Chapter 13: "Tatapan tajam Lusianne"

1645 Kata
Menyingkirkan rasa gelisahnya, Ersya kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada para pasien yang dikunjunginya bersama dengan Dionald. Sesekali dia akan tersenyum saat seorang pasien yang ditemui nya menyapa dirinya. "Ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?" Ersya mendongkak dan menatap Dionald yang bertanya padanya dengan nada berbisik. "Hanya... sedikit takut." gumam Ersya "Kau aman jika di dekatku. Jangan pergi ke tempat dimana aku tidak bisa menjangkau mu." balas Dionald pelan. Dia kembali berjalan mendahului Ersya untuk melakukan pengecekan terakhir kondisi pasien sebelum pulang. Pria itu berlalu tanpa menyadari raut wajah Ersya yang tertegun. Hatinya sedikit menghangat sesaat setelah mendengar ucapan Dionald. Walau dia tahu, tidak ada maksud lain dari ucapan pria itu, tapi Ersya tetap senang. Di rumah sakit, Ersya bisa dibilang tidak memiliki posisi yang spesial. Dia tidak dipandang takjub seperti para dokter apalagi di hormati. Skandal dengan Profesor Edward seperti kemarin bisa saja langsung membuatnya terhempas pergi dari rumah sakit. Apalagi jika Dokter Lusianne mengetahui keterlibatannya. Karena itu lah, Ersya terus merasa ketakutan. Jika dia dipecat, maka dia tidak akan bisa membantu perekonomian panti asuhan tempatnya tinggal. Sedangkan saat ini, hampir semua keperluan dari panti asuhan bergantung kepada gaji nya. Perhatian dari Dionald membuat Ersya sedikit merasa lebih baik. Karena secara tidak langsung, pria itu menjamin kelangsungan pekerjaan nya di rumah sakit ini. Perempuan itu menyunggingkan senyuman kecil, dia berlari kecil dan berdiri tepat dibelakang tubuh tinggi Dionald. 'Jika ada yang bisa aku lakukan untuk nya, aku pasti akan melakukannya. Pria ini sudah membantu diriku dalam banyak hal.' batin Ersya Saat dia mendongkak, tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Dionald yang juga tengah menatapnya. Pria itu terdiam sebelum akhirnya menyunggingkan senyuman tipis. Yang saking tipisnya, Ersya sampai mengira jika dia salah melihat dan hanya berhalusinasi. Setelah dirasa tugasnya selesai, Dionald kembali berjalan menjauh dari ruang VIP pasien sebelumnya. "Hari ini suasana rumah sakit jauh lebih tenang dari yang aku perkirakan. Selain Lusianne, sepertinya semua orang membicarakan tentang Profesor Edward dalam diam." gumam Dionald Ersya mengedarkan pandangannya ke sekitar, memastikan semuanya sepi sebelum berdeham kecil untuk menyahuti ucapan Dionald. "Iya. Semua perawat membicarakan hal ini diam-diam. Mungkin segan, entahlah. Mereka juga... bertanya-tanya siapa yang hampir menjadi korban dari Profesor Edward. Bahkan sepertinya mereka juga sempat mencurigai ku." sahut Ersya Dionald sontak menghentikan langkah nya dan berbalik menatap Ersya, "Lalu? Apa yang kau katakan?" "Aku bilang, aku tidak tahu apa apa. Aku berada di ruangan Dokter Dionald saat peristiwa itu terjadi." tukas Ersya Dionald mengerutkan dahinya, "Alibi mu bagus, tapi mengingat bagaimana payah nya dirimu untuk berekspresi tenang, sepertinya aku masih harus waspada." Ersya tertawa miris. Entah pujian atau hinaan yang di layangkan dokter satu itu kepada dirinya. "Tapi aku mungkin akan sedikit bersyukur jika kau tidak gugup dan terbata saat mengatakan alibi itu." lanjut Dionald yang langsung disahuti dengan gelengan pelan dari Ersya. "Saat itu... aku tidak terbata sama sekali." gumamnya Hening setelahnya. Ersya mengalihkan pandangannya ke arah lain, enggan menatap wajah Dionald yang terlihat seperti tengah meragukan dirinya. Yah... hal yang wajar. Pria itu sudah tahu jika Ersya tidak pernah berbohong. Mengatakan alibi yang penuh kebohongan itu kepada banyak orang sama saja seperti menelan paku bagi Ersya. "Oh wow, bagus kalau begitu." sahut Dionald Tanpa sadar Ersya menghembuskan nafas nya lega. "Tapi sepertinya... kita perlu mengeluarkan alibi lain. Tentang kenapa kau ada di ruanganku saat itu." sambung Dionald Kedua netra Ersya melebar, menatap Dionald dengan raut penuh keterkejutan. Lagi? Akan ada kebohongan lagi?! Pantas saja Ibu panti selalu melarangnya untuk berbohong. Karena jika ada satu kebohongan, maka dia harus kembali berbohong untuk menutupi kebohongan lain nya. "Jangan berekspresi seperti dunia hampir berakhir, Ersya. Kau tidak perlu berbohong lagi. Sisa nya biarkan aku yang mengurus. Kau tinggal ikuti permainan ku." *** Dionald menatap Ersya yang tengah duduk di hadapannya. Dia menatap bagaimana cara asisten nya itu membuat laporan pencapaian divisi mereka untuk dibahas pada pertemuan petinggi rumah sakit. Teliti dan serius. Dua kesan yang bisa Dionald dapatkan dari Ersya. Dia belum terlalu lama mengenal perempuan itu. Ah--bukan. Dia sudah cukup lama mengenalnya. Hanya saja, dia mengenal perempuan itu sebatas rekan kerja nya. Dia tidak tahu dimana Ersya tinggal, ataupun latar belakang lainnya yang mungkin diperlukan seseorang jika ingin akrab dengan rekan kerja nya. Ya. Dionald dulu nya se tidak peduli itu. Tapi sekarang, keadaan justru berbanding terbalik saat dia melihat Ersya mampu menangani Arashi dengan mudah. Mungkin ini adalah insting seorang ayah yang ingin memastikan jika orang yang mengenal anaknya adalah orang baik? Ck, sedikit menggelikan. Jika dulu, Dionald mungkin akan bergidik ngeri memikirkannya. Tapi sekarang, dia justru mengira jika rasa kepo nya kepada Ersya justru adalah bagian dari kewaspadaan nya. "Ersya, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Tapi aku yakin, kau akan menganggapku gila jika mengatakannya." ucap Dionald tiba-tiba Dia melihat Ersya mengangkat kepalanya dari kertas dan balik menatapnya dengan tatapan polos. "Mana mungkin aku berani menyebut Dokter Dionald 'gila'?" sahutnya ragu Dionald terdiam, "Bisa saja kau tidak mengatakannya dengan mulut mu, tapi dengan ekspresimu." "Apa kau bisa menemaniku ke kantor polisi?" sambung nya "S-sekarang?! Menemui Profesor Edward?!" pekik Ersya. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya. Bayang-bayang peristiwa semalam mendadak kembali merasuk diingatannya. Dahi Dionald berkerut samar, dia menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan penuh keterkejutan yang di ucapkan Ersya padanya. "Nah kan, kau berekspresi seperti tengah mempertanyakan kewarasanku. Tapi, tidak. Bukan itu. Untuk melaporkan kegiatan ku. Aku butuh saksi untuk membenarkan semua ucapanku di hadapan para Polisi." jelas Dionald tenang "Bukannya ada Tuan David...?" gumam Ersya ragu "Disana David ada di pihak polisi. Dia bukan keluarga ku." sangkal Dionald Ersya menipiskan bibirnya ragu. Namun dia menganggukkan kepalanya menyentujui ajakan Dionald. "Baiklah kalau begitu." sahut Ersya pelan Dionald mengangguk puas. Dia melepaskam sneli yang dipakainya dan mengganti nya dengan sebuah mantel berwarna hitam. Pria itu terdiam sejenak sebelum meraih kunci mobil yang ada diatas meja. "Ayo, Ersya." ajaknya Ersya beranjak dari duduknya. Dia menutup laporan yang sudah ditulisnya dan menyimpannya dengan rapi diatas meja. Perempuan itu melirik Dionald yang merapikan mantel nya dan beranjak keluar ruangan. 'Tunggu. Kita tidak se dekat ini. Kenapa dokter Dionald tiba-tiba mengajakku pergi seperti ini?' pikir Ersya. Dia menggaruk pelan pipi nya sebelum bergerak mengikuti langkah Dionald. Sesekali, dia melihat Dionald mengangguk pelan saat disapa oleh banyak perawat dan dokter. Beberapa rekan kerja sesama perawat seperti nya bahkan memekik senang dengan berlebihan saat Dionald membalas sapaan mereka dengan singkat seperti itu. Yah... tidak salah sih. Walau Dionald terkenal oleh cara bicara nya yang ketus dan menyebalkan, tidak bisa di pungkiri jika pria itu merupakan salah satu dokter yang 'mencuci mata' banyak orang. Jujur saja, Ersya juga mengakui hal itu. Hingga kemudian, tatapan Ersya tanpa sengaja beradu pandang dengan Dokter Lusianne. Hal itu membuat dirinya tersentak kecil penuh keterkejutan. Mendadak, Ersya juga berfikir... kenapa dirinya selalu bertemu dengan Dokter Lusianne hari ini? Biasanya jangankan untuk sering bertemu, melihat bayangannya saja Ersya jarang. Dokter perempuan unggulan rumah sakit itu menatap dirinya dengan sedikit tajam. 'Apa dokter Lusianne mulai mengetahui kebohonganku?' Ersya memutuskan untuk beringsut mendekat kepada Dionald. Dia berharap, bisa menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh Dionald yang menjulang tinggi. "Kau ini kenapa, Ersya?" terdengar suara Dionald bertanya pelan kepadanya "Tidak ada apa-apa." sahutnya cepat. Ersya menyunggingkan senyuman kecilnya. Saat dirinya berhasil keluar dari rumah sakit, perempuan itu langsung menghela nafasnya lega. Entah kenapa tatapan yang ditunjukan Dokter Lusianne dan beberapa perawat yang menyadari keberadaan nya di dekat Dionald, terasa seperti mencekik nya. "Masuklah. Agar kita bisa kembali secepatnya juga." titah Dionald yang langsung dituruti oleh Ersya Perempuan itu kembali melirik keberadaan Dokter Lusianne dan para perawat lain. Dapat dia rasakan, dokter perempuan itu masih menatapnya dari kejauhan. Merasa tertekan dengan cara Lusianne menatapnya, Ersya dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sudah?" Ersya menganggukkan kepalanya. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mengamati cara Dionald menyetir. Mobil berwarna hitam pekat itu beranjak dari pelantaran rumah sakit. Membaur bersama mobil lain di jalan raya. Beruntung nya, jalanan siang itu tidak dipadati oleh kendaraan. Perjalanan keduanya terhitung mulus walau kantor polisi tempat Dionald melapor masih terhitung cukup jauh. Benda besi itu perlahan berhenti saat menemukan lampu merah. Dionald mengentukkan jarinya diatas kemudi. Sesekali, dia melirik Ersya yang terlihat duduk tenang di kursi nya. 'Kenapa aku membawa dia, ya?' pikirnya Dionald menghembuskan nafasnya dalam diam. Bingung dengan pemikirannya sendiri yang secara spontan mengajak Ersya untuk menemaninya melapor. Padahal biasanya, Dionald akam datang sendirian. "Aku menjadi anak baik. Jika aku bertindak meresahkan, bukannya para dokter akan datang sendiri kemari dan melapor pada kalian?!" Biasanya dia akan mengatakan hal itu saat polisi yang menulis laporan nya bertanya apakah Dionald memiliki saksi yang bisa dengan jujur mengatakam jika dirinya menjadi anak baik dan tidak bertingkah. Tapi mungkin setidaknya untuk kali ini, polisi itu tidak akan bertanya tentang saksi karena keberadaan Ersya. "Uhm, Pak..." panggil Ersya yang membuat Dionald kembali melirik perempuan itu dengan alis terangkat tinggi "Hmm?" "Menurut bapak, apa Dokter Lusianne mengetahui sesuatu tentang ku?" tanya Ersya ragu "Kenapa kau bertanya seperti itu? Seharusnya tidak ada alasan dia meragukan ku." jawab Dionald "Tadi Dokter Lusianne menatapku dengan tatapan tajam. Aku kira dia mengetahui sesuatu tentang ku." balas Ersya. Dia menipiskan bibirnya ragu, "Apa sebaiknya aku mulai mencari pekerjaan lain ya?" lanjutnya setengah bergumam Dionald menggelengkan kepalanya pelan, "Jika Lusianne mengetahui sesuatu pun, seharusnya tidak secepat ini. Aku lihat divisi nya hari ini cukup sibuk. Seharusnya dia belum sempat bertemu dengan Profesor Edward." sangkalnya Mendengar itu, Ersya semakin mengerutkan dahinya. Jika dokter Lusianne belum mengetahui apapun, seharusnya tidak ada alasan bagi perempuan itu untuk menatapnya dengan lekat dan tajam, kan? Berbeda dengan Ersya, Dionald mengangkat kedua alisnya. Sepertinya dia mengetahui alasan dibalik Lusianne melakukan hal itu. Tapi dia tidak akan memberitahu alasannya kepada Ersya. Katanya, beredar kabar jika Dokter Lusianne menyukai nya. Sepertinya itu alasan kenapa Lusianne menatap Ersya dengan tajam. Karena belakangan ini, rumor tentang hubungannya dan Ersya juga mulai berhembus di rumah sakit. 'Apa aku harus menjadikan rumor ini sebagai alasan agar Ersya tetap dekat denganku?' Wah Dionald... sepertinya orang akan salah paham jika mendengar mu mengatakan hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN