersya. Perempuan itu langsung memakai kartu identitasnya dan menghela nafasnya lega. Sebelum Dionald sempat memutar kemudinya, sebuah pesan masuk membuat ponselnya berdenting. Pria itu meraihnya dan membaca sebuah pesan dari kakak iparnya, Joyceline. Kau mengantarnya, kan? Jangan memarahinya atau Arashi akan membuatku memarahimu. Jika bisa, kau bawa perempuan tadi dan minta padanya untuk menjelaskan pada Arashi jika kau sudah membantunya. Bukan memarahinya. Psssstt, Arashi terlihat cemas sekali pada nya. Kau yakin jika dia hanya asistenmu? Dionald menggelengkan kepalanya pelan saat membaca pesan terakhir dari Joyceline. Dia bisa membayangkan cengiran lebar perempuan itu saat menulis pesan yang menggoda nya itu. "Nanti, kau harus ikut ke ruanganku." ujar Dionald sambil mulai memutar kemudi dan menginjak gas mobilnya. "Saya? Kenapa?" sahut Ersya "Anakku khawatir jika aku memarahimu. Kau harus bilang padanya jika aku sama sekali tidak memarahimu atau dia akan marah padaku." jelas Dionald "A-ahh, baik." balas Ersya. Perempuan itu menyandarkan tubuhnya dan tersenyum tipis, dia membayangkan ekspresi cemas Arashi yang dilihat nya kemarin. Terlalu menggemaskan. Dia tidak yakin jika dirinya bisa tahan untuk tidak mencubit pipi bulat anak itu. Dionald kembali mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Beruntung, jalanan tidak se macet sebelumnya. Dengan begitu, dia hanya butuh lima menit untuk kembali ke rumah sakit. Beberapa saat setelahnya, mobil Dionald kembali terparkir apik di halaman rumah sakit. Keduanya segera turun dari mobil dan berjalan menuju ruang kerja Dionald. Saat Dionald memasuki ruangannya, dia melihat Joyceline yang tengah memangku Izekiel sambil menenangkan Arashi. "Achi," panggil Dionald "Papa!" Arashi segera turun dari sofa dan berlari untuk melihat Dionald. Kedua mata kecilnya melebar saat melihat Ersya, kaki kecil anak itu berlari dan langsung memeluk kaki Ersya hingga membuat perempuan itu terhuyung. "Papa tidak memarahi Aunty, kan?" tanya nya yang langsung memancing atensi berbeda dari Joyceline dan Dionald. Ersya tersenyum kecil, dia melepaskan pelukan Arashi dan merendahkan tubuhnya, mensejajarkan dirinya dan anak kecil itu. "Tidak. Pak Dionald tidak memarahiku. Dia mengantarku mengambil kartu ini." jawab Ersya sambil memamerkan kartu identitas perawatnya pada Arashi Anak itu mendesah pelan dan menatap Dionald dengan tatapan lucunya. "Maaf, Papa. Aunty tidak salah. Achi yang salah." ucapnya "Bukan, Achi juga tidak salah. Achi, aku bukan orang yang dikenal oleh Ibu Guru di sekolah Achi. Karena itu, meninggalkan kartu seperti ini sudah seharusnya aku lakukan. Jadi ini juga bukan salah Achi." timpal Ersya sambil menyunggingkan senyuman menenangkan nya. "Kau dengar? Papa tidak memarahi nya." ujar Dionald yang langsung diangguki oleh Arashi Joyceline berdeham pelan. Dia tersenyum dan menghampiri Ersya, "Sebagai ucapan terima kasih, pulang kerja nanti, kau bisa mampir ke rumah? Aku akan mengajak mu makan malam." "A-ahh tidak perlu." tolak Ersya dengan halus "Aunty, aunty! Kau harus mau! Jika Aunty menolak, Achi akan sedih." bujuk Arashi Dionald melirik Joyceline, pria itu curiga dengan tujuan dari kakak ipar nya itu. "T-tapi, malam nanti, aku harus pulang. Tidak ada yang membantu Ibu ku di rumah." ucap Ersya canggung "Yahh, kalau begitu lain kali saja. Aku pastikan kau akan datang ke rumah dan kita makan malam bersama." timpal Joyceline yang terlihat kecewa Ersya tersenyum canggung, dia menunduk dan menatap Arashi yang terlihat sama kecewa nya dengan penolakan Ersya. "Achi, aku janji. Nanti, aku akan main ke rumah mu. Tapi untuk sekarang, aku belum bisa. Kau tahu? Ibu ku akan sangat kerepotan jika aku tidak membantunya menyiapkan makan malam." ujar Ersya lembut Arashi mengangguk dengan berat hati. Anak itu berbalik dan memeluk kaki Joyceline dengan perasaan sedihnya. "Maaf, Achi." sesal Ersya "It's okay, Aunty. Maaf aku memaksa." lirih Arashi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN