Seperti kata Nina tadi selepas pulang kerja mereka langsung jalan-jalan kesebuah mall, memasuki toko satu ke toko lainnya apa lagi saat melihat diskon Nina langsung berlari menuju tempat itu dengan mata berbinar. Cristal pun hanya mengikuti saja di belakang, baginya adalah sebuah kesempatan untuk membuatnya semakin lelah.
Cepek sudah pasti, tak seperti kondisi ia saat belum hamil yang selalu optimal dan energik apalagi dengan kondisi tubuh selalu penuh gizi dan suplemen bisa bergerak lincah, tentu saja itu dulu sebelum prahara melanda. Sekarang ia harus berhemat bisa makan sehari aja sudah bersyukur.
''Cape juga, Cris. Kamu beneran gak ada yang mau dibeli? Mumpung kita masih di sini kali aja ada yang kamu butuhkan. Aku yang bayar gak pa-pa santai aja lagi.''
''Thanks, Nin. Beneran gak ada, aku seneng kok bisa nemenin kamu,'' ucap Cristal tersenyum tulus.
''Yaudah kalau gitu aku traktir makan, ya? Kalau yang ini gak boleh nolak.''
Mereka berdua pun menuju food court yang terletak tak jauh dari toko yang mereka kunjungi ada berbagai menu pilihan tapi rasanya Cristal ingin makanan khas sunda membayangkan lalapan, sambel terasi, ikan asin dan sayur asem sepertinya enak hingga ia menelan saliva.
''Kenapa kok berhenti?'' tanya Cristal penasaran.
''Kamu yang kenapa? Ditanyain juga malah ngelamun, bisa-bisanya lagi jalan malah bengong nabrak tiang amnesia tau rasa deh.''
''Gak pa-pa aku mau kok amnesia.''
''Dasar sinting. Patah hati, Bu. Kamu lagi ada masalah? Cerita aja, aku gak keberatan kok dengerin curhatan kamu dari pada dipendam sendiri jadi jerawat nanti. Sayangkan wajah glowingmu yang tak lekang oleh waktu itu jadi kucel.''
''Apaan sih lebay deh.''
''Serius Cristal kulit kamu itu bagus bagai pualam, lalat nempel bisa kepleset kayanya. Btw apa sih rahasia skin carenya?'' tanya Nina penasaran.
''Gak ada sama aja kaya kamu, Nin. Cuma rajin cuci muka aja kok. Katanya laper ayo buruan cacing di perutku mulai meronta-ronta nih.''
''Ohw iya sampai lupa. Kamu mau makan apa, Cris?''
''Aku mau makanan khas Sunda.''
''Oke deh. Apapun terserah aku ngikut aja, aku apa aja mah hayok gak ribet kalau soal perut.''
Cristal hanya tersenyum kecil menanggapinya untunglah food court di mall ini cukup lengkap banyak menjajakan menu makanan yang tersedia pun berfariatif memiliki tempat masing-masing yang saling berdekatan. Dari makanan khas nusantara sampai junk food, western, korea, bahkan Jepang hampir semua ada. Tinggal pilih mana yang kamu suka.
Cristal pun menarik salah satu kursi mendudukkan bobotnya memilih menu yang seperti ia inginkan, beberapa menit menunggu akhirnya pelayana pun datang menghidangkan di depannya ia pun memakan dengan lahap. Sedangkan Nina ia lebih memilih makan cepat saji ayam kentucky dan kentang goreng dengan banyak saos dan lelehan Mozarella di atasnya. Cristal pun hanya menggelengkan kepala dengan pilihan menu yang Nina pilih, tetapi ia enggan berkomentar dan lebih memilih makan makanannya yang terlihat lebih menggoda di depan mata.
''Kamu sering makan begitu, Nin?'' Nina pun menjawab dengan mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan. ''Gak baik Nin makan kaya gitu terlalu sering buat kesehatan, beresiko banget bisa bikin penyakit tumbuh subur terutama kangker,'' ucap Cristal memperingatkan.
''Kantong kering maksudnya?'' Nina pun terbahak ia tau sih resiko itu, tapi suka gimana dong susah buat menghindari. ''Dah kaya Ibu aku aja, Cris. Habis gimana enak soalnya, Kamu lahap banget Cris makannya enak banget, ya?''
''Mau Cobain nih?''
''Enggak aku gak suka sayuran.''
Kini mereka pun fokus dengan makanan masing-masing tak ada yang membuka suara kembali, hanya dentuman suara musik yang menemani dengan alunan nada energik hingga tanpa sadar membuat orang ikut bernyanyi mengikuti melodi sambil menunggu pesanan datang.
Dering ponsel milik Cristal berbunyi ia segera mengakhiri sesi makannya, merogoh ponsel yang berada di dalam tas siapa tau ada telepon penting dari rumah sakit tentang kondisi Mamanya. Ah ternyata nama Karin yang tertera di layar. Ia pun menekan tombol terima setelah tau siapa peneleponnya.
''Hallo ... Kamu di mana, Cris?'' tanya Karin di seberang sana.
''Aku lagi di luar sama Nina.''
''Pantes rumahnya sepi, aku lagi di depan rumah Kamu nih.''
''Bentar lagi aku balik, mau nungguin atau gimana?''
''Masih lama gak kira-kira?''
''Enggak sih kecuali kalau macet, tau sendiri kan jalanan Jakarta kalau jam pulang kerja gini.''
''Ya udah deh aku tunggu aja, dari pada bolak-balik. Aku ke kafe deket rumah kamu aja minum kopi kayanya enak juga.''
''Sip, oke deh.'' Cristal pun menutup sambungan telepon setelah Karin mengakhiri obrolannya.
Niat hati tadinya ingin berjalan kaki sampai rumah tapi berhubung Karin menelepon ia urungkan niatnya, karena ia takut Karin curiga dan makin bertindak posesif padanya.
''Siapa yang telepon, Cris.''
''Teman, Karin namanya.''
''Aku pikir cowok kamu.''
''Bukan, pulang yuk?''
''Bentar aku bayar dulu.''
''Ini ....'' Cristal mengulurkan selembar uang berwarna merah memberikan pada Nina, yang langsung di tolak olehnya.
''Apaan sih. Kan aku bilang aku yang traktir jadi gak usah bayar.''
''Gak enak, Nin. Enggak apa-apa bayar masing-masing aja.''
''Gak enak kasih kucing. Udah santai aja,'' sahut Nina sambil menyeruput jus alpukat pesanannya hingga tandas lalu ia pun memanggil pelayan restoran. ''Biasanya kita yang melayani mereka sekarang gantian,'' imbuh Nina terkekeh.
Cristal merasa tidak nyaman dengan perutnya rasanya seperti diremas-remas dan menegang hingga bulir keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah, bibirnya pun terasa bergetar ia mencengkram kuat tepi kemeja sambil memegangi perutnya sebagai bentuk pertahanan.
Apakah ini waktunya?
''Kamu kenapa, Cris kok pucet?'' tanya Nina khawatir.
''Engga apa-apa kok mungkin ini efek kebanyakan sambal yang aku makan jadi rada mules sama sakit perut.
''Ohw ... bisa jadi sih, aku lihat kamu banyak banget soalnya makan sambelnya kaya orang kalap. Pantes sih kalau kamu sakit perut.''
''Ya udah aku ke toilet dulu, ya? Kalau lama tinggal aja habis ini aku pulang juga kok,'' ringisnya tertahan.
''Beneran gak pa-pa kalau aku pulang duluan, nanti? tanya Nina meyakinkan.
''Iya, gak pa-pa santai aja. Aku duluan ya ke toilet gak tahan nih.''
Nina pun mengangguk tak menanyakan apapun lagi, gegas Cristal mencari toilet terdekat ia sudah tak tahan dengan rasa sakit yang menimpanya. Tubuhnya terasa lemas matanya berkunang-kunang ia pun menjadikan apapun sebagai pegangan untuk mempertahankan bobotnya sendiri, ada binar yang terpancar saat Cristal melihat toilet yang jaraknya sudah terlihat dekat.Ia pun melangkah kakinya menuju toilet.
Aku pasti bisa ke sana, bentar lagi sampi.. bantu Bunda, Nak. Aku tau kamu anak yang kuat gak pernah rewel dan nyusahin apa lagi merepotkan, gak sama sekali. Kamu berbeda Bunda tau itu. Maafin Bunda ya harus melakukan ini sama kamu, Bunda mau banget sebenernya melihat kamu di dunia ini membesarkan dan melihat tumbuh kembang kamu tapi gak dengan cara kaya gini. Jika Tuhan menghendaki semoga suatu hari nanti kita bisa berkumpul di surga nanti.
Cristal pun terus berjalan tertatih semua yang berada di sekelilingnya terasa berputar-putar, pandangannya mulai terasa buram tiba-tiba ia merasa tubuhnya terasa ringan dan seketika semua terasa gelap tak mengingat apapun.
Aroma khas terasa menusuk indra penciumannya lamat-lamat ia terbangun kesadarannya perlahan mulai pulih, Cristal mengedarkan pandangan menatap ruang yang didominasi warna putih, jangan lupakan ruang yang ia gunakan terlihat bukan kelas biasa ia seperti berada di ruang VIP, karena semua nyaman dan mewah.
Cristal pun berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan dan bertanya-tanya siapa yang membawanya ke rumah sakit.
Manusia macam apa yang menolongnya hingga menyewakan ruang sebagus ini untuknya, bayiku? Apakah ia masih ada. Aku harus membayar pake apa nanti, semua ini pasti gak gratis kan?
Cristal menggigit bawah bibir. Begitu banyak pemikiran yang bersarang di kepala hingga membuatnya terasa pening, ia pun memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Cristal merasa kering pada tenggorokan rasanya ingin minum tapi gerakkannya terbatas karena ada selang yang menancap di pergelangan tangan, ia pun hanya mampu meneguk saliva. Cristal berusaha menegakkan tubuhnya dan meraih gelas yang berada di nakas.
Prang!
Gelas itu pun terjatuh dan pecah seketika hingga menimbulkan bunyi nyaring karena Cristal tak mampu menjangkaunya, membuat seseorang yang tertidur pulas di kursi terjaga. Kaget, tentu saja ia pun bangun meregang kan otot-ototnya yang terasa kaku karena tidur di sofa dengan posisi meringkuk.
''Butuh sesuatu?'' tanya pria itu yang sudah berdiri di samping Cristal.
''Haus.''
''Kenapa gak bangunin aja dari tadi, pecahkan jadinya, dasar!''
Cristal pun hanya menatap pria itu sejenak sebelum bertanya lebih jauh tentang siapa yang menolongnya.
''Terima kasih,'' ucap Cristal saat pria itu memberikan satu gelas air putih dan meminumnya hingga tandas lalu meletakkan di nakas.
Hening tercipta dua orang terjebak di satu ruang yang sama tak saling mengenal tentu saja tak tau harus membicarakan apa? Untung lah dokter dan perawat datang tepat waktu hingga mampu mengurai kecanggungan.
''Selamat pagi Ibu Cristal gimana kondisinya sekarang? Apa sudah lebih baik?'' tanya Pak Dokter, Cristal menaikkan sebelah alisnya.
Sebelum dokter memeriksa kondisi Cristal tak lupa suster mengecek kondisi selang infus memastikan tidak kehabisan cairan, barulah suster mencatat ke dalam jurnal tentang perkembangan Cristal.
Bagaimana bisa dokter itu tau namanya.
''Baik, dok. Sepertinya gak ada.''
"Apa Ibu meresakan keluhan lain?''
''Tidak, dok,'' kilahnya mengigit bibir.''
''Syukulah kalau gitu, alhamdulilah kandungan ibu masih bisa diselamatkan tolong jaga baik-baik kandungannya, karena trimester pertama masih sangat rawan, jangan terlalu kecapean atau nanti ibu bisa kehilangan calon jabang bayinya. Jangan lupa juga selalu minum s**u dan vitaminnya biar cukup nutrisi itu sangat penting, buat perkembangan janin dan ibu hamil. Kalau gitu kami permisi jika butuh sesuatu bisa panggil suster dengan tekan tombol itu, ya, bu?''
Dokter dan perawat itu pun pergi setelah berpamitan visit ke ruangan lainnya. Kini hanya Cristal dan pria itu yang berada di ruangan suasana pun kembali hening sibuk dengan pikiran masing-masing.
''Maaf saya mau nanya ini jam berapa?'' tanya Cristal memecah keheningan.
''Jam delapan pagi.''
''Apa? Jam delapan pagi?'' Cristal tersentak hingga membuat perutnya ikut bereaki efek gerakannya yang tiba-tiba. Seketika ia merasa sedikit nyeri.
''Jangan banyak gerak dulu, kamu lupa sama apa yang dibilang dokter barusan. Iya kamu pingsan hampir dua puluh empat jam.'' Pria itu ingin membantu Cristal membetulkan posisinya tapi ia menolak, beringsut perlahan menjauh seperti ketakutan.
''Jangan sentuh aku. Aku bisa sendiri!'' serunya penuh emosi.
Rasanya gak mudah menghilangkan trauma bahkan Cristal seperti enggan di dekati oleh pria mana pun, ia pun sering terjaga saat tengah malam bayangan malam itu sering berkelebat dalam ingatannya. Hingga rasa sesak menghujam d**a dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
***