''Cris ... kamu kenapa?'' tanya Samudra dengan raut wajah cemas.
Samudra terperangah dengan kekacauan yang terjadi piring, gelas pecah berkeping-keping berserakan di lantai. Seseorang seperti sengaja melakukanya, tentu saja ia tahu siapa pelakunya. Samudra menatap Cristal yang tengah tidur menyamping menghadap tembok, gadis itu sedang terisak suaranya terdengar memilukan dan menyayat hati. Bahunya terlihat bergetar, rasa bersalah semakin menghantui Samudra.
Samudra berdiri membelakangi menatap punggung belakang Cristal, di depan orang ia terlihat tegar tapi di belakang ia rapuh dan yang pasti ia butuh seseorang untuk bersandar. Begitu penilaiannya Samudra terhadap Cristal rasanya ia ingin merengkuhnya mendekat erat dalam pelukan menjadi tempat ia bersandar saat terpuruk seperti sekarang ini.
Jangan panggil aku Samudra kalau gak bisa memenangkanmu. Aku janji akan menjagamu sampai hari itu tiba.
Samudra dengan hati-hati melangkah mendekat ke arah Cristal, menghindar dari pecahan keramik itu yang bisa melukai kakinya. Ia terbatuk agar Cristal menyadari kehadirannya lalu berbicara lebih lanjut, tetapi sebelum itu Samudra memanggil seorang cleaning servic untuk membersihkan ruangan.
Melalui tombol layanan darurat yang tersedia Samudra memanggil petugas kebersihan, tombol itu berfungsi untuk memanggil pasien atau petugas kebersihan. Pokoknya tombol itu memang didesain khusus untuk mempermudah keluarga pasien jika ada sesuatu mendesak tanpa perlu susah payah keluar ruangan. Cukup menekan tombol itu mereka akan datang dengan sendirinya.
Cristal menghapus jejak air mata yang membasahi pipi saat melihat Samudra berdiri di depannya. '' Kenapa makananya di buang, kamu ga suka? Atau mau makan yang lain? tawar Samudra.
Cristal menggeleng ia memang sengaja tidak mau makan dan membiarkan bayi dalam kandungannya makin lemah kalau bisa secepatnya janin itu menghilang selamanya dari muka bumi, tapi sayangnya doa itu belum terkabul. Terlihat jahat memang tapi ia merasa tak punya pilihan lain, kehadirannya hanya membuat beban hidupnya makin berat.
Samudra hanya bisa menghela napas dalam, tak banyak kata Samudra pun berinisiatif membeli makanan dari luar melalui ponsel pintar miliknya, karena tak mungkin meninggalkan Cristal seorang diri bisa-bisa gadis itu berbuat nekat. Tak peduli Cristal mau makan atau engga, ia akan tetap memaksa untuk makan dengan caranya sendiri. Bisa mati lama-lama kalau dibiarkan terus menerus seperti ini.
''Misi, Pak. Ada yang bisa dibantu?'' ujar petugas cleaning servic berdiri di ambang pintu dengan membawa peralatan tempurnya, kebetulan pintunya masih terbuka tadi. Jadi, tak perlu mengentuknya.
''Tolong bersih kan kamar ini, jangan sampai ada yang tersisa.''
''Baik, Pak.''
Cleaning Service itu pun mulai mengerjakan tugasnya membersihkan benda-benda yang berceceran di lantai, lalu menyapu dan mengepel setelah beberapa menit ruangan itu pun selesai dibersihkan dengan keadaan yang jauh lebih bersih dan wangi hingga memberi efek yang menenangkan.
Samudra pun memberikan tips beberapa lembar uang kertas berwarna biru, untuk petugas itu. meski awalnya sempat ditolak tetapi Samudra terus memaksanya bahkan sedikit mengancam akan memberikan penilaian buruk terhadap pelayanan kebersihan.
''Ini apa Pak maksudnya?'' tanya petugas cleaning servic saat Samudra mengulurkan tangan memberikan uang untuknya.
''Tips buat kamu karena kerjanya bagus, rapih, dan bersih. Aku suka.''
''Eh ... gak perlu Pak. Ini memang sudah menjadi tugas dan kewajiban saya. Jadi, gak perlu ngasih tips segala.
''Ambil gak perlu sungkan.''
''Tapi, Pak ....''
''Kalau gak mau ambil saya kasih bintang satu direview penilaian namti, biar ditegur pihak rumah sakit. Bahkan yang terburuk kamu bisa dipecat.'''
''Jangan dong, Pak. Baik saya ambil dan makasih sebelumnya.''
''Nah gitu dong gitu aja susah amat sih.'' Samudra menepuk bahu cleaning servic itu.
''Tapi ini terlalu banyak, Pak. Nanti kalau ketahuan saya takut dipecat gimana? Mau dikasih makan apa nanti keluarga saya.''
''Kalau ada apa-apa nanti saya yang urus.''
Meski ragu cleaning servic itu pun akhirnya menerima dan mengucapkan terimakasih beberapa seolah habis mendapat lotre, Samudra pun mengantarnya hingga ambang pintu sekalian menutupnya, baru saja pintu akan di tutup makanan pesanannya pun datang dibawa oleh seorang pengendara ojol sop buntut, udang asam manis, cap cay, bubur ayam, kepiting saos padang ia pesan, sop kimlo. Entah apa lagi ia sendiri sampai lupa karena hanya asal menunjuk saja yang penting terlihat enak ia beli.
Samudra gak tau mana yang Cristal suka jadi ia beli sebanyak mungkin, tapi feelingnya mengatakan Cristal akan menyukai sop buntut dan bubur ayam perpaduan kuah yang lezat dan gurih. Samudra membayar semua tagihan dan menghidangkannya di meja, aroma makanan terasa menguar hingga menusuk indra penciuman membuat cacing di dalam perut melakukan aksi protesnya meminta hak untuk dipenuhi.
''Liatin apa sih disitu? Ada pria ganteng lho di sini,'' ujar Samudra sambil menarik kursi dan mendudukkan pinggulnya. ''Cris ... Cris ... Cristal!'' teriak Samudra mau tidak mau membuat atensi Cristal teralih.
''Berisik Om.'' Cristal menutup kedua kupingnya menatap tajam pada Samudra.
''Salah siapa dipanggil-panggil gak nyahut.'' Cristal memutar bola mata jengah. ''Aku punya tebak-tebakan lucu mau denger gak.''
''Gak! Males.''
''Dengerin dulu makanya, belum apa-apa juga udah malas. Lagian apa bagusnya sih liat tembok gitu, mending liat ke sini ada orang ganteng mirip Robert Pattinson.''
''Sumpah, ya narsisnya gak ketulungan.'' Samudra terbahak mendengarnya.
''Setidaknya aku punya kesamaan sama Robert Pattinson.
''Sama dari mana seperti langit dan bumi gitu kalau halu jangan tinggi-tinggi Om nanti kalau jatuh sakit gak bisa bangkit lagi.''
''Justru itu halu itu bebas berimajinasi lah setinggi tingginya mumpung gratis gak ada yang melarang, karena halu adalah hak segala bangsa.''
''Aku gak percaya, Om umurnya dua puluh tujuh.''
''Kenapwhy?''
''Om kekanak-kanakan gak ada dewasanya.''
''Terkadang bersifat konyol itu perlu untuk menghibur seseorang.''
''Serah OM, serah.'' Cristal mencebikkan bibir.
''Aku punya tebak-tebakan jawab ya? Tolong tertawa kalau lucu, tolong menangis kalau sedih, tapi jangan tunjukkan kemaluanmu kalau malu. Bahaya nanti orang lain pada kabur, tar dikira pasien dari Grogol kabur.''
''Om ....!'' pekik Cristal suaranya terasa menggema hingga penjuru ruangan untung saja berada di ruang Vip bisa mengangu istirahat pasien lain nanti.
''Bisa juga teriak aku pikir bisanya ngelamun doang sama nangis. Tebak ya, Kamu tuh mirip kaya bendera tau gak kenapa?''
''Ya masa bendera, gak ada yang bagusan dikit, Om? Aturan tuh samain kaya bunga atau berlian gitu yang berciri khas wanita banget.''
''Kok kamu protes suka-suka aku dong. Udah jawab aja dulu, kalau gak bisa jawab kamu harus makan.''
Mata Cristal mengerjap mencari jawaban tapi rasanya ia tak menemukan jawaban apapun otaknya susah diajak kompromi akhirnya ia pun menyerah. Pikirannya saja sudah ruwet apalagi ditambah mikir pertanyaan yang gak penting begini. ''Nyerah om aku gak tau.''
''Soalnya bayanganmu selalu berkibar-kibar di hatiku eak ... eak ....''
''Apaan sih gak jelas deh.''
''Ni aku punya tebak-tebakan lagi, kali ini harus bener nebaknya pikir dulu jangan gampang nyerah gitu aja, gimana sih.''
''Sumpah, ya garing banget. Pergi sana, aku mau sendiri.''
''Kalau aku gak mau?''
''Aku panggil satpam.''
''Atas dasar apa aku diusir.''
''Menganggu ketenangan pasien.''
''Ck, pinter sekali kamu membalikkan kata-kata. Gak mungkinlah aku diusir jamin seribu persen. Tebak ya, ayam apa yang bikin kesel?''
''Males ... ish. Sumpah ya absurd banget datang dari planet mana sih nih orang? Bisa gak Om ditukar tambah aja, dikiloin kalau bisa meresahkan.''
''Emang aku rongsokan. Udah tebak dulu tar kalau bener kamu minta apa aja aku kabulin.''
''Beneran?'' Samudra pun mengangguk. '' Om gak bakal bohong, kan?'' Sekali lagi Samudra mengangguk.
''Emang muka aku seperti tampang pembohong?''
''Engga sih, tapi mirip penyuka daun muda sama tampang kriminal.''
''Astaga! Afgan sekali bibir anda!''
Samudra menanggapi ucapan Cristal dengan mencebikan bibir sambil mengelus d**a seolah mampu memberi kesabaran dan menguatkan hati menghadapi ABG labil di depannya.
''Masih mau jawab gak? Tawaran itu masih berlaku lho. Tapi itu juga kalau kamu mau.''
''Apa?''
''Jawab dulu tebak-tebakannya.''
''Ish ... susah, Om.''
''Nyerah nih berarti? Karena Kamu kalah berarti harus makan. Jadi, jawabannya adalah ayamnya udah habis, tapi nasinya masih banyak.''
Untuk pertama kalinya Cristal menarik sudut bibir tersenyum tipis. Mendengar lawakam receh dari Samudra.
''Gaje deh.''
''Aku suapin, ya?''
''Belum lapar, Om.''
Samudra mendesah frustrasi ada aja alasan Cristal untuk menolak makan.
''Tapi kamu belum makan dari semalam, kamu harus kuat untuk menghadapi kenyataan hidup yang pahit dan kadang melelehkan,'' ucap Samudra dramatis.
''Lebaya.''
Apa susahnya sih makan doang gak ada racunnya juga sabar, Sam, sabar ingat pesan dokter untuk selalu menjaga mood ibu hamil yang memang lebih sensitif ketimbang wanita normal lainnya. Apalagi usianya yang masih terbilang belia masih sangat labil dan rentan setres. Mudah tersinggung, marah dan sedih tiba-tiba salah dikit bisa fatal akibatnya.
Samudra pun mengalah tak memaksanya lagi, ia mengambil makan untuk dirinya sendiri. Samudra terlihat lahap menyantap sop buntut itu apalagi ditambah dengan sambel yang terasa menggoda selera. Sejujurnya ia memang lapar dari semalam belum sempat makan.
Krucuk ... krucuk ....
Terdengar perut Cristal berbunyi meminta haknya, Samudra tersenyum menyeringai melihat Cristal yang menutupi perutnya dan membuang muka.
''Suara apa itu tadi? Katanya ada yang gak lapar. Heum enak, kalau gak mau makan yasudah biar aku habiskan sendiri aja.''
Diam-diam Cristal meneguk saliva melihat Samudra yang akan menghabiskannya.
''Dasar perut gak bisa diajak kompromi,''gerutu Cristal. ''Ya udah aku mau bubur ayam tapi sedikit, segini nih, Om.''
''Serah kamu mau seberapa pun gak ada yang ngelarang,'' seru Samudra tersenyum senang.
Cristal pun makan bubur ayam dengan lahap dalam beberapa menit makanannya nyaris tandas, Samudra ingin meledek sebenarnya tapi ia takut Cristal ngambek. Jadi hanya mengamati sambil menghabiskan sisa makanannya yang hanya tinggal beberapa kali suap.
''Mau nambah lagi gak?'' tanya Samudra pada Cristal.
''Sop kimlo sepertinya enak.''
''Baik Nona segera aku ambilkan.''
''Ish ... apa-apaan dia itu.'' Cristal menekuk wajah
Anehnya wajah Cristal jauh lebih menggemaskan saat menunjukan berbagai reaksi atas sikapnya bisa terbilang terlihat lebih hidup dan menggodanya sepertinya akan menjadi hoby baru untuk Samudra. Cristal pun sudah menyelesaikan sarapannya kini ia bersandar di kepala ranjang mengusap sudut bibirnya menggunakan tisu.
Ia mencium bau badannya sendiri yang terasa menyengat karena dari kemarin belum mengganti baju. Semua terasa lengket dan lepek.
''Om ....''
''Heum,'' sahut Samudra yang sedang mengamati lalu lintas kendaraan dan mengamati orang-orang yang sedang melakukan aktivitasnya di bawah sana sambil memegang tralis besi yang menempel pada jendela sebagai pengaman.
''Aku mau pulang. Gak betah di sini, lagian aku mau bayar tagihannya gimana nanti kalau terlalu lama dirawat.''
''Jadi sugar babyku mau gak?''
''Gak, enak aja. Jangan macam-macam, ya, Om. Aku bukan perempuan seperti itu,'' serunya dengan bibir bergetar pikirannya terasa berotasi pada kejadian malam laknat itu karena ia berpikir sugar baby identik dengan perempuan gak bener yang kerjanya menjadi simpanan pria-pria matang dan terkadang harus menghangatkan ranjangnya.
''Maaf becanda, jangan pikirkan itu yang terpenting kamu sehat dulu,'' ujar Samudra membalik badan, tiba-tiba keinginannya datang lagi. Ia ingin Cristal mengusap punggung belakangannya, tapi Samudra bingung bagaimana mengutarakannya
Kenapa sih permintaannya aneh gini, gak tepat waktu banget. Gak ada permintaan lain apa? Udahlah bodo amat, biarin aja. Tapi kalau nanti anak aku ileran gimana?
''Becandanya gak lucu tau gak?!''
''Hey ... hey kenapa jadi gini. Maaf beneran aku gak ada maksud apa-apa,'' ucap Samudra nampak gusar melihat raut wajah Cristal yang berubah murung seketika.
Cristal pun merubah posisinya menjadi berbaring membelakangi Samudra menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Samudra ia pun gegas membukanya sambil menggerutu. ''Apalagi sih ini? Masih pagi juga banyak banget tamu yang datang, benar-benar seperti gak ada privasi.''
Pak Ranu berdiri diambang pintu dengan membawakan paper bag berisi baju sesuai yang Samudra minta, hampir saja Pak Ranu masuk ke dalam ruangan jika Samudra tidak menahannya.
''Siapa suruh masuk? Tunggu di luar,'' desis Samudra agar suaranya tak terdengar oleh Cristal.
''Pak Sam ngapain di sini? Siapa yang sakit?'' tanya Ranu penasaran.
''Teman yang sakit, tapi di sini dia sendiri jadi aku nemenin, keluarganya lagi di luar kota.'' Bohongnya.
Ranu pun hanya mengangguk kan kepala tak berani bertanya lebih lanjut bukan ranahnya untuk ikut campur urusan majikannya kecuali dimintai pendapat.
''Jangan bilang Papa aku di sini. Kalau Papa tanya sesuatu bilang aja gak tau apa-apa, ngerti?''
Ranu pun mengangguk paham.
''Pulang sana,'' imbuh Samudra lagi.
Setelah kepergian Ranu, Samudra pun mengecek isi paper bag miliknya dan milik Cristal memastikan isinya takut ada yang kurang atau tak sesuai seperti yang ia inginkan. Untuk urusan baju Ranu pasti paham sih dengan seleranya tapi kalau untuk Cristal Samudra tak yakin dengan pilihannya.
Jadi Samudra pun memastikan isinya dulu sebelum memberikan pada Cristal, mengecek satu persatu. Ada potongan kemeja, celana, kaos dan beberapa baju lainnya kini tangannya sudah beralih pada benda berbentuk cup dilengkapi kawat pengait dan satu lagi segitiga bermuda berwarna merah, hitam, ungu, beberapa warna kalem lainnya. Berenda pula.
''Ohw, s**t! Apa-apaan Ranu milih yang model gini bikin otak traveling aja. Bukan salahku kalau aku membayangkan isinya, come on man ....'' rutuknya dalam hati.
***