Adhair yang sedang berdiri di depan pintu kamar dari Liam itu menyimpan kedua tangannya ke dalam saku dari jubah yang ia kenakan, Gaelan yang baru saja mengikutinya keluar dari dalam kamar kemudian berdiri di sampingnya. “Apa menurutmu Szabolcs sengaja memberikan tugas ini pada kita, Adhair?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Gaelan itu membuat Adhair menoleh ke belakang, dan menatap lelaki itu. Adhair pun menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napasnya dengan keras seraya mendongak ke arah langit yang mulai terang.
“Kurasa begitu Gaelan, saat ini pikiranku masih belum jernih karena terus memikirkan Nancy. Dan sekarang datang tugas ini yang memaksaku untuk berhenti memikirkannya.” Jawab Adhair yang tetap menatap kelangit seraya menerawang sesuatu di dalam pikirannya, mungkin ia membayangkan wajah wanita itu saat ini di atas langit.
Gaelan yang baru saja mendengar ucapan dari Adhair itu merasa tak mengerti pada jalan pikiran Adhair yang terus berusaha mendapatkan Nancy, si wanita pengkhianat yang hampir membuat hidup Maddalene hancur jika saja Gaelan tidak menyelamatkannya dulu.
“Kalau begitu lupakan dia! Dia bahkan tidak bisa kita sebut sebagai bagian dari bangsa ini!” Gaelan berucap dengan nada yang dingin dan ketus. Gaelan selalu menjadi lebih emosi ketika mereka membicarakan Nancy, apapun bentuk dari pembicaraan tersebut.
Mungkin karena kejadian mengerikan yang dulu pernah terjadi menimpa beberapa orang di desa itu, yang di akibatkan oleh wanita tersebut, sehingga ketika mendengar namanya saja sudah membuat Gaelan muak. Belum lagi bayangan-bayangan akan kejadian itu yang muncul di dalam pikirannya yang membuatnya semakin emosi.
“Tidak bisa, Gaelan. Ada sebuah hal yang belum terselesaikan di antara aku dan dirinya!” Adhair pun menolak ucapan Gaelan tadi, seraya tidak mengalihkan tatapannya pada langit yang terang tersebut.
Gaelan mendecak dengan pelan, kemudian ia menatap pada Adhair dengan sangar serius dan berkata, “Adhair! Wanita ini adalah wanita yang pernah membuat sebuah kekacauan besar di desa ini... Kau tahu, betapa me—”
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Gaelan henda mengeluarkan semua makian yang sudah ia pendam pada lelaki di sampingnya itu, jika saja Maddalene tidak keluar dari kamar Liam dan menemuni mereka seraya bertanya pada keduanya.
Gaelan akhirnya hanya menggelengkan kepalanya dan menghentikan ucapannya tersebut. Ia menoleh pada Maddalene dengan sebuah senyuman di wajahnya seraya bertanya pada perempuan itu, “Semua sudah siap?” Tanyanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan itu.
Sementara Adhair yang hanya terdiam itu berbalik dan menatap pada Maddalene yang menatap keduanya dengan kebingungan, merasa jika ada sesuatu yang sedang keduanya sembunyikan darinya. Perempuan itu pun hendak menanyakan sesuatu pada kedua lelaki di hadapannya tersebut, namun di saat yang bersamaan Liam dan Yasika keluar dari dalam kamar dengan membawa tas hitam di punggung Liam, serta sebuah jubah di tangan Yasika. Yang akhirnya memaksa Maddalene untuk mengurungkan niatnya bertanya mengenai apa yang sedang mereka sembunyikan, dan memilih untuk fokus pada tugas mereka saat ini.
“Ayo!” Ucap Adhair yang terlebih dahulu berjalan ke arah perbatasan desa dengan hutan, yang di ikuti oleh Liam dan Yasika.
Ketika Gaelan hendak melangkahkan kakinya mengikuti ketiga orang itu, Yasika yang berdiri di sampingnya tersebut secara tiba-tiba menghentikannya dan memberikan jubah yang ada di tangannya tersebut. “Pakailah ini Gaelan, kau meninggalkannya di kursi tadi.” Ucap Yasika pada Gaelan yang mengangguk dan segera memakai jubah itu tanpa banyak berbicara. Keduanya pun mengikuti langkah Adhair, Maddalene dan Liam, keluar dari dalam desa.
Saat keluar dari desa itu, mereka berjalan tanpa berbicara sepatah katapun pada orang-orang yang mereka temui. Itu adalah syarat dari pengantaran Crveni biser, yang harus di jalankan oleh setiap orang yang mengantarnya. Bahkan mereka tidak lagi boleh menemui Szabolcs karena seharusnya mereka pergi sesegera mungkin meninggalkan desa tepat setelah mereka menerima Crveni biser di tangan mereka tadi.
Kelima dari mereka telah berjalan sekitar tiga jam dari desa tempat mereka tinggal itu. Mereka tidak berjalan dengan tergesa-gesa karena mereka sudah tahu jika perjalanan ini tidak memiliki batas waktu dalam pengantarannya. Liam yang merasa sudah lelah itu pun mengeluarkan botol minum miliknya dan menegaknya sedikit demi sedikit. Mengobati rasa haus yang membuat tenggorokkannya mengering, dan perih. Liam pun menawarkan minuman miliknya itu pada Yasika dan Adhair yang berjalan di sampingnya. Namun keduanya menggelengkan kepala menolak tawaran itu, dan Yasika memperlihatkan botol minum miliknya sendiri pada Liam, memberitahu bahwa dirinya tidak memerlukan air minum milik Liam itu. Yang membuat Liam menghembuskan napasnya dan menoleh pada dua orang yang berjalan di depannya.
“Gaelan, Maddalene... Apa kalian mau minum?” Tawarnya pada keduanya. Gaelan menoleh ke belakang dan mengambil botol minum tersebut. Namun Gaelan tidak meminumnya, melainkan memberikan botol minum tersebut pada Maddalene yang berjalan di sampingnya. Seolah memberi perintah pada perempuan itu untuk meminum air tersebut lebih dulu.
Adhari dan Yasika memperhatikan keduanya dari belakang, begitu pun dengan Liam. Namun perempuan yang berjalan di samping Adhair yang memang memiliki perasaan pada Gaelan itu pun merasa seperti ada sebuah batu yang dilemparkan tepat mengenai dadanya, dan tenggorokkannya juga seketika terasa tercekik saat ia melihat hal tersebut. Berbeda dengan Adhair yang tidak peduli dan membuang pandangannya ke arah lain dengan acuh.
Trek! Tiba-tiba sebuah suara yang terdengat di samping kiri mereka membuat Yasika menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah tersebut, sementara keempat lainnya tidak menyadari hal itu dan terus berjalan ke arah depan, meninggalkan Yasika di tempatnya. Netra wanita berambut blonde itu mengedar, mencari sesuatu yang seharusnya ada di sana yang menyebabkan suara itu berbunyi tadi.
Liam adalah orang pertama yang menyadari ketidakhadiran Yasika di sampingnya, ia pun lantas menoleh ke arah belakang dan melihat perempuan itu sedang berdiri di belakang sana dan memperhatikan sebuah semak di hutan tersebut. “Yasika?!” Panggil Liam pada Yasika yang tidak mendengarkannya dan tetap memperhatikan tempat itu. Ketiga orang yang berjalan di depan Liam itu pun menghentikan langkah mereka dan membalikan tubuh mereka ke arah di mana Yasika berdiri saat ini.
Drak! Drak! Drak! Suara langkah kaki yang terdengar di telinga mereka sangatlah cepat, beberapa rumput tinggi dan semak yang ada di hadapan Yasika itu bergoyang, menandakan ada seseorang yang menyenggolnya dan berlari ke arahnya.
Mereka semua terkejut, saat melihat sebuah makhluk melompat dengan di iringi auman kencang ke arah Yasika yang berdiri mematung di tempatnya karena terkejut. Gaelan yang melihat kejadian itu tidak bisa berdiam diri saja, ia berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan Yasika dari makhluk tersebut.
Bruk! Hampir saja Yasika terkena terkaman makhluk itu jika Gaelan tidak berhasil mendorong tubuhnya dan menyelamatkannya.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Gaelan pada Yasika yang kini berada di pelukannya. Kelimanya melihat bagaimana bentuk dari makhluk yang ada di hadapan mereka itu sangat aneh. Makhluk tersebut memiliki bentuk dan terlihat seperti babi hutan, tetapi ia berdiri layaknya seorang manusia.
Sebelum makhluk aneh itu berbuat sesuatu hal yang lain, atau kembali menyerang mereka, Adhair lebih dulu berjalan menghampiri makhluk tersebut dan menebas kepalanya dengan pedang miliknya yang sangat tajam itu.
Darah segar menyembur kemana-mana, mengenai jubah Adhair, celana Liam, dan sepatu Maddalene. Gaelan dan Yasika yang berada tepat di hadapan makhluk itu pun tak luput dari semburan darah yang mengenai wajah mereka berdua.
To be continued