Sebelum pulang kerja Cristal menyempatkan membeli alat uji kehamilan dan di sinilah Cristal berada di toilet rumahnya dengan tangan bergetar melihat benda pipih berada di tangan dua garis berwarna merah terang tampak terlihat jelas di sana. Tubuhnya pun luruh ke lantai seketika, meraung sejadi-jadinya memukul perutnya sendiri yang masih rata.
Air mata pun berjatuhan tanpa bisa ia cegah, rasanya begitu sakit tak tau apa yang harus dilakukan ke depannya nanti. Semua terasa rumit dan gelap pikirannya masih buntu, Cristal masih syok dan tak percaya dengan apa yang menimpanya. Ia pun membenturkan kepalanya ke tembok merutuki kebodohannya malam itu, menyesal sudah pasti.
Andai saja tidak ke pesta itu, andai saja tidak minum dan andai saja bisa jaga diri, pasti semua ini tidak akan terjadi. Bodoh ... bodoh ....!
Entah berapa lama Cristal di dalam kamar mandi, hingga suara ketukan pintu, bukan ketukan tapi gedoran lebih tepatnya karena suara itu terlalu kencang dan seperti tak sabar ingin memaksa masuk.
''Cristal, kamu di dalam? Tolong buka pintunya. Aku tau kamu di dalam buka, please!'' seru Karin, ia takut terjadi hal buruk pada sahabatnya.
Dengan langkah gontai Cristal pun membukakan pintu untuk Karin begitu pintu terbuka, Karin langsung berhambur memeluknya.
''Kamu gak pa-pa, Cris?''
Cristal pun hanya mengangguk, bohong jika ia bilang baik-baik saja pada kenyataannya memang sedang amat sangat terpuruk, Karin pun mengusap punggung belakangnya seraya memberi kekuatan dan ketenangan. Pelukan Karin membuatnya sedikit lebih tenang, setidaknya ia tidak sendiri masih ada teman yang selalu menemani.
''Tadi aku kafe, Leon bilang kamu pulang lebih awal. Kamu sakit katanya, jadi aku buru-buru ke sini. Gimana udah enakkan, udah minum obat belum?'' cerca Karin dengan berbagai pertanyaan yang ditanggapi dengan gelengan kepala.
'' Kamu gak nawarin aku duduk nih?'' imbuh Karin.
Karin mencoba mencairkan suasana, tapi tetap saja Cristal masih bungkam, sungguh ini bukan hal yang mudah untuknya. Waktu seakan menjungkir balikkan hidupnya tak pernah terpikirkan sedikit pun akan mengalami nasib seperti ini. Masih adakah kebahagiaan dan keadilan untuknya, benar-benar ia merasa terpuruk saat ini.
Andai kondisi normal pasti Cristal akan menimpali dengan candaan pula omongan Karin, karena Karin akan nyelonong begitu saja masuk ke dalam rumahnya meski belum dipersilahkan oleh sang empunya. Tanpa banyak bicara Cristal pun menunjukkan testpack itu pada Karin.
''Apa? Kamu hamil.'' Tangan Karin pun ikut gemetar saat melihat hasil pada benda pipih itu, ia menatap Cristal dengan pandangan tidak terbaca.
Syok tentu saja, hingga Karin membekap bibirnya tak percaya, tapi itulah fakta yang sebenarnya. Karin saja bisa syok seperti itu, apalagi Cristal yang mengalaminya sendiri tentu lebih menjadi pukulan telak baginya.
''Tenang, ya kita pikirkan baik-baik masalah ini. Aku yakin pasti ada solusinya, ehm ... kamu ingat seperti apa wajah pria itu?''
Cristal pun menggeleng, malam itu pandangannya kabur dan tidak begitu jelas apa lagi dalam pengaruh alkohol. Kalau pun ingat lebih baik ia memilih amnesia saja apa gunanya mengingat pria b******k yang telah merenggut masa depannya. Mengingat saja membuatnya jijik.
''Solusinya cuma satu, aku gugurin kandungan ini. Mumpung belum besar.''
''Jangan gila kamu Cris.''
''Aku gak gila ini realitas!''
''Enggak-enggak, aku gak setuju. Biar bagaimanapun janin ini tidak bersalah.'' Cristal menatap tajam ke arah Karin seolah telah salah bicara dan itu jelas kentara dari air muka Cristal yang berubah.
''Apa kamu bilang janin ini gak bersalah? Terus maksud kamu aku yang bersalah gitu?!''
Cristal menatap tajam Karin seperti pandangan membunuh, hingga lidah Karin seakan tercekat.
''Enggak ... bukan itu maksudnya, aku tau ini bukan salah kamu, semua murni kecelakaan gak ada yang menduganya bakal terjadi seperti ini, semua di luar kendali. Apapun yang terjadi janinnya itu tidak bersalah, please jangan pernah berpikir aneh-aneh apalagi sampai merugikan dari sendiri kamu tau kan mengugurkan kandungan itu beresiko fatal.''
''Bagaimana mungkin aku membesarkan seorang diri Karin, tanpa suami. Apa kata orang nanti. Hidupku sudah banyak beban apalagi kalau sampai aku memiliki bayi, bagaimana masa depanku nanti. Jangankan masa depan untuk melangkah ke depan pun aku tak tau harus apa.''
''Pikirkan baik-baik ucapanku, Cris. Kamu tau kan resiko apa yang harus ditanggung kalau gagal? nyawa yang jadi taruhannya. Kalau kamu mati siapa yang bakal ngurusin Mama dan Papa kamu. Kamu mau melihat mereka menghabiskan waktunya seumur hidup di rumah sakit jiwa dan penjara?''
Ucapan Karin telak membuat Cristal terkesiap dan menyadarkannya, fakta yang tak bisa ia hindari tentang bagaimana nasib ke dua orang tuanya nanti jika ia egois dan itu membuat kepalanya terasa pening.
''Aku harus apa Karin?'' tanyanya dengan bibir bergetar dan suara lemah. Karin pun hanya bisa memeluk Cristal yang kembali meneteskan air mata hingga bahunya bergetar merosot kebawah.
.
Beberapa hari berlalu, di tempat berbeda seorang pria memakai setelan jas lengkap berwarna hitam bersiap untuk ke kantor menuruni anak tangga menuju meja makan, ia menarik kursi bergabung bersama anggota keluarganya yang lain, sudah ada Papa dan Tantenya yang sedari tadi menunggunya.
Entah kenapa pagi ini ia merasa mual saat melihat nasi, yang diinginkan cuma satu rujak mangga muda dengan cocolan sambel kacang atau bumbu rujak berwarna coklat dengan banyak ulekan cabe dicampur asam jawa, membayangkan saja bikin menegguk saliva.
''Bibi aku gak mau makan nasi. Buang sana!'' titah Samudra membekap mulutnya mencium wanginya saja bikin dia mual. Ia pun menarik kursi duduk bergabung bersama Papa dan Tantenya yang telah menunggunya sedari tadi.
''Baik, Den. Tapi kalau sepagi ini gak ada rujak.''
''Tapi aku mau sekarang, Bi!''
Romi--Rahardian sang Papa pun heran dengan sikap putra tunggalnya tak biasanya seperti ini. Tentu saja ini menarik atensi Eva, Tantenya adek sang Papa salah orang berjasa dalam hidupnya yang ikut andil membesarkan meski telah berkeluarga ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung saat ada kesempatan.
Memastikan Samudra baik-baik saja dan meyakinkan kalau ia tak sendiri berada dalam lingkungan yang selalu memberi kasih sayang. Kejadian dimasa lalu terkadang masih terekam jelas di ingatannya hingga ia tak percaya pada cinta semua hanya omong kosong.
''Kamu kan gak suka rujak Sam apalagi mangga muda,'' ujar Romi menatap penuh selidik sang putra.
''Kamu nyidam Sam?'' tanya Eva.
''Uhuk ....'' Sam terbatuk mendengar ucapan Eva yang sudah seperti ibu kandung sendiri, ia memang selalu ceplas-ceplos dalam berucap tapi ia adalah orang yang sangat perhatian dan penyayang jangan tanya Ibu kandungnya kemana, karena baginya ia sudah tidak memiliki ibu. Anggap saja ibunya sudah mati.
''Mana ada pria nyidam, Tante ada-ada saja,'' sahutnya santai sambil mengunyah satu tangkup roti yang telah diolesi selai stroberi.
Kini justru Romi yang heran hingga alisnya menukik tajam ia tau seperti apa kelakuannya anaknya di belakangnya selama ini yang sering bermain perempuan dan ke klub malam. Tapi ia tak pernah berpikir sejauh itu, apalagi mereka dari keluarga terpandang apa jadinya nanti kalau rumor itu menyebar.
''Semua itu gak bener kan, Sam?'' tanya Romi penuh selidik.
''Apanya, Pa? Enggak dong yang bener aja selama ini juga baik-baik aja bisa jaga nama baik keluarga. Udahlah aku mau berangkat makin pusing dengar omongan kalian.''
Samudra pun beranjak dari duduknya hingga kursi yang ia duduki menimbulkan bunyi karena bergesekkan lantai dan pergi berlalu begitu saja.
''Cari wanita itu sampai dapat, Sam. Pastikan tidak terjadi sesuatu.''
Meski tak merespon tapi Samudra masih bisa mendengar ucapan Romi dengan langkah tegap ia meniki mobil Cheverolet Camaro miliknya menuju kantor. Ucapan Romi pun masih terngiang di kepalanya dan mencoba mengingat tentang malam itu.
Mana mungkin aku ngidam Papa ada-ada aja, lagian sampai sekarang gak ada tuh perempuan yang datang minta tanggung jawab. Apa anehnya sih cuma pengen rujak doang dasar kuno, lagian cuma sekali mana mungkin hamil, tapi tunggu. Biasanya juga aman-aman aja. Mampus! Samudra menepuk keningnya sendiri.
Sesampainya di kantor Samudera langsung menuju ruangannya kebetulan sekali ada Joko, salah satu OB yang sedang membersihkan ruangannya ia langsung menyuruhnya membeli rujak terserah bagaimana caranya yang penting harus dapat.
''Kebetulan kamu di sini,'' ucap Samudra duduk di kursi kebesarannya.
''Iya. Ada yang bisa saya bantu, Pak?'' jawab Joko dengan bahu sedikit membungkuk.
''Belikan saya rujak yang banyak sambalnya, jangan lupa bawakan mangga muda juga tiga biji. Gak pake lama!''
''Tapi sepagi ini belum ada yang jualan, Pak. Apalagi mangga muda susah dapatnya lagi gak musim. Harus banget, Pak tiga biji?'' tanya Joko heran tak habis pikir dengan kelakuan atasannya yang satu ini.
''Saya gak mau tau yang penting kamu bisa dapatkan apa yang saya minta. Apa susahnya nyari mangga sama rujak doang. Gitu aja masa gak becus!''
''Baik, Pak. Saya akan mencoba cari, tapi saya gak yakin dapat ya, Pak.''
''Harus dapat gak boleh balik kalau belum dapat! Atau gaji kamu saya potong.'' Joko menelan saliva dengan susah payah.
''Jangan di potong dong, Pak. Gaji dah kecil masih dipotong juga habis nanti tinggal ampasnya. Kasihan anak dan istri Saya nanti.''
''Makanya cari sampai dapat!''
''Baik kalau gitu, saya pamit, Pak.''
''Nah gitu dong dari tadi kek. Yaudah pergi sana! Suruh siapa juga masih di sini!'''
Begitu Joko keluar dari ruangannya, Samudra kembali memegang perutnya yang terasa bergolak buru-buru ia berlari menuju toilet mengeluarkan isi di dalam perutnya yang hanya mengeluarkan cairan, karena dari pagi ia belum memasukkan apapun ke dalam perutnya hanya roti itu pun gak habis.
Gara-gara obrolan di meja makan membuat moodnya buruk. Kini ia merasa tubuhnya terasa lemas memegang perutnya yang terus bergolak, begitu keluar dari toilet sudah ada Bima yang sudah duduk di kursi menantinya.
''Kamu kenapa, sakit?''
Samudra pun hanya menggeleng.
''Gak biasanya mukanya pucat gini, ada masalah? Samudera hanya menggeleng.
''Bisa minta tolong gak? Pengharum ganti aja deh bikin eneg.''
Alis Bima berkerut mendengar ucapan Samudra.'' Ganti? gak salah ini kan salah satu wangi favorit kamu.''
***