Episode 9

1501 Kata
''Bisa kah kita berteman?'' tanya Samudra hati-hati. ''Memang kita musuhan.'' ''Tidak, bukan seperti itu maksudnya. Astaga ...'' Samudra menepuk keningnya sendiri.'' Memang susah ngomong sama ABG labil, untung ibu dari anakku, eh... ''Biar lebih nyaman aja, ngerti kan maksud saya.'' ''Kalau aku gak mau?'' ''Ya itu hak kamu, saya gak bisa memaksa. Bukankah sesuatu yang dipaksa itu gak enak?'' Cristal tampak termenung memikirkannya sebelum mengangguk dan itu membuat Samudra berseru senang. ''Apa harus sesenang itu?'' Bibir Cristal mencebik melihat tingkah Samudra yang terlihat kekanak-kanakan. Samudra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah mendengar ucapan Cristal. Entah rasanya ia juga tidak mengerti kenapa bisa sebahagia ini. Suara ketukan pintu mengalihkan atensi mereka dan bertanya-tanya siapa yang datang sepagi ini, mereka pun menatap pada satu titik yang sama, pintu. ''Masuk,'' seru Samudra. Pintu pun terbuka ada Suster yang berdiri di sana datang membawakan sarapan pagi untuk Cristal dengan menggunakan troli. Hati Cristal terasa berdenyut disaat seperti ini pun sendiri, tak ada keluarga yang menemani. Benar-benar hidup seperti sebatang kara, air mata terasa berkumpul di pelupuk mata dan siap kapan saja menetes dalam satu kedipan mata. Buru-buru ia mengangkat wajah menatap platfon kamar berwarna putih agar air cairan bening itu tidak jatuh. ''Selamat pagi, sarapan paginya Nyonya,'' ucap Suster dari ambang pintu lalu berderap ke arah Cristal sambil mendorong troli dan meletakkan makanan itu di meja. ''Makasih, Sust,'' seru Samudra. ''Makasih, Sust, '' ucap Cristal setelah berhasil menetralkan hatinya, Suster itu pun membalas dengan senyum hangat dan anggukan kepala. ''Kalau gitu saya permisi dulu Nyonya, mari Pak, selamat menikmati,'' pamitnya sebelum meninggalkan ruangan menuju ke ruang rawat inap pasien lainnya. ''Mau makan? Ayo aku suapi.'' ''Gak usah Om, aku bisa sendiri.'' ''Om lagi, panggil Sam aja bisa gak sih? Aku masih muda belum tua, enak aja manggil Om. Sejak kapan aku nikah sama Tante kamu.'' Samudra berdecak kesal mendengarnya sambil menyilangkan tangan di depan d**a. ''Takut gak sopan, Om. Umurnya kan jauh lebih tua dari aku. Mau manggil Pak gak mungkin Om bukan bapak aku, Bosku juga bukan jadi sebutan itu yang cocok.'' Samudra hanya decak menanggapi ucapan Cristal ''Memang mukaku terlihat seperti Om-om. Aku kan gak gendut, liat aja perutku sixpack gini kok.'' Samudra menatap perutnya yang rata dibalut slim fit berwarna abu-abu. Cristal pun menatap sejenak sebelum akhirnya membuang muka. ''Panggil Kaka aja kalau gitu,'' imbuhnya. ''Maaf kamu bukan kaka aku.'' ''Ya sudahlah semerdeka kamu aja, dasar bocil.'' Ingin sekali Samudra mengacak puncuk kepala Cristal, pintar sekali membalik kata-katanya, tapi ia takut mendapat penolakan dan membuatnya merasa ketakutan seperti ini saja sudah ia syukuri. ''Om gak punya kerjaan, ya? Dari semalam kok di sini, pulang sana.'' ''Kamu ngusir?'' ''Gak ngusir, tapi aku bisa sendiri kok. Siapa tau ada yang mau Om kerjakan.'' ''Kamu perioritasku mulai hari ini.'' ''Atas dasar apa? Om kan bukan siapa-siapaku, saudar bukan keluarga bukan untuk apa peduli.'' ''Siapa bilang bukan siapa-siapamu ....'' Sam menggantungkan kalimatnya di udara mencari jawaban yang pas agar tidak menimbulkan kecurigaan, matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan. Mata Cristal menatap awas penuh rasa curiga tentang siapa sosok siapa sebenarnya pria di depannya ini. Aku Papa dari anak kamu. Tentu saja ucapan itu hanya diucapkan dalam hati saja, andai bisa mengakui detik ini juga semua tidak akan serumit ini. ''Kok diam, Om. Gak bisa jawab, ya? Udahlah gak usah terbebani aku dah biasa melakukan semua sendiri. Jadi, gak perlu ada yang dikhawatirkan juga.'' ''Kamu dah lupa kita kan sekarang berteman kalau teman itu harus saling membantu. Ayo, dimakan sarapannya nanti keburu dingin.'' Cristal pun menghela napas lega dan merasa cukup dengan jawaban yang Samudra berikan, mungkin aku memang yang banyak berpikir negatif terhadapnya sepertinya dia orang baik. Samudra pun membuka penutup makanan, seketika perutnya bergolak kembali, melihat menu sarapan yang terhidang di nampan berisi menu sop ayam, nasi tim dan ayam kecap. Uap dan nasi kombinasi sempurna untuk membuatnya merasa mual, Samudra pun segera pergi ke toilet ia menutup mulutnya dengan langkah lebar memasuki kamar mandi dan segera memuntahkan isi perutnya hanya cairan yang keluar karena dari tadi belum sempat memakan sesuatu untuk mengganjal perutnya. Tubuhnya kini terasa lemas dua kali sepagi ini di buat keluar masuk toilet. Tiba-tiba ia ingin Cristal mengusap punggung belakangnya sepertinya itu bisa menenangkan. ''Sialan! Apa-apaan ini? Please, Sam gak usah aneh-aneh. Kamu gak lagi On, kan? Tapi apa Cristal mau melakukannya kalau meminta,'' gumamnya pada diri sendiri saat menatap pantulan wajahnya di depan cermin sambil mengusap sudut bibirnya membersihkan sisa-sisa kotoran takut ada yang menempel. Merasa lebih baik Samudra pun kembali ke menemui Cristal yang masih belum menyentuh makanannya, ia bertekad untuk menahannya kali ini agar tidak mual dan memastikan Cristal makan dengan kenyang terpenuhi segala gizi dan nutrisinya, ia tak ingin anaknya kekurangan sesuatu apapun. ''Kenapa belum dimakan?'' tanya Samudra. ''Gak laper.'' ''Kamu ingin sesuatu?'' ''Tidak.'' Cristal memandang malas pada makanan di depannya. ''Mau aku suapi?'' ''Tidak.'' ''Ini waktunya sarapan pagi kamu belum makan dari kemarin?'' ''Ada selang infus yang memberi aku asupan makanan, Om.'' ''Iya tetap aja, itu gak cukup kamu harus makan nasi juga biar tubuh kamu kuat dan jangan lupa ada satu nyawa lagi dalam perutmu yang butuh asupan gizi atau kamu ingin sesuatu bilang aja, nanti biar aku belikan.'' "Om bawel kaya Bapak-bapak.'' ''Iya, memang sebentar lagi jadi Bapak.'' Mata Cristal membulat sempurna mendengar jawaban Samudra, dan menyuruhnya segera pulang takut istrinya mencari apalagi semalaman menjaganya, nanti kalau ada yang menuduh jadi pelakor gimana gara-gara bersama suami orang. ''Pulang sana, Om jangan ke sini lagi,'' ketusnya. ''Ngusir?'' ''Aku gak mau disebut pelakor, Om. Sebaiknya Om pulang jangan temui aku lagi dan kita juga gak perlu berteman aku tarik kembali kata-kataku. Anggap saja kita gak pernah ketemu.'' ''Pelakor dari mana? Aku aja belum menikah aku pria single jadi jangan khawatir.'' ''Ck. Gak ngaku lagi di sini bilang single di rumah ada istri yang nungguin dasar pembohong.'' ''Astaga.'' Samudra mengerti dengan ucapan yang Cristal tuduhkan kepadanya dengan cepat ia pun meraih dompet yang tergeletak di meja mengambil kartu identitas memberikan pada Cristal agar tidak salah paham. ''Percaya?'' ''Tapi tadi Om bilang bentar lagi mau jadi Bapak berarti bentar lagi punya anak, 'kan?'' ''Ohw ... gara-gara itu, ya? Anggap aja aku salah ngomong, tapi emang aku calon bapak, kan suatu hari nanti. Ayo, dimakan nanti keburu dingin makannya.'' Samudra mencoba mengalihkan topik pembicaraan rasa mual kembali datang saat menatap nasi, ia mencoba menahan napas agar tidak perlu menghirup uapnya dan sebisa mungkin tidak melihat saat menyendoknya. ''Om kenapa, sih? Mukanya kok gitu geli, jijik atau gimana ini kan cuma nasi bukan sesuatu yang menjijikkan? Aku punya tangan bisa makan sendiri. Jadi, gak perlu repot-repot deh. Tar aku makan kalau laper.'' Samudra pun menghela napas berat menurunkan sendok yang sudah melayang meletakkan kembali di piring, pasrah. Suara ponsel milik Samudra berbunyi ia pun merogoh saku celananya menatap nama yang tertera di layar id Tante Eva memanggil. ''Hallo, Tant?'' ucapnya setelah menekan tombol terima lalu mengapit ponselnya antar bahu dan kuping sambil menggulung lengan kemejanya hingga siku yang basah terkena cipratan air saat di toilet. Samudra pun berderap menuju luar ruangan takut mengganggu Cristal yang butuh banyak istirahat dan siapa tau ada omongan yang penting. ''Hey ... bocah nakal kemana aja semalam, kenapa gak pulang? Dasar kamu itu bikin Papa kamu khawatir aja.'' ''Aku dah dewasa Tante, tolong jangan berlebihan jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Aku sedang ada urusan dan mungkin aku gak pulang sampai beberapa hari ke depan.'' ''Urusan apa memang sebenarnya, kamu gak berbuat aneh-aneh, 'kan?'' ''Engga, Tante semua aman terkendali.'' ''Awas kamu, Sam kalau sampai bikin ulah yang buat malu keluarga. Tante pecat kamu jadi keponakan!'' tandasnya sebelum mematikan sambungan telepon. ''Main matiin sembarangan aja, giliran telepon gak diangkat marah-marah,giliran dah diangkat diomelin. Dasar wanita,'' keluh Samudra. Baru akan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana Samudra teringat belum ganti baju dari semalam ia pun menelpon Pak Ranu salah satu orang kepercayaan untuk membawakan baju ganti untuknya dan Cristal beserta perlengkapan yang lainnya. Tapi ia bingung pake size berapa kira-kira kalau kekecilan atau kebesaran gimana. Samudra pun mencoba mengingat kembali saat ia menyentuh d**a Cristal malam itu untuk memastikan ukurannya agar Pak Ranu tidak salah membeli ukuran. Bulat pas dalam genggaman sedang, tidak terlalu besar atau kecil kencang dan padat. Aish ... kenapa jadi mikir kesana. Buang-buang jauh pikiran kotormu, Sam. Mampus! jadi bangun kan si Joni. Samudra menatap pusaka miliknya yang terlihat menggelembung di bawah sana. samudra mengacak rambut frustasi. Ia pun segera membuang jauh-jauh pikiran liarnya. ''Vangkelah.'' Setelah yakin dengan ukurannya Samudra pun menelepon Pak Ranu untuk membawakan apa yang ia minta. Belum sempat menutup telepon Samudra mendengar gaduh dari arah kamar Cristal terdengar seperti piring yang jatuh ke lantai. Buru-buru Samudra menutup teleponnya ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Cristal, apalagi usianya belum cukup matang hingga emosinya terkadang masih tidak stabil. *** Masih awal ringan-ringan dulu aja, duh bawaanya aku mau bikin romcom mulu nih. Harusnya ini cerita berat, Kalau jadi belok romcom ya sudahlah berarti ini memang jalan ninjaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN