Chapter 16 "Seperti melemparkan bensin kedalam api."

1846 Kata
Dionald menelfon salah seorang temannya di rumah sakit, dia meminta temannya itu menggantikan nya untuk bertugas untuk beberapa jam saja. Lagipula, temannya itu masih pernah berhutang waktu betugas kepadanya. Begitu pula dengan Ersya. Dionald meminta perawat lain untuk menggantikan semua tugas Ersya selama beberapa jam kedepan. Hanya sampai keadaan perempuan itu menjadi lebih stabil. "Orang itu tidak tertangkap. Dia mungkin bersembunyi disuatu tempat atau berlari dengan sangat kencang. Aku dan Adam sama-sama tidak bisa menangkapnya." ujar David pada Dionald yang tengah diobati oleh Ersya "Tapi kalian aman disini. Entah kenapa aku merasa, jika kediaman Legiond jauh lebih aman dibandingkan kantor polisi itu sendiri." lanjur David. Pria itu berjalan ke salah satu sofa yang ada dan duduk disana. Dia memejamkan kedua matanya untuk sejenak, "Dionald, kau akan disini dulu, kan?" tanya nya "Hm." sahut Dionald singkat "Kalau begitu aku kembali ke tempat kerja ku, ya? Kau pakai saja mobil yang ada di garasi. Mobilmu yang rusak akan aku coba kirimkan ke orang yang bisa membetulkan nya." ujar David "Tidak menunggu Joyceline dulu?" tanya Dionald "Tidak. Lagipula dia masih mengantar Arashi dan Izekiel sekolah kan. Dia mungkin baru akan pulang setengah jam lagi." jawab David sebelum akhirnya bangkit dari posisinya dan berjalan keluar dari rumah. Meninggalkan dua orang yang sama-sama tengah terdiam. Ersya dengan rasa bersalah nya, dan Dionald yang entah kenapa merasa bingung harus bagaimana memulai percakapan dengan Ersya. Pria itu menatap Ersya yang terlihat sendu, kedua mata sembab nya terlihat jelas. "Sudah ku bilang bukan salah mu, kan?" ujar Dionald setengah menegur "Entah kenapa aku merasa jika itu orang suruhan profesor Edward." sahut Ersya dengan suara nya yang terdengar aneh "Bukan." sangkal Dionald "Jika bukan, lalu orang suruhan siapa? Tidak mungkin dia datang lalu melempar batu begitu saja jika dia tidak memiliki masalah. Pasti dia orang suruhan Profesor Edward. Dia dendam karena harus mendekam dipenjara karena ku." lirih Ersya "Ersya, harus kau tahu, musuhku bukan hanya Profesor Edward. Jadi ini bukan salahmu. Tidak ada yang bisa disalahkan untuk hal ini." tegas Dionald Sulit untuk mengatakan tentang pekerjaan di masa lalu nya pada Ersya. Entah perempuan itu sudah mengetahui nya atau belum jika dulunya Dionald terlibat dalam perdagangan ilegal dunia bawah tanah yang juga melibatkan mafia. Lagipula, Dionald merasa tidak ada gunanya mengatakan hal itu pada Ersya. Hubungan mereka tidak se spesial itu hingga Dionald harus mengungkapkan masa lalu nya. Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, kepalanya terasa berdenyut karena batu itu. Jika ada orang yang meminta nya melakukan operasi, maka Dionald pastikan dirinya tidak akan bisa melakukan itu dengan baik seperti biasanya. Fokus nya hilang dan sesekali pandangannya akan mengabur karena batu sialan itu. Dionald menghembuskan nafasnya. Dia kesal, namun tidak ada yang bisa dia lakukan untuk itu. Apalagi jika Shannaya tahu, perempuan itu pasti hanya akan menatapnya dengan angkuh dan mengatakan hal yang menyebalkan tanpa ada niat untuk menenangkan nya. "Itu masalah mu. Salah sendiri kau terlibat dengan hal yang berbahaya seperti itu. Rasakan saja akibatnya. Jangan merengek ataupun memintaku membantumu." Begitulah. Dionald tahu betapa menyebalkannya seorang Shannaya. Sesaat setelahnya, Dionald mendengar suara pintu yang terbuka lebar. Dia menegakkan tubuhnya, mengira jika David kembali untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Namun dahinya berkerut saat melihat Joyceline yang berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggandeng Izekiel dan tentu saja, Arashi. "Eh?" gumam Joyceline yang melihat Dionald bersama dengan Ersya di ruang tamu. Keterkejutannya bertambah saat melihat dahi Dionald yang terbalut oleh perban. "PAPA!" Arashi berteriak kencang. Anak itu meronta dari genggaman Joyceline dan berlari menghampiri Dionald yang sama terkejutnya karena melihat Joyceline pulang lebih cepat dari biasanya. "Kau pulang lebih cepat?" Joyceline dan Dionald sama-sama terdiam saat mulut mereka menanyakan hal yang sama di waktu yang bersamaan. "Aku tidak pulang. Hanya mampir sebentar setelah mengurus laporan..." ujar Dionald. Dia menunduk menatap Arashi yang memeluknya dengan erat, "Bagaimana denganmu?" tanya nya pada Joyceline Terlihat Ibu satu anak itu menghela nafasnya dan melangkah menuju sofa ruang tamu. "Arashi sedikit rewel. Dia merengek ingin pulang lebih awal. Jadi aku meminta izin dan pulang. Untung nya hari ini hanya outdoor class. Jadi guru nya mengizinkan Arashi untuk pulang duluan." jelas Joyceline Dia menatap Dionald dan Ersya bergantian. Kedua matanya menatap lekat sebuah luka yang berada di wajah kedua nya. "Kalian kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Joyceline "Penyerangan. Kaca mobilku hancur dan pecahan nya mencederai Ersya." jawab Dionald sambil menepuk pelan punggung Arashi yang terlihat jauh lebih manja. "Lalu bagaimana denganmu? Kau terkena pecahan kaca juga?" "Bukan. Dokter Dionald... dilempari batu oleh seseorang." ungkap Ersya Joyceline menatap Dionald dan Ersya bergantian dengan kedua mata melebar terkejut. "A-apa ini? Aku kira pekerjaan yang melibatkan penjahat hanyalah Polisi seperti David." balasnya setengah tertegun. Dia melirik Arashi dan tengah memeluk Dionald, "Hmm... mungkin itu yang membuat Arashi ingin pulang. Dia pasti tahu jika terjadi sesuatu pada kalian." lanjutnya Atensi para orang dewasa itu terarah pada Arashi. Anak laki-laki bertubuh gembul itu menangis terisak di pelukan Dionald. "Papa, papa sakit?" ucapnya Dionald tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Tidak. Papa baik-baik saja." "Bohong! Kepala Achi juga sakit, Papa." tuding Arashi kepada Dionald. Anak itu mendongkak dan menatap Dionald dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, "Kepala Papa diperban. Artinya itu luka dan sakit. Kenapa Papa bohong pada Achi?" "Tidak, Papa tidak sakit. Luka nya di perban agar tidak ada kuman yang masuk." jelas Dionald Penjelasan yang tidak membuat Arashi tenang sama sekali. Anak itu malah menangis semakin keras setelah mendengar Dionald menyebutkan kata kuman. Atensi Arashi kemudian terarah pada Ersya. Anak itu mengulurkan satu tangannya, meminta untuk di genggam. "Aunty baik-baik saja?" Ersya tersenyum dan mengangguk. Dia menggenggam tangan kecil Arashi yang tadi terjulur ke arahnya dengan hangat. "Aku tidak apa. Achi, jangan menangis lagi ya? Papa mu baik baik saja. Achi tidak lupa jika sebelumnya aku bilang Papa Achi adalah orang yang hebat, kan?" Terlihat Arashi menatap Ersya dan Dionald secara bergantian sebelum akhirnya mengangguk. Anak itu membuka tangannya lebar lebar, memancing tanda tanya dari ketiga orang dewasa yang ada di sekeliling nya. "Kenapa? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Dionald bingung "Peluk." jawab Arashi polos Joyceline terbatuk kecil. Dia tersedak ludahnya sendiri saat menyadari jika Arashi ingin memeluk Dionald dan Ersya disaat yang sama. "Peluk?" "Iya. Biasanya Mommy, Daddy, Achi dan Iel akan saling berpelukan sebelum tidur. Mommy akan bilang jika Daddy, Achi dan Iel sudah menjalani hari dengan baik walaupun itu mungkin bukan hari yang baik." Dionald langsung menatap lurus Joyceline yang duduk tepat di seberang nya. "Itu kebiasaan baik, Dionald. Percayalah." sahut Joyceline Dionald menghembuskan nafasnya sebelum memeluk Arashi dengan erat. Namun anak itu tidak juga membalas pelukannya, Arashi justru menatap Ersya dengan kedua tangan yang masih terbuka lebar. "Aunty, kemari. Achi juga mau peluk aunty." Ersya tersentak kecil, dia menatap Dionald dengan ragu-ragu. Jika dia turut memeluk Arashi, maka dia juga akan memeluk Dionald. Tentu saja itu akan menjadi hal yang sangat canggung. "Lakukan saja." ujar Dionald tanpa bersuara Ersya menatap Arashi yang juga tengah menatapnya dengan penuh harap sebelum akhirnya mendekat dan memeluk Arashi. Dari posisi nya saat ini, dia bisa mencium aroma parfum Dionald yang maskulin. "Papa dan Aunty hebat." celetuk Arashi. Anak itu tertawa riang sebelum akhirnya balas memeluk Ersya dan Dionald. "Hebat? Apa Papa sehebat itu, Achi?" tanya Dionald pelan "Iya! Papa pasti luka karena melindungi aunty, kan? Seorang pria sudah seharusnya melindungi wanita, Papa. Aunty Shanna bilang hal itu pada Achi." Dionald terkekeh pelan. Dia mengecup pelan pipi Arashi sebelum kembali menenggelamkan wajahnya dibahu anak itu. "Lagi lagi Shannaya mendoktrin mu dengan hal aneh." *** Pada akhirnya, Dionald dan Ersya kembali ke rumah sakit tepat setengah jam sebelum jam makan siang dimulai. Kedatangan keduanya disambut dengan berbagai tatapan penasaran dari para penghuni rumah sakit. Terlebih karena perban yang ada di dahi Dionald, mengundang perhatian dari banyak orang. Mereka semua bertanya-tanya dari mana Dionald mendapatkan luka seperti itu. Pasalnya, walau seorang dokter, tapi kemampuan bela diri Dionald juga tidak bisa dianggap lemah. Muncul lah sebuah teori jika Dionald terluka karena melindungi Ersya. Dan pria itu terluka karena harus berkelahi dan melindungi Ersya disaat yang sama. Rumor itu sampai di telinga Dionald yang baru saja melangkahkan kaki di kantin rumah sakit. Dia bisa merasakan semua mata tertuju padanya. Namun dia tidak ingin mengatakan apapun. Bisa gempar satu rumah sakit jika dia membuat klarifikasi. Lagipula, dengan adanya rumor seperti ini, seharusnya Dionald bisa melindungi Ersya dengan nama nya. Rumor seperti ini seolah mengatakan secara tidak langsung jika dirinya memiliki hubungan yang istimewa dengan Ersya. "Wow, bro. Kau sangat gentleman." seru Steve sambil menepuk keras punggung Dionald. Dia mengangkat satu sudut bibirnya dan menatap Dionald dengan kedua mata yang berbinar penuh rasa penasaran, "Tak ku sangka tipe mu yang seperti itu. Ku kira Dokter Lusianne adalah tipe mu. Tapi ya, perawat itu juga tak kalah cantik. Tapi dia tidak lebih sexy dari dokter Lusianne." Dionald melirik Steve dengan dahi berkerut samar. Tidak menyukai cara pria itu memuji sekaligus merendahkam Ersya disaat yang sama. "Whoaaa, santai. Kau terlihat seperti hendak memakanku." Dionald berdecak pelan. Pria itu melangkah mendahului Steve untuk mengambil makan siang nya. Di tengah perjalanan nya, dia melihat Ersya yang juga tengah mengantre untuk makan siang. Merasa ditatap oleh seseorang, Ersya mengangkat kepalanya. Dia tersentak kecil dan kembali menundukan kepalanya saat melihat jika Dionald lah yang tengah menatapnya. 'Apa aku berbuat salah kepadanya?' Lalu bayang bayang dirinya yang memeluk Arashi tadi kembali hinggap di ingatan Ersya. Membuat perempuan itu meringis. 'Tapi aku memeluk Arashi kan atas perintahnya!' Ketegangan Ersya semakin meningkat saat melihat Dionald berjalan tepat ke arahnya. Perempuan itu melirik ruang kosong dibagian belakang nya. "Semoga dia tidak diam di belakangku." gumam nya lirih Awalnya, perempuan itu senang karena ada Steve yang berjalan mendahului Dionald. Pertanda jika pria itu lah yang akan berdiri di belakang nya. Namun rasa senang nya meluap begitu saja saat Dionald menatap tajam Steve dan berjalan cepat melewati pria itu. Dan tentu saja. Doa Ersya tidak terkabulkan. Perempuan itu berdiri tegak saat Dionald tiba-tiba berdiri tepat di belakang nya. Dia merasa seperti tengah di hukum di tempat untuk alasan yang tidak dia ketahui. "Kenapa kau seperti itu? Orang-orang yang melihat pasti mengira jika kau tengah berlatih upacara." bisik Dionald yang membuat Ersya meremas nampan yang ada di tangannya Ersya berdeham pelan. Dia memundurkan sedikit tubuhnya dan melirik Dionald yang ada di belakang nya, "Bapak mau duluan? Kita tukar tempat saja." ucapnya "Kau menyukai Steve? Karena itu kau memintaku bertukar? Tadi juga aku melihat kau menatap Steve dari kejauhan berkali-kali." balas Dionald Ersya langsung menggelengkan kepalanya. Lagipula dia tidak menyukai siapapun. Apalagi dokter Steve yang katanya agak genit. Dia tersentak kecil saat bahu nya di dorong oleh Dionald untuk kembali menatap lurus ke depan. "Kalau begitu diamlah. Aku tidak berniat menukar posisi kita." Setelah mengatakan hal itu, Dionald menajamkan pendengarannya. Samar-samar, dia mendengar para perawat yang berbisik membicarakan dirinya dan Ersya. 'Daripada hanya menyalakan api kecil, sekalian saja aku lemparkan bensin ke dalam api.' Dionald berdeham pelan. Dia menghapus jarak antara dirinya dan Ersya sebelum akhirnya bergumam tepat di samping telinga perempuan itu. "Ersya, bagaimana jika aku memintamu menjadi Ibu dari Arashi?" Bagi Dionald, keputusan yang diambilnya saat ini adalah keputusan yang besar. Tanpa dia tahu jika satu kalimat yang ia keluarkan akan mengubah hidupnya di masa depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN