Chapter 8 "Makan malam dan mansion Legiond"

1547 Kata
Dionald melirik Ersya yang berjalan dengan perlahan. Keduanya dan juga Arthur, tengah berjalan menuju halaman rumah sakit. "Pak," panggil Ersya "Hm." "Kenapa Bapak bisa ada disana? Setahuku, dari ruangan Bapak, Bapak tidak perlu melewati ruang loker untuk menuju parkiran." tanya Ersya "Aku ada keperluan denganmu. Jadi aku mengecek ruang loker karena mengetahui kau akan disana sebelum pulang." jawab Dionald Pria itu menatap Arthur, "Bagaimana? Sudah?" "Sudah. Aku akan segera mengurus ini besok sebagai Pengacara rumah sakit." ujar Arthur. Dia menatap Ersya dan tersenyum, "Terima kasih atas kesaksianmu. Sesuai janjiku pada Tuan Legiond, identitasmu akan aku rahasiakan. Kau bisa pulang dan berpura pura tidak mengetahui apapun." "Aku pulang dulu. Besok akan menjadi hari yang panjang untuk berdebat. Ngomong ngomong, kau tidak melakukan apapun pada pria tua tadi, kan? Karena jika kau memukulnya, itu akan membuatku memutar otak untuk mencari alasannya." tanya Arthur pada Dionald Yang ditanya mendadak terdiam. Dia berdeham, "Bilang saja itu bentuk perlawanan dan membela diri." "Astaga... sekarang aku mengerti kenapa Ayahku ingin resign, namun urung karena dia sudah mengabdi untuk keluarga Legiond selama bertahun tahun." decak Arthur sambil memijat dahinya "Ya sudahlah. Aku akan pulang dan mengurus hal ini." pamitnya sambil berjalan cepat menuju mobil nya yang terparkir disamping mobil Dionald. Pria itu melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan Dionald dan Ersya berdua. "Aku mau memberikan ini." ujar Dionald sambil menyerahkan tiga lembar uang berwarna merah pada Ersya. "A-apa ini?" tanya Ersya "Uang. Apalagi?" balas Dionald "Bukan, Pak. Maksudnya, untuk apa?" ralat Ersya "Untuk membayar uang taksi saat menjemput anakku. Saya lihat uang yang saya simpan di dompetnya masih utuh. Jadi pasti kau yang membayarnya." ujar Dionald Mendengar itu, Ersya sontak menggelengkan kepalanya. Menolak uang yang diberikan Dionald padanya. "Tidak perlu. Lagi pula, aku menjemputnya atas inisiatif sendiri. Jadi Pak Dionald tidak perlu menggantinya." tolak Ersya "Ambil, Ersya. Saya memaksa." tegas Dionald Ersya menggelengkan kepala nya, masih enggan menerima uang yang di sodorkan pria itu. Dionald menatap datar Ersya. Harus dia akui, perempuan ini sangat keras kepala. "Baik. Bagaimana dengan makan malam di rumahku? Sebagai ucapan terima kasih. Untuk yang satu ini, aku tidak mau mendengar penolakan." putus Dionald "Siang tadi, aku sudah bilang jika aku harus membantu Ibu Panti..." gumam Ersya "Tapi sekarang sudah jam sembilan malam. Apa ini jam makan malam di rumahmu? Aku tahu, disana makan malam dilakukan jam 7 malam. Kau sudah terlambat." tukas Dionald "Bagaimana dengan jam makan malam di rumah bapak? Bukannya sama saja?" tanya Ersya. Masih mencoba menolak ajakan Dionald. "Asal kau tahu, beberapa menit yang lalu Joyceline memberitahuku jika makan malam sudah siap. Dia menyuruhku cepat pulang agar bisa makan malan bersama. Jam makan malam di rumah ku cukup fleksibel." balas Dionald "Selain itu, memang nya kau mau pulang sendiri? Kau tahu, ini sudah sangat larut." lanjut Dionald. Pria itu tersenyum tipis, sangat tipis saat melihat Ersya yang mulai terlihat ketakutan sambil menatap sekitar. "Saya bisa memakai taksi." sangkal Ersya "Kau punya uang?" tanya Dionald Pertanyaan telak yang langsung membuat Ersya terdiam. Benar, dia tidak punya uang. Uang terakhirnya dia pakai untuk membayar taksi saat menjemput Arashi, dan uang tabungan yang dia sisihkan dia belikan sarapan untuk anak anak Panti pagi tadi. "Sudah. Masuk. Jangan khawatirkan orang rumahmu. Aku akan mengurusnya." perintah Dionald yang langsung dituruti Ersya dengan kikuk 'Bagaimana pria ini tahu aku tidak punya uang?' pikir Ersya Dionald berputar dan memasuki mobilnya. Dia melirik singkat Ersya dan setelah memastikan sabuk perempuan itu terpasang rapi, dia segera menginjak gas mobilnya. Mobil hitam itu melaju, membelah malam dengan kecepatan yang standar. "Pak," panggil Ersya "Panggil namaku saja. Walau sudah memiliki anak, aku tidak mau dipanggil bapak-bapak." sahut Dionald "P-Dionald." ulang Ersya "Nanti, saya akan mengganti inhaler ini. Maaf karena merepotkan." lanjut Ersya "Tidak perlu menggantinya. Anggap saja itu treatment yang diberikan rumah sakit untuk merawat pekerja nya." tolak Dionald "Oh, dan jangan terlalu formal. Biasa saja. Ini sudah diluar rumah sakit. Kau bisa menggunakan kata 'aku' sebagai pengganti 'saya'. Senyaman mu saja." tambah pria itu yang diangguki oleh Ersya Perempuan itu tersenyum tipis dan menatap inhaler yang ada di tangannya. Dia merapatkan selimut tipis milik Dionald yang tadi diberikan pria itu saat melihat tubuhnya gemeter ketakutan. "Terima kasih." ucap Ersya Perempuan itu menatap Dionald dan tersenyum tulus, "Aku tidak tahu... apa jadinya jika tadi kau tidak menolongku." Dionald terdiam dan menatap Ersya, kebetulan lampu lalu lintas sedang merah. Dia bisa mengalihkan perhatiannya sebentar pada perempuan itu. "Tidak masalah. Aku tidak seburuk yang orang orang katakan. Kau bisa meminta bantuan padaku jika memang kau berada di keadaan yang mendesak seperti tadi." sahut Dionald. Dahi Dionald berkerut pelan, entah kenapa dia merasa familier dengan Ersya. Sikap tenang nya, sikapnya saat ketakutan, terlebih senyuman itu. Entah dimana. Tapi yang jelas, Dionald merasa pernah melihatnya. "Ersya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Dionald Ersya menggelengkan kepalanya, "Sepertinya tidak. Kita bertemu sekitar dua tahun lalu? Saat tuan David tertembak. Itu seminggu setelah aku menjadi diangkat menjadi asistenmu." Dionald mengetukkan jarinya di roda kemudi nya. Dia mengangguk kecil dan menginjak gas mobilnya saat melihat lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. "Memangnya, ada apa?" tanya Ersya "Tidak. Aku hanya merasa pernah melihatmu. Entah dimana." jawab Dionald. Pria itu terdiam selama beberapa saat, "Atau kau punya kembaran?" Ersya termenung sebelum akhirnya menggeleng, "Sepertinya tidak. Sejak bayi, aku tinggal di panti asuhan. Tapi aku tetap tidak yakin jika aku punya kembaran." jelasnya "A-ahh, maaf. Lupakan perkataan ku tadi. Mungkin aku memang pernah melihatmu sekilas di suatu tempat." sesal Dionald Ersya mengangguk. Dia mengalihkan perhatian nya ke jalanan malam hari yang cukup lenggang. Entahlah, dia tidak pernah memikirkan jika dirinya memiliki kembaran. Untuk berfikir jika dirinya memiliki keluarga saja, dia enggan. Hatinya sakit, sekaligus bertanya tanya apa yang membuat mereka membuang nya ke panti asuhan. Kerlap kerlip lampu dari gedung bertingkat mulai menghilang. Tergantikan dengan kegelapan dari hutan yang ada di dataran tinggi, tempat dimana mansion mewah milik keluarga Legiond berada. Suara deru mesin adalah satu satunya hal yang bisa Ersya dengar. Perempuan itu mengarahkan perhatiannya pada tiang lampu jalanan dan bulan yang terlihat sangat terang menerangi hutan itu. Beberapa saat setelahnya, kedua netra Ersya mulai dimanjakan dengan kilauan lampu dari sebuah bangunan besar yang terhalangi oleh gerbang tinggi nan kokoh. Ersya memandang takjub tempat itu. Ada lambang L besar yang terlihat mewah dibagian tengah gerbang. Tanpa perlu bertanya, perempuan tahu jika ini adalah kediaman Dionald. Dia melirik Dionald yang tengah menyetir. Bagaimana pria itu terlihat sangat cocok dengan kemewahan yang ada di sekelilingnya. Sebelumnya, dia memang mengetahui tentang siapa keluarga Legiond. Tapi untuk mansion, dia baru mengetahui nya. Ternyata keluarga dokter Dionald se-istimewa yang dikabarkan banyak orang dan media. Mobil itu mulai memasuki halaman rumah. Mobil berputar mengelilingi sebuah pancuran dengan patung cupid di bagian atasnya sebelum akhirnya berhenti di sebuah rumah yang ada di samping kiri rumah utama. Rumah Dionald, yang tidak kalah mewah dengan rumah utama. "Ayo turun." ajak Dionald pada Ersya Perempuan itu mengangguk dan langsung turun dari mobil. Dia berjalan mengikuti langkah tegap Dionald yang menaiki tangga untuk mencapai beranda rumah. "Papa!" "Oh? Achi? Kau belum tidur?" tanya Dionald sambil meraih tubuh anaknya. "Belum! Achi menunggu Papa." jawab Arashi. Anak itu terlihat menyunggingkan senyuman riang nya. Sesaat kemudian, barulah bocah lucu itu baru menyadari ada seseorang yang ikut dengan Papa nya ke rumah. "WHOAH! AUNTY!" serunya "Kau terlihat lebih senang melihat nya dibandingkan Papa mu." timpal Dionald yang telinga nya berdenging karena mendengar seruan Arashi "Hai Achi," sapa Ersya "Malam ini, Aunty akan makan malam disini. Jadi kau harus bersikap baik, ya?" ujar Dionald yang langsung diangguki dengan semangat oleh Arashi Bocah itu meronta, meminta di turunkan dari gendongan Dionald sebelum akhirnya berlari menghampiri Ersya dengan semangat. "Ayo, Aunty! Kita masuk! Tadi Achi membantu Mommy menyiapkan piring dan sendok." ucap Arashi sambil terpekik senang. Dia menarik tangan Ersya dan membawa perempuan itu masuk ke dalam rumah tanpa menghilangkan senyumannya. "Mommy! Mommy! Lihat siapa yang datang!" Samar samar, terdengar Arashi yang berteriak memanggil Joyceline. Diluar, Dionald tersenyum. Untuk beberapa hal, Arashi terlihat sangat tertarik pada Ersya. Entah apa alasannya. "Dia bahkan melupakan Papa nya." gumam Dionald Pria itu menggeleng pelan sebelum akhirnya menyusul untuk masuk ke dalam rumah. Dia kembali disuguhkan dengan pemandangan Ersya yang tengah memangku Arashi di meja makan. Perempuan itu berbincang dengan Joyceline. "Siapa? Pacarmu?" tanya David sambil berjalan menuju Dionald Dionald menggelengkan kepalanya pelan, "Asistenku." "Aneh. Arashi langsung menempel padanya. Joyceline juga bercerita jika Arashi terlihat seperti sudah mengenal perempuan itu bertahun tahun." timpal David "Aku juga aneh." gumam Dionald. Dia menyimpan tas miliknya diatas sofa dan melonggarkan dasinya, "Oh iya. Ada yang ingin aku bicarakan nanti padamu." David mengangguk, "Tentu. Tapi ayo kita makan malam terlebih dahulu. Iel baru saja tidur. Jadi kita bisa makan bersama." Kedua pria itu berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi yang kosong. "Achi, setelah makan malam, kau harus tidur ya? Besok kau kembali ke sekolah." pinta Dionald yang langsung disahuti dengan anggukan oleh anak itu "Siap, Papa!" serunya Ersya tersenyum, dia mengusap lembut rambut Arashi dan kembali menyuapi anak itu dengan sup jagung yang hangat buatan Joyceline. Perhatian kecil itu tidak lepas dari pandangan Joyceline. Perempuan yang menjadi Ibu dari satu anak itu diam diam mengamati perlakuan hangat dari Ersya untuk Arashi. 'Ini aneh. Keduanya sangat cocok. Dibanding perhatian orang asing pada seorang anak kecil, aku melihat ini sebagai perhatian seorang Ibu pada anaknya sendiri. Rasanya berbeda.' 'Tunggu! Atau jangan jangan...'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN