Dionald menatap lekat Ersya yang terlihat dari luar ruang pertemuan. Perempuan itu tengah berbincang sambil melintas diluar ruangan. Sesekali, Ersya terlihat tertawa menanggapi entah apa yang tengah dibicarakan. Hingga kemudian, perempuan itu hilang tertelan jarak.
Dionald tersadarkan saat rekan sesama dokternya menyikut pelan lengannya. Dia mengalihkan perhatiannya dan menatap rekan kerja nya.
"Apa?" tanya nya pelan
"Kau ada hubungan apa dengan perawat tadi?" balas si rekan kerja sambil terkikik pelan
"Perawat? Perawat apa?"
"Jangan pura pura bodoh. Siapa lagi kalau bukan asisten pribadi mu? Ersya." jelas rekan kerja nya
Dionald menggelengkan pelan kepalanya. Dia kembali fokus pada Kepala dokter bedah yang tengah mempresentasikan sesuatu.
"Gosipnya sudah menyebar di kalangan para dokter. Kau sering terlihat bepergian bersama dengan asisten pribadimu itu." bisik orang tadi
"Dia asisten pribadiku. Sudah tentu aku selalu bersama nya. Kau ini bodoh atau apa?" balas Dionald sambil mengangkat satu alisnya tinggi, seolah mengejek rekan kerja nya itu
Mendengar hal itu, Steve, orang yang tadi bertanya pada Dionald hanya bisa merasa dongkol.
Mulut Dionald memang menyebalkan.
"Apa semua keluarga Legiond menyebalkan, ya? Sepupu ku yang bekerja di perusahaan keluargamu selalu mengatakan jika CEO nya menyebalkan." bisik Steve, masih mencoba menguji kesabaran Dionald yang terlihat tengah menulis laporan harian di sebuah kertas
Ucapan Steve membuat Dionald mengangkat kepalanya dan menatap Steve, "Sepupu mu bilang begitu?"
"Iya. Apa Nona Shannaya juga menyebalkan?"
"Tidak terlalu sih. Dia biasanya hanya ingin semua hal sempurna. Jika sepupu mu bilang dia menyebalkan... itu tanda nya dia tidak cocok dengan standar Shannaya. Mungkin dia akan dipecat. Tenang saja. Nanti dia tidak perlu menghadapi atasan yang menyebalkan lagi. Aku akan membantunya, tenang saja." balas Dionald tenang
Melihat Steve yang langsung mengatupkan bibirnya tepat setelah mendengar dirinya berkata seperti itu, Dionald tersenyum puas.
Dia kembali memusatkan perhatiannya pada Kepala dokter bedah dan berusaha mendengarkan apa yang tengah disampaikan olehnya walau kepalanya justru dipenuhi dengan Ersya.
Perempuan itu baik baik saja, kan?
Tidak ada yang tahu tentang Ersya yang terlibat dengan profesor Edward, kan?
'Sial.' Dionald mengumpat dalam hati. Dia jadi tidak tenang karena memikirkan hal itu. Belum lagi dengan penyakitnya Ersya yang selalu kambuh setiap mengingat peristiwa semalam.
Jika ada yang mengingatkan Ersya tentang peristiwa itu, Dionald bersumpah orang itu akan berurusan dengannya. Tidak ada yang boleh berbuat macam macam pada Ersya.
Karena perempuan itu kelihatannya sudah berhasil menarik perhatian dari Arashi. Anak nya tidak akan memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada Ersya.
'Sepertinya aku harus memastikan tidak ada yang mengetahui peristiwa semalam. Jika ada... aku harus membereskannya.' batin Dionald pada dirinya sendiri
Pria itu menunduk, menatap tangannya sendiri yang terasa dingin dan sedikit bergetar karena menahan marah. Melihat itu, Dionald berdecak pelan. Dia mengepalkan tangannya kuat kuat agar getarannya tidak menarik atensi dari Steve, rekan kerja nya.
Dionald bertahan selama beberapa waktu. Dia menunggu hingga Dokter yang tengah presentasi itu selesai dan meninggalkan ruang pertemuan sebelum akhirnya beranjak pergi ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan pribadi nya.
Melalui pantulan cermin, Dionald kembali menatap tangannya yang bergetar.
Tidak. Dia sama sekali tidak takut.
Tangannya bergetar karena menahan amarahnya.
Dionald tahu, dia adalah seorang mantan penjahat. Di masa lalu, dia pernah bergabung dengan sindikat penjualan organ ilegal dibawah kepemimpinan Mafia yang tak lain adalah adik dari Kakek nya. Dionald juga tahu, dia mungkin tidak se suci dokter lain.
Tapi itu hanyalah bagian dari masa lalunya. Dia sudah bersumpah pada Shannaya untuk tidak melakukan hal itu lagi. Sekarang dia hanya hidup sebagai Dokter yang normal dan sama sekali tidak ada niatan untuk bertingkah seperti di masa lalu. Apalagi, dia juga sekarang memiliki Arashi. Dia tidak ingin melibatkan anak nya itu untuk berada di dalam bahaya.
Lagipula, bagi Dionald, rumah sakit adalah tempat yang suci. Ditempat ini, mungkin saja terjadi berbagai keajaiban dari seorang Dokter yang menyelamatkan nyawa seorang pasien.
"Bisa bisanya seorang profesor melakukan hal yang hina itu di rumah sakit." desis Dionald
Ya, baginya, Profesor Edward sudah mencoreng kesucian rumah sakit ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Membunuh Profesor Edward?
Shannaya pasti akan dengan senang hati menjebloskan dirinya ke dalam penjara lagi jika seperti itu.
Dionald berdecak kesal. Dia membasuh wajahnya dengan air dan kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. Pria itu terdiam menatap wajahnya sendiri yang sangat terlihat menahan amarah.
'Kau marah karena Profesor sialan itu menodai citra rumah sakit atau marah karena pria itu hampir menodai Ersya?'
Sebuah pikiran yang terlintas di kepala Dionald itu membuat pria itu tersadar.
Dia tertegun sebelum akhirnya terkekeh kecil dan memijat pelan dahinya.
"Sepertinya aku mulai gila." gumamnya
Dionald kembali membasuh wajahnya sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar mandi. Saat dia berbalik, dia menemukan Ersya berada di dekatnya. Hal itu membuat Dionald tersedak ludahnya sendiri.
Pria itu berdeham dan menaikan satu alisnya menatap Ersya.
"Ada apa? Seingatku, hari ini kita cukup senggang." tanya Dionald
"Ah itu... Dokter Lusianne memintaku menjadi asistennya untuk satu hari ini. Jadi aku-"
"Tidak boleh." sela Dionald. Dia berjalan melewati Ersya dan duduk di kursi kebanggaan nya. Pria itu melepaskan sneli yang dipakainya dan menatap kertas laporan kondisi terkini dari para pasien yang sudah menerima perawatannya.
Keadaan berubah canggung. Ersya masih berada di belakang pria itu dan berdiri dengan perasaan tidak menentu. Pasalnya, dia hanyalah seorang perawat.
Rasanya kurang etis jika dia menolak permintaan ah bukan, perintah dari Lusianne.
Jujur saja, Ersya senang karena Dionald tidak membiarkannya pergi membantu Lusianne. Tapi dia justru merasa bingung tentang bagaimana cara mengatakan nya pada dokter perempuan yang terkenal dikalangan penghuni rumah sakit itu.
Seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Ersya, Dionald berbalik dan menatap wajah bimbang asisten nya itu.
"Biar aku yang mengatakannya pada Lusianne. Kau tidak perlu mengatakan apapun. Kau tahu jika kau harus menghindari semua yang berhubungan dengan Profesor mesun itu, kan?" tukas Dionald
Ersya kemudian tanpa sadar menghela nafasnya lega. Dia berjalan ke hadapan Dionald dan tersenyum tipis.
"Terima kasih, Pak." ucapnya
Dionald terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Dia kembali menatap Ersya dengan dahi sedikit berkerut.
Tentu saja, kan? Dia harus memastikan apa yang salah dengan kepalanya.
Namun setelah beberapa saat menatap wajah Ersya, Dionald tidak menemukan apapun. Pria itu menghela nafasnya dan memijat dahinya.
Sepertinya dugaan nya benar. Dia hanya peduli pada Ersya karena perempuan itu juga sudah peduli pada Arashi. Perasaan ini sama seperti apa yang dia rasakan pada Joyceline saat istri kakak nya itu mengurus Arashi layaknya anak sendiri.
Ah ya. Mungkin seperti itu.
"Ersya, ayo kunjungan pasien. Ada beberapa pasien ku yang akan pulang hari ini." ajak Dionald pada akhirnya. Pria itu kembali meraih sneli nya dan melangkah menjauh dari kursi kebanggaan nya.
Tepat sebelum Dionald meraih pintu ruangan nya, terdengar benda tersebut diketuk dari luar. Hal itu membuat Dionald menghentikan langkahnya. Pria itu melirik Ersya sebelum akhirnya berjalan membuka pintu.
Lusianne ada disana. Dokter perempuan yang tadi menjadi topik pembicaraan Dionald dan Ersya itu ada di sana. Mengangkat satu alisnya dan menatap Dionald serta Ersya bergantian.
"Kalian... mau kemana?" tanya Lusianne
"Kunjungan pasien. Ada apa?" balas Dionald
Terlihat Lusianne menganggukkan kepalanya sebelum kembali menatap Dionald.
"Aku ingin meminjam asistenmu." ujar Lusianne
"Tidak bisa. Aku membutuhkannya." tolak Dionald
"Bagaimana jika sebagai gantinya, kau memakai asistenku? Kita bertukar. Hanya untuk hari ini." sela Lusianne
Dionald mengerutkan dahinya, dia menatap Lusianne dengan tatapan menyelidik, "Kenapa kau hendak memakai asistenku jika asisten mu sendiri baik-baik saja?"
"Dengar, kau mungkin tidak tahu. Tapi semua asisten dokter ditempatkan di posisi mereka yang sekarang bukan tanpa alasan. Asisten mu ditempatkan untukmu, sudah tentu karena dia akan cocok dengan karakter mu dan dinilai bisa membantumu. Begitupun dengan asistenku. Jadi, tidak ada adegan tukar menukar asisten bagiku." tukas Dionald pada akhirnya
Dia melirik kecil Ersya, "Ayo pergi. Sebelum para pasien itu pulang. Aku ingin menemui mereka dahulu."
Ersya mengangguk kecil. Dia menatap Lusianne sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya mengikuti langkah Dionald.
Entah kenapa jantung nya berdebar kencang. Dia takut sekali pada dokter Lusianne. Sebelumnya, dia memang berniat untuk meminta Dionald membantu nya sekali lagi untuk tidak menyetujui tawaran dari dokter Lusianne.
Beruntung nya, Dionald juga memiliki niatan yang sama sebelum Ersya meminta bantuan nya.
"Dionald, tunggu!"
Ersya menatap Dionald yang berhenti melangkah. Pria itu terdiam sebelum akhirnya menoleh menatap lawan bicara nya dan menunggu lanjutan dari seruan Lusianne.
"Aku mendengar sesuatu. Dari seorang bagian keamanan yang menjalani shift malam."
"Mendengar apa?" tanya Dionald seolah menantang
"Katanya, kau dan asisten mu adalah orang terakhir yang pulang dari rumah sakit. Selain dokter yang memang shift malam." ujar Lusianne
"Lalu?" balas Dionald sambil menaikan satu alisnya. Dia sudah menduga jika Lusianne akan membahas tentang hal ini cepat atau lambat. Tapi dia tidak tahu jika perempuan itu akan membahas nya sekarang.
"Apa kau tahu sesuatu tentang Ayahku?"
Dionald dan Ersya saling bertukar tatap. Sebelum akhirnya pria itu kembali menatap Lusianne dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku dan asisten ku baru mengetahui nya saat pagi tadi. Memang nya apa yang terjadi?"
Ersya dalam diam menelan nafasnya. Dia menatap Dionald yang bisa mengatakan kebohongan dengan ekspresi lurus tanpa arti.
"Ayah ku ditemukan dalam keadaan yang sangat tidak bagus di dalam gudang kebersihan di ruang loker perawat perempuan." jelas Lusianne
'Tentu saja aku tahu kondisi tidak bagus apa yang kau maksud, Lusianne.' pikir Dionald tanpa mengubah ekspresi nya
"Lalu? Apa hubungannya denganku?" tanya Dionald
"Tidak. Tidak ada... aku hanya ingin bertanya, siapa tahu kau melihat sesuatu yang janggal malam tadi dan menyebabkan Ayah ku seperti itu." jawab Lusianne pelan
Dionald terdiam.
"Bukannya seharusnya kau katakan itu pada perawat yang shift malam?"
Lusianne menggelengkan kepalanya, "Sejak ada rumor tentang hantu loker itu, tidak pernah ada perawat yang pergi kesana malam hari. Mereka akan memakai ruang rekan dokter mereka untuk beristirahat atau menitipkan barang."
"Kalau begitu, aku juga tidak tahu. Jujur saja rumah sakit dalam keadaan sepi saat aku pulang. Tidak ada pasien atau keributan apapun." bohong Dionald. Dia melirik Ersya, "Benar kan?"
Mendengar Dionald meminta dirinya ikut melakukan kebohongan, Ersya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Mulut nya benar benar terkunci rapat. Sejak kecil dia tidak pernah berbohong ataupun menyembunyikan kebenaran.
Tapi sekarang, dia terpaksa melakukannya.
'Ini demi dirimu sendiri, Ersya. Demi keamanan semua perawat.' ucapnya dalam hati untuk menenangkan jantung nya yang berdebar kencang
Ersya melihat Dokter Lusianne menghela nafasnya sebelum pergi menjauh dari mereka. Kedua matanya mengikuti langkah dokter perempuan itu, sebelum akhirnya dia menghembuskan nafasnya yang sedari tadi tertahan.
"Kau payah sekali dalam berbohong." gumam Dionald
"S-sejujurnya... saya belum pernah berbohong, pak." balas Ersya pelan
"Sudahlah. Ini demi kebaikan mu sendiri. Pura-pura saja tidak tahu apapun. Lagipula, nama mu tidak akan disebutkan dalam sidang Profesor Edward. Arthur sudah bersumpah." ujar Dionald
Pria itu kembali berbalik dan melanjutkan tujuannya untuk memeriksa pasien yang hendak pulang hari ini.
Di belakang nya, Ersya mengekor sambil menatap punggung tegap Dionald. Jujur saja, sejak awal kedatangannya di rumah sakit ini, Ersya sama sekali tidak mengenal dengan jelas sosok dokter yang menjadi atasan nya itu.
Ah, tidak.
Dia cukup mengenal Dionald dari rumor yang berhembus dikalangan perawat rumah sakit. Dokter psikopat, katanya. Hanya itu. Dia juga tidak terlalu tahu darimana julukan tersebut berasal.
Tapi sekarang, Ersya benar benar merasa mengenal Dionald. Bagaimana keseharian pria itu di rumah sakit dan bagaimana keseharian pria itu di rumah nya. Kemarin dia menjadi saksi bagaimana Dionald memperlakukan keluarga nya dengan sangat baik.
Lalu hari ini... dia melihat kemampuan mengerikan yang pria itu miliki.
Ketenangan nya. Dan bagaimana cara pria itu berbohong dan mengatakan kebohongan yang terdengar seperti kejujuran.
Namun tiba tiba, langkah Ersya terhenti.
'Tuan Arthur mungkin tidak mengucapkan namaku. Tapi bagaimana jika Profesor Edward mengatakannya kepada Dokter Lusianne?'