Cristal bersandar di kapal ranjang sambil mengetik dipencarian cara peluruh kandungan secara alami ataupun dengan obat-obatan dan mencari tau efek ke depannya, begitu banyak cara yang bisa dilakukan hingga ia pusing sendiri. Berkali-kali ia menghela napas, memijit kepalanya yang terasa pening.
Cuaca di luar nampak cerah berbeda sekali dengan suasana hatinya yang mendung, kembali bulir bening air matanya menetes membasahi pipi mengingat jalan hidupnya saat ini.
Entah mengapa Cristal merasa rindu dengan Mama dan Papa ia pun berinisiatif mengunjungi siapa tau dengan begitu hatinya sedikit lebih baik, ia pun bersiap untuk mandi.
Cristal mendorong kursi roda membawa Arina, Mamanya ke taman yang masih satu lokasi dengan rumah sakit, ia berjongkok di depannya menggenggam jemari erat dan mencium punggung tangannya.
''Mama apa kabar? Cepat sembuh, Ma, Cristal sendirian di sini. Cristal rindu mama, rindu kita ngumpul lagi seperti dulu apa yang harus Cristal lakukan, Ma?'' ucapnya dengan bibir bergetar lalu ia meletakkan kepalanya di pangkuan sang Mama.
Cristal merasa ada yang membelai puncak kepalanya dan ia mendongak menatap Arina yang mengusap puncuk kepalanya membuat hatinya menghangat saat menyadari Arinalah yang melakukannya, seperti yang selalu ia lakukan dulu.
Arina mengulurkan tangan membelai rambut Cristal seolah mengerti dengan perasaannya saat ini, tatapan itu begitu tulus dan senyum meneduhkan hal yang selalu ia rindukan dan sebagai sumber kekuatannya. Andai tidak ada Mama ia pun lebih baik mengakhiri hidupnya dari kemarin, sungguh semua tidak mudah untuknya tak ada seorang pun yang bisa ia jadikan sandaran. Melihat senyuman sang Mama membuat hatinya sedikit lega seperti penawaran hidupnya saat ini.
''Bentar lagi Papa pulang, Mama dah masakin kesukaannya lho. Masakin menu favorit kamu juga. Pasti capek kan habis pulang kuliah.''
Cristal terkesiap mendengar ucapan sang Mama, andai dalam kondisi normal pasti ia akan merasa sangat bahagia berada dalam kondisi keluarga yang harmonis seperti dulu. Pulang kuliah disambut dengan hidangan yang Mama masakan untuknya dan berbagai cerita tentang kegiatannya di kampus.
''Iya, Mama bentar lagi Papa sampai dandan yang cantik, Ma. Biar Papa seneng.'' Arina pun mengangguk tersenyum sumringah mendengar ucapan Cristal.
''Apapun yang terjadi kamu harus kuat. Jangan lupa selalu berdoa ada Mama dan Papa yang selalu dukung, kamu pengen jadi arsitek kan membuat gedung-gedung yang indah, kamu pasti bisa!''
Terkadang jika pikiran Arina sedang waras ia selalu menjadi Mama yang bijak, tetapi saat kesadarannya tidak stabil ia akan marah-marah dan meraung membanting semua barang yang berada di sekitar. Penangkapan sang suami sungguh menjadi pukulan telak baginya apalagi gunjingan dan hujatan orang sekitar yang terus menghakimi tanpa tau kebenaran pasti.
Satu persatu teman arisan dan para tetangga satu kompleknya menjauh, jangankan teman saudara-saudaranya pun kian menghindar tak mau mendekat takut terkena getahnya.
Jangan lupakan bagaimana dulu mereka mendekat selalu meminta bantuan dan selalu mengajaknya tiap ada acara bahkan acar amal dan kegiatan sosialita Arina selalu dilibatkan, dan kini mereka seperti menganggapnya sampah yang tak berarti.
Sesaat hening meraja hanya desau angin dan suara burung gereja yang saling bersahutan, setetes air mata membasahi pipi Arina dan tak lama ia kembali tersenyum ceria lalu tatapan itu berubah kosong. Ah, sungguh kondisinya memang tidak setabil kalau bisa Cristal ingin sekali merawat Mamanya di rumah, agar bisa menjaga dan mengajaknya bicara tiap hari.
Namun untuk saat ini keinginan itu hanya sebatas angan semata, karena ia tidak bisa meninggalkan Mamanya seorang diri saat bekerja nanti, Cristal takut Mamanya melakukan hal yang tidak-tidak jika tanpa pengawasan. Terkadang ia harus membagi waktu antar kuliah dan bekerja. Oh, ngomong-ngomong soal kuliah ia akan mengajukan cuti sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
''Kita masuk ya Ma. Di sini dah mulai panas. Mama harus banyak istirahat biar cepat sembuh jangan lupa minum obat, ya, Ma. Cristal sayang Mama.''
Cristal pun mencium pipi Arina dan merengkuhnya ke dalam pelukan, lalu mendorongnya melewati koridor menuju ruangannya. Bukan hal aneh saat ini melihat pemandangan di sekitar orang yang sedih tiba-tiba lalu tertawa terbahak dan beragam ekspresi lainnya, bahkan ada yang bermain dokter-dokteran menempelkan stetoskup pada tiap orang yang lewat. Berlonjak-lonjak layaknya anak kecil ngomong dan bernyanyi sendiri.
.
''Kita ada meeting, Sam di kafe Alamanda sama pihak Indokomar Coorporation jam 11.00 wib sekalian makan siang.
''Atur aja.'' Samudera menyandarkan tubuhnya pada lidah kursi.
''Serius kamu gak pa-pa? Mukanya pucat.''
''Heum, cuma belum makan dari pagi.''
''Kalau gitu aku balik ke ruangan.''
''Jangan lupa bilang ke Joko suruh ganti pengharum ruangannya.''
Di sinilah Samudra berada bersama Bima dan perwakilan dari pihak salah satu petinggi Hino grup membahas rancangan kerjasama untuk proyek pembangunan yang bernilai miliaran. Meeting pun berjalan sesuai dengan rencana mereka berniat untuk membangun sebuah hotel di kawasan Tangerang kesepakatan pun terjadi semua deal tanpa hambatan yang berarti, soal negosiasi Samudra memang ahlinya gak heran dia bisa menenangkan tender ini karena ia berani menjamin konsep serta bahan yang digunakan dengan kualitas tinggi dan itu terbukti dari berbagai proyek ia tangani selama ini. Mereka cukup puas dengan kualitas yang dihasilkan selalu tepat waktu tentunya.
Wajah Samudra pun berubah muram setelah meeting selesai ia terus memijit kepalanya yang terasa pening sejak tadi pagi sakitnya tak kunjung hilang untung saja bisa bersikap profesional. Pesanan makanannya pun datang ada sayur cap cay seafood dan makan western jangan lupakan nasi di depannya yang langsung berefek pada perutnya.
''Sialan, kenapa harus saat begini sih,'' desisnya.
Bima yang melihat ekspresi Samudra pun ikut khawatir karena belakang ini bos sekaligus sahabatnya ini seperti orang sakit.
''Kamu gak pa-pa, Sam?''
''Gak pa-pa cuma pening, mual kalau liat nasi.''
Alis Bima pun berkerut mendengarnya.
''Ngidam nih, aku yakin banget! Dulu kaka aku juga gitu suka minta aneh-aneh persis kaya kamu bikin suaminya sampai pusing tujuh keliling. Perempuan mana Sam yang kamu hamilin?'' Samudra hanya mengedikan bahu. ''Tanggung jawab, Sam jangan bisanya tebar benih doang.''
''Sialan!''
Samudra mengumpat bukannya nyari solusi orang-orang malah pada nyudutin. Samudra beranjak dari duduknya ia butuh toilet saat ini, Samudra yang sudah tidak tahan pun berjalan tergesa sampai menabrak waiters yang akan membawa pesanan makanannya hingga nampan yang di bawa berhamburan ke lantai. Niat hati sebenarnya ingin membantu tapi rasa mual di perutnya tidak bisa diajak kompromi Samudra pun hanya menatap perempuan itu sekilas dan berlalu begitu saja.
''Sorry gak sengaja, nanti aku ganti. Toilet di sebelah mana?'' tanya Samudra sambil memegang perutnya menatap sekilas wajah waiters itu sebelum menuju toilet, siapa yang sangka orang yang ditabraknya adalah Cristal, pun tak banyak komentar fokus membereskan piring dan makanan yang berantakan bahkan hingga mengotori seragam kerjanya dan meninggalkan bekas noda.
''Kamu gak apa-apa?'' tanya Leon berjongkok di depan Cristal sambil membantunya membereskan barang-barang yang pecah berantakan di lantai.
''Engga apa-apa, pak. Makasih dah dibantu.''
''Dasar orang itu gak bertanggung jawab, seragam kamu kotor sekarang.''
''Engga apa-apa habis ini kelar kok, bisa ganti di loker nanti.''
Leon pun mengangguk.
Jam kerja Cristal telah berakhir ia pun segera mengganti seragamnya dengan baju biasa menggantinya di loker. Mulai hari ini ia bertekad untuk menggugurkan kandungan secara alami yaitu dengan membuat dirinya kelelahan, atau apapun kegiatan yang mengurus fisik lainnya dengan begitu orang-orang tidak akan curiga.
Samudra keluar dari toilet menuju kursinya dengan badan yang terlihat lemah, alis Bima berkerut melihat Samudra yang terlihat kepayahan.
''Gini banget rasanya, aku pulang dah gak sanggup.''
''Mau diantar ke dokter?''
''Gak aku mau pulang aja. Tolong selesaikan pembayarannya tadi aku mecahin piring dan gelas.''
''Dasar! Ngerepotin aja kerajaannya.''
''Heh ... berani ngelawan, ya? Mau saya pecat.''
''Ampun, Bos! Tar malam ke klub gak?''
''Pastilah, sayang banget di lewatin.''
''Ke klub aja semangat. Di suruh kerja malah pulang, gak ada akhlak emang!'' Samudra pun hanya mencebik mendengarnya, ia seperti ingat sesuatu saat bertabrakan dengan waitters tadi wangi parfumnya terasa menempel di badannya.
''Mau ke mana, Sam?'' tanya Bima pada Samudra yang hendak berdiri dari duduknya.
''Aku aja yang bayar ada perlu sekalian. Balik duluan aja gak usah nungguin.''
Samudra pun menghampiri meja kasir membayar tagihan makan siangnya sekaligus mengganti rugi segala kerusakan yang ia timbulkan tadi.
''Berapa total semua beserta piring yang aku pecahkan tadi? Waitters tadi kalau boleh tau bisa ketemu, sekarang di mana dia?''
Leon yang sedang berdiri tak jauh dari meja kasir pun penasaran baru kali ini ada orang yang mencari Cristal diam-diam ikut menyimak omongan Samudra.
''Ohw udah pulang sepertinya.''
''Bolehkah aku meminta alamatnya?''
''Maaf, pak kalau itu saya gak berani kasih tau. Itu melanggar privasi.''
Samudra pun berinisiatif menambah jumlah uangnya tapi penjaga kasir bernama Nina itu menolak karena di kafe ini memiliki aturan ketat tidak boleh menerima uang tips dari pengunjung dalam bentuk apapun itu.
Dasar perut sialan, gak bisa diajak kompromi. Kaya pernah liat wanita itu di mana? Tepukan tangan Bima membuyarkan lamunannya.
''Kenapa, Sam ada masalah?''
''Ngagetin aja. Aku lagi mikir cewek yang aku tabrak tadi kaya gak asing, tapi ketemu di mana ya?''
''Bener-bener bakstrad semua cewek hampir dikenal, masuk rekor muri Sam berapa banyak yang udah dijajah.''
Samudra pun hanya berdecak tak berniat menanggapi, pergi begitu saja meninggalkan Bima.
***