Ersya mengganti pakaian perawatnya dengan pakaian santai. Perempuan itu memijat pelan bahu nya yang terasa pegal. Ruang loker perawat perempuan terasa sangat sepi malam ini. Mungkin dirinya menjadi yang terakhir berkemas untuk pulang.
Dia mendapat tugas tambahan dari Dokter Dionald. Dokter satu itu bilang itu hukuman karena Ersya terlambat hari ini.
Karena ruang perawat yang kosong, Ersya meregangkan tunuhnya yang pelan dan mendesah kecil saat mendengar bunyi tulang nya yang pegal berderak.
Suara pintu yang terbuka membuat Ersya tersentak kecil. Perempuan itu mengerutkan dahinya. Dia menduga duga siapa yang akan memasuki ruangan ini.
Suara bunyi sesuatu yang diseret, membuat Ersya mendadak diserang ketakutan. Dia pernah mendengar desas desus soal hantu yang katanya menghuni rumah sakit ini. Seorang perawat perempuan pernah ditemukan pingsan di ruang loker, saat sadar, dia terlihat sangat ketakutan. Hingga akhirnya, perawat itu memutuskan untuk keluar dari rumah sakit.
Ersya menelan ludahnya gugup. Dia berjalan mundur, hendak bersembunyi diruang peralatan kebersihan jika sekiranya sesuatu yang tadi membuka pintu dan bergerak ke arahnya tadi adalah hantu yang dimaksud oleh para rekan sesama perawatnya.
Ersya bergerak perlahan memasuki gudang peralatan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memutar kunci pintu dan mengunci dirinya sendiri dari dalam.
"Mana perempuan sialan itu?! Jalang miskin! Dia membuatku dipermalukan dokter sialan itu di sidang hari ini!"
Ersya mengerutkan dahinya saat samar samar mendengar suara gumaman dari luar ruangan. Kali ini, dia yakin jika itu bukanlah hantu, melainkan sesuatu yang lebih mengerikan dibandingkan hantu.
Suara serak seseorang yang diyakini Ersya sebagai Profesor Edward itu terdengar semakin dekat. Ersya memejamkan matanya ketakutan.
Dari ucapan pria itu, sudah jelas mengarah pada dirinya. Dialah yang sudah membuat Profesor tua itu dipermalukan oleh Dionald. Dan sekarang, dirinya menjadi target dari pria tadi.
Karena ketakutan, Ersya menjadi ceroboh. Dia berjalan mundur dan menjatuhkan peralatan kebersihan yang tergantung di dinding. Suara nyaring itu membuat langkah profesor Edward berhenti di depan gudang tempat Ersya bersembunyi.
"Ohh, disini kau rupanya?"
Ersya meremat tangannya. Baru kali ini dirinya merasa sangat ketakutan. Bulir keringat sebesar biji jagung menetes di dahi Ersya.
Perempuan itu melirik sebuah jendela ventilasi yang ada dibagian atas rak. Tapi mustahil baginya untuk masuk dan bersembunyi disana.
Suara pintu yang berusaha di dobrak dari luar, membuat Ersya berjengit kaget. Dia menutup bibirnya sendiri rapat rapat. Berdoa dan memohon agar pintu itu bisa kuat menahan dobrakan Profesor Edward.
Atau jika di bolehkan, Ersya memohon agar ada orang baik yang bisa menolongnya keluar dari sini.
BRAKK
BRAKK
Pintu itu terlihat hampir terbuka.
Dan benar saja. Beberapa saat seyelahnya, pintu gudang terbuka lebar. Menampilkan Profesor Edward yang mendobrak pintu menggunakan sebuah alat pemadam kebakaran.
Profesor tua itu menyeringai melihat Ersya yang terpojok ketakutan.
"Karena kesalahan perempuan sialan seperti mu, kau membuatku dipermalukan oleh dokter sombong itu." ujar Profesor Edward
"Bagaimana cara mu menebus harga diriku yang tercoreng?"
Ersya menggelengkan kepalanya, "Maaf, Pak. Tapi saya juga tidak tahu kenapa Dokter Dionald membela saya."
"Benar. Dia bukan tipe orang yang suka membela orang lain." sahut Profesor
Aroma alkohol tercium kuat dari pria itu, membuat Ersya menutup hidungnya.
"Kau tidur dengannya, kan?"
"A-apa? Tentu saja tidak!"
"JANGAN BOHONG!" bentak Profesor Edward
Ersya mulai diserang ketakutan, perempuan itu mengepalkan tangannya, bersiap untuk memukul Profesor Edward jika pria itu melakukan hal hal tercela.
"Ya, benar. Kau cukup tidur denganku. Maka aku akan melepaskanmu. Seperti biasanya." ujar Profesor Edward
Ersya menggelengkan kepalanya jijik. Dia berteriak saat Profesor tua itu mulai berjalan mendekatinya sambil membuka satu persatu pakaiannya.
"TOLONG!" jerit Ersya
Mata perempuan itu mulai memburam. Tangannya gemetar dan isak tangis mulai terdengar darinya. Mustahil untuk melawan. Kaki dan tangan Ersya bahkan sudah tidak bisa bergerak.
Tepat sebelum pria tua itu menyentuh Ersya, seseorang datang dari belakang dan langsung menghantam leher Profesor Edward dengan alat pemadam kebakaran.
"KELUAR!" teriak Dionald pada Ersya
Pria itu berdecak saat melihat Ersya yang membatu. Dia menendang tungkai kaki Profesor Edward yang sedang lengah karena kesakitan dan langsung menarik lengan Ersya untuk keluar dari gudang.
Dionald melirik celana dan kemeja milik Profesor Edward yang tergeletak di lantai. Pria itu menendang kain itu keluar gudang dan segera mengunci pintu dari luar. Membiarkan pria tua tadi terkunci di dalam dengan keadaan setengah telanjang.
Dionald menstabilkan nafasnya. Dia menatap Ersya yang gemetar ketakutan. Tanpa berkata apapun, dia memindai Ersya yang masih memakai pakaian lengkap.
'Aman.' pikir Dionald
"DOKTER SIALAN! BUKA PINTU NYA!" bentak Profesor Edward dari dalam gudang
Dionald melirik singkat gudang sebelum akhirnya berjalan ke sudut lain ruang loker dan mengambil gembok beserta rantai untuk mengunci lebih kuat pintu gudang.
"Ayo pergi. Biarkan saja dia." ajak Dionald
Melihat Ersya yang hanya diam ditempat dengan nafas yang terengah parah, Dionald mengerutkan dahinya.
"Kau baik baik saja?" tanya Dionald
Ersya mengangguk kecil. Namun sesaat kemudian, tubuhnya yang lemas langsung limbung dan hampir jatuh mencium lantai seandainya Dionald tidak bergerak cepat meraihnya.
"Ersya, Ersya!" panggil Dionald saat melihat perempuan itu mulai memejamkan matanya dengan nafas yang masih tidak beraturan.
Dionald berdecak. Dia berlari menuju ruangannya sendiri. Sesampainya disana, dia segera membongkar obat obatan yang ada. Dari gejala nya, dia tahu ada yang salah dengan pernafasan Ersya. Entah serangan panik atau apa, tapi dengan keringat dan nafas yang tidak teratur, dirinya bisa memberikan penanganan pertama pada perempuan itu.
"Ersya, Ersya! Dengar saya." ujar Dionald sambil menepuk nepuk pelan pipi Ersya
Saat perempuan itu membuka matanya dengan perlahan, Dionald segera menyodorkan inhaler untuk di hirup perempuan itu untuk membantu nya bernafas.
"You okay?" tanya Dionald saat nafas Ersya mulai stabil
Ersya melirik Dionald dan mengangguk kecil. Dia menggenggam erat inhaler yang tadi disodorkan Dokter itu padanya.
"Terima kasih, Pak." gumam Ersya
Dionald terdiam dan mengangguk. Dia menarik kursi dan duduk dihadapan Ersya yang terdiam di sofa dengan pandangan kosong.
"Jangan di pikirkan." ujar Dionald
"Ya?" sahut Ersya pelan
"Peristiwa tadi, jangan di pikirkan. Aku pastikan pria tua itu mendapatkan pelajaran yang setimpal. Besok, aku akan memanggil Polisi. Semua bukti sudah cukup untuk menyeretnya masuk ke dalam penjara." jelas Dionald. Pria itu menyugar rambutnya ke belakang. Pandangannya mengarah pada sebuah USB berisi bukti rekaman cctv.
"Satu kejahatan tidak akan membuatnya di hukum lama, Pak Dionald." gumam Ersya
"Apalagi, yang menjadi korban adalah aku. Walau fakta ini pahit, tapi orang sepertiku tidak akan mendapatkan keadilan yang semestinya. Uang bisa menyelesaikan kasus ini." lanjut Ersya
Dionald meraih USB itu, "Ini bukan pertama kalinya. Profesor Edward pernah melecehkan seorang Perawat. Kau tahu rumor tentang hantu? Itu bukan hantu sungguhan. Itu Profesor Edward. Rumor tentang hantu itu dia sebarkan untuk menutupi sikapnya." timpal nya
Pria itu melepaskan snelli nya, melipat jas dokter itu dan menyimpannya di loker yang ada di ruangan miliknya.
"Dan lagi, yang akan melaporkannya adalah aku." lanjut Dionald
Dia menoleh pada Ersya dan tersenyum tipis, "Ayo. Aku perlihatkan padamu bagaimana uang bekerja untuk membuat pria tua m***m itu dihukum semestinya."
***
"Pantas saja Ayahku cepat kelelahan. Kalian memanggil pengacara seenaknya. Jam kerja kami bahkan sudah berakhir jam 5 sore tadi." keluh Arthur, anak dari pengacara keluarga Legiond.
"Ini baru jam sembilan malam. Kau harus memastikan agar Profesor Edward di hukum dengan berat." tukas Dionald
"Gila! Apa yang pria m***m itu lakukan?" seru Arthur saat melihat kemeja dan celana yang berantakan di gudang
"Dia korbannya. Kau bisa menjadikannya saksi untuk memberatkan hukuman." sahut Dionald sambil mengendikan dagunya pada Ersya yang berdiri di depan ruang loker perawat, enggan untuk masuk dan mengikuti Dionald serta pengacara itu.
"Baik. Aku akan menanyainya nanti. Bukti yang ada di USB mu, kesaksiannya, percobaan pemerkosaan dan menerobos masuk ke ruang loker perempuan bisa membuatnya di hukum cukup berat. Tapi dengan statusnya, aku tidak yakin." jelas Arthur
"Lakukan seperti biasa." sela Dionald
"Okay, The Power of Money." balas Arthur
"Oh iya, kau tidak berniat mengeluarkan nya dari gudang? Atau melaporkannya sekarang?" tanya Arthur
Dionald mengendikan bahunya, "Besok saja. Rumah sakit akan mengalami kehebohan besok. Dengan begitu, semua orang akan menantikan kasus ini. Akan mustahil bagi pihak Profesor Edward untuk menyuap hukum. Atensi publik mengarah padanya."
"Yahh, seperti biasa. Semua keluarga Legiond paham betul akan hukum dan cara menciptakan peluang besar untuk menang." decak Arthur
"Sudahlah. Ayo keluar. Tinggalkan saja dia." ajak Dionald. Sebelum dia keluar, dia menoleh pada Arthur yang tengah menyiapkan notebook dan pena, "Oh iya, aku juga meminta agar kau merahasiakan identitas saksi."
"Baik, Tuan Legiond." sahut nya