Mendengar pertanyaan itu, Ersya tersentak kecil dan segera turun dari tubuh Dionald dengan tergesa. Perempuan itu berdeham pelan dan dengan gugup menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga.
"M-maaf." ucapnya
Dionald mengangguk kecil. Dia bangkit dari posisi nya dan melirik Arashi yang ada di atas ranjang. Anak itu terlihat tertidur dengan nyenyak setelah menangis.
Jika ada yang bertanya apa dia mendengar tangisan Arashi, maka jawaban nya adalah dia mendengarnya. Namun belum sempat dia bereaksi, suara Ersya terlebih dahulu terdengar menenangkan anak nya itu.
Lalu entah dengan cara apa, Dionald mendengar tangisan Arashi berhenti. Perempuan itu bisa menenangkan anaknya dengan baik. Padahal biasanya, setelah menangis seperti itu, butuh waktu yang sangat lama sebelum akhirnya Arashi kembali tertidur.
"Apa kau terbangun karena Arashi?" tanya Dionald pada Ersya yang duduk di samping nya
"Tidak juga." jawab Ersya pelan. Perempuan itu menipiskan bibirnya, "Maaf karena aku tanpa sadar tertidur disini." sesalnya
"Tak apa. Ini masih sangat pagi. Kembali lah tidur." sahut Dionald. Pria itu berdiri dan mengusap rambut Arashi sebelum akhirnya keluar dari kamar, meninggalkan Ersya yang tengah merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Apa dia marah? Bagaimana pun dia tidak mungkin tidur di lantai seperti itu selama ini." gumam perempuan itu cemas
Ersya menghela nafasnya. Dia melirik tas nya yang ada di atas sofa dan meraih benda itu. Perempuan itu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dia menggembungkan pipinya saat mengetahui ada beberapa panggilan tak terjawab dari telfon rumah yang dia ketahui berasal dari panti asuhan.
Dengan cepat Ersya menelfon balik nomor itu. Dia mendesah pelan saat panggilan nya tidak mendapat respon. Tentu saja. Siapa yang mau mengangkat telfon di jam empat pagi?
"Kau tidak kembali tidur? Bukannya sudah ku bilang ini masih pagi?"
Mendengar suara berat nan serak itu, Ersya kembali tersentak kecil. Dia menatap Dionald yang kembali masuk ke dalam kamar dengan dua gelas teh yang terlihat masih berasap.
Pria itu berjalan dan menyerahkan teh tadi pada Ersya, "Minum." ucapnya
Ersya meraih gelas itu dan menyesapnya pelan. Teh hijau hangat. Cocok untuk mengawali pagi.
"Terima kasih." balas Ersya
Dionald mengangguk kecil. Dia berjalan ke arah balkon dan duduk diam disana.
Entah apa yang dilakukan pria itu, tapi Ersya masih merasa bersalah karena menjadi penyebab Dionald tertidur di lantai beralaskan selimut.
Jadi perempuan itu menyimpan teh miliknya dan berjalan menghampiri Dionald.
"Bapak marah?" tanya Ersya
Dionald mendongkak dan menggelengkan kepalanya, "Marah? Kenapa?"
"Ka-karena saya tidur di sana, Bapak jadi tidur di lantai." jawab Ersya terbata
"Bukannya kita sepakat untuk memanggil nama jika di luar rumah sakit?" sahut Dionald. Pria itu menggeser duduknya dan menepuk pelan ruang kosong yang ada di samping nya, mempersilakan Ersya untuk duduk disana.
"Aku tidak marah. Aku sengaja tidur di lantai agar Arashi tidak panik mencariku saat terbangun. Aku justru sedang mencari cara untuk meminta maaf padamu. Karena alih alih diberi tempat yang nyaman, kau malah harus terbangun dan mendengarkan tangisan Arashi." lanjut Dionald saat merasa Ersya sudah duduk di samping nya
Ersya terdiam menatap Dionald. Pria yang biasanya terlihat memasang wajah datar seolah tidak ingin di dekati oleh siapapun itu terlihat melunak. Wajah nya memang masih tanpa ekspresi, tapi tidak ada raut memusuhi yang biasanya dia tampilkan di rumah sakit.
"Karena itu, aku minta maaf. Maaf karena kau jadi harus melihat dan menenangkan anakku." tukas Dionald
"Apa... apa Arashi sering seperti ini?" tanya Ersya ragu
"Maksud mu menangis di malam hari?"
"Ya. Semacam itu."
Dionald menghela nafasnya, "Cukup sering. Biasanya aku akan membutuhkan waktu tiga puluh menit hingga satu jam sebelum dia kembali tidur. Tapi tadi, aku bahkan hanya mendengar tangisan nya selama beberapa menit. Karena itu, aku sangat berterima kasih padamu."
"Tadinya aku tidak mau mengatakan ini. Tapi kau terlanjur mengetahui tentang Arashi dan segala nya." lanjut Dionald
Ersya menipiskan bibirnya. Dia tidak berhak mengomentari atau memberi saran.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Dionald yang langsung membuat Ersya menyunggingkan cengiran kecilnya
"Aku tidak yakin kau mau mendengarnya. Jadi aku tidak akan mengatakan apapun. Aku tidak berhak mengatakannya." cicit Ersya
"Tapi, aku tidak keberatan menjaga rahasia ini. Anak itu terlihat sangat riang, dia masih sangat kecil, rapuh dan akan sangat menyedihkan jika masa kecilnya hancur karena perkataan orang orang." lanjut nya penuh arti
Dionald menarik satu sudut bibirnya, mengerti apa maksud dari ucapan Ersya.
"Kau suka menarik kesimpulan dari apa yang kau lihat ya?" tebak Dionald yang langsung menohok Ersya. Pria itu seolah mengatakan jika Ersya bersikap 'sok tahu' tentang identitas Arashi.
"Maaf jika aku salah." ringis Ersya
"Tidak salah. Tapi tidak benar juga. Namun kau benar untuk kata katamu yang terakhir. Aku tidak masalah digunjingkan orang orang, tapi tidak jika mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar soal Arashi." tukas Dionald. Dia meneguk teh hijau yang ada di tangannya dan menatap Ersya, "Kau terlihat sangat paham tentang ini. Apa tadinya kau mau menjadi Psikolog anak?" tebak Dionald
Ersya menggelengkan kepalanya, "Tidak. Sejak awal aku memang ingin menjadi perawat. Tapi untuk memahami hal tadi, aku mengalami nya sendiri. Sebagai seseorang yang asal usulnya tidak jelas, sejak kecil aku sering mendengar ucapan buruk tentang ku."
Dionald tertegun mendengar hal itu, tanpa sadar dia sudah mengusik privasi orang lain.
"Ah, maaf." sesal Dionald
Ersya dengan cepat menggeleng, dia menangkap raut terkejut yang pria itu berikan pada ceritanya, "Tidak apa apa. Ini sudah terjadi sangat lama, saat aku masih kecil. Sekarang aku sudah sebesar ini, jadi tidak apa apa. Kata kata seperti itu tidak lagi bisa melukaiku."
"Karena mungkin... aku juga menyadari jika ucapan mereka ada benarnya. Jadi daripada memikirkan hal itu dan menjadi terpuruk setelahnya, aku lebih memilih untuk menjalankan kehidupanku dengan baik."
"Oh, astaga. Kenapa aku jadi curhat?" gumam Ersya
"Tidak apa apa. Sekarang aku mengerti kenapa kau terlihat seperti... melindungi Arashi...?" sahut Dionald ragu
Ersya tersenyum canggung. Benar. Dia tanpa sadar menaruh rasa khawatir, cemas dan menyayangi anak itu. Dia bahkan selalu mengalihkan pembicaraan saat ada rekan kerja nya yang mulai menyinggung Arashi dan Dionald.
"Kau perempuan yang baik, Ersya. Aku bersyukur yang mengetahui keberadaan Arashi adalah dirimu." ujar Dionald
"Sebenarnya, aku tidak apa apa jika orang mengetahui Arashi adalah anakku. Tapi David dan Joyceline selalu mengakui jika Arashi adalah anak mereka di hadapan umum. Mereka selalu gugup untuk melindungi ku dan juga Arashi. Menyebalkan, tapi aku bersyukur atas hal itu." sambung pria itu
"Kau sepertinya sangat mengagumi Nona Joyceline." sahut Ersya
"Tentu. Aku sangat mengaguminya. Sejujurnya, walau sikapnya seperti anak anak, dia berjasa besar para keluarga Legiond. Bukan hanya aku, tapi Shannaya dan yang lain juga berhutang budi padanya." ungkap Dionald
Ersya mengangguk kecil. Dia mengetahui sedikit soal jasa Joyceline yang satu itu. Sebagai salah satu penggemar Joyceline, dia mengikuti hampir semua gosip yang beredar tentang perempuan itu. Termasuk tentang Joyceline yang mengunjungi Annie Legiond.
Percakapan itu berhenti disana untuk sesaat. Keduanya sama sama menikmati semburat kemerahan yang timbul di langit. Menandakan fajar akan segera tiba.
Ersya melirik jam yang ada di kamar.
"Kau tidak kembali tidur? Masih ada waktu satu setengah jam sebelum sarapan siap. Dan masih ada banyak waktu sebelum kembali bekerja." tanya Dionald
"Entahlah. Sepertinya aku tidak akan bisa tertidur lagi." jawab Ersya. Dia tersenyum tipis, "Aku juga terbiasa bangun jam empat pagi. Jadi tadi bukan karena Arashi yang menangis. Hanya saja, itu sudah menjadi kebiasaanku."
"Bagaimana denganmu?" tanya Ersya
"Aku juga tidak akan tidur. Aku tidak bisa tidur setelah terbangun. Biasanya juga seperti itu." jawab Dionald
"Tapi siang nanti, kau ada jadwal operasi yang memakan banyak waktu. Aku juga tahu kemarin malam kau tidur lambat. Apa itu tidak masalah?" lontar Ersya
"Tenang saja. Aku sudah terbiasa dengan hal ini. Biasanya aku hanya akan menunggu Arashi terbangun." timpal Dionald
"Hmm, benar juga. Dokter Dionald orang yang profesional. Sudah seharusnya aku percaya padanya." tandas Ersya sambil tertawa kecil
"Oh iya. Jika ini sudah pukul enam, aku akan pulang ke rumahku. Apa disini ada taksi? Karena rasanya, sepanjang perjalanan kemarin, aku tidak melihat kendaraan umum sejak masuk hutan." tanya Ersya
"Jam enam? Kau akan pergi tanpa sarapan?" balas Dionald
Ersya meringis, "Kemarin aku tidak membantu Ibu panti menyiapkan makan malam. Kali ini aku juga tidak mungkin tidak membantunya menyiapkan sarapan."
"Joyceline tidak akan membiarkanmu pulang." balas Dionald. Dahi nya berkerut pelan, "Kau tidak akan dibiarkan pulang sebelum mengisi perut mu."
"Jangan bercanda." pinta Ersya
"Yahh, lihat saja nanti."
***
"Apa? Kau mau pulang? Begitu saja? Sebelum sarapan? Tidak bisa!"
Ersya meringis. Dia merasa gemas sekaligus terkejut melihat sisi lain dari idola nya yang satu ini.
"Aku harus pulang untuk membantu Ibu panti menyiapkan sarapan." ucap Ersya
Joyceline menatap David dan Dionald dengan pandangan merajuk.
"Biarkan saja, Celine. Dionald akan mengantarnya. Kasihan dia jika dimarahi oleh Ibu nya." sahut David
Joyceline berdecak kecil. Perempuan itu mengerucutkan bibirnya sambil menatap Dionald yang tengah meminum s**u dengan pandangan penuh arti.
"Apa?" tanya Dionald
"Ta-tapi aku sudah menyiapkan sarapan yang cukup banyak!" rengek Joyceline. Perempuan yang tengah memakai celemek itu merajuk pada dua pria yang duduk tenang di meja makan.
"Oh!" seru Joyceline. Perempuan itu tersenyum lebar, seolah menemukan suatu ide briliant yang sangat sayang untuk di lewatkan.
"Ada apa? Kau menemukan sesuatu yang bagus?" tanya David
"Bagaimana jika aku memasak banyak disini? Lalu kau bisa sarapan dan membawa sarapan yang tersisa ke rumahmu?" tanya Joyceline pada Ersya
Ersya melirik Dionald, seolah bingung dengan ide yang disuarakan perempuan di depannya.
"Bagaimana? Dengan begitu kau jadi lebih santai, kan? Makanan nya juga tidak akan terbuang sia sia." desak Joyceline
Merasa di perhatikan, Dionald menatap Ersya. Cukup kasihan dengan asistennya yang satu itu karena harus menghadapi tingkah pecicilan kakak iparnya.
"Terima saja." perintah Dionald pada akhirnya
"Kau bisa menganggapnya sogokan pada Ibu mu agar tidak dimarahi karena lupa mengabarinya semalam." lanjut pria itu
"Menyogok itu tidak baik!" tegas Joyceline sambil menatap ketus Dionald. Namun sesaat kemudian, dia menyunggingkan cengiran nya, "Tapi jika kasusnya seperti ini, bisa dibicarakan. Aku juga sering melakukannya pada Lily." cicitnya
"MOMMY! DADDY! PAPA!"
Kedua anak kecil berusia dua dan lima tahun berlarian menuruni tangga. Keduanya berlomba lomba berlari mendekati meja makan dimana para orang dewasa duduk dan berbincang hangat.
"Mommy! Daddy! Beri Iel ciuman!" seru Izekiel heboh. Dia sampai pertama di meja makan dan langsung menghampiri kedua orang tua nya.
Sementara di belakangnya, Arashi mengerucutkan bibirnya. Dia berjalan menuju Dionald dan bersandar lemas di kaki pria itu.
"Papa, Achi mau duduk." pinta anak itu. Dia menatap iri pada Izekiel yang mendapatkan dua kecupan di kedua pipi nya.
Tatapan iri anak itu di sadari oleh Ersya.
Belum sempat tubuh kecil Arashi diraih oleh Dionald, Ersya sudah terlebih dahulu mengangkat anak itu ke pangkuannya.
"Selamat pagi, Achi." sapa nya
Kedua mata Arashi melebar. Dia tidak menyadari keberadaan perempuan yang menemaninya hingga tertidur semalam.
"Aunty?!" pekiknya heboh
Ersya tersenyum dan mengangguk, "Kau tidur dengan nyenyak?"
"Iya! Sangat nyenyak! Achi juga mimpi indah!" seru nya sambil tertawa riang memeluk Ersya dengan erat.
"Jadi, bagaimana? Kau mau sarapan disini, kan? Setelah Achi bangun, kau juga akan kesulitan untuk pulang." ucap Joyceline
Ersya tersenyum tipis dan mengangguk canggung, "Maaf aku merepotkan."
Joyceline memekik dalam hati. Sekaligus ada yang ingin dia sampaikan pada Dionald. Dan sebelum dia melakukan itu, dia harus riset terlebih dahulu.
"Tidak, tidak. Kau tidak perlu membantu. Duduk saja disana, temani Achi." tolak Joyceline saat melihat Ersya yang akan turun dari tempat duduknya.
"Tapi... aku akan sangat merepotkan jika tidak membantu." elak Ersya
"Tidak, duduklah disana. David dan Izekiel akan membantuku." perintah Joyceline. Perempuan itu menatap David dan tersenyum.
"Baik, aku akan membantu istriku yang sangat aku cintai ini." timpal David sambil beranjak dari kursinya. Dia menggendong Izekiel dan memasuki wilayah dapur.
Pagi ini, ada sesuatu yang lain di kediaman Legiond.
Suara tawa Arashi terdengar lebih nyaring dari biasanya. Suara dan wajah berseri anak itu membuat siapa saja dapat mengetahui jika Arashi sedang berada dalam mood yang bagus.
Joyceline menatap penuh arti David. Perempuan itu berjinjit, berniat membisikan sesuatu pada suami nya itu sebelum suara dehaman dari Dionald membuat nya tersentak kecil.
"Ekhhem!"
"Jangan berciuman di dapur. Itu sudah menjadi pemandanganku setiap hari, tapi tidak dengan pemandangan asistenku." sindir Dionald yang setiap hari selalu menjadi orang yang melihat momen manis itu
"Dasar jomblo!" ketus David yang kesal karena Joyceline menarik jarak dengannya
"Papa, jangan iri. Papa punya Achi." timpal Arashi yang pikirannya sering diracuni oleh David dan Shannaya tentang kejombloan Dionald.
"Achi, sayang, lain kali jika Daddy mu mengatakan sesuatu, jangan di dengarkan. Daddy mu itu suka menyesatkan." ucap Dionald dengan senyum sebalnya. Ucapan Dionald dibalas dengan lemparan kulit pisang oleh David yang tidak terima dengan perkataan adik nya itu.
Diam diam, Ersya tertawa.
Pemandangan seperti ini belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia bisa merasakan momen hangat selalu mengelilingi keluarga ini setiap harinya. Rasa hangat juga ada di tempat tinggalnya, tapi tentu saja berbeda dengan keadaan disini.
Entah celotehan polos dari Arashi dan Izekiel, atau pertarungan antar kedua tuan Legiond yaitu David dan Dionald.
Beberapa menit setelahnya, sarapan mulai dihidangkan. Mereka semua makan tanpa bersuara. Sesekali Ersya akan menyuapi Arashi yang mendadak manja.
"Achi, bukannya biasanya Achi makan sendiri?" tanya Dionald
Arashi menggelengkan kepalanya, "No, Papa. Achi mau disuapi Aunty. Tidak apa, kan Aunty?"
"Iya. Tidak apa apa. Asalkan Achi mau makan." sahut Ersya dengan senyum lembutnya
Interaksi antara dua orang itu membuat Dionald menghela nafasnya. Entah kenapa, dia merasa jika Arashi sangat tertarik pada asistennya.
Sesaat setelahnya, mereka mulai menyelesaikan sarapan nya.
Lalu setelah melalui air mata dan rengekan Arashi yang tidak ingin ditinggalkan oleh Ersya, perempuan itu akhirnya bisa bersiap pulang.
Tentu saja Arashi berhenti menangis setelah Ersya membujuknya.
"Papa, promise me kau harus bisa membawa Aunty kembali kesini." lirih Arashi
Dionald hanya tersenyum sambil mengusap pipi anaknya yang sembab.
Joyceline menatap Arashi yang ada di gendongan David. Anak itu jarang menangis. Bahkan saat ada tamu, dia akan bersembunyi di ruang bermain.
Tapi kali ini, Arashi bahkan menangis saat tamu mereka, yaitu Ersya, akan pulang. Insting nya sebagai seorang ibu, sedikit terusik. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh.
Walau bukan ibu kandung, dia tetap seorang Ibu. Dan dia tahu ada sesuatu yang janggal disini.
"Dionald, bisa aku berbicara denganmu sebentar?" pinta Joyceline
Dionald menganggukkan kepalanya.
"Iel, hibur kakak mu ya? Mommy akan segera kembali." pinta Joyceline pada Izekiel
Perempuan itu menatap Dionald dan mengangguk kecil. Dia mengisyaratkan agar pria itu mengikutinya ke beranda rumah.
"Dionald, aku rasa, setelah ini, kau akan kesulitan. Apa kau benar benar belum pernah bertemu Ersya sebelumnya?"