"Apa yang kau dan Ersya lakukan kepada Ayahku? Apa salah Ayahku kepada kalian hingga kalian memasukannya ke dalam penjara seperti itu?"
Dionald menatap lurus Lusianne yang menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu." sahut Dionald
"Aku baru mengunjungi Ayahku. Beliau bilang jika kalian lah yang menjadi penyebab utama Ayahku yang dipenjara." tukas Lusianne. Perempuan itu mengangkat tangannya tinggi, menunjuk Dionald tepat di wajah, "Aku tidak tahu kau dan perawat mu itu bisa setidak tahu diri ini hingga masih bisa menampilkan wajah dihadapanku setelah kalian melakukan hal buruk kepada Ayahku. Terlebih kalian muncul dengan tanpa rasa bersalah!" seru nya
Dionald menganggukkan kepalanya, "Benar. Aku juga tidak tahu apa yang merasuki Ayah mu hingga membuatnya di penjara. Aku juga tidak tahu jika Ayah mu setidak tahu diri itu hingga menyalahkan orang lain atas semua kesalahan yang telah diperbuat nya."
Pria itu menepis tangan Lusianne. Dia menatap lekat perempuan yang terlihat jauh lebih marah dari sebelumnya itu.
"Sebelum kau menuding ku dan Ersya melakukan sesuatu pada Ayahmu... kenapa kau tidak bertanya tentang apa yang sudah di lakukannya hingga membuat nya berakhir seperti ini? Kau juga tahu aku orang yang seperti apa, kan? Aku tidak akan memulai sesuatu jika tidak ada pemicu nya." tanya Dionald
"Saranku, daripada kau marah-marah seperti saat ini dan bahkan mendobrak pintu ruang pribadi orang lain seperti tadi, lebih baik kau fokuskan saja dirimu untuk merawat pasien. Dan... jangan pernah datang ke persidangan minggu depan. Aku yakin tidak akan ada seorang anak pun yang ingin melihat kebusukan Ayah nya di bongkar hingga tuntas walau Ayah nya memang seburuk itu."
"Jika kau bertanya apakah aku menghormati Ayahmu, jawabannya adalah tentu saja. Profesor Edward adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Tapi aku juga tidak akan bisa membiarkan hal yang salah terus terjadi dan mempertaruhkan nama rumah sakit ini dimasa depan. Sebuah bangkai tidak akan terus menerus bisa disembunyikan. Sebagai seorang mantan penjahat seperti ku tahu jelas hal itu."
Setelahnya, tanpa berkata apapun lagi, Dionald berbalik pergi menjauh dari Lusianne. Dia bisa melihat jika semua perkataannya telah menyulut sesuatu di dalam tubuh Lusianne.
Sebelum pergi, sekilas dia melihat sesuatu dikedua mata Lusianne. Perempuan itu seolah mengancam nya dan menyatakan perang kepadanya.
'Sayang sekali, Lusianne. Tatapan mu itu tidak ada artinya dibandingkan tatapan yang dulu Shannaya layangkan padaku.'
Dionald melangkahkan kakinya untuk berbelok menuju ruangan pribadinya. Dari kejauhan, dia bisa melihat Ersya baru saja menerima sebuah paket makanan yang dipesan olehnya dari sebuah resto yang berada tak jauh dari rumah sakit.
"Dokter Dionald..." gumam Ersya. Dia mengerjapkan matanya pelan dan menyingkir dari muka pintu untuk membiarkan Dionald masuk, "Apa Dokter baru saja membicarakan sesuatu dengan Dokter Lusianne?"
"Hm. Sesuai dugaan, Lusianne mengetahui jika kau dan aku adalah penyebab Ayah nya dipenjara." jawab Dionald
"Apa... apa aku akan dipecat?" tanya Ersya ragu
Dionald mengerutkan dahinya, "Lusianne tidak seberkuasa itu. Dia tidak akan bisa memecat orang seenaknya."
Ersya tanpa sadar menghela nafasnya lega mendengar ucapan Dionald yang terkesan seolah menenangkan nya.
"Tapi itu tidak menjamin Lusianne akan berulah dan membuatmu dipecat." lanjut Dionald yang langsung membuat Ersya menatapnya dengan putus asa
"Dokter bilang, Dokter Lusianne tidak seberkuasa itu." ucapnya hampa
"Memang. Maksudku, bisa saja Lusianne melakukan sesuatu dan membuatmu melakukan kesalahan besar. Hal itu mungkin saja membuat mu di pecat." jelas Dionald
"Kerja sama yang aku tawarkan tadi, ku rasa akan bisa membantumu. Lagipula, apa kau tidak mendengar rumor yang beredar?"
Ersya mengerutkan dahinya samar, "Rumor?"
"Iya. Ada rumor yang tersebar dan mengatakan jika kau dan aku memiliki hubungan istimewa. Aku rasa kita bisa memanfaatkan rumor itu. Jadi seandainya Lusianne menyebarkan penyebab jika kau adalah alasan Profesor Edward di penjara, orang-orang tidak akan berpihak kepada Lusianne. Orang-orang akan menormalisasi kita dan mengatakan jika apa yang aku lakukan adalah untuk menyelamatkan dirimu, orang aku sukai. Bagaimana? Bukannya ini jalan cerita yang bagus? Jika Lusianne membuat kita berada diatas panggung drama, maka kita harus mementaskan drama nya dengan baik."
Ersya menatap Dionald dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Dia akan meralat ucapan nya di masa lalu yang menyatakan jika Dionald adalah pria yang menyeramkan.
Dia harus menggantinya dengan ucapan jika DIONALD ITU MANIPULATIF DAN SANGAT MENYERAMKAN.
Harus Ersya akui, pria itu sangat jenius. Dionald mampu menangkap situasi dengan sangat cepat.
Berbeda dengan dirinya yang masih akan sibuk mengatakan 'Hah?!' sambil mencerna informasi, Dionald sudah membuat rencana besar yang jauh untuk kedepannya. Alih-alih meminta maaf kepada Lusianne, pria itu justru menyiapkan panggung yang lebih besar untuk melawan Lusianne secara terang-terangan.
"Jadi, pikirkan baik-baik tawaranku, Ersya. Aku pastikan tawaranku tidak akan membuatmu rugi sama sekali. Malah sepertinya, kesepakatan itu jauh lebih menguntungkan dirimu dibandingkan aku."
***
Ersya termenung menatap tembok putih kamarnya. Samar-samar, dia mendengar suara keributan yang berasal dari anak-anak diluar kamar. Namun dirinya sama sekali tidak terpengaruh, kepalanya sibuk memikirkan semua tawaran yang diberikan Dionald kepadanya.
Jujur saja, tawaran tersebut sangat menggiurkan.
Apalagi untuk alasan yang tidak dia ketahui, dirinya juga menyayangi Arashi. Hari ini, dia bahkan merindukan anak itu.
Tapi Ersya juga merasakan harga diri nya sedikit tercoreng jika memanfaatkan rasa suka Arashi kepadanya untuk uang.
Perempuan itu menghela nafasnya.
Sejujurnya dia ingin mengambil tawaran Dionald. Namun jika dirinya terlibat dengan pria itu, Ersya takut jika dirinya akan terlibat pula dalam sesuatu yang jauh lebih besar.
Dirinya berbeda dengan pria itu yang memiliki relasi, kekuasaan dan terlihat tidak memiliki rasa takut.
Dia hanya berasal dari sebuah panti asuhan yang dimana kehidupannya akan bergantung satu sama lain. Jika Ersya melakukan kesalahan sedikit saja, pasti panti asuhan tempatnya tinggal juga akan terkena imbasnya.
"Apa sebaiknya aku menolak tawaran Dokter Dionald?" gumam Ersya
Lamunan Ersya terusik saat pintu kamarnya diketuk pelan. Dia bangkit dan membuka benda tersebut.
"Ibu," gumam Ersya pelan. Dia menggeser tubuhnya dan membiarkan Ibu panti masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu, ada apa? Kenapa ekspresi Ibu seperti itu?" tanya Ersya
Ibu Panti terlihat termenung sebelum akhirnya tersenyum kepada Ersya, "Hari ini, ada satu bayi yang di tinggalkan di depan pintu panti asuhan."
Kedua netra Ersya melebar, "Astaga. Tidak terlihat siapa yang melakukannya? T-tapi kenapa aku tidak mendengar suara tangisan bayi nya sama sekali?"
Ibu panti menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang melihat karena siang itu semua anak-anak sudah tertidur. Ibu juga tidak melihat karena tengah berada di dapur untuk memasak."
"Lalu mana bayinya?" tanya Ersya
"Di rumah sakit."
Mendengar hal itu, Ersya terkesiap.
"Apa? Bayinya kenapa? Dia sakit apa?" tanya nya
Ibu panti tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Hasilnya belum keluar. Adikmu Yohan baru membawa nya ke rumah sakit tempat kau bekerja sesaat sebelum kau pulang."
"Kenapa aku tidak bertemu dengan Yohan di jalan?" gumam Ersya pelan
Namun dirinya kembali tersadar saat dirinya diantar pulang oleh Dionald menggunakan mobil. Akses untuk pejalan kaki dan akses untuk mobil, melewati jalur yang berbeda.
"Ibu bingung sekali..." lirih Ibu Panti
"Keuangan kita akhir-akhir ini sangat sulit. Jangankan untuk merawat satu anak lagi, untuk makan saja kami harus meminjam uang untukmu membeli obat. Maaf, Ersya."
Perempuan itu tertegun sebelum akhirnya mengusap bahu Ibu panti untuk menenangkan wanita paruh baya itu.
"Ibu, jangan dipikirkan. Lagipula, akhir-akhir ini aku baik baik saja, kan? Anggap saja uang untukku berobat adalah uang darurat kita semua." sahut Ersya pelan
"Tetap tidak bisa seperti ini terus, Ersya. Apa sebaiknya Ibu bekerja juga? Kami tidak bisa hanya mengandalkanmu terus menerus." ujar Ibu Panti. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan wajah sendu, "Gaji mu itu besar. Tapi semua uang nya kau pakai untuk keperluan panti asuhan ini. Orang dewasa seusiamu pasti ingin berbelanja atau membeli sesuatu dengan uang gaji mu sendiri. Tapi kau justru... hahhh, maaf Ersya." sesal nya
"Tak apa. Tidak ada hal yang ingin aku beli. Lagipula, daripada berbelanja, aku lebih senang memakai uangku untuk kebutuhan panti. Daripada menyenangkan diriku sendiri, aku lebih baik menggunakan semua uang itu untuk menyenangkan banyak orang." sahut Ersya
Perempuan itu kembali tersenyum menenangkan, "Untuk kebutuhan panti, jangan dipikirkan. Biarkan aku bekerja untuk hal yang satu itu. Lagipula, jika bukan untuk rumah ku ini, untuk siapa aku bekerja?"
Ersya merasakan kedua tangannya digenggam dengan hangat oleh wanita paruh baya yang sudah merawat nya sejak bayi itu.
"Terima kasih, Ersya. Entah dengan cara apa Ibu harus membalas kebaikanmu."
"Jangan mengatakan hal seperti itu. Akulah yang berhutang budi pada Ibu yang sudah merawatku sejak bayi. Jika Ibu tidak mendengar suara tangisanku saat itu, mungkin saat itu aku yang masih bayi tidak akan bisa bertahan hidup."
Ersya melebarkan senyumannya, "Sekarang aku akan pergi ke rumah sakit lagi. Jika sempat, aku mungkin akan mendengar dokter yang mendiagnosa bayi tersebut."
Ibu Panti menganggukkan kepalanya. Menatap penuh haru perempuan muda dihadapannya yang menanggung banyak beban, namun masih bisa tersenyum riang.
Keduanya kemudian melangkah keluar dari kamar. Ersya berjalan keluar dari panti asuhan tersebut sambil sesekali membalas sapaan dari anak-anak yang memanggilnya dengan riang.
Belum sempat kakinya menapak tanah, sebuah mobil berwarna hitam yang terlihat familier bagi Ersya berhenti tepat di depan panti asuhan. Seorang pria dengan snelli dokter nya keluar dari sana dengan kedua alis terangkat tinggi.
Pria itu kemudian membuka pintu mobil yang satunya.
Kedua netra Ersya melebar saat melihat siapa orang kedua yang keluar dari mobil tersebut.
"YOHAN!" seru nya sambil berlari kecil menghampiri mobil tersebut
Ersya kemudian menatap Dionald yang berada di samping remaja berusia 18 tahun itu.
"Dokter, terima kasih. Seandainya tidak ada Dokter, aku pasti kesulitan." ucap Yohan sebelum Ersya sempat bereaksi untuk keduanya
"Tak apa. Perhatikan suhu nya. Jaga agar tubuh bayinya tetap hangat. Perhatikan juga asupan s**u nya. Dia dehidrasi dan kedinginan." sahut Dionald
Ersya menatap keduanya bergantian. Dia kemudian melangkah mendekat kepada Yohan yang mendekap bayi itu dengan hangat.
"Kak Ersya, ada... bayi lagi yang dibuang di panti asuhan." ujar Yohan
Ersya hanya menanggapi ucapan Yohan dengan seulas senyuman tipis. Dia menyentuh dahi bayi di dekapan Yohan dengan punggung tangannya.
"Bawa masuk, Yohan. Nanti biar Kakak yang membeli keperluannya." ucap Ersya
Yohan menganggukkan kepalanya. Dia kembali mengucapkan terima kasih kepada Dionald sebelum akhirnya berjalan memasuki panti asuhan.
Ersya mendongkak dan menatap Dionald yang memperhatikan kepergian Yohan. Dia berdeham kecil untuk menarik perhatian dari dokter satu itu.
"Dokter, terima kasih banyak." ujar Ersya
Dionald mengangguk kecil, "Bukan apa-apa. Kebetulan aku bertemu dengannya setelah mengantar mu pulang. Dia bilang, dia akan ke rumah sakit. Dia terlihat panik dan cemas. Apalagi ada seorang bayi di gendongannya. Jadi aku meminta nya masuk untuk mengantarnya lebih cepat ke rumah sakit."
Pria itu terdiam sejenak, "Bayi itu anggota keluargamu yang baru?"
Ersya mengangguk, "Iya."
Keduanya terdiam selama beberapa saat. Dionald menatap Ersya yang terlihat ragu-ragu.
"Ada apa? Katakan saja."
Ersya menghela nafasnya. Tekadnya yang tadi hendak menolak tawaran Dionald, berubah seketika saat mengetahui ada anggota keluarga baru ditempatnya tinggal.
Itu berarti, Ersya membutuhkan biaya tambahan. Belum lagi karena uang untuk membeli obat miliknya sudah habis. Kali ini dia terbantu karena inhaler dan beberapa obat yang diberikan secara gratis oleh Dionald. Tapi tentu saja, di masa depan dia harus bisa membeli obatnya sendiri yang tidak terbilang murah.
Karena itu, tekadnya sudah bulat.
"Dokter, sepertinya... aku akan menerima tawaran mu. Aku akan menjadi Ibu asuh Arashi."