Chapter 14 "Kecewanya David"

1403 Kata
Ersya memandang kantor polisi di hadapannya. Dia bisa melihat banyak petugas yang berlalu lalang di halaman depan. "Ayo turun." ajak Dionald sambil melepaskan seatbelt nya Ersya melakukan hal yang sama. Dia melepas seatbelt nya dan beranjak turun dari mobil. Sesaat setelah menapakkan kakinya diatas tanah, Ersya merasakan semua perhatian dari para polisi itu mengarah kepadanya. Terutama, polisi perempuan yang berlalu lalang. Ersya berdeham kecil dan menunduk, menatap dirinya sendiri yang memakai pakaian perawat rumah sakit. 'Apa ada yang salah dengan ini? Dokter Dionald juga memakai sneli nya, kan?' Dia melirik Dionald dan langsung menundukkan kepalanya saat mengingat jika pria itu sudah melepas sneli nya dan menggantinya dengan mantel. Seketika Ersya merasa jika dirinya seperti orang yang tersesat dan berada di dunia yang berbeda. "Hai, Dionald. Mau melapor seperti biasa?" Dionald mengangguk saat Adam menyapa nya dengan ramah. Namun ketenangan Adam tidak bertahan lama sesaat setelah dirinya menyadari ada orang lain yang datang bersama dengan Dionald. Pria itu terkesiap dan berlari ke dalam. "Pak, tolong jawab jujur... Apa aku terlihat seperti hantu atau monster?" tanya Ersya. Perempuan itu menggembungkan kedua pipinya. Merasa kesal dan gusar karena terus menerus ditatap dengan aneh oleh banyak orang. Yang terakhir malah bereaksi berlebihan. Dionald hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelahnya. Dan benar saja. Tak lama kemudian Adam kembali menghampiri nya bersama dengan David. "Lihattt?! Keajaiban dunia terjadi!" seru Adam David menatap Dionald, Adam dan Ersya bergantian. Dia sudah mengenal Ersya. Tapi cukup terkejut juga karena adiknya membawa perempuan yang diakuinya sebagai asisten itu datang ke kantor polisi setelah sebelumnya membawa Ersya datang ke rumah. 'Hmmm, sepertinya ini akan menjadi bahan pembicaraan baru untukku dan Celine. Tidak mungkin hanya rekan kerja, sepeti yang sebelumnya di akui, kan?' batin David sambil tersenyum penuh arti "Kalian berdua, tolong menyingkir. Aku harus melapor." usir Dionald sambil mengibaskan kedua tangannya "Melapor? Ku kira kau mau mengajukan surat izin menikah. Karena jika iya, kau salah tempat." sahut David sambil menyunggingkan cengiran menyebalkannya Berbeda dengan Dionald yang masih bisa bereaksi tenang setelah digoda seperti itu oleh David, Ersya malah langsung tersentak kecil dengan kedua mata yang melebar terkejut. "Berhenti main-main, David. Aku sibuk." tukas Dionald ketus "Ululu, si paling sibuk." ledek David. Dia tertawa keras dan berjalan kembali memasuki tempat kerja nya bersama dengan Adam. Melihat tingkah kakak nya yang seperti itu, Dionald hanya bisa menghela nafasnya. Apa semua bapak-bapak seperti itu? Kakak nya yang sudah menjadi bapak-bapak itu semakin hari, tingkah nya semakin menyebalkan. Tapi sesaat kemudian, Dionald tersadar jika dirinya juga adalah seorang Ayah satu anak. 'Tapi tingkah ku tidak aneh seperti David. Dasar bapak-bapak.' ucap nya sebal dalam hati "Tolong maklumi David. Tingkah nya menjadi absurd setelah menikah dan menjadi bapak-bapak." ujar Dionald pada Ersya Perempuan itu terlihat gelagapan sebelum akhirnya tertawa canggung, "Tak apa." Dionald kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kantor Polisi. Dia berjalan menuju sebuah ruangan tempatnya biasa melapor. Disana, dia melihat David dan Adam sudah bersiap di posisi mereka. "Silahkan duduk." seru David pada Dionald Pria itu menurut tanpa mengucapkam apapun. "Jadi... apa yang kau lakukan belakangan ini?" tanya David sambil mengetikkan sebuah laporan di laptopnya "Bekerja lalu pulang ke rumah." jawan Dionald singkat "Jawaban mu seperti itu terus ya." komentar Adam "Mau bagaimana lagi? Kegiatanku setiap hari memang hanya itu." balas Dionald tenang "Aku menerima laporan jika kau beberapa kali pulang terlambat." tukas David "Ah, itu karena mengantar Ersya asistenku pulang ke rumah. Hanya itu." Dionald terdiam selama beberapa saat, "David, bukannya kau sudah mengetahui alasan ku? Kenapa kau bertanya lagi, sih?" Pria itu, David, mengendikan kedua bahunya, "Aku kan mengetahui nya sebagai David yang Kakak mu. Bukan David yang seorang Polisi." elaknya santai Dionald hanya bisa menghela nafasnya. "Kau tahu tentang kejahatan pengeroyokan yang terjadi belakangan ini? Kejadiannya berada tepat di dekat rumah sakit. Apa kau ada disana?" tanya David lagi "Pengeroyokan apa? Sepertinya aku tidak mendengar apapun tentang-" "Oh tunggu. Apa maksudmu di dekat Panti Asuhan?" David mengangguk kecil. "Oh. Itu aku." ucap Dionald tenang "Wuah Dionald~ Bukannya kau tahu jika kau dilarang memukul orang?" tanya Adam terkejut "Maksudku, aku korbannya. Mereka yang mengeroyokku. Mereka lebih dari 5 orang, sedangkan aku sendirian apa menurutmu itu adil? Saat itu, di mobilku ada seorang perempuan dan anakku. Jika aku hanya diam, tidak akan ada hal bagus yang terjadi. Makanya aku memilih melawan." jelas Dionald "Ada saksi?" tanya David Ersya segera menegakkan tubuhnya, "Aku. Saat itu... mereka memiliki niat yang tidak baik. Aku juga melihat saat itu Dokter Dionald tidak memukul duluan. Mereka yang terlebih dahulu memukul nya dengan balok kayu sebelum akhirnya Dokter Dionald melawan." ucapnya Tentu saja, kan? Dia saksi dari peristiwa itu. "Lalu bagaimana? Kau menang?" tanya Adam antusias "Tentu saja. Kau meremehkan ku?" sahut Dionald sambil tersenyum sombong Adam berseru takjub, dia langsung bertepuk tangan. "Jika aku ada di posisi mu, aku juga akan melakukan hal yang sama." ujar Adam sambil memberikan dua jempolnya pada Dionald. Pria itu kemudian berdecak pelan, "Menyelamatkan dan mengamankan orang yang dicintai itu suatu keharusan." lanjutnya sambil menatap bangga pada Dionald Ersya kembali tersentak kecil. Dia kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir asumsi dan sedikit rasa senang di hatinya yang salah paham kepada ucapan Adam. Dia jelas mengerti jika yang harus dilindungi dan dicintai adalah Arashi. Bukan dirinya. Karena jika dirinya terluka, tidak akan berdampak apapun pada Dionald. Berbeda jika Arashi yang terluka. "Tidak menyangkal?" tanya David pada Dionald Dionald mengerutkan dahinya, "Aku sendiri yang mengakui, kenapa aku harus menyangkal?" "Bukan. Maksudku, kau tidak menyangkal ucapan Adam?" tanya David sambil menaik turunkan alisnya menggoda "Kenapa harus menyangkal?" Mendengar sahutan dari Dionald, David dan Adam kembali berseru menggoda. 'Apa Legiond akan segera mendapatkan anggota baru?' pikir David antusias. Dia melirik Ersya dan Dionald berkali kali. "Disana kan ada Arashi. Anakku yang aku cintai dan harus aku lindungi. Kenapa aku harus menyangkal?" lanjut Dionald Seruan takjub dan menggoda itu seketika berubah menjadi sorakan menghujat. Terlebih David, dia langsung menyuarakan protes nya terhadap Dionald yang sempat membuatnya berharap lebih. "Bubar semua! Penonton kecewa!" sorak Adam yang langsung disetujui oleh David "Sebenarnya laporan ku sudah kalian tulis belum, sih?" tanya Dionald yang bingung dengan tingkah kedua polisi absurd sekaligus Papa muda di hadapannya itu Pasalnya, berkali-kali dirinya kemari kedua Polisi di hadapannya itu sama sekali tidak pernah bermain-main seperti sekarang. Biasanya David akan mengorek semua hal yang dia lakukan selama dua minggu ini dengan sangat. Tidak seperti sekarang. "Maaf," David terbatuk, "Aku tidak bisa menahan diri. Habisnya kali ini kau datang ditemani seseorang. Dan lagi, perempuan. Jadi aku ehm, tidak bisa untuk tidak salah paham." sahutnya sambil kembali menahan senyuman nya Ersya meringis. Semakin merasa jika dirinya adalah alien yang salah dunia hingga bertemu dengan kedua polisi di hadapan nya. "Kalian akan membuatku dan asisten ku canggung." dengus Dionald David dan Adam sontak tertawa puas setelah melihat raut kesal yang ditunjukan oleh Dionald. "Tak apa. Awalnya hubunganku dengan Celine juga canggung. Tapi lama-lama kami sama sekali tidak canggung." balas David Kali ini Dionald sama sekali tidak bisa menahan dirinya untuk menghujat David. Dia mengumpat pelan dalam hati dan menatap sebal ekspresi playful yang ada di tampilkan oleh kakak nya itu. "Kalau sudah selesai, aku pamit. Aku masih harus bekerja." ungkap Dionald setengah mengancam "Ooooo, dia marah. Imut sekali. Malu-malu kucing seperti remaja." ledek David Dionald mendengus kesal. Semakin dia memberikan reaksi yang membuat kakak nya senang, maka ledekan itu tidak akan pernah berhenti. Jadi lebih baik dia diam. "Laporan mu sudah selesai, tenang saja. Aku dengar, sepertinya kau juga akan mendapatkan keringanan dari pihak kami." ujar David menenangkan "Keringanan apa? Aku tidak perlu melapor lagi?" tanya Dionald melunjak "Eiyy, tidak seperti itu tapi mirip-mirip. Awalnya kau diminta untuk melapor dua minggu sekali, kan? Jika nanti, kau mungkin hanya perlu melapor sebulan sekali. Ini bonus karena selama ini kau bersikap baik dan juga..." David melirik Ersya, dia tersenyum tipis, "Dan juga karena kau membantu seseorang. Aku juga diminta para korban untuk menyampaikan terima kasih kepadamu. Aku baru bertemu dengan mereka pagi ini." Dionald dan Ersya sama sama terdiam. Mereka mengerti dengan apa yang dikatakan David secara tersirat. Pria itu tengah menyeret kasus Profesor Edward. "Ohh, baguslah." ucap Dionald pelan "Jadi... kapan resepsi pernikahan nya akan segera dilakukan?" tanya David "Siapa yang akan menikah, David bodoh?! Akan aku katakan pada Joyceline jika kau mengusir ku secara tidak langsung!" Mendengar ancaman itu, David berdecih. 'Yahh, ternyata Dionald tidak akan menikah dalam waktu dekat. Baru saja aku kira aku bisa bermesraan dengan Joyceline secara bebas tanpa ada Dionald yang suka mengacaukan suasana.'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN