Chapter 19 "Aku lebih suka membimbing dan mendominasi"

1747 Kata
Malam harinya, Ersya membantu Ibu Panti untuk menjaga bayi yang baru datang. Sesekali dia akan bergerak menuju dapur dan membuatkan s**u formula untuk bayi tersebut. "Hai." sapa Ersya saat bayi berjenis kelamin perempuan itu menatapnya dengan kedua bola mata berwarna hitam "Kita sama, ya? Aku juga dulu dibuang oleh keluargaku saat masih bayi." ucapnya Seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ersya, bayi itu mulai bergerak gelisah dan menunjukan tanda-tanda ingin menangis. Ersya menenangkan bayi tersebut dengan mendekap di d**a nya. "Tak apa. Kau tidak lagi sendirian. Ada kami yang akan menjadi keluarga baru mu. Kau tidak perlu sendirian menghadapi dunia. Kenapa? Karena kau masih kecil. Tapi seandainya kau sudah besar pun, aku akan tetap menggenggam tanganmu dan menemanimu. Sesama orang yang dibuang dan diacuhkan, kita harus saling menguatkan. Iya, kan?" gumam Ersya Perhatian Ersya teralihkan saat dirinya mendengar suara pintu yang diketuk pelan. "Kak Ersya? Boleh aku masuk?" terdengar suara Yohan dari balik pintu. Hal itu membuat Ersya berjalan dan membuka pintu kamarnya. "Masuklah." sahut Ersya sambil tersenyum kecil "Bagaimana keadaan bayi nya kak?" tanya Yohan "Sudah lebih baik." jawab Ersya. Dia menunduk, menatap bayi yang ada di dekapannya. Bayi perempuan itu menatap dirinya dengan kedua mata yang berbinar cerah. Yohan mengedarkan tatapannya, menatap sekeliling kamar Ersya yang kini dipenuhi oleh barang-barang bayi. "Kak, maaf..." ucap Yohan Mendengar permintaan maaf yang tiba-tiba itu, Ersya kembali menatap Yohan dengan pandangan bertanya. "Kenapa tiba-tiba meminta maaf?" tanya Ersya "Karena Kak Ersya adalah satu-satunya yang bekerja disini. Dan aku belum bisa membantu kak Ersya bekerja. Jadi semua keuangan panti asuhan, kakak yang menanggung nya." gumam Yohan. Pria kembali melirik perlengkapan bayi, "Hari ini juga kakak mengeluarkan uang untuk membeli itu semua. Padahal aku tahu kakak sudah tidak punya uang lagi selain uang untuk membeli obat." Ersya menyunggingkan senyuman kecilnya, "Kata siapa semua keuangan panti aku yang menanggung? Ada donatur yang setiap bulan nya mengirim uang, Yohan." "Uang yang dikirim oleh para donatur kan hanya dikhususkan untuk biaya sekolah. Untuk makan dan sehari-hari, tetap kak Ersya yang menanggungnya." sangkal Yohan "Yohan, aku bekerja untuk kalian. Tidak ada hal yang salah dengan itu. Dan untuk barang-barang bayi ini... aku tidak membelinya dengan uang ku sendiri." Kedua mata Yohan melebar saat mendengar hal itu terucap dari bibir Ersya, "K-kakak tidak mencuri, kan?" "Tidak, Yohan. Astaga demi tuhan, aku tidak mungkin melakukan hal semacam itu!" pekik Ersya dengan suara tertahan nya. Perempuan itu kemudian tertawa kecil dan mengusap rambut Yohan dengan lembut, "semua barang yang aku beli, dibayarkan oleh dokter yang tadi mengantarmu pulang." lanjutnya "Dokter Dionald?" tanya Yohan terkejut Ersya mengangguk kecil, "Dia menemaniku belanja ini. Dan untuk troli bayi itu, itu barang bekas milik anak Dokter Dionald." Yohan tertegun sebelum akhirnya menatap Ersya dengan kedua mata yang melebar terkejut, "Anak?!" seru nya Ersya mengangguk, "Iya. Anak Dokter Dionald usia nya udah cukup besar. Tidak perlu troli bayi lagi. Dan karena katanya akan disimpan di gudang, Dokter Dionald menawarkannya padaku." Tidak fokus kepada apa yang disampaikan oleh Ersya, Yohan justru masih terkejut dengan status Dionald yang ternyata sudah memiliki anak. "Ku kira Dokter Dionald adalah pria lajang." cetus Yohan. Dia kembali menatap Ersya dengan penuh penasaran, "Apa istrinya cantik?" Ersya terdiam seketika. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Yohan jika Dionald memiliki anak tanpa menikah. "Sebenarnya, aku juga tidak pernah melihatnya. Jangankan aku, anak nya saja tidak pernah melihat orang yang melahirkannya." gumam Ersya "Kalau begitu, adopsi? Meninggal saat melahirkan?" Ersya menggelengkan kepala, "Tidak. Bukan, bukan begitu. Dokter Dionald memiliki anak tanpa menikah." Raut penasaran Yohan berubah menjadi datar. Remaja laki-laki itu menatap Ersya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. "Ternyata Dokter Dionald orang yang seperti itu? Tak ku sangka. Dia tidak sebaik yang terlihat. Hampir saja aku tertipu. Ku kira aku bisa menyerahkan kak Ersya kepadanya dengan hati yang tenang." gerutu Yohan Ersya menyentil pelan dahi Yohan. Perempuan itu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, memberikan tatapan menegur kepada Yohan. "Jangan bicara seperti itu. Kau tidak tahu apa-apa. Aku berani bersumpah, Dokter Dionald adalah orang yang baik. Dia sudah banyak membantuku, Yohan. Dan untuk anak yang dia dapatkan tanpa menikah, kau dan aku tidak boleh memandangnya seperti tadi. Karena kita tidak tahu masa lalu seperti apa yang dimiliki oleh Dokter Dionald." tukas Ersya. Dia termenung sebelum kembali menyunggingkan senyumannya, "Kalau pun mungkin anak yang dimiliki nya sekarang adalah seperti apa yang kau pikirkan tadi, menurutku Dokter Dionald tetaplah orang yang baik. Karena alih-alih membuang nya atau mengacuhkan nya, Dokter Dionald merawat dan membesarkan anaknya sendiri." Mendengar teguran yang diutarakan Ersya kepadanya, Yohan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. "Benar juga. Dokter Dionald tidak membuang nya anak nya seperti orang tua kita ya kak?" gumam Yohan Ersya hanya tersenyum menanggapi nya. Dia mengusap rambut Yohan dengan lembut. "Pergilah tidur. Ini sudah malam. Besok kau harus sekolah." Yohan mengangguk kecil, dia berjalan keluar dari kamar dan mengucapkan selamat malam kepada Ersya. Tepat setelah Yohan menghilang dari jangkauan matanya, senyuman Ersya memudar. Dia mengingat ucapan Yohan tentang anak yang dibuang oleh kedua orang tua nya. Perempuan itu kemudian tertawa hampa, "Benar, Yohan. Seperti kita." *** Canggung. Ersya menatap rekan sesama perawatnya yang terlihat segan kepada dirinya. Begitu pula dengan salah satu perawat yang biasanya akan mengeluarkan kata-kata yang menyebalkan untuk Ersya. Mereka semua hanya terdiam dan menutup mulut rapat-rapat saat bertemu dengannya. Merasa tidak nyaman dengan tatapan teman-temannya, Ersya berdeham kecil. "Kalian kenapa?" tanya nya "Kau benar-benar berpacaran dengan Dokter Dionald?" Ersya terdiam. Dia mengingat peristiwa di kantin kemarin yang disaksikan oleh banyak orang. Dia juga mengingat sesuatu. Dionald bilang, Ersya harus membenarkan semua rumor yang beredar tentang mereka. Termasuk berpacaran. "Ersya, jawab." desak perawat yang tadi bertanya Ersya mengangguk kecil. Dia berharap gestur yang ditunjukan olehnya tidak terlihat kaku. Bagaikan mendengar sebuah berita benar-benar mengejutkan, semua rekan perawat nya terkesiap saat melihat anggukan yang diberikan Ersya sebagai jawaban. "Kau serius?!" "Wahh, sungguh tidak bisa dipercaya." Dalam hati, Ersya mengatakan jika saat ini dirinya ada di posisi teman-teman nya sekarang, dia tidak akan mempercayai hal ini. Dia akan lebih percaya jika ada seseorang yang mengatakan pernah melihat katak sedang bernyanyi, dibandingkan kabar hubungan asmara nya dengan Dionald. Selain karena latar belakang mereka yang bagaikan sang Pangeran dan upik abu, Dionald juga terlihat terlalu dingin. Selama bekerja, tidak pernah ada seorang pun yang melihat pria itu tersenyum tulus kepada orang lain. Pria itu hanya pernah terlihat tersenyum kepada Joyceline yang merupakan Kakak ipar nya. Dan tiba-tiba ada kabar jika pria itu berpacaran?! Apa wajar jika ada yang percaya kabar seperti itu?! "Sebenarnya, aku juga tidak mau percaya. Rasanya sulit mempercayai kabar jika Dionald berpacaran denganmu, Ersya. Tapi, aku tiba-tiba melihat sesuatu yang besar di hadapan mataku!" tuding seorang perawat yang mulutnya menyebalkan, Zohra. Perempuan itu berjalan dan bergabung dengan para perawat lain yang tengah mengelilingi Ersya. "Kemarin, saat aku terkejut melihat adegan dirimu dan Dokter Dionald di kantin, aku memutuskan untuk menenangkan diri. Seolah tidak membiarkanku tenang, aku melihat hal lain. Aku melihat pernyataan cinta Dokter Lusianne ditolak mentah-mentah oleh Dokter Dionald." "HAH?!" "APA?!" Perawat itu mengangguk yakin, "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dokter Dionald menepis tangan Dokter Lusianne dan beberapa kali menyebut nama Ersya." tambahnya meyakinkan Para perawat langsung kembali menatap Ersya. Mereka semua menyunggingkan cengiran lebar menggoda perempuan itu. "Dokter Dionald pasti menolak Dokter Lusianne dan mengatakan jika dia sudah memiliki Ersya." Tubuh Ersya menegang saat rekan kerja nya yang menyebarkan tentang Dionald dan Ersya itu menepuk bahu nya. "Kau keren sekali, Ersya. Pasti di masa lalu kau sudah menyelamatkan dunia dan mengorbankan para pahlawan. Karena itu sekarang kau menerima hadiah sekaligus kutukan berupa Dokter Dionald." ucap orang itu "Eh? Tapi apa mungkin Dokter Dionald menolak Dokter Lusianne? Sejauh ini sepertinya Dokter Lusianne yang paling cantik di rumah sakit. Jangan tersinggung ya Ersya, kau juga cantik. Tapi jika dibandingkan dengan Dokter Lusianne, kau masih kalah sexy. Ku kira Dokter Dionald tipe pria yang menyukai wanita dewasa yang sudah matang." elak seorang lainnya "Dokter Dionald menolak nya, suster Reyne. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Dokter Dionald pergi begitu saja meninggalkan Dokter Lusianne yang menangis." tegas Zohra Reyne yang opininya dibantah mentah-mentah, hanya bisa mengendikan bahu nya. Sementara para perawat lain menggosipkan Dokter Dionald yang dianggap pria yang keren dan setia, juga Lusianne yang malang karena cinta nya ditolak... Ersya justru hanya bisa meringis. Karena dia tahu peristiwa aslinya. Dionald bukannya menolak Lusianne karena ada dirinya. Melainkan karena tengah memperingati Lusianne untuk tidak mengambil tindakan ekstrim kepada dirinya. "Ersya." Mendengar suara berat itu, semua perawat yang tengah bergosip mendadak menutup mulutnya. Mereka saling menyikut saat melihat Dionald berada tepat di ruang loker perawat wanita dan berspekulasi jika pria itu hendak menjemput Ersya. Ditatap sedemikian rupa oleh para perawat, Dionald menyadari jika dirinya tengah dijadikan bahan pembicaraan di tempat itu. "Ayo pulang. Kau kan sudah berjanji akan datang dan makan malam rumahku." ajak Dionald yang kembali mencoba melempar bensin ke dalam sebuah api Dalam imajinasi nya, Ersya bisa melihat bensin yang dituangkan oleh Dionald berhasil meledak dengan sempurna. Karena sesaat setelah pria itu mengatakan hal tadi, para perawat di sekeliling nya mulai memekik tertahan dengan ekspresi menahan gemas yang semakin terlihat jelas. Ersya yang sudah tak sanggup lagi menerima tatapan menggoda dari teman-temannya menutup loker nya dengan segera. Dia kemudian berpamitan kepada semua rekan kerja nya dan berlari kecil menghampiri Dionald. Perempuan itu terdiam menatap tangan Dionald yang terulur ke arah nya. Dia melirik teman-teman nya yang masih terlihat penasaran dengan hubungan mereka sebelum akhirnya balas menggenggam tangan pria itu. "Ayo." gumam Ersya "Tunggu." Dionald menatap rekan kerja Ersya, "Siapa yang tadi bilang jika tipe ku adalah seorang wanita dewasa?" tanya nya Semua perawat tersentak kecil dan sontak menunjuk Reyne yang terlihat kikuk karena ternyata ucapan nya terdengar oleh sang bahan gosip. "Kau salah. Aku suka perempuan yang terlihat polos dan dewasa di saat yang sama." tukas Dionald "K-kenapa ya? A-hahaha. Padahal aku kira Dokter Dionald suka yang dewasa dan matang." Dionald melirik Ersya dan menyunggingkan senyuman tipisnya, "Salah. Aku lebih suka seseorang yang terlihat polos. Karena aku bisa membimbing dan mendominasinya." Ersya yang ditatap seperti itu, kembali tersentak kecil. 'J-jantung ku... Aku mohon jangan memalukan seperti ini. Dokter Dionald berkata seperti itu agar orang-orang lebih mempercayai hubungan kami. Tolong kerja sama nya, jantungku..' batin Ersya saat merasakan jantung nya berdetak dengan sangat cepat "Ayo, Ersya." ajak Dionald yang hanya bisa dijawab dengan anggukan oleh perempuan itu. Ersya yakin wajah nya sudah merona padam. Mungkin seperti tomat busuk. Tepat setelah Ersya berjalan beberapa langkah, dia mendengar pekikan gemas dan teriakan histeris dari ruang loker perawat. Sepertinya kali ini Dionald bukan hanya menebar bensin. Tapi juga sebuah dinamit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN