"Ersya, kau tidak mau menginap?" tawar Joyceline. Perempuan itu menatap derasnya hujan dari balik jendela ruang makan.
Mendengar itu, Ersya turut menatap jendela. Dahinya berkerut samar saat melihat hujan deras yang mengguyur wilayah nya.
"Menginap?! Daddy, apa artinya?" tanya Arashi pada David dengan heboh
"Menginap artinya tidur sementara disini." jawab David
"Apa?! Aunty mau tidur disini?!" pekik Arashi riang. Kedua sudut bibirnya terangkat tinggi hingga matanya menyipit.
"Uhm, aku tidak yakin." gumam Ersya ragu
"Aunty, aunty! Ayo menginap! Kita bisa tidur di kamarku!" seru Arashi. Anak itu berdiri di kursi makan dan menggoyangkan pelan bahu Ersya dengan antusias.
"Tidak mungkin di kamarmu, Achi. Kau ingat? Tempat tidurmu itu sangat kecil." sangkal Joyceline sambil tersenyum kecil melihat antusiasme Arashi. Dia turut senang melihat kedua mata Arashi yang berbinar senang.
"Aunty, ayo bacakan aku cerita." ajak Arashi. Anak itu turun dari tempatnya duduk dan langsung menarik tangan Ersya untuk menuju kamar di lantai dua.
Dahi Dionald berkerut saat menyadari jika anaknya mengajak Ersya untuk masuk ke kamarnya.
"Dionald, kamarmu tidak berantakan kan?" tanya David yang juga menyadari arah kepergian Arashi dan Ersya
"Uh, tidak. Kamarku selalu rapi." jawab Dionald
Joyceline mengusap tangannya yang basah dengan handuk bersih. Dia berjalan menghampiri Dionald dan David yang sudah berpindah ke ruang keluarga setelah selesai makan.
"Apa yang terjadi? Bukannya siang tadi dia bilang jika dia tidak bisa datang kesini?" tanya Joyceline sambil mendudukkan dirinya di samping David. Tangan perempuan itu merangkul lengan David dan menyandarkan kepalanya di bahu suami nya itu.
"Aku butuh bantuanmu." ujar Dionald sambil menatap serius David
"Bantuan apa?" sahut David
"Kau ingat rumor tentang hantu yang aku ceritakan padamu?"
"Ohh, hantu m***m yang katanya suka berkeliaran di loker perawat? Kenapa? Apa hantu itu terlihat lagi?" balas David. Dia mengerutkan dahinya, "Jika soal hantu, seharusnya kau tidak meminta bantuanku. Tapi pada Paranormal."
"Paranormal apanya? Dia bukan hantu! Tapi Profesor tua yang angkuh itu. Dia menjadi alasan kenapa tahun lalu, banyak perawat yang ditemukan ketakutan di ruang loker. Dan kali ini, asistenku yang hampir menjadi korbannya." jelas Dionald
"Ersya? Serius?" tanya Joyceline
"Hm. Karena itu aku minta bantuanmu. Aku juga sudah menghubungi Arthur. Aku harap kau dan dia bisa bekerja sama untuk membuat profesor m***m itu mendekam di penjara. Aku juga sudah memberikan USB bukti nya pada Arthur. Dia akan segera menyerahkannya padamu besok." ujar Dionald
Joyceline dan David saling menukar tatapannya. Perempuan itu menahan senyumnya dan menaikan satu alisnya, mengkode David untuk turut menggoda Dionald.
"Hooo, apa ini? Sejak kapan kau peduli sebegini nya pada orang lain?" goda David
"Sebenarnya, ini juga kesalahanku. Aku sempat menyulut emosi Profesor Edward. Dan karena dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya padaku, dia jadi menargetkan asistenku." sangkal Dionald
"Oh iya. Dionald, apa tadi kau melihatnya?" tanya Joyceline
"Melihat apa?"
"Senyuman Arashi, sekilas terlihat mirip dengan Ersya. Pipi nya langsung terangkat dan gummy smile nya terlihat menggemaskan." jelas Joyceline
"Mungkin." timpal Dionald singkat. Dia terdiam sebelum akhirnya kembali menatap Joyceline, "Wajah nya terlihat tidak asing. Tapi aku juga tidak pernah melihat dia sebelumnya."
Joyceline mengangguk mengerti. Dia menguap kecil dan memejamkan matanya. Rasa kantuk mulai menyerang dirinya.
"Mau tidur?" tanya David
"Huum. Aku mengantuk." gumam Joyceline
"Ayo pindah." ajak David
"Gendong!" pinta Joyceline
David dengan cepat langsung meraih tubuh Joyceline. Pria itu mengecup singkat bibir Joyceline sebelum akhirnya kembali melangkah menaiki tangga.
Interaksi manis itu memancing ekspresi sebal dari Dionald. Dokter muda itu meregangkan tubuhnya sebelum turut melangkah menuju ke lantai dua. Dia mengacak pelan rambutnya, dan membuka pintu kamarnya.
Sebelum pintu itu terbuka sepenuhnya, Dionald bisa melihat pemandangan kamarnya dari celah pintu yang terbuka.
Dahinya berkerut samar. Pria itu berjalan masuk dengan perlahan ke kamarnya tanpa suara.
"Sudah tidur?" gumamnya
Dionald tersenyum tipis. Dia menatap Ersya yang tertidur pulas sambil memeluk Arashi. Di tangan perempuan itu, ada sebuah buku cerita milik anaknya. Buku itu masih terbuka lebar, menampilkan halaman sepuluh dimana sepasang anak dan ibu kelinci tengah saling berpelukan.
Dionald menatap Arashi. Dia mengusap rambut anaknya dan mengecup singkat dahi bocah itu dengan lembut.
Pria itu meraih dengan hati hati buku cerita yang dipegang Ersya. Dia menyimpan buku itu diatas meja sebelum akhirnya menyelimuti keduanya dengan selimut yang hangat.
Setelahnya, Dionald beranjak meraih selimut dan bantal cadangan yang ada di lemari kamarnya. Dia berjalan menuju sisi lain ranjang dan menjadikan selimut miliknya sebagai alas tidurnya. Sebelum tidur, Dionald mengganti kemeja kerja nya dengan kaos dan celana training.
Dia hendak menidurkan dirinya, ketika netra nya menangkap sebuah ruang kosong diatas nakas.
"Oh, aku lupa mengambil air." ucap Dionald. Pria itu, kembali bangkit dari tempatnya. Dia berjalan keluar dari kamar dan turun ke lantai satu.
"Astaga!"
Dionald tersentak kecil. Dia menatap terkejut Joyceline yang berada di dapur, tengah mengambil sebotol air minum dari kulkas.
"Kau kira aku hantu?!" pekik Joyceline dengan suara tertahannya
"Oh iya. Mana Ersya? Dia jadi pulang? Tidak menginap?" tanya Joyceline
"Dia sudah tidur." sahut Dionald sambil menggaruk tengkuknya
"Tidur? Di kamarmu?" tanya Joyceline
"Hm."
"Lalu kau tidur di mana?"
"Dibawah. Aku akan tidur di lantai. Bagaimana pun, kadang Arashi akan terbangun dan mencariku. Jika aku tidur di ruang tamu, aku takut Arashi akan menangis." jelas Dionald
Joyceline mengangguk kecil, "Baiklah. Selamat malam, Dionald. Mimpi indah."
"Malam, Joyceline."
***
"Mama..."
Ersya menunduk, kedua matanya yang sayu menatap seorang anak yang bergumam dengan mata terpejam. Perempuan itu mengumpulkan kesadarannya.
Hingga beberapa saat kemudian, dia tersentak kecil. Perempuan itu bangkit dari posisinya dan menatap sekeliling kamar yang terlihat asing.
Tatapan Ersya kembali mengarah pada seorang anak laki laki yang memeluknya. Dia tersenyum tipis dan mengusap rambut lebat Arashi.
"Mama..." bisik Arashi. Dia bergerak gelisah, seolah mencari seseorang dalam mimpinya.
Ersya menggenggam tangan anak itu dengan erat. Dia bergumam, menyahuti panggilan Arashi untuk membuat anak itu berhenti gelisah dalam tidurnya.
"Jangan pergi."
"MAMA!"
Ersya langsung memeluk Arashi saat anak itu tersentak dan terbangun dalam tidurnya. Tubuh anak itu bergetar hebat, bersamaan dengan isak tangis Arashi yang mulai terdengar dini hari itu.
"Achi, sayang." ucap Ersya
"Mama?" panggil Arashi. Anak itu mendongkak, menatap kedua mata jernih Ersya dengan linglung, seolah berharap agar perempuan itu menyahuti panggilan nya.
Seolah mengerti dengan keinginan Arashi, Ersya mengangguk kecil. Dia menyatukan dahinya dengan dahi Arashi dan menggumamkan kata kata menenangkan pada anak itu.
"Jangan menangis." bisik Ersya
Arashi naik ke pangkuan Ersya, dia memeluk perempuan itu dengan nyaman. Seolah merasa jika dia sudah bertemu dan mengenal perempuan itu bertahun tahun.
"Mama, hangat sekali. Achi suka." ucap anak itu
Ersya mengusap punggung anak itu untuk menenangkan nya. Sesekali jari lentiknya akan mengusap air mata Arashi yang membasahi pipi anak itu.
"Mimpi buruk?" gumam Ersya
"Iya. Achi takut. Achi takut Mama pergi." sahut anak itu dengan suara seraknya
"That's okay. Aku akan memelukmu seperti ini. Menjagamu dan menjauhkanmu dari mimpi buruk." ujar Ersya menenangkan. Dia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang sambil mengusap kepala dan punggung Arashi bergantian.
"Promise me, Mama. Mama tidak boleh pergi lagi." lirih Arashi
"Eum." sahut Ersya singkat. Dia mencoba menghentikan tubuh Arashi yang gemetar ketakutan di pelukannya. Beberapa saat kemudian, dia merasakan Arashi sudah kembali tenang. Anak itu sudah kembali tertidur pulas.
Perempuan itu mengusap pipi Arashi dan mengecup lembut puncak kepala anak itu.
Setelah dirasa jika Arashi tidak akan kembali terbangun, Ersya kembali menidurkan Arashi diatas tempat tidur. Dia menatap penuh kasih sayang anak yang baru ditemuinya dua hari yang lalu itu.
Entahlah.
Ada rasa yang sulit dijelaskan. Ersya merasa jika dia sangat merindukan Arashi.
Tapi dia disadarkan dengan suatu realita.
Mungkin saja, dia hanya melihat sosok dirinya di masa lalu ada pada Arashi. Karena nya, dia sangat menyayangi anak itu. Ersya hanya ingin agar Arashi tidak kekurangan kasih sayang.
Namun lagi lagi, memangnya dirinya siapa? Dia hanya orang yang tanpa sengaja ditakdirkan untuk bertemu dengan anak menggemaskan itu.
Ersya menghela nafasnya. Dia harus mencari Dionald dan meminta maaf karena tanpa sengaja tertidur di kamar pria itu. Tidak sopan, memang. Tapi entah kenapa pelukan Arashi dan sebuah dongeng anak anak bisa membawanya ke dunia mimpi.
Perempuan itu memutar tubuhnya, dia berniat turun dari ranjang saat kaki nya tanpa sengaja tersandung sesuatu.
"A-ahh..." gumam Ersya
Perempuan itu tanpa sengaja terjatuh diatas tubuh pria yang dicarinya. Dahinya terbentur d**a bidang Dionald. Pria itu ternyata tertidur dibawah ranjang, tepat di samping nya.
Pandangan Ersya bertemu dengan mata sayu Dionald.
Tubuhnya mendadak membeku. Dia terlalu menatap mata gelap yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya.
"Jam berapa ini?" tanya Dionald dengan suara seraknya
"Ha-hah?"
Dari balik tubuh Ersya, Dionald melirik jam dinding yang menunjukan pukul 4 dini hari. Dia menatap Ersya yang terlihat masih terpaku sebelum akhirnya menaikan satu alisnya.
"Kau masih mau tidur diatas tubuhku?"