Dionald menghembuskan nafasnya kesal saat melihat ekspresi menggoda yang sama sekali tidak hilang dari wajah kakak nya. Dia kemudian melirik Ersya yang terlihat menyunggingkan senyuman canggung.
"Sudah lah. Jika sudah selesai, aku mau pergi. Aku masih punya kerjaan yang harus aku selesaikan." ujar Dionald ketus. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan David.
Tentu saja, kedua polisi yang sudah menjadi bapak-bapak itu mengekor dibelakang Dionald. Adam dan David tidak akan melewatkan kesempatan melihat Dionald berduaan dengan seorang perempuan yang bukan anggota keluarga Legiond di dalam mobil.
Dionald mengarahkan kunci mobil kepada mobilnya. Benda besi itu mengeluarkan suara dua kali sebelum akhirnya kembali tenang.
"Cih, sama sekali tidak romantis." komentar David saat melihat Dionald membiarkan Ersya membuka pintu mobil sendirian
Namun sesaat sebelum Dionald turut masuk ke dalam mobil, pria itu mengingat sesuatu.
"Dionald! Kemari, ada yang ingin aku bicarakan." seru David membuat pergerakan Dionald terhenti
"Jika kau mau meledek ku, aku tidak mau datang kesana." tolak Dionald ketus
"Tidak, bukan soal itu yang mau aku katakan." sangkal David sambil terkekeh kecil saat menyadari jika adiknya merajuk
Dionald menghela nafasnya. Dia menunduk, menatap Ersya yang sudah memakai seatbelt nya, "Tunggu sebentar disini."
Ersya mengangguk patuh. Dia menatap Dionald yang kembali berjalan menghampiri David yang masih berdiri di depan pintu kantor Polisi.
"Laporan mu soal Profesor Edward, sudah diproses. Tapi aku tidak yakin dengan permintaan mu yang membuat Profesor m***m itu tidak bisa dikunjungi oleh siapapun." ujar David dengan suara pelan
"Kau yakin tidak bisa melakukannya? Bilang saja pada siapapun yang ingin berkunjung jika keadaan mental profesor Edward tidak stabil dan tidak memungkinkan untuk dikunjungi." sahut Dionald menuntut
"Kau kira aku bisa memanipulasi hal semacam itu?" decak David. Dia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa melakukan itu. Karena Profesor tua itu jauh lebih tenang dari dugaanku. Aku dan Arthur mungkin bisa menjamin dia tidak akan bisa bebas dengan mudah. Tapi aku tidak bisa menghalangi siapapun untuk menjenguknya di dalam penjara." lanjutnya
"Artinya..."
"Ya. Ada resiko keluarga Profesor itu mengetahui keterlibatan mu dan Ersya dalam hal ini. Kita tidak bisa membuat profesor itu bungkam. Dia mungkin akan mencari cara untuk membela diri."
Dionald berdecih. Dia melirik Ersya yang terlihat duduk tenang di dalam mobilnya.
Jika profesor itu membuka mulut, sudah tentu Ersya akan tamat. Berbeda dengan dirinya yang disegani karena memiliki pengaruh besar, asisten nya yang satu itu tidak bisa berbuat apapun untuk membela diri.
Bisa dibilang, latar belakang Ersya sangatlah lemah. Jika dihempas, maka perempuan itu akan terhempas dalam satu percobaan.
"Wow, apa saat ini kau takut, Dionald?" tanya Adam yang takjub melihat Dionald terdiam dengan ekspresi rumit di wajahnya
"Tidak, tentu saja. Profesor itu tidak akan bisa membuatku takut begitu saja." jawab Dionald tenang
"Apa kau akan memberitahu perempuan itu tentang hal ini?" tanua David
Dionald menggelengkan kepalanya pelan, "Mungkin tidak. Sebenarnya, Ersya sudah curiga hal ini akan terjadi. Aku tidak mungkin mengatakan hal ini dan membuat dirinya merasakan ketakutannya menjadi nyata."
"Berbeda dengan kita, Ersya tidak punya apapun untuk dijadikan perisai. Jadi mungkin aku tidak akan mengatakan hal ini padanya." lanjutnya
"Jika memang ingin mempertahankannya... kenapa kau tidak menjadikan dirimu sendiri perisainya?" tanya David
"Maksudmu? Kenapa aku harus melakukan hal itu?" balas Dionald sambil menaikan kedua alisnya bingung. Sesaat kemudian, dahinya berkerut, "Apa keuntunganku jika melakukan hal itu?"
"Wahh, Dionald. Aku tidak menyangka kau sejahat itu hingga masih memikirkan keuntungan untuk membantu orang lain." seru Adam sambil berdecak secara berlebihan
"Jangan lupa, Arashi menyukainya. Arashi selalu mencari cara agar bisa bertemu dengan perempuan itu, aku melihatnya sendiri pagi tadi. Menurutmu... apa Arashi akan menyukai nya jika perempuan itu dipecat dari rumah sakit? Kesempatan dia bertemu dengan perempuan itu hanyalah di rumah sakit, Dionald. Kau pasti mengerti apa maksudku." jelas David. Pria itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Anggap saja kebaikan hatimu pada perempuan itu adalah hubungan timbal balik. Kau mengamankan pekerjaan nya, dan percaya saja suatu saat kau akan mendapatkan balasan atas kebaikan mu itu."
***
Ersya menatap Dionald yang masih berbincang di halaman rumah sakit bersama dengan kedua polisi tadi.
Diluar dugaan, laporan yang dimaksud oleh Dionald tadi ternyata tidak semerikan dugaan nya. Entah karena efek yang menulis laporan tersebut adalah kakak dari Dionald itu sendiri, atau karena memang selama ini Dionald berkelakuan baik. Karena itu para polisi pun tidak keras padanya.
Ersya menatap lekat wajah Dionald dan David secara bergantian. Dua pria yang bernama belakang 'Legiond' itu terlihat cukup mirip satu sama lain. Hanya saja, visual David terlihat lebih lembut dibandingkan Dionald.
Mungkin juga efek karena pria itu lebih ramah?
Tapi jika Ersya bisa memuji, maka itu akan dia lakukan untuk keduanya.
Dia pernah melihat anggota keluarga Legiond yang lain di televisi. Shannaya dan Anastasya Legiond. Kedua perempuan itu juga memiliki visual yang sangat memanjakan mata.
"Sepertinya keluarga Legiond berada dibarisan terdepan ketika Tuhan membagikan visual, kekayaan dan keberuntungan." gumam Ersya takjub
Tentu saja, kan? Dengan latar belakang keluarga Legiond, karir dan wajah yang sama-sama on point, Ersya wajib merasa takjub.
Sepertinya semua anggota keluarga Legiond diberkati dengan banyak hal tanpa kekurangan.
Cukup lama Ersya memperhatikan Dionald yang berbincang bersama kedua polisi itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya itu adalah hal yang sangat serius.
Apalagi karena Dionald sesekali mengerutkan dahinya.
Ersya kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lain. Dia menatap halaman kantor polisi yang sudah tidak seramai saat dirinya baru saja tiba. Sudah tidak ada polisi yang berlalu lalang. Hanya ada beberapa mobil yang terlihat kosong berada sejajar dengan mobil Dionald.
Hingga kemudian, kedua netra Ersya menatap sesuatu.
"Apa itu? Siapa dia?" gumamnya pelan
Ersya menegakkan tubuhnya, menatap seseorang yang memakai topi dengan hoodie berada tepat di samping mobil Dionald. Karena kaca mobil yang gelap, sepertinya orang itu tidak menyadari keberadaan Ersya di dalam nya.
Sulit bagi Ersya untuk mendefinisikan orang itu adalah pria atau wanita. Terlebih karena wajah orang itu ditutupi oleh topi.
Ersya menegakkan tubuhnya, menatap sesuatu yang mencurigakan berada di genggaman orang tersebut.
Hingga tiba-tiba, dirinya terperanjat saat melihat orang itu melemparkan sesuatu tepat ke pelipis Dionald. Tak cukup disana, keterkejutannya bertambah saat kaca mobil yang ditumpanginya juga dihantam oleh batu yang berukuran cukup besar.
Dari dalam, Ersya bisa melihat wajah orang itu. Juga... ekspresi penuh dendam yang terlukis di wajah seseorang yang ternyata adalah perempuan tersebut. Hingga sepertinya, orang itu menyadari keberadaan Ersya. Karena kedua mata mereka sempat bertemu sebelum akhirnya Ersya menutup wajahnya, menghindari pecahan kaca yang bertebaran ke arah nya karena ulah orang asing tersebut. Tubuhnya gemetar ketakutan.
Baru kali ini dia melihat ekspresi seperti itu. Ekspresi penuh dendam, amarah dan nafsu untuk membunuh.
"ERSYA!"
Samar-samar, Ersya mendengar seseorang meneriakkan nama nya. Namun dirinya enggan untuk membuka mata. Takut jika dia melihat ekspresi menyeramkan orang itu untuk yang kedua kalinya. Terlebih, dia masih mendengar suara kaca yang pecah sebelum akhirnya terdengar suara langkah berderap, yang menandakan orang itu berlari menjauh.
Hingga kemudian, Ersya merasakan seseorang menyentuh kedua bahunya.
"Ayo keluar. Buka matamu!" seru orang yang diyakini Ersya sebagai Dionald itu
Dengan gemetar, Ersya menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Dia membuka kedua matanya dan menatap Dionald dengan mata yang berkaca-kaca.
"D-darah..." gumamnya lirih saat melihat darah menetes dari pelipis pria itu
"Kau baik-baik saja?" tanya Dionald pada Ersya. Pasalnya, tubuh perempuan itu gemetar ketakutan.
"D-dokter Dionald, pelipis mu berdarah..." lirih Ersya. Tetesan darah pria itu menetes mengenai seragam perawat yang dikenakan oleh dirinya.
"Aku tak apa-apa, Ersya. Bagaimana denganmu? Pecahan kaca nya tidak menusuk mu kan?" tanya Dionald. Dia mengira jika Ersya menangis karena terkena serpihan kaca yang pecah.
"Aku tak apa... t-tapi darah mu banyak sekali." jawab Ersya dengan suara tercekatnya
Dionald menghela nafasnya. Dia menatap lekat Ersya. Samar-samar dirinya bisa melihat ada sebuah luka tepat di leher perempuan itu. Dan sepertinya, Ersya tidak menyadari hal itu.
"Maaf... Maaf..." racau Ersya
"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Dionald. Dia merangkul Ersya untuk menjauh dari mobilnya. Apalagi karena pecahan kacanya berserakan di tanah. Akan sangat berbahaya jika terinjak.
"Pasti ini karena Dokter membantuku dalam menangani Profesor Edward, kan? Mungkin saja orang itu adalah orang suruhan Profesor Edward. Ini semua pasti salahku." jelas Ersya. Dia mengatupkan bibirnya, menahan suara isak tangis nya yang entah kenapa terasa sedikit memalukan.
Apalagi karena keributan yang terjadi tadi membuat beberapa petugas kepolisian yang berada di dalam kantor, berlarian keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Sementara itu, Dionald terdiam.
Sejak dulu, dia memang memiliki banyak musuh. Masa lalu nya yang kelam membuat dirinya menjadi incaran banyak orang. Entah mereka datang untuk balas dendam karena nyawa yang pernah Dionald renggut atau justru karena suruhan orang lain yang menjadi musuh nya.
Tapi ini tidak benar. Orang itu juga menyadari keberadaan Ersya, bahkan mungkin mengincarnya juga.
Kini dia tak hanya harus mengamankan Ersya dari keluarga Profesor Edward. Tapi juga dari orang-orang yang membencinya dan mengincar kehancurannya.
"Tenangkan dirimu, Ersya. Ini bukan salahmu."