Episode 6

1578 Kata
Cristal menatap penampilan wajahnya di depan cermin yang terlihat pucat, ia mengelus perutnya yang masih rata ada rasa tak tega bersemayam di hati, tetapi ia tak tau harus apa, jika terus mempertahankan kandungannya untuk makan sehari-hari aja sulit. Bagaimana mungkin ia harus menambah beban hidupnya dengan hadirnya seorang bayi bagaimana cara mencukupi kebutuhannya nanti, belum lagi proses melahirkan yang memerlukan biaya cukup banyak dan satu lagi siapa yang akan menjaganya saat bekerja nanti. Cristal menggeleng kuat dan kembali fokus pada penampilannya. Cristal memberi polesan make up tipis pada wajahnya dan terakhir memberikan sentuhan lipstik berwarna pink pada bibir agar penampilannya terlihat lebih fresh ia pun bersiap memulai hari ini dengan bekerja, terutama demi misi utamanya. Ia melayangkan kaki bersiap menunggu ojek online pesanannya berdiri di pinggir jalan sesekali matanya menyipit menatap benda bulat di pergelangan tangan sambil bergerak gelisah karena ojol pesanannya tak kunjung tiba, hingga seorang pengendara motor memakai jaket khusus mendekat ke arahnya. ''Mbak Cristal, ya?'' ''Iya saya sendiri.'' ''Sesuai aplikasi ya, Mbak,'' ujar pengendara motor itu yang ternyata adalah ojol pesanannya. Cristal pun mengangguk. ''Ini Mbak helmnya.'' Cristal pun menerima helm itu dan memakainya, bersyukur ia memakai celana kulot hingga ia merasa lebih nyaman dan gak ribet saat melangkah membonceng motor. Motor pun melaju membelah jalanan yang terlihat mulai di padati lalu lintas kendaraan. Tak berselang lama ia pun sampai di restoran dan membayar sesuai tarif, melebihkan sedikit. Walaupun tak banyak uang ia miliki tetapi sejak dulu ia senang berbagi pada yang membutuhkan, siapa tau dengan begitu mampu mempermudah segala urusannya dan mengangkat kembali derajatnya, bisa jadi doa tulus dari salah satu mereka diijabah. Cristal pun melayangkan tungkainya masuk ke dalam kafe menuju loker mengganti baju dengan seragam lalu memulai aktivitas apa saja yang bisa ia kerjakan tanpa diminta, ia menyapu, mengepel, membersihkan kaca, apapun itu asal bisa membuatnya lelah dan kecapean. Berjalan ke sana ke mari mengantar makanan tanpa mengeluh sedikitpun. Jauh sebelum peristiwa penangkapan sang Papa Cristal adalah pribadi yang menyenangkan dan periang berbagai masalah yang datang menimpanya perlahan mulai mengikis rasa percaya dirinya dan membuatnya merasa kerdil menjadikan ia sebagai pribadi yang tertutup. ''Kamu ngapain, Cris? Istirahat sana, saya lihat dari tadi kamu sibuk terus gak ada berhentinya,'' tegur Leon yang memperhatikan gerak-gerik Cristal. ''Saya lagi kerja, Pak.'' ''Iya, Saya tau kamu lagi kerja tapi yang Saya lihat dari tadi Kamu mengerjakan ini itu tanpa di minta dan mengerjakan pekerjaan yang bukan menjadi tugas Kamu. Kamu gak perlu mengerjakan apa yang bukan menjadi tugas kamu, semua karyawan punya job dan tanggungjawab masing-masing. Jadi, Kamu gak perlu ngerjain sesuatu yang bukan menjadi tugas kamu, ngerti?'' Leon menunjuk pada kantung plastik besar hitam yang berisi sampah organik hasil dari sisa makanan yang seharusnya menjadi tugas cleaning servis. ''Baik, Pak. Tapi gak pa-pa, 'kan kali ini aja saya yang buang? Udah nanggung tangan saya terlanjur kotor.'' ''Ck. Kamu ini, terserah!'' Leon pun meninggalkan Cristal yang tengah membuang sampah, entah kenapa ada rasa penasaran pada wanita itu yang terlihat berbeda dari yang lain. Tak pernah sedikitpun ia menggoda atau mencoba menarik perhatiannya seperti karyawan atau wanita lainnya, ia terkesan cuek dan pendiam. Cristal duduk di loker meluruskan kakinya yang terasa pegal, sesekali ia memijat betisnya yang mulai berefek. Diam-diam ia tersenyum, jika ia melakukan kegiatan seperti ini terus mungkin keinginan terbesarnya segera terwujud, bahkan ia merasa perutnya terasa menegang saat ini. Pun untuk misi pulang kerja nanti ia sudah memiliki rencana tersendiri. ''Hey, Cris ... ngapain senyum-senyum sendiri, gila, ya? tanya Nina rekan satu kerjanya yang kini tengah duduk di sampingnya sambil mengunyah roti dengan bibir yang terasa penuh. Diam-diam Cristal menelan saliva melihat Nina makan roti sobek yang terlihat lahap, gak biasanya begini apalagi berisi selai stroberi jelas ia tak menyukainya tapi kenapa hari ini rasanya menginginkannya. Nina yang merasa diperhatikan pun merasa tak enak dan mencoba menawarkan. ''Kamu mau?'' tawar Nina yang ditanggapi Cristal dengan anggukan dan tiba-tiba senyum merekah saat bisa memakannya. ''Senyum lagi, aku rasa kamu beneran udah gak waras deh Cris, makan roti gitu aja kaya udah dapet durian runtuh. Seneng banget kayaknya. Oh, iya Cris kemarin ada orang yang nyari kamu.'' Seketika Cristal terbatuk memegang dadanya yang terasa sesak, untunglah Nina membawa air mineral dan berinsiatif memberikannya. ''Ati-ati makannya gitu aja kesedak, tenang ga ada yang minta kok, '' imbuh Nina santai sambil mengusap punggung belakang Cristal. ''Siapa, Nin?'' tanya Cristal penasaran. ''Mana aku tau.'' ''Terus kamu ngasih alamat aku?'' ''Enggak.'' Sejenak Cristal mengembuskan napas lega rasa sesak kembali memenuhi rongga dadanya saat teringat malam laknat itu. Mungkinkah pria itu? ''Thanks, Nin.'' ''Emang dia siapa sih? Cakep banget Cris kaya bintang Hollywood macho pula, uhgt ... sandaran able deh pokoknya,'' seloroh Nina saat mengingat penampilan Samudra yang terlihat good looking, pria dengan garis wajah tegas berambut hitam lurus yang memiliki sorot mata tajam dan bulu-bulu halus yang menghiasi sekitar rahang, jangan lupakan bagaimana bentuk hidung yang mancung wajah seperti orang bule. Cristal pun hanya mengedikan bahu acuh mau setampan apapun Samudera ia gak peduli karena orang itu lah yang telah menghancurkan masa depannya dan membuat hidupnya makin berantakan, mengingat pun ia tak sudi. Tanpa bisa dicegah air mata itu lolos perlahan membasahi pipi, Nina yang tak tau apa-apa pun dibuat bingung oleh rekan kerjanya yang satu ini. ''Kamu kenapa, Cris? Aku salah ngomong, ya? Sumpah nih anak bikin aku bingung deh tadi keliatan seneng, sekarang sedih kaya ibu-ibu hamil aja sensi banget.'' Deg Jantung Cristal seketika mencelos mendengar ucapan Nina. ''Ibu hamil? Memang ibu hamil seperti apa? tanya Cristal penasaran, sejujurnya memang ia tidak tau seperti apa ibu hamil itu karena ini pun pengalaman pertama kali untuknya. ''Ya gitu emosinya susah terkontrol sensi gampang nangis, ngambek moodnya naik turun. Kalau pengen sesuatu itu harus dituruti kalau gak nanti anaknya bisa ileran lho. Kata Kaka aku sih gitu, tapi gak tau deh aku kan belum pernah hamil tiap orang juga beda-beda sih gak semua sama mengalami hal kaya gitu. Ada yang harus badrest total karena kandungannya lemah, sampai gerak dikit aja bisa pendarahan, ada yang bawaannya pengen tidur mulu kata orang ngebo namanya itu yang paling enak kaga berasa soalnya, ada yang mudah lelah baru gerak dikit capek lemes, ada yang biasa gak ngerasain apapun gitu lah banyak cari info aja di google kalau penasaran.'' Cristal pun menjawab dengan ber'oh' ria dan menganggukkan kepala, Nina pun berdecak mendengar reaksi Cristal yang seperti tak berantusias mendengar ceritanya padahal ia sudah berbicara hingga bibirnya berbusa. ''Ck. Aku ngomong panjang lebar kamu cuma jawab OH doang dasar gak ada akhlak, emang aku radio,'' sungut Nina sebal hingga ia mencubit pelan bahu Cristal saking gemasnya, Lagi-lagi Cristal hanya menanggapi dengan senyum tipis. ''Seriua deh aku ngomong sama manusia atau patung, sih. Oh my God kenapa aku bisa punya teman model gini, gak seru banget sumpah.'' Lagi Cristal hanya terkekeh mendengar Nina yang memprotes sikapnya. ''Jalan, yuk pulang kerja mau gak?'' ''Gimana, ya?'' Cristal nampak menimbang ucapan Nina sebelum mengambil keputusan. ''Kalau aku temenin aja gimana? Dompet kangker nih belum gajian.'' ''Ehm ... boleh deh dari pada aku jalan sendiri gak enak, lumayan lah dari pada jalan sendiri setidaknya gak seperti orang ilang. Walaupun kadang yang diajak ngomong cuma jawab ah, oh doang.'' ''Dih masih diingat-ingat aja.'' ''Emang habis ngeselin. Aku kan pendendam, tuh kan senyum lagi ngeri ihgt jangan-jangan kerasukan nih si Cristal. Dah ahgt aku mau nyari makan, Kamu mau ikut?'' ''Engga makasih aku dah bawa bekel kok.'' ''Oke, aku duluan ya.'' Nina pun beranjak dari duduknya menuju tempat makan khusus karyawan yang disediakan oleh pihak kafe mereka pun memperoleh jatah makan siang sekali sehari kecuali lembur mereka dapat jatah makan dua kali. Samudra terlihat enggan untuk beranjak dari kasur rasanya ia hanya ingin berguling dengan selimut seharian tanpa melakukan apapun. Meski mata hari telah meninggi ia tak peduli apalagi keinginannya untuk memakan rujak dan mangga muda belum terpenuhi hingga kini, rasanya ia kesal setengah mati. Suara ketukan pintu terus berulang mengusik kenyamanannya, bukannya membuka pintu Samudra justru menutup kuping dengan bantal membenamkan kepalanya di bawah bantal hingga suara itu perlahan menghilang. Tak lama ketenangannya pun kembali terusik saat seseorang membuka pintu kamarnya tanpa permisi hanya Romi dan Eva yang berani melakukannya yang lain mana mungkin, hingga ia mengumpat tertahan. Meski sudah dewasa dan siap menggantikan posisi Papanya tapi terkadang Samudra masih bersifat seenaknya sendiri belum sepenuhnya bertanggung jawab dengan apa yang seharusnya dikerjakan, tapi begitu ia menyanggupi sesuatu semua akan dilakukan secara total. ''Hey, anak bandel mau sampai kapan Kamu tidur cari mati, ya?'' seru Eva dari ambang pintu setelah berhasil membuka pintu kamar Samudera dengan kunci cadangan lalu ia berderap menuju arah ranjang duduk di tepi. Hanya suara tak jelas yang keluar dari mulut Samudra, hingga Eva merasa tak sabar dan menarik paksa selimut yang menutupi tubuh kekar keponakannya satu-satunya itu. ''Mau sampai kapan Kamu tidur terus, Sam? Ini bukan waktunya untuk libur ada perusahaan yang harus Kamu kelola,'' tandasnya. ''Lemes Tante.'' Entah kenapa tubuh Samudra rasanya mudah lelah akhir-akhir ini dan gampang sekali mengantuk, sungguh bukan sifatnya sama sekali. Dulu tak pernah begini padahal ia sering ke klub dan pulang nyaris pagi tapi kondisinya baik-baik saja dan strong, bahkan masih tetap fokus kerja, sekarang bawaannya hanya ingin tidur tanpa siapapun yang bisa mengganggunya. ''Bangun, Sam! Kamu tuh calon pemimpin perusahaan masa kelakuan kaya gini? Gak pantes tau gak. Banyak orang mengincar posisi Kamu sekarang lengah sedikit bisa-bisa digantikan oleh orang lain, Kamu gak mau kan hasil jerih payah Papa Kamu diambil orang gitu aja?'' ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN