Episode 8

1778 Kata
''Jangan sentuh aku. Aku bisa sendiri!'' serunya penuh emosi. Rasanya gak mudah menghilangkan trauma bahkan Cristal seperti enggan di dekati oleh pria mana pun, ia pun sering terjaga saat tengah malam bayangan malam itu sering berkelebat dalam ingatan. Hingga rasa sesak menghujam d**a dan keringat dingin pun hampir membasahi sekujur tubuh. Terbangun dengan napas terengah dan perasaan takut yang tak kunjung hilang. *** ''Ok, aku gak sentuh. Tapi tolong tenang kandungan kamu masih lemah, jangan banyak gerak dulu bahaya.'' Pria itu mengangkat ke dua tangannya ke atas seperti orang yang sedang di todong pistol. Cristal menatap tajam ke pria itu, mendengus tak suka. Memalingkan wajah dan melipat tangan di depan d**a, Cristal pun bergerak kembali mencari keberadaan tasnya mencari ponsel miliknya ia takut Karin khawatir karena semalaman gak pulang padahal kemarin janjian ketemu. Oh, iya satu lagi harusnya ia masuk kerja hari ini bisa dipecat kalau bolos nanti, Cristal pun mengigit bawah bibir memikirkannya membuat kepalanya makin pening. ''Kamu nyari apa biar aku bantu?'' ''Tasku di mana, aku harus menghubungi seseorang aku harus cepat keluar dari rumah sakit ini.'' ''Bentar aku ambilkan. Maaf kemarin aku bongkar isi tasnya, jangan salah paham itu semua buat mengurus administrasi gak ada maksud buruk.'' Dari situ ia menemukan titik terang pencariannya. Pantes dokter itu bisa tau namaku. Wajah Cristal yang tadinya menegang kini perlahan kembali tenang menghela napas dalam. Ia pun mengangguk samar tak ingin menduga-duga atau berpikiran negatif. Otaknya sudah seperti benang kusut jadi tak ingin menambah beban pikiran lagi tentang orang yang berada di depannya. Pria itu pun mengambil tas milik Cristal yang di letakan di sofa lalu menyerahkannya. Cristal pun menerima tas itu dan langsung membukanya tangannya merogoh mencari benda pipih berukuran empat inchi tersebut, berusaha menghubungi Karin tapi sayang ponselnya mati kehabisan daya ia pun hanya bisa menghela napas berat. ''Sudah aku bilang kan kalau butuh sesuatu itu ngomong jangan diam aja, ngerti gak sih!'' hardik pria itu, saat melihat Cristal yang ingin turun dari ranjang. Cristal terkesiap mendengar ucapan itu karena nada suaranya terdengar meninggi dan syarat emosi, siapa dia berani berbicara seperti itu orang tuanya saja tak pernah berbicara keras terhadap Cristal, ia tidak suka dengan orang yang berbicara dengan nada tinggi apa lagi dibentak. ''Kamu cuma nolong aku, bukan berarti berhak ikut campur mengantur ini dan itu. Memang kamu siapa? Aku bisa ngelakuin semua sendiri, aku gak butuh bantuan orang lain,'' ketusnya yang merasa berang. Sedikit lagi padahal bayi dalam kandunganku luruh kenapa harus ada yang menolong, jika saja tidak ada yang menolong mungkin saat ini bayi itu sudah gak ada. Cristal pun mengusap perutnya yang masih rata. "Semua gara-gara kamu rencanaku gagal.'' ''Rencana? Gagal? Maksud kamu apa, aku gak ngerti.'' Alis pria itu berkerut mencoba mencerna maksud wanita di depannya. ''Gak penting, kamu juga gak perlu ngerti ini bukan urusan kamu!'' Suasana mendadak hening aura tegang jelas terlihat di kedua belah kubu hingga suara ponsel milik pria itu terasa memenuhi ruangan, ia pun menyambar benda pipih itu yang tergeletak di meja mendial tombol terima dan segera keluar dari ruangan agar lebih leluasa berbicara dengan apa yang akan dibicarakan. ''Gimana? dapat informasi yang aku butuhkan.'' ''Dapat, ternyata bener perempuan itu yang berada bersama Pak Sam di kamar hotel, saya juga sudah mengecek rekaman CCTV dihampir semua ruang yang terjangkau dan ada satu lagi fakta yang terungkap, sepertinya ada yang sengaja menjebaknya karena ia perempuan baik-baik bukan seperti yang sengaja menjajakan tubuhnya. Dan Pak Sam salah orang harusnya bukan perempuan itu yang menemani Bapak, malam itu.'' ''Ohw, s**t! Pantas saja. Thanks infonya, segera periksa ponselmu aku sudah mengirimkan bayaran selidiki sampai tuntas siapa aja yang terlibat, apa sebenarnya motifnya.'' ''Baik, Pak.''' ''Segera hubungi kalau ada berita terbaru lainnya apapun itu.'' Setelah pembicaraan itu selesai Samudra pun menutup telepon menyimpan ke dalam saku celana. Rasa bersalah makin melingkupi hingga tungkainya terasa lemas, dan bersandar pada tembok dan memijit pangkal hidungnya. Bagaimana ia menghadapi Cristal sekarang apakah dia mau memaafkan kesalahannya kalau dia tau fakta yang sebenarnya, meski tidak seratus persen salah Samudra. *** Flash back. Terlihat kerumunan orang di depan toilet disebuah mall, Samudra yang sedang berada tak jauh dari lokasi pun merasa penasaran kebetulan sedang makan siang di sana bersama kliennya dan ingin melakukan panggilan alam, ia pun menerobos kerumunan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Syok tentu saja saat melihat wanita pingsan berada di depan matanya yang tak asing untuknya. Ia pun gegas menggendongnya membawa ke rumah sakit terdekat. ''Tolong minggir, saya kenal perempuan ini,'' serunya sambil membungkukkan badan menggendong Cristal dalam dekapan membawanya menuju mobil dengan di bantu beberapa orang karena jarak lantai tiga ke basment tidak lah dekat dan mana mungkin ia menggendong seorang diri. Wajah wanita itu selalu terbayang tiap saat dalam benaknya, apa lagi saat ia menitikkan air mata setelah ia berhasil menerobos memasuki dan menyatu dengannya. Brengseknya lagi ia justru melakukan beberapa kali, tangisan dan rengekan itu tak dipedulikan sungguh ia menyesal karena telah meminum obat itu dalam kondisi normal saja ia mampu bertahan beberapa ronde, ditambah meminum obat itu jangan tanya efeknya seperti apa. Semua tak bisa terkontrol yang ada dalam benaknya adalah hasrat untuk dituntaskan tak peduli siapa yang jadi pasangannya asal sesuai dengan standar bersih, wangi, cantik, tak memiliki penyakit ia tak akan menolak. Sekian lama mencari akhirnya ketemu juga meski dengan cara yang dibilang tidak biasa, mungkin Tuhan sedang berbaik hati dengannya atau ini cara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ia tak pernah lupa wajah wanita itu, apalagi aroma wangi lavender yang terasa menenangkan saat mencumbu ingin sekali selalu berdekatan dengannya, wanita yang menghabiskan satu malam bersama dengannya, dan memberi pengalaman berbeda. Rasa bersalah menghantui karena telah merenggut masa depannya ia akui sering bergonta-ganti pasangan tapi dalam kamusnya paling anti dengan yang masih virgin, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi. Damn! Menyesal, tentu saja karena ia tak mampu menahan diri meski wanita di depannya terus meronta, meminta Samudra untuk menghentikan aksi bejatnya, tapi ia tak mengindahkan permintaannya itu. Bahkan karena kesal ia sempat menampar hingga wanita itu terdiam dan tak berdaya berada dalam kungkungannya, lalu melakukan aktivitas panas hingga memasuki beberapa kali tanpa pengaman wajar jika ia sekarang mengandung benih dari bibitnya. Sungguh napsu telah membuatnya menjadi gelap mata, tapi semua sudah terjadi dengan bertanggung jawab mungkin akan mengurangi rasa bersalahnya. *** Flash back end. Samudra pun membuka handel pintu, melayangkan kaki dengan hati berdebar ia tak tau apa reaksi Cristal jika mengetahui fakta tentang dirinya, tapi ia bisa apa? Memang pantas dirinya mendapat sebuah kemarahan bahkan hukum atas perbuatannya. Terlihat Cristal tengah tidur menyamping membelakanginya dengan mata terpejam menghadap tembok, Samudra sengaja berdehem untuk memberi tau tentang keberadaannya mendengar suara itu Cristal pun beringsut membetulkan posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. ''Ada sesuatu yang kamu butuhkan?'' Samudra mencoba mencairkan suasana. ''Maaf atas sikapku tadi.'' Cristal pun mengangkat wajah hingga pandangan mereka saling bertemu. ''Tidak terimakasih, apa kita pernah bertemu?'' tanya Cristal tiba-tiba Ucapan Cristal membuat Samudra terkesiap karena Cristal seperti tidak mengenalnya, ada sedikit kelegaan dalam hati atau semua hanya akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Entah apa yang terjadi jika wanita itu tau siapa pria b******k yang berada di hadapannya kini. ''Mungkin,'' jawabannya tak yakin ia tak ingin menutupi siapa dirinya maaf seorang Samudra Rahardian bukanlah pengecut yang akan lari dari tanggung jawab. Jika Cristal ingat tentangnya dan meminta pertanggung jawaban mungkin ia akan langsung menyanggupi apapun itu. Apa lagi saat tau tentang fakta latar belakangnya yang menimpanya kini meski belum ada cinta setidaknya ia bisa memberi perlindungan dan kehidupan layak jangan lupakan ada benih dalam perutnya yang bersemayam dan membutuhkan figur seorang Ayah. ''Mungkin hanya perasaanku aja. Maaf juga sudah ketus tadi.'' ''Heumm ... gak masalah.'' ''Apa ada seseorang yang mencariku?'' ''Sepertinya enggak.'' ''Ohw, oke.'' Cristal pun meraih ponselnya yang berada di nakas tak jauh dari dari tempat ia duduk cukup mengulurkan tangan sudah bisa meraihnya. Lumayan sudah terisi daya meski belum penuh ia pun mencabutnya menyalakan tombol power. Menunggu beberapa menit hingga layar itu menyala banyak panggilan suara tak terjawab dari Karin dan Leon. Cristal pun segera menggulir layar ponselnya menekan nomor Karin agar ia tak perlu khawatir dan mencemaskannya dan sekaligus memberi tahu Leon kalau tidak masuk kerja hari ini. Tubuhnya terasa lemas bahkan perutnya masih terasa nyeri. Terdengar sambungan terhubung tapi Karin belum mengangkatnya juga ia pun menekan tombol akhir panggilan dan meletakkan ponselnya di nakas. Mungkin dia sedang kuliah. Cristal pun termenung tiba-tiba ia ingin mengelus jambang tipis dan menarik hidung mancung pria itu. Ia pun mencuri pandang menatap aktivitas Samudra yang seperti tengah sibuk dengan benda pipih di tangan bahkan wajahnya terlihat serius. Merasa ada yang memperhatikan Samudra pun mengangkat wajahnya dan mendapati Cristal tengah menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Terpergok, buru-buru Cristal memalingkan wajah tanpa sadar rona merah menjalar hingga pipi, malu. Samudra pun beranjak dari duduknya berdiri di samping Cristal. ''Ada yang bisa di bantu atau sesuatu yang di butuhkan mungkin, bilang saja jangan sungkan,'' ucap Samudra santai berusaha meredam gemuruh dalam dalam d**a. ''Gak ada.'' ''Ooo ... kita belum berkenalan sepertinya, Saya Samudra? Kamu?'' Samudra pun mengulurkan tangan pura pura tidak tau tentang Cristal, sepertinya lebih baik agar Cristal tidak curiga, cukup ia saja yang tau tentang fakta sebenarnya sambil menyiapkan cara terbaik untuk mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Sejenak Cristal menatap tangan Samudra harus kah menjabat tangannya, meski ragu akhirnya ia menjabat tangan itu. ''Samudra Rahardian.'' ''Cristal Mahendra.'' Buru-buru ia menarik tangannya dan memalingkan wajah. Tiba tiba Samudra merasa perutnya bergolak, bukan hal yang mengejutkan lagi untuknya merasakan morning siknes seperti wanita hamil pada umumnya. Buru-buru ia berlari ke toilet mengeluarkan cairan dari dalam perutnya hingga lidahnya terasa pahit dan sedikit lemas hingga ia harus berpegangan pada sisi wastafel. Ia pun membersihkan sudut bibirnya dengan tisu kemarin ia tak percaya dengan cerita pria ngidam kini ia merasakannya, tak apa setidaknya bukan Cristal merayakan kepayahan ini. Cukup aku menorehkan luka di hidupnya, dia jangan dan sekarang aku bersyukur mengalami nyidam ini. Setelah merasa lebih baik Samudra pun kembali menemui Cristal yang seperti mengamati gerak-geriknya penuh tanda tanya. ''Bapak sakit?'' tanya Cristal penasaran. ''cuma masuk angin,'' kilahnya berbohong, Samudra pun menarik kursi duduk di sebelah ranjang. ''Manggil apa kamu barusan, Bapak? Gak salah dengar sejak kapan aku jadi Bapak kamu, lagian wajahku gak setua itu ya.'' ''Memang udah tua seperti Bapak-bapak. Liat aja ada jambangannya.'' ''Hey, aku masih dua puluh tujuh tahun ya, enak aja tua. Kamu gak suka aku berjambang gini?'' ''Terus mau dipanggil apa? Om? Terserah itu kan jambang bapak mau diapain aja bukan urusanku.'' ''Om apa lagi? Kesannya aku seperti pecinta sugar baby.'' ''Terus apa?'' ''Samudra aja, emang umur kamu berapa?'' ''Dua puluh satu.'' ''Apa?'' Samudra tercekat mendengarnya. ''Aku pikir kamu sudah dua puluh lima.'' Cristal mencebik mendengarnya. ''Bisa kah kita berteman?'' tanya Samudra. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN