Suara nampan yang terjatuh membuat semua orang mengalihkan atensi nya kepada Ersya. Mereka semua menatap penuh penasaran apa yang baru saja di dengar perawat satu itu dari mulut Dionald hingga terlihat sangat terkejut seperti itu.
"D-dokter ngelamar saya?" balas Ersya dengan suara yang tercekat
Dionald terdiam sejenak, dia merendahkan tubuhnya dan meraih nampan Ersya yang terjatuh. Pria itu menatap sekeliling nya, sebelum akhirnya menyodorkan paksa nampan tersebut kepada Steve yang berdiri di belakang nya.
"Ayo." ajak Dionald sambil meraih tangan Ersya untuk di genggam dan beranjak pergi dari sana diiringi tatapan terkejut dari semua orang
"H-HEI DIONALD, KAU BILANG KAU TIDAK ADA HUBUNGAN APAPUN DENGAN PERAWAT ITU!" samar-samar terdengar teriakan penuh protes dari Steve yang sejak tadi keberadaan nya diabaikan oleh Dionald
Dionald membawa Ersya berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah sakit. Dia membawa perempuan itu menuju ruang pribadi nya.
Sepanjang perjalanan, Dionald bisa merasakan tangan kecil yang ada di genggamannya terasa sangat dingin. Namun dia tidak berniat melepaskannya. Biar saja tautan tangan mereka menarik perhatian banyak staff rumah sakit agar rumor hubungan mereka yang tersebar semakin luas.
Pria itu membawa Ersya memasuki ruangannya dan menutup pintu ruangan miliknya.
"D-dokter, saya minta maaf kalau saya ada salah." ujar Ersya
Untuk beberapa alasan, Dionald bisa melihat keringat dingin ada di dahi perempuan itu.
"Kenapa kau terlihat ketakutan begitu?" tanya Dionald
Ersya terdiam sejenak, dia menunduk menghindari tatapan Dionald yang terasa menghujamnya.
"Karena dokter mengatakan hal yang tidak masuk akal." gumam perempuan itu
"Sebenarnya... aku bukan melamarmu." ungkap Dionald. Pria itu bersedekap dan menatap lurus Ersya yang terlihat seperti seekor kucing yang terdesak oleh seekor singa. Dionald menyunggingkan senyuman tipisnya, "Aku memintamu menjadi Ibu asuh Arashi. Anak ku terlihat sangat menyukai mu."
Mendengar itu, Ersya sontak mengangkat kepalanya. Kedua matanya melebar mendengar kalimat lanjutan dari 'lamaran' yang sebelumnya dia terima di kantin.
"A-apa?"
"Kau tahu? Arashi menyukai mu. Dia juga selalu mencari kesempatan agar bisa bertemu denganmu. Entah apa yang sudah kau lakukan padanya hingga dia menempel padamu seperti itu." ujar Dionald
"Aku tidak menyalahkanmu. Tidak ada hal yang bisa aku salahkan untuk itu. Jadi aku ingin memintamu menjadi Ibu asuh bagi anakku, Arashi." lanjutnya
"K-kenapa saya? Bukannya wajar jika Arashi menempel pada saya? Arashi tidak terlihat akan mencurigai semua orang yang mendekatinya. Arashi juga dekat dengan Nyonya Joyceline dan Nyonya Shannaya, kan? Arashi menempel pada saya dengan cara yang sama seperti Arashi menempel pada keduanya." sahut Ersya dengan tergesa. Nafasnya langsung terengah saat mengatakan hal itu dalam satu tarikan nafas.
"Itu dia. Menurutku itu bukan hal yang wajar, Ersya. Arashi menyukai dan menempel pada Joyceline dan Shannaya karena mereka berdua yang mengurus Arashi sejak bayi. Anakku akrab dengan keberadaan keduanya. Sedangkan dirimu?"
Ersya tertegun mendengar Dionald mengatakan hal itu kepadanya. Sambil mencoba tenang, dirinya memikirkan kemungkinan lain yang membuat Arashi menempel kepadanya hanya dalam beberapa kali pertemuan.
"Bisa saja... karena Arashi tidak mencurigai orang-orang... kan?" tanua Ersya ragu
Dionald menggelengkan kepalanya, "Anakku tidak seperti itu. Dia bahkan mencurigai asisten rumah tangga kami yang baru. Tapi sejak awal pertemuan mu dengannya, Arashi tidak pernah mencurigai mu. Jadi aku harap... kau mau menerima tawaran ini. Jadilah Ibu asuh Arashi, dan aku akan benar-benar melindungimu."
"Hubungan ini tidak hanya menguntungkan ku, Ersya. Menurutmu kenapa aku membuat keributan di kantin dan sepanjang lorong rumah sakit?" tanya Dionald
Ersya menggelengkan kepalanya pelan. Dia benar-benar tidak mengerti dengan cara Dionald yang mengatakan suatu hal ambigu lalu membawanya kemari.
"Untuk menggiring opini jika kau benar-benar memiliki hubungan denganku."
Dan kali ini, Ersya tidak bisa menahan mulutnya untuk terus terkatup. Dia tersentak kecil dan menatap Dionald dengan tatapan terkejutnya.
Ersya bisa merasakan setengah nyawa nya berkurang dan menghilang entah kemana karena ucapan Dionald. Belum lagi karena tatapan lurus pria itu terasa membuatnya kaku.
"Jika semua orang mengetahui hubunganmu denganku, mereka tidak akan bisa memecatmu keluar dari rumah sakit ini. Mereka akan merasa segan karena kau berada dibawah pengawasan dan perlindunganku. Aku sedang berusaha memperkuat keberadaan mu di tempat ini, Ersya."
Hening kemudian.
Dionald menutup mulutnya saat melihat Ersya yang hanya terdiam dengan raut wajah rumit.
"Aku bukan ingin membunuhmu. Aku juga bukan ingin mendorongmu ke dalam jurang kematian. Tapi kenapa ekspresimu seperti itu? Seolah kau baru saja melihat malaikat maut." tukas Dionald setengah menyindir
Ersya langsung mengubah ekspresi wajahnya. Dia merasa kikuk dan kebingungan disaat yang sama.
"Aku juga akan menggajimu. Karena hitungannya kau memang bekerja untukku. Kau juga tidak akan banyak bekerja merawat Arashi, karena aku mempertimbangkan dirimu yang juga menjadi asistenku di rumah sakit. Singkatnya, jika kau menerima tawaran ini, maka kau akan benar-benar bekerja sebagai asisten pribadiku di rumah dan di rumah sakit." jelas Dionald
"Aku akan menjelaskan secara detail apa yang harus kau lakukan setelah kau menerima tawaran ini. Pikirkan baik-baik, Ersya." lanjutnya
Tepat sebelum Ersya membuka mulutnya untuk menjawab ucapan Dionald, pria itu sudah terlebih dahulu memberinya isyarat untuk diam.
Kedua netra Ersya melebar saat melihat Dionald berjalan menghapus jarak yang ada diantara mereka. Jantung nya berdebar kencang saat pria itu mengunci pergerakannya dengan kedua tangannya.
"Ssst, diamlah." bisik Dionald yang membuat Ersya memejamkan matanya
Sesaat kemudian, Ersya merasakan pintu ruangan Dionald dibuka dengan paksa. Suara pintu yang beradu dengan dinding, membuat Ersya tersentak kecil.
Entah siapa yang datang. Ersya tidak berani membuka kedua matanya. Tapi orang yang membuka pintu itu tidak mengatakan apapun.
Hingga setelahnya, Ersya merasakan nafas Dionald yang berhembus di lehernya perlahan menjauh. Pertanda jika pria itu menarik jarak dari lehernya.
"Ada apa? Apa kau tidak tahu cara mengetuk pintu? Kau mengganggu kegiatan pribadi." ucap Dionald sambil melirik orang yang membuka pintu ruangannya.
Lusianne.
Dokter perempuan itu terlihat menatapnya dengan raut keterkejutan dan penuh amarah.
'Dilihat dari ekspresinya, dia pasti sudah mengetahui sesuatu.' pikir Dionald
"Jika ada yang ingin kau bicarakan, tunggu di luar sebentar. Aku yakin kau tidak mau berbicara dengan ku dengan posisiku yang seperti ini, kan?" tanya Dionald
Perlahan, Ersya membuka kedua matanya. Dia mendongkak dan menatap Dionald yang tengah menatap seseorang di muka pintu tanpa mengubah posisi nya.
Siapapun yang melihat posisi mereka saat itu, pasti akan mengira jika mereka hampir bercinta.
Posisi Dionald yang mengurung tubuh kecil Ersya dengan tangannya terlihat sangat mendominasi. Dan tentu saja, terlihat sebagai posisi yang bagus untuk berciuman.
Ersya bisa merasakan intensitas detak jantungnya semakin meningkat. Dari posisi nya, dia hanya bisa melihat rahang dan lehet Dionald. Dia tidak bisa melihat ekspresi macam apa yang ditunjukan oleh pria itu saat berbicara.
Penasaran karena lawan bicara Dionald tak kunjung membuka suara, Ersya mengintip dari balik bahu pria itu.
Nafasnya tercekat saat melihat jika lawan bicara Dionald adalah dokter Lusianne.
Sesaat kemudian, terdengar suara pintu yang ditutup.
Ersya bisa merasakan kakinya melemas ketakutan.
Dionald kembali mengalihkan atensi nya kepada Ersya. Dia melihat bagaimana tubuh perempuan itu melorot jatuh ke lantai dengan lemasnya.
"I-itu dokter Lusianne?" tanya nya setengah berbisik
Dionald mengangguk, dia merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Ersya dan meraih ponsel yang ada di saku celana nya. Dia terlihat menggerakan jarinya dilayar sebelum akhirnya memamerkan sesuatu di layar ponselnya pada Ersya.
Disana, ada sebuah pesan singkat yang berasal dari David.
Seorang perempuan mengunjungi Profesor itu. Awalnya para Polisi menolak kedatangannya. Namun perempuan itu menunjukan sebuah ID Dokter nya yang berasal dari rumah sakit yang sama denganmu. Kau mengenalnya?
Sesaat setelah membaca pesan tersebut, Ersya langsung menatap Dionald dengan penuh ketakutan.
"Itu tandanya dia sudah mengetahui jika aku terlibat?" lirih Ersya
Dionald kembali menganggukkan kepalanya. Dengan tenang dia kembali menyimpan ponselnya di atas meja dan menatap Ersya dengan tatapan menuntut.
"Aku akan menunggu jawabanmu untuk menjadi Ibu asuh dari Arashi. Ku harap kau tidak terlalu lama memberiku jawaban." ujar Dionald. Pria itu bangkit dari posisinya, "Kau tunggulah disini. Aku akan berbicara dengan Lusianne. Walau kau belum memberiku jawaban, tapi aku sudah berjanji padamu untuk melindungi mu dari Profesor itu."
"Oh. Dan juga, sebentar lagi akan ada pelayan resto yang mengantarkan makanan kesini. Ada dua box di dalam nya. Kau makanlah salah satunya. Itu ganti rugi dariku karena sudah sembarangan menyeret mu dari kantin."
Ersya melihat Dionald melangkah menjauhinya sebelum akhirnya pandangannya terhalangi oleh pintu yang menyembunyikan keberadaan pria itu.
Dia mengangkat tangannya, menyentuh jantung nya sendiri yang berdebar dengan sangat kencang.
Karena keheningan yang ada di ruangan pria itu, rasanya Ersya bahkan bisa mendengar detak jantung nya sendiri.
Langkah Dionald terlalu ekstrim dan membuatnya sangat terkejut. Jangankan berada dalam posisi intens seperti itu. Dirinya bahkan belum pernah berpacaran dan bergandengan tangan.
Tapi pria itu langsung mengajaknya melakukan dua hal tadi. Berada dalam posisi yang dapat membuat jantung berdebar kencang dan genggaman tangan.
Seolah menyadari sesuatu, Ersya menepuk pipi nya dengan kencang.
"Sadarlah, Ersya! Kau sedang menerima tawaran besar. Kenapa kau malah memikirkan genggaman tangan tadi dan posisi itu?!" rutuknya pada dirinya sendiri