Sepanjang jalan pun, mereka tak ada yang berkata-kata. Yang satu malas meladeni dan yang satu sudah kehilangan kosa kata akibat perbuatan yang satunya. Ah kenapa juga bisa begitu? Tanyakan saja pada jantungnya yang sedang bertingkah sampai saat ini. Namun, bukan Sarmila namanya kalau tak buat rusuh dan bukan Sarmila jika bisa tenang. Rasa sunyi adalah hal yang paling dia benci. Tuk! Tuk! Tuk! Berkali-kali telunjuknya mengetuk kaca jendela mobil Bastian. Kepalanya bersandar nyaman di sisi pintu. Tuk! Tuk! Tuk! Gentala yang merasa ada suara semakin terganggu. Dia perlahan-lahan kehilangan konsentrasi dalam otaknya hanya karena suara itu. “Bisa kau diam?” sungutnya. Bibir Sarmila terbuka sebentar tanpa suara lalu menutup kembali. Telunjuknya kini ia turunkan. Masih terhitungan detik

