Chapter 11 "Menghindari Lusianne"

1535 Kata
Dionald menatap bagian depan panti asuhan yang berjarak beberapa meter dari mobilnya yang terparkir saat ini. Dia menatap lekat bagaimana Ersya yang datang dan di sambut oleh anak anak yang tengah bermain di halaman hingga punggung kecil itu melangkah masuk ke rumah bercat putih yang tidak terlalu besar itu. Jari jemarinya mengetuk stir mobil nya, kembali mengingat pembicaraan nya dengan Joyceline sesaat sebelum dirinya mengantar Ersya. "Dionald, kau ingat saat Ersya menjemput Arashi? Guru nya bercerita padaku jika saat itu, Arashi bukan sakit. Melainkan baru saja bertengkar dengan teman sekelasnya. Teman sekelasnya bertanya kenapa Arashi memiliki dua sosok Ayah, tapi hanya satu Ibu." "Dan jika kau ingin tahu... itu bukan pertama kali nya Arashi bertengkar dengan sebaya nya karena alasan yang sama, Dionald. Jujur saja, aku juga merasa kesal. Dan menurutku, keberadaan Ersya mungkin akan membantu perkembangan Arashi." Saat mendengarnya, Dionald hanya bisa memberikan ekspresi rumit. Dia hanya bisa memberikan reaksi tersebut sebagai balasan atas informasi yang diberikan oleh Joyceline. "Apa kau..." tanya Dionald menggantung Seolah mengerti dengan apa yang ingin dikatakan oleh nya, Dionald melihat Joyceline menggelengkan kepalanya tegas, "Tidak. Bukan berarti aku tidak mau menjadi Ibu dari Arashi lagi, Dionald. Hanya saja... ada sesuatu yang lain yang bisa aku rasakan saat Arashi bersama dengan Ersya." "Bayangkan ini, Dionald. Arashi terlihat jauh lebih bahagia karena keberadaan Ersya. Karena dengan keberadaan Ersya, Arashi akan merasa jika dirinya memiliki keluarga yang lengkap. Dua Ayah dan dua sosok Ibu. Perkembangan psikis nya akan semakin membaik dan dia bisa menjadi lebih percaya diri, Dionald. Aku yakin dengan hal itu." Dionald menghela nafasnya, "Aku tidak yakin dengan apa yang ingin kau sampaikan padaku." "Jadikan Ersya sebagai asisten pribadi mu. Kau bisa mempekerjakan nya sebagai asisten mu di rumah juga, untuk sekedar membantumu merawat Arashi." tukas Joyceline "Tapi Ersya juga sibuk di rumah sakit. Aku tidak mungkin merepotkan nya dengan urusan di rumah." tolak Dionald langsung. Dia menjadi saksi bagaimana kesibukan Ersya yang terkadang menjadi asisten pengganti bagi dokter lain. "Hanya sesekali. Mungkin, seperti datang saat Arashi membutuhkannya. Hanya sekedar itu. Sisa nya, kau bisa menyerahkan nya padaku seperti biasanya, Dionald." "Uhm, aku tahu jika aku tidak boleh memaksamu. Tapi aku ingin, kau mempertimbangkan hal ini." "Akan aku pikirkan. Terima kasih, Joyceline." Ingatan itu membuat Dionald sedikit merasa bingung. Sekaligus tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan kakak ipar nya itu. Terkadang, jalan pikiran Joyceline bisa menjadi sangat rumit dan terkadang menjadi sangat simpel. Seperti sekarang. Di mata nya, entah kenapa Dionald merasakan jika yang memiliki ketertarikan pada Ersya bukan hanya Arashi. Tetapi Joyceline juga. Dionald menghela nafasnya. Dia akan mencoba membicarakan hal ini dengan Ersya nanti saat ada kesempatan. Pria itu kembali melirik ke arah jendela mobilnya. Dari sana, dia bisa melihat Ersya yang sudah memakai pakaian perawat nya tengah berjalan menuju ke arahnya. "Maaf lama menunggu, Pak." ujar Ersya sambil tersenyum tipis Dionald mengangguk kecil, "Tak apa. Tidak ada yang tertinggal, kan?" "Tidak." sahut Ersya Perempuan itu berdeham dan memakai seatbelt nya. Dia merasakan mobil berwarna hitam itu mulai berjalan melaju keluar dari wilayah panti asuhan. "Padahal... bapak bisa langsung pergi tanpa menunggu." gumam Ersya "Bagaimana lagi? Kau menolak uang ku untuk mengganti ongkos taksi. Aku akan bertanggung jawab mengantar dan menjemputmu pulang sampai waktunya kau mendapatkan gaji." timpal Dionald Ersya tertawa kecil saat mendengar ucapan Dionald. Dia benar benar sedikit merasa nyaman dengan sikap pria itu. Dokter itu tidak sedingin dan se kejam yang dia kira selama ini. "Aku benar benar meminta maaf karena merepotkan mu akhir akhir ini." ujar Dionald. Pria itu melirik Ersya, "Semoga setelah ini, kau tidak menyesali keputusanmu untuk menjemput Arashi waktu itu." Mendengar itu, Ersya sontak menggelengkan kepalanya. "Tidak. Saya tidak bisa merasa seperti itu. Tidak ada yang bisa saya sesali, Dokter Dionald." sahutnya langsung tanpa berfikir panjang tanpa menatap Dionald sama sekali Dionald menatap Ersya. Dia bisa melihat perempuan itu mengulas sebuah senyuman tipis sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Sebelum perempuan itu mengalihkan tatapannya, dia bisa melihat kedua netra nya berbinar. "Ersya... jika nanti, aku akan kembali merepotkanmu, aku harap kau tidak keberatan sama sekali." gumam Dionald Ersya menaikan kedua alisnya. Dia menoleh pada Dionald dan tersenyum sebelum akhirnya mengangguk. "Tentu. Saya siap menjalankan perintah." sahurnya riang Melihat itu, Dionald kembali mengalihkan perhatiannya pada jalanan yang ada di hadapannya. "Terima kasih lagi, Ersya. Entah kenapa, tapi sepertinya aku harus mengatakan itu." Sejenak, Ersya terpana. 'Apa tadi Dokter Dionald baru saja tersenyum? Padaku?' *** Mobil berwarna hitam itu berhenti tepat di pelantaran rumah sakit. Dahi Ersya sedikit berkerut saat melihat keadaan rumah sakit yang jauh lebih ramai dari biasanya. Kedua netra nya kemudian melebar saat melihat seseorang yang hanya memakai kaos dalam digiring keluar dari rumah sakit oleh para polisi. Ersya kemudian tersadar jika peristiwa yang menakutkan itu baru saja terjadi kemarin malam. Tangannya tanpa sadar meremas seatbelt yang dipakainya. Nafasnya perlahan semakin intens dan mulai terengah bersamaan dengan bayang bayang peristiwa semalam yang kembali menghantuinya. Sikap Ersya tersebut, tak luput dari perhatian Dionald. "Ersya," panggilnya Saat Ersya menoleh ke arahnya dengan keringat sebesar bulir jagung yang menetes di dahinya dan nafas yang terengah hebat, baru lah Dionald benar benar tersadar jika perempuan itu memiliki masalah dengan pernafasannya, bukan hanya karena kepanikan sesaat. Dionald dengan cepat meraih tas Ersya dan mencari sebuah inhaler yang ada di dalam sana. Dia menyerahkan benda itu pada Ersya dan meminta perempuan itu untuk tenang. "Apa yang kau takutkan?! Ada aku." tukas Dionald Sambil memakai inhaler nya, Ersya melirik Dionald sekilas. Setelah beberapa saat kemudian, ketika nafasnya mulai stabil, Ersya menatap Dionald dengan cemas. "Apa yang saya lakukan?" lirihnya. Ersya menggigit bibir dalam nya, "Seharusnya saya berpura pura tidak terjadi apapun. Jangan sampai membuat keributan sebesar ini." lanjutnya "Ersya, dengar. Jika kita tidak melaporkannya dan hanya diam, hal ini akan berlanjut. Pria tua itu akan semena mena nya padamu karena menganggap jika kau tidak berani padanya. Kemarin malam, kebetulan aku masih berada di dalam sana. Bagaimana jika lain kali, karena tidak berani bertindak, pria itu berbuat hal yang tidak senonoh padamu lagi?" tanya Dionald "Kau adalah korban, Ersya. Kenapa malah kau yang ketakutan?" "Malah tadi, raut wajah pria tua itu tidak menunjukan penyesalan. Dia terlihat yakin bisa bebas dalam waktu dekat karena kekuasaan nya. Kau tidak boleh menunjukan ekspresi takut mu. Itu akan membuat nya semakin merasa diatas angin." "Apa yang harus saya katakan pada rekan kerja saya?" tanya Ersya setengah berbisik "Tidak ada seorang pun yang mengetahui peristiwa semalam selain kau, aku dan Arthur. Kau bisa berbohong dan berpura pura tidak mengetahui apapun. Agar meyakinkan, kau bisa menyeret ku sebagai alibi mu. Katakan saja jika kau ada bersama ku saat itu. Dengan begitu, rekan kerja mu tidak akan bertanya lagi." jawab Dionald. Dia melepaskan seatbelt nya dan Ersya sebelum akhirnya membuka kunci mobilnya. "Ayo keluar. Jangan terlihat ketakutan." ajak Dionald Ersya terdiam. Perempuan itu menunduk dan menyimpan inhaler miliknya ke dalam tas sebelum akhirnya melangkah keluar dari mobil. "Terima kasih tumpangan nya." ucap Ersya pelan Dionald mengangguk, "Sore nanti, kau juga datang lah ke ruanganku. Aku akan mengantarmu pulang." *** Suasana pagi rumah sakit hari ini terasa asing. Para perawat berbaris disepanjang koridor dan saling berbisik satu sama lain. Ersya dapat mendengar, jika semua orang tengah membicarakan satu hal yang sama. Yaitu penangkapan seorang profesor ternama di ruang loker yang juga menjadi ruang ganti bagi perawat perempuan. Hal itu, tentu saja membuat geger satu rumah sakit. Apalagi lokasi penangkapan sang profesor yang tidak biasa. "Ersya, sudah mendengar tentang profesor itu?" ucap seorang rekan sesama perawatnya saat Ersya baru saja berjalan memasuki ruang loker Ersya menggelengkan kepalanya, "Tidak. Ada apa?" "Profesor itu tertangkap di ruang loker perempuan. Lebih tepatnya di dalam gudang itu. Ew, menjijikan. Entah apa yang terjadi semalam, tapi melihat kondisi nya saat di tangkap, aku bisa mengetahuinya." timpal rekan perawat yang lain Ersya hanya terdiam. Dia menyimpan barang barang nya ke dalam loker dan meraih kartu identitas nya untuk dipakai. "Tapi aku penasaran. Siapa perempuan yang malam itu menemani Profesor?" Ersya mendadak menghentikan kegiatan nya saat tiba tiba salah satu rekan nya menyuarakan pertanyaan tersebut. "Benar. Jika dilihat dari waktu nya, seharusnya perawat yang terakhir keluar dari rumah sakit ini." Seketika, Ersya merasakan semua atensi mengarah padanya. "Apa? Kenapa kalian semua menatapku?" tanya Ersya bingung "Kau kan biasanya menjadi perawat terakhir yang memakai ruang ganti." "Entahlah. Semalam aku menemani Dokter Dionald mengurus beberapa hal di ruangan nya. Kami pulang sangat larut. Dan seperti yang kalian tahu, ruangan Dokter letaknya jauh dari sini. Aku bahkan baru mengetahui soal profesor itu tadi saat kalian membicarakannya." jelas Ersya. Perempuan itu menipiskan bibirnya sesaat setelah menyadari jika jantung nya berdegup kencang sesaat setelah mengutarakan kebohongan itu. "Benar juga. Ah aku semakin dibuat penasaran." "Tapi kalian lihat tadi? Wajah Dokter Lusianne tidak terlihat baik. Bahkan terlihat menyeramkan." Ersya lagi lagi hanya bisa terdiam. Lusianne. Dokter perempuan unggulan rumah sakit. Perempuan itu adalah anak dari Profesor itu. "Ahh, disaat seperti ini aku merasa iri dengan Ersya yang menjadi asisten Dokter Dionald. Melihat ekspresi yang ditunjukan oleh Dokter Lusianne, dia jelas akan marah marah sepanjang hari." "Ersya, mau bertukar denganku untuk satu hari saja?" tanya perawat tadi Ersya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak, terima kasih." 'Aku harus menghindari semua hal yang berhubungan dengan Profesor. Menjadi asisten dari Dokter Lusianne jelas adalah hal yang sangat harus aku hindari.' batin Ersya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN