Perintah Szabolcs yang tak terbantahkan

1104 Kata
“Dan kau selalu bertanya padaku mengenai siapa dirimu. Maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk kau mengetahui bahwa kau bukanlah bagian dari kami, kau adalah bagian dari Hydrangea.” Mereka semua terkejut, lelaki yang pertama bereaksi saat mendengar kabar itu adalah Adhair. Ia berdiri dari duduknya seraya menatap tidak percaya pada Szabolcs yang baru saja mengatakan hal itu pada Maddalene. “Apa?!” Pekiknya, “Tetapi kau juga tidak boleh jatuh ketangan mereka.” Szabolcs berucap seraya mengelus liontin tersebut, menghiraukan Adhair yang bertanya penuh dengan rasa ketidak percayaan. Tangannya beralih menggenggam lengan Maddalene, dia mengelus punggung tangan itu layaknya mengelus tangan anak kecil yang tengah terluka atau layaknya seperti ayah kepada anak kandungnya. “Ingatlah Maddalene, bahwa kami adalah keluargamu, dan bangsamu.” Szabolcs menatap mata Maddalene dengan dalam, perlahan mata itu tertutup dan kepalanya menunduk. Sebuah cahaya biru keluar dari tangan keduanya, dan meredup beberapa detik kemudian. Membuat keempat orang lainnya yang menyaksikan hal itu terkejut sekaligus takjub dengan kejadian itu. “Aku memberikan mu sebuah pendaran pelindung, gunakanlah itu. Dan segeralah pergi dari sini!” Kelima orang itu terkejut, apakah Szabolcs baru saja mengusir Maddalene dari Desa mereka? Mereka pun merasa tidak terima dengan apa yang baru saja mereka dengar. Liam yang berdiri di samping Gaelan itu melangkah maju dan menghadap pada Szabolcs dengan sangat serius. “Tapi Maddalene tidak bersalah, Szabolcs! Dia hanya…” “Liam!” Gaelan menahan protesan yang akan Liam keluarkan pada Szabolcs, meskipun itu adalah sebuah bentuk pembelaan untuk Maddalene. Namun, peraturan tetaplah peraturan. Tidak ada yang bisa dan tidak ada yang boleh membantah perintah dari Szabolcs, apapun bentuk perintah itu. Mendengar teguran itu, Liam kemudian menunduk dan terdiam, ia kesal dan marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa, dan pada orang-orang yang ada di dalam ruangan itu yang hanya terdiam mendengar perintah tersebut. Bagaimana tidak? Maddalene sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri dan disaat seperti ini, Szabolcs malah mengusirnya dari desa. Maddalene berdiri dari duduknya dan membungkukkan badan sedikit rendah pada Szabolcs sebelum pergi dari ruang tersebut. “Kalian harus pastikan dia selamat.” Namun, belum juga ia melangkah pergi, sebuah perintah lain yang Szabolcs ucapkan itu membuat mata Maddalene mengedip berulang kali ketika mendengar perintah tersebut, Maddalene menegapkan badannya menatap langsung pada Szabolcs yang ada di hadapannya. Pria tua itu berjalan ke sebuah tempat kemudian berbalik menatap kelimanya dengan sebuah pot berisikan Crveni biser di tangannya. Adhair menatap bingung pada sang pemimpin, yang memberikan sebuah perintah yang tidak ia mengerti. “Kau masih mempunyai tugas untuk mengantar ini bukan? Maddalene? Jadi segeralah pergi. Dan untuk kalian bertiga! Ikutlah temani Maddalene dan Adhair mengantar Crveni biser!” Szabolcs menyerahkan pot tersebut ketangan Liam yang terdiam mencerna ucapan yang baru saja Szabolcs katakan, setelahnya ia kembali masuk kedalam ruangan dan mematikan cahaya berwarna senja tersebut. Hingga tidak ada lagi suara yang mengartikan bahwa percakapan di antara mereka telah selesai. Szabolcs meninggalkan mereka yang terdiam dengan ribuan pertanyaan di dalam kepala mereka.     Saat ini Adhair, Gaelan, Liam dan dua orang perempuan itu terdiam di dalam sebuah ruangan yang di penuhi dengan buku-buku. Ruangan itu adalah ruangan tempat Liam beristirahat. Lelaki dengan rambut cepak berwarna hitam dan mata berwarna biru itu sebenarnya tidak terlihat seperti seseorang yang suka atau gemar membaca buku. Namun setelah melihat keadaan kamarnya, keempat orang yang memiliki umur lebih tua darinya itu merasa telah salah menilai anak tersebut. “Jadi, Apakah kita akan berangkat sekarang?” Yasika yang sebelumnya berada dalam kondisi lemas pun, bertanya pada Adhair yang masih berpikir keras atas perintah yang di berikan oleh Szabolcs pada mereka semua. Apa yang sebenarnya pemimpin mereka itu inginkan? Awalnya ia hanya mengutus Maddalene untuk menemaninya mengantarkan mutiara itu, tetapi setelah kejadian tadi, bukannya menunda hukuman tersebut. Ia justru melibatkan tiga orang temannya itu untuk ikut pergi bersama Maddalene menemaninya mengantarkan Crveni biser. ‘Apakah Szabolcs ingin membunuh kami semua?’ Itulah pertanyaan yang ada di dalam pikiran Adhair saat ini yang terdiam seraya mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Melihat lelaki itu yang terdiam dengan pikirannya sendiri, Gaelan pun segera memanggilnya. “Adhair!” Panggilan itu berhasil menyadarkan Adhair dari lamunannya. Membuat lelaki itu segera menatap temannya yang memiliki rambut silver tersebut yang kemudian kembali bertanya padanya, “Apakah kita akan berangkat sekarang?” Tanya Gaelan, mengulang kembali pertanyaan yang Yasika berikan tadi yang di abaikan oleh Adhair beberapa saat yang lalu. Pertanyaan itu pun membuat Adhair segera menoleh untuk menatap pada perempuan itu, “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Adhair pada Yasika yang saat ini sudah merasa baik-baik saja sejak dirinya siuman di ruang Szabolcs tadi. Yasika menatap pada tubuhnya sendiri kemudian ia kembali menatap Adhair dan menjawab, “Aku sudah baik-baik saja!” Jawabnya dengan yakin. Adhair pun menganggukkan kepalanya dengan pelan, kemudian ia berdiri dari duduknya dan berdecak pinggang, menatap pada Maddalene yang sedari tadi diam dan duduk di hadapannya. Maddalene masih bungkam dan tidak berbicara sedari tadi, setelah mereka kembali dari ruangan Szabolcs. “Lalu, bagaimana denganmu?” Tanya Adhair pada perempuan itu yang mendongak menatap padanya ketika mendengar pertanyaan tersebut. Maddalene menganggukkan kepalanya, mengatakan dirinya telah siap untuk pergi bersama mereka kapanpun itu, tanpa mengeluarkan suara. Adhair pun menoleh pada Liam yang duduk di atas kasurnya, “Liam, cepat bawa barang-barang yang kau butuhkan, karena kita akan pergi sekarang!” Ucap Adhair pada Liam yang segera mengangguk dan berdiri dari duduknya untuk memasukan barang-barang yang ia perlukan ke dalam ranselnya. Sementara Adhair berjalan keluar dari kamar Liam setelah ia mengatakan hal itu. Gaelan yang memiliki sesuatu hal yang harus ia bicarakan berdua dengan Adhair pun ikut berjalan keluar dari kamar Liam. Maddalene menoleh menatap ke arah pintu yang terutup itu, kemudian ia menoleh menatap pada Liam yang sedang sibuk memasukan barang miliknya. “Sini... Aku bantu.” Maddalene menawarkan bantuan, ia berdiri dari duduknya dan menghampiri Liam. Ia membantu anak itu memasukan makanan dan botol minuman ke dalam tasnya. Sedangkan Yasika yang juga berada di dalam ruangan itu yang tengah terduduk di kursi yang ada di hadapan meja, menatap pada sebuah buku yang terlihat sudah sangat usang di atas meja di samping kasur Liam itu. “Liam, buku apa ini?” Liam yang sedang membereskan tasnya itu, menoleh untuk sesaat ke arah Yasika yang mengangkat buku usang tersebut ke atas agar Liam dapat mengetahui buku mana yang ia maksud. Dan anak itu tersenyum saat ia melihat buku tersebut, ia pun menjawab,   “Bacalah buku itu Yasika. Aku yakin jika kau akan terkejut setelah membacanya sampai ke bagian akhir dari buku itu.” Itulah jawaban yang Liam berikan pada Yasika. Membuat perempuan itu kembali menatapi sampul dari buku usang itu dengan dahi yang mengerut lembut.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN