Gentala yang menjadi salah tingkah, dilihat terang-terangan oleh Sarmila tentunya. Dia ingin berpura-pura tak kenal pun memang dia yang membawa gadis itu bekerja di sini, di hotel miliknya. Kalau diladeni, dia juga malas dengan gosip-gosip yang akan menimpanya. Dia hanya malas dengan kegaduhan saja. “Pak Gentala kok makan di sini?” Sarmila malah dengan senang hati bertanya pada pria yang duduk berhadapan namun arah diagonal itu. “Makan makananmu. Jam makan siang tidak ada perpanjangan,” ketus Gentala yang kini asyik dengan makanannya. Nia sendiri berusaha makan dengan tenang, dia tak bisa bersuara lagi saat ini. Dia jadi takut kalau sampai Gentala malah menandai dirinya dan malah memecatnya. Dia masih sayang dengan pekerjaannya. “Iya, dia aku ajak ke sini Mil. Masa iya sebagai pemil

