Chapter 20 "Tolong lengkapi aku, Ersya"

1385 Kata
Dionald melirik Ersya yang terlihat kaku di tempat duduknya. Wajah merona nya terlihat jelas walau tengah berekspresi tenang. "Kenapa Dokter Dionald... berbicara seperti tadi?" gumam Ersya setengah bertanya "Untuk meyakinkan teman-teman mu. Kau harus terbiasa dengan hal itu, Ersya. Mulai kemarin, kau adalah pacarku." Ersya kembali tersentak kecil saat mendengar kalimat bernada ambigu keluar dari mulut Dionald. Perempuan itu kemudian menyandarkan tubuhnya kepada pintu mobil dan mengusap d**a nya yang berdebar kencang. 'Dasar jomblo. Mendengar hal seperti ini saja jantung mu berdetak kencang. Padahal sudah jelas jika pria ini hanya mengungkit soal kerja sama. Bukan pacaran yang sesungguhnya!' geram Ersya dalam hati nya Bukan, Ersya bukan berdebar karena menyukai Dionald. Dia berdebar karena terkejut sekaligus bersemangat untuk menjalankan rencana ini bersama dengan Dionald. Setidaknya begitu pikir Ersya. Belum lagi karena Dionald juga cukup manis untuk ukuran pria yang menjalani hubungan pura-pura dengan nya. Ersya yang jomblo sejak lahir jadi sedikit berdebar karena menerima perlakuan manis seperti itu. "Apa hari ini Lusianne ada menemuimu?" tanya Dionald Ersya menggelengkan kepalanya, "Tidak ada. Aku malah mengira jika Dokter Lusianne tidak masuk kerja karena tidak melihatnya dimana pun." Perempuan itu kemudian menatap Dionald dengan tatapan bertanya, "Apa Dokter Lusianne tidak masuk?" "Ada. Aku sempat berpapasan dengan nya saat dia hendak memeriksa pasien." timpal Dionald Ersya menghela nafasnya dan menatap lurus jalanan di depan sana, "Tapi aku juga lebih baik tidak bertemu dengan Dokter Lusianne. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan jika bertemu dengan Dokter satu itu. Jika dulu aku mungkin akan menyapa nya. Tapi sekarang aku bingung harus mengatakan apa." "Lakukan seperti biasa saja. Jangan terlihat menjauhi atau terlalu mendekatinya. Jika seandainya Lusianne tidak membalas mu dengan baik, kemungkinan terburuk nya paling dia menerima tatapan meledek dari teman-teman mu. Mereka akan menganggap jika Lusianne hanya marah karena kau membuatku menolak dirinya. Bukan karena hal lain." Mendengar hal berat seperti itu keluar dari mulut Dionald dengan mudah nya, Ersya kembali melirik pria itu. "Kalau begitu kasian Dokter Lusianne." "Jangan pedulikan dia. Seandainya Lusianne memikirkan citra nya di rumah sakit, dia pasti akan membalas sapaan mu dengan baik. Tapi jika dia memilih untuk bersikeras memusuhi kita, paling-paling image nya di rumah sakit jadi tercemar sedikit karena di anggap tidak profesional." tukas Dionald Hening sejenak. Ersya sibuk memikirkan soal Lusianne dan citra perempuan itu. Sementara Dionald hanya terfokus pada jalanan. Sebagai seorang pria, dia tidak perlu memikirkan bagaimana tanggapan Lusianne atau orang-orang di sekitar nya. Berbeda jauh dengan Ersya yang terlihat memikirkan banyak hal. "Dokter Dionald, tentang kontrak kita ini... tidak akan ada seseorang yang marah kan?" Dionald menggelengkan kepalanya, "Tidak." sahutnya singkat "Tidak akan ada yang marah?" "Bukan. Tapi tidak ada orang yang berani memarahiku selain Shannaya dan Joyceline." Ersya terdiam seketika. Dia tertawa miris dalam hati saat kembali mengingat status Dionald. Pria itu Legiond, cerdas, karir nya gemilang, dan apa yang diinginkan Dionald selalu berhasil di dapatkan nya. Mana ada orang yang berani memarahi pria itu selain orang yang sama-sama powerful nya? Situasi yang berbanding terbalik dengan dirinya. Jika Ersya salah, maka Ersya akan dimarahi. Jika tidak memiliki kesalahan, namun dirinya berada di situasi yang salah, dia juga tetap di marahi. Latar belakang Dionald dan dirinya yang sangat berbanding terbalik itu juga membuat Ersya berfikir. Kok bisa teman-teman sekaligus rekan kerja itu mempercayai kabar jika dirinya berpacaran dengan Dionald? Bagaimana pun, dia dan pria itu lebih terlihat seperti pelayan kerajaan dan pangeran istana. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Dionald "Teman-temanku. Kenapa mereka bisa mempercayai rumor tentang kita." gumam Ersya. Dia menatap Dionald dengan dahi berkerut samar, "bukannya latar belakang kita terlalu jauh perbedaan nya? Apa menurut mereka kabar ini tidak mencurigakan?" "Orang-orang tidak akan berfikir serumit itu, Ersya." Mobil mulai berjalan memasuki halaman rumah keluarga Legiond yang sangat luas. Ersya merasa mobil itu berjalan mulus memutari patung cupid dengan air mancur sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah Dionald. "Orang-orang hanya akan mempercayai rumor yang mereka dengar. Dan jika rumor tersebut terkonfirmasi dengan sendiri nya, kecurigaan mereka juga akan menghilang seketika. Kau lihat tadi? Temanmu yang curiga itu langsung bungkam saat aku datang." "Kehadirkan ku tadi tanpa sengaja seperti tengah mengkonfirmasi hubungan kita, Ersya. Percayalah tidak akan ada seorang pun yang curiga terhadap hubungan ini." Benar. Ersya kadang iri kepada cara berfikir teman-teman nya yang simple. Tidak seperti dirinya yang terkadang menjadi sosok yang mudah overthinking karena terlalu memikirkan banyak hal. Bahkan hal yang mudah akan menjadi sulit jika Ersya yang memikirkannya. "Ayo turun. Kita bicarakan tentang kerja sama kita di rumah." Ersya tersenyum kecil dan melangkah turun dari mobil hitam milik Dionald. Dia mengikuti langkah kaki panjang pria itu untuk menaiki tangga halaman rumah Dionald. "AUNTY!!" Ersya tersentak kecil saat mendengar suara teriakan heboh Arashi yang berlari ke arah nya. Perempuan itu melebarkan senyumannya dan menyambut Arashi dengan pelukan hangat. "Achi liat Aunty dari jauh!" seru anak itu Dionald berdeham, "Jadi kau lebih senang melihat Ersya dibandingkan aku?" "Achi juga suka Papa! Tapi... tapi Papa kan bertemu Achi tiap hari." "Sekarang kau juga bisa bertemu dengan Ersya setiap hari." timpal Dionald Kedua mata Arashi membola. Dia menatap Ersya dan Dionald bergantian dengan wajah terkejutnya. "Apa Papa dan Aunty memutuskan untuk menikah?" "UKHUK" Ersya seketika merasakan jantung nya terlilit oleh usus saat mendengar hal itu keluar dari mulut Arashi. Dia melirik Dionald yang tersedak dan tengah meredakan batuk nya. Hingga kemudian, Dionald merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Arashi. Pria itu mengusap surai lembut Arashi. "Achi, kau senang karena Ersya akan bertemu denganmu setiap hari, kan?" tanya Dionald Arashi menjawab pertanyaan Dionald dengan anggukan kecil. "Kalau begitu, pergi temui Mommy mu. Papa dan Aunty ini akan membahas sesuatu yang penting. Katakan pada Mommy jika akan ada Ersya yang bergabung makan malam dengan kita." Arashi mengangguk dan berlari memasuki rumah sambil berlari. Dari tempat Ersya berdiri, dia bisa mendengar Arashi yang berteriak memanggil Joyceline dengan suara nya yang menggemaskan. Ditinggalkan berdua dengan Dionald yang terlihat masih terkejut saat Arashi membahas soal pernikahan, senyuman Ersya memudar. Perempuan itu melirik canggung Dionald. Sepertinya tidak ada yang bisa membuat Dionald bereaksi seperti itu selain ucapan Arashi yang membahas soal pernikahan. "Ayo masuk, Ersya. Kita masih harus bicara." Ersya kemudian kembali mengekor Dionald yang berjalan masuk ke dalam rumah. "Celine, apa tadi Shannaya datang kemari?" seru Dionald saat kakinya baru saja melewati pintu rumah Joyceline yang dipanggil, berjalan keluar dari dapur dengan apron menghampiri Dionald. Perempuan itu tersenyum cerah dan melambaikan tangannya untuk menyapa Ersya lalu mengalihkan perhatiannya kepada Dionald. "Iya. Tadi Shannaya datang kemari." "Nah kan! Pantas saja cara bicara Arashi jadi aneh begitu." *** Ersya mengedarkan tatapannya menatap ruang kerja milik Dionald yang ada di dalam rumah. Ruangan yang didominasi oleh warna putih itu hanya terisi oleh sebuah meja kerja, lemari buku dan beberapa foto Dionald beserta Arashi. Tidak ada hal lain di dalam ruangan yang besar nya tak jauh beda dengan ruangan Dionald di rumah sakit itu. Sambil menunggu Dionald, Ersya menatap sebuah foto Dionald yang tengah menggendong Arashi yang masih bayi. Pria itu menatap kamera dan mengulas senyuman tipis. Foto yang entah kenapa bisa membuat Ersya tersenyum karena melihat betapa Dionald menyayangi Arashi. Ersya kemudian kembali menegakkan tubuhnya saat pintu ruang kerja Dionald terbuka dari luar. Dia menoleh dan menatap Dionald yang berjalan masuk ke dalam ruangan dengan sebuah berkas di tangan nya. "Ini, baca terlebih dahulu. Lalu pikirkan baik-baik karena aku tidak tahu persisnya akan sampai kapan kontrak ini berlaku di antara kita." ujar Dionald Ersya meraih dokumen itu dan membaca nya dengan seksama. Disana, tidak tertulis banyak hal seperti dugaan nya. Apa yang harus Ersya lakukan justru sangatlah sederhana. Dia hanya perlu menemani Arashi sepulang bekerja, menghabiskan waktu akhir pekan bersama dan sesekali menyetujui jika Dionald ataupun Arashi mengajak nya jalan-jalan. Tidak sulit. Kedua netra Ersya justru melebar saat melihat keuntungan yang bisa di dapatnya dari kerja sama ini. Selain uang, dia bisa mendapatkan perlindungan, dan bahkan meminta bantuan untuk Panti asuhan nya. "Untuk point terakhir, sekedar informasi untukmu, keluarga ku selalu mengadakan acara amal. Biasa nya kami akan berkeliling ke daerah pelosok yang masih tertinggal dibandingkan wilayah maju lainnya. Belakangan ini, Shannaya juga mengatakan kepadaku untuk mencari partner lokal untuk bekerja sama dibidang amal ini. Aku mungkin bisa merekomendasikan dirimu kepada Shannaya." "Ini... keuntungan yang aku dapatkan tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan untukmu dan Arashi." ucap Ersya "Tak apa. Sebagai gantinya... tolong sayangi Arashi seperti anakmu sendiri. Dan tolong, lengkapi aku menjadi orang tua Arashi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN