Episode 3

1339 Kata
Di bawah kucuran air shower Cristal menumpahkan segala kesedihannya dan berteriak sekencang-kencangnya, menggosok tubuhnya dengan kasar seolah semua bias membersihkan tubuhnya dari apa yang terjadi. Entah berapa lama ia berada di dalam kamar mandi hingga ia merasa tubuhnya lelah seperti tanpa daya. Jika saja tak mengingat tentang Mamanya ia ingin sekali mengakhiri hidupnya saat ini, rasanya ia tak sanggup hidup lagi begitu banyak beban berat yang ia pikul seorang diri, tetapi Cristal masih cukup waras untuk melakukan hal gila itu. Buru-buru ia meraih handuk dan membalut tubuhnya, sekali lagi ia masih berpikir semua yang terjadi hanyalah mimpi, Cristal memberanikan diri untuk menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. Tubuhnya luruh seketika ke lantai, saat ia mendapati banyak jejak merah di sana, air mata makin deras membanjiri dan meraung melepaskan segala beban yang ada. ''Tuhan  apa salahku? Mengapa engkau hukum aku seperti ini. Aku harus bagaimana?!'' Hampir seharian ia mengurung dirinya di kamar bergulung dengan selimut, begitu banyak cobaan menimpanya hingga bernapas pun terasa sulit, yang ingin ia lakukan saat ini diam hingga perasaanya kembali tenang dan bias berpikir jernih. Bahwa apa yang ia takutkan belum tentu terjadi karena ia hanya melakukannya sekali. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya terdengar suara Karin yang terus memanggil namanya, dengan langkah gontai Cristal membukakan pintu. Karin terpaku melihat kondisi sahabatnya yang terlihat pucat dan berantakan, ia pun langsung berhambur memeluknya. Pertahanan Cristal luruh sudah tangisnya semakin pecah hingga bahunya bergetar hebat meluapkan segala emosi yang mendera. ''Cristal ... apa yang terjadi?'' tanya Karin setelah mengurai pelukan. Cristal pun bungkam masih tak ingin bersuara. ''Kita duduk dulu, ya. Aku ambilkan minum bentar.'' Banyak pertanyaan di benak Karin tentang kejadian semalam, apalagi melihat kondisi Cristal yang berantakan seperti ini. Pasti telah terjadi sesuatu, hampir semalaman ia mencari keberadaan Cristal di hotel tapi tak menemukannya berbagai sudut Karin telusuri tapi nihi hasilnya. Kamar yang disediakan untuk mereka berdua pun kosong tak berpenghuni, tadinya Karin berpikir Cristal ke kamar lebih dulu, tapi setelah selesai acara Karin tak menemukan di sana, bahkan nomor ponselnya pun tak bisa dihubungi. Karin pun berpikir mungkin Cristal kembali ke rumahnya saat ia tengah asyik berpesta. Di tempat berbeda dering suara ponsel milik seseorang yang tengah tertidur lelap terus saja berbunyi hingga membuat tidurnya terusik dan mengumpat karena telah mengganggu aktivitasnya, ia paling tidak suka ada yang menggangu istirahatnya mau tidak mau ia pun mengangkatnya. ''Hemmm,'' sahutnya dengan suara parau. ''Sam, kamu di mana? Semalaman ngilang gitu aja.'' tanya seorang pria di seberang sana yang terlihat penasaran. Ia pria itu adalah Samudera Rahardian anak dari salah satu pemilik pengusaha sukses di bidang property di Indonesia dan kini ia berpotensi sebagai salah satu pewaris perusahaan itu, bahkan kini perusahaannya mulai merambah ke sektor multinasional dibidang jasa asuransi. Bergonta-ganti pasangan adalah salah satu kebiasaan hanya untuk menghangatkannya  ranjangnya, trauma masalalu membuatnya terjebak di dunia kelam ini. Wanita seperti mainan baginya sekali tunjuk mereka akan takluk dan melepas begitu saja kapan pun ia mau. ''Di kamar, thank buat semalam? Gak sia-sia ikut taruhan kalau hadianya kaya gini.'' Samudra tersenyum menyeringai. ''Apa?'' ''Hey ... kenapa kaya orang bingung gitu, sih?'' ''Justru itu yang mau aku tanyain. Cewek yang aku bawa kenapa dianggurin.'' ''Ohw ... s**t! Jadi, yang semalam sama aku siapa?'' Samudera pun menutup sambungan telepon begitu saja, duduk di tepi ranjang mengedarkan pandangan ke penjuru kamar yang terlihat berantakan, bantal, baju berserakan di lantai dan seprai yang telepas dari tempatnya akibat pergumulan semalam. Mata Samudra terpaku menatap noda darah di seprai putih ia memijit pelipisnya yang terasa pening. Ia memang b******k tapi dalam kamusnya pantang menyentuh wanita yang masih virgin, kejadian semalam seolah terus berotasi di kepalanya seperti kaset yang tengah berputar. Bagaimana ia menyentuh wanita itu dan ratapan pilu meminta tolong untuk menghentikan aksinya tetapi tak menghiraukannya, entah apa yang terjadi dengannya karena ia seperti lepas kendali tak bisa mengontrol dirinya sendiri dan parahnya lagi ia tidak memakai pengaman semalam, bukan hanya sekali ia menyemburkan cairan cintanya di dalam tapi beberapa kali. ''Ahw, s**t! Kalau dia hamil gimana?'' Samudera mengacak rambutnya frustasi. Samudra bisa merasakan bagaimana manisnya bibir itu dan bagaimana saat ia menyentuh tiap jengkal lekuk tubuhnya yang terasa lembut dan menggoda hingga tak kuasa menahan pertahanan dirinya. Mungkin efek minuman yang ia tenggak karena sebelumnya ia berencana menghabiskan malam panjang dengan sesorang karena telah berhasil menenangkan taruhan sebagai hadiahnya atau memang wanita itu yang memang terlihat menggoda hingga ia tak mampu menahan hasratnya. Ya, dia wanita yang cantik dengan kulit putih bersih, berhidung mancung, berambut cokelat madu di tambah penampilannya yang anggun dan sopan berbeda dengan pengunjung klub lainnya. Hal itulah yang membuat Samudra penasaran karena berbeda dengan wanita kebanyakan ia temui. . Setelah merasa lebih baik Karin pun mencoba bertanya tentang apa yang terjadi semalam karena ia tidak bisa menemukan Cristal di manapun berada hingga diliputi kekhawatiran karena bagaimanapun juga Karinlah yang telah membawa Cristal ke pesta itu. Setelah lama bungkam akhirnya Cristal pun mau bercerita. Karin pun menutup bibirnya setelah mendengar pengakuan dari Cristal merengkuhnya dalam dekapan, seketika ia merasa bersalah jika saja tidak mengajaknya ke pesta itu pasti Cristal tak akan mengalami nasib seperti ini. ''Maafin, aku Cris semua salahku. Kalau saja aku tidak memaksamu pasti tidak akan hal terjadi seperti ini.'' Cristal pun hanya menggeleng lemah dan menyeka air matanya yang terus berjatuhan. ''Kamu tau siapa pelakunya?'' Lagi-lagi Cristal hanya bisa menggeleng dan menangis tersedu-sedu. Ia tidak begitu ingat sosok pria yang telah merenggut masa depannya karena  baru pertama bertemu dan ia pun berada di bawah kendali minuman hingga wajahnya terlihat samar-samar di matanya. ''Kalau aku hamil gimana, Rin?'' tanya Cristal membuka suara sambil menggigit bawah bibir, mengingatnya membuat ia merasa jijik pada dirinya sendiri. ''Please, Cris jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Kamu cuma melakukan ini satu kali kan? Aku yakin kalau sekali gak bakal bikin kamu hamil.'' ''Semua bisa terjadi, Rin. Apalagi aku tanpa memakai pengaman.'' Karin pun memeluk Cristal kembali mengusap lembut punggung belakangnya seolah memberi kekuatan. ''Percaya deh sama aku, semua pasti akan baik-baik aja, oke?'' Cristal pun mengangguk sebagai jawaban. Cristal memutuskan untuk melupakan malam laknat itu dan memulai hari seperti biasanya bekerja dengan giat dan menamakan pada diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja seperti sebelumnya. Sesekali  Cristal pun berkunjung ke rumah sakit dan penjara untuk menjenguk Mama dan Papanya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan agar tetap semangat menjalani hidup sekaligus motivasi saat terpuruk seperti ini bahwa ada mereka yang membutuhkannya. Satu bulan berlalu sejak kejadian malam itu, pagi ini saat ia akan berangkat kerja Cristal merasa kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa bergejolak. Sarapan paginya pun ia muntahakan ke dalam closet hingga cairan berwarna kuning keluar dari mulutnya rasa pahit terasa di kerongkongan. Ia membasuh bibirnya mengelap kasar menggeleng kan kepala mengenyahkan jauh-jauh apa yang ada dipikirannya. Cristal meraih tas yang berada di nakas menyampirkan di bahunya segera ia pergi berangkat ke restoran dimana tempat ia bekerja. Pikirannya kacau beberapa kali ia melakukan kesalahan, bahkan memecehkan piring, hingga mendapat teguran dari sang pemilik restoran. ''Cristal bisa ikut saya sebentar,'' ucap Leon pemilik restoran pada Cristal setelah mengantar pesanan pada pelanggan. ''Bisa, Pak.'' Cristal pun menarik kursi dan menjatuhkan bobotnya, tangannya saling bertautan karena baru kali ini Leon memanggilnya jantungnya pun berdegup tak beraturan. ''Kamu sakit?'' Cristal pun menggeleng .'' Tapi muka kamu pucat, kalau sakit ijin aja gak pa-pa kok. Aku lihat juga hari ini sering melamun dan ngelakuin kesalahan, ada masalah?'' ''Sedikit gak enak badan aja, Pak.'' ''Kalau gitu kamu pulang aja sekarang, istirahat yang banyak aku tau kok kinerjamu  bagus selama ini.'' ''Tapi Pak ....'' ucapan Cristal menggantung karena Leon memutusnya lebih dulu. ''Engga ada tapi-tapian, Cristal! Ini perintah!'' titah Leon tak ingin dibantah. Cristal pun hanya bisa menghela napas dalam beranjak dari duduknya, sesuai perintah Leon ia pulang lebih dulu. Sepanjang jalan pikirannya pun tak karuan memikirkan berbagai kemungkinan. Sebelum pulang kerja Cristal menyempatkan membeli alat uji kehamilan dan di sinilah Cristal berada di toilet rumah nya dengan tangan bergetar melihat dua garis berwarna merah terang di benda pipih yang ia pegang saat ini. Tubuhnya pun luruh ke lantai seketika, meraung sejadi-jadinya memukul perutnya sendiri yang masih rata. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN