Gaelan dan Yasika yang berada tepat di hadapan makhluk itu, dengan darah yang mengenai wajah keduanya. Membuat keduanya terdiam mematung di tempat mereka. Yasika yang memejamkan kedua matanya dengan erat, sementara Gaelan yang sekarang mencoba untuk menghapus darah itu dari matanya dengan tangan kanan.
‘Brug!’ Makhluk tersebut dengan keras terjatuh menghantam tanah yang ada di bawahnya. Masih dengan jantung yang berdebar-debar, Yasika mencoba menghapus darah dari kedua matanya dan menatap pada sebuah tangan yang terulur padanya, menawarkan untuk membantunya berdiri. Perempuan itu pun mendongak memandang Gaelan yang menawarkan bantuan yang ternyata telah berdiri terlebih dahulu sebelum dirinya.
Maddalene segera berlari menghampiri temannya itu dan memberikan sebuah kain pada Yasika untuk membersihkan darah tersebut dari wajah cantiknya, sementara Gaelan hanya terdiam menatap pada hewan di belakang Maddalene itu yang kini ada di hadapan Adhair yang telah menurunkan pedang penuh darahnya ke bawah, juga Liam yang berjalan perlahan menghampiri makhluk tersebut.
Yasika yang sudah membersihkan wajahnya dari darah itu, memberikan kain tadi pada Gaelan yang menerimanya dan mengusap wajahnya seraya berjalan menghampiri Adhair dan Liam yang sama-sama mengamati makhluk aneh tadi. Sementara Maddalene membantu Yasika untuk membersihkan darah yang tersisa dengan sedikit air minum yang Yasika bawa.
“Makhluk apa ini?” Tanya Gaelan yang berjalan dan berdiri tepat di samping Adhair. Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan tidak yakin mengenai makhluk apa yang sekarang ada di hadapan mereka.
“Ini seperti babi hutan... Tapi bisa berdiri dengan kedua kakinya!” Jawab Liam yang kini berjongok di samping tubuh dari makhluk aneh yang sudah tak bernyawa tersebut. Liam melirik ke samping untuk mencari sesuatu, dan dia pun mengambil sebuah ranting kering yang ada di atas tanah tak jauh dari tempatnya berjongkok. Kemudian ia menusuk-nusuk mahkluk itu dengan ranting tersebut berulang kali.
“Apa kita bisa memakan ini?” Tanya Liam yang mendongak, menatap pada Adhair dan Gaelan yang membalas tatapan itu dengan diam sekaligus terkejut.
Dan disinlah mereka semua berakhir, duduk di depan sebuah api unggun dengan daging besar yang menggantung di atasnya.
“Aku tidak percaya jika kita akan memakan ini!” Ucap Maddalene yang menatap horror pada Gaelan dan Adhair yang saat ini sedang mengiris daging asap itu dengan belati yang mereka bawa, kemudian menaruhnya di atas daun talas yang sudah mereka siapkan.
“Kita membutuhkan makanan untuk mengisi tenaga kita, Maddalene. ” Jawab Adhair dengan santai dengan sebuah senyuman tipis di wajahnya tanpa menoleh pada Maddalene yang terdiam dengan kedua mata yang membesar. Gaelan yang sudah memenuhi daun talas itu dengan daging, berdiri dari posisinya dan berjalan menghampiri Maddalene yang duduk di belakang mereka, di atas sebuah batang pohon yang telah tumbang.
Gaelan menyodorkan satu porsi daging itu pada Maddalene yang menyipit menatapnya. Perempuan itu pun mendongak menatap pada lelaki tersebut, “Tapi Gaelan...” Rengek Maddalene yang tidak mau memakan daging dari makhluk yang menyerang mereka tadi.
Gaelan tersenyum tipis pada Maddalene, “Percayalah, ini aman.” Ucap Gaelan yang berusaha meyakinkan Maddalene dengan suara yang lembut seraya menyodorkan daging itu. Maddalene pun mau tidak mau mengambil daun talas berisi irisan daging asap tersebut, karena Gaelan mengatakan jika daging itu aman untuk mereka makan.
Yasika yang duduk di sebrang Maddalene itu hanya melirik pada keduanya dan terdiam, sementara Liam yang sebelumnya sedang berbincang bersama Yasika, kini segera berlari untuk mengambil daging yang telah Adhair iris dan ia sodorkan padanya.
Maddalene yang sudah menerima daging itu pun menoleh ke arah Yasika dan langsung berdiri dari tempatnya untuk menghampiri Yasika. Sementara perempuan itu segera berpura-pura untuk tidak memperhatikan Maddalene dan Gaelan tadi, dan memberikan senyuman palsunya pada Maddalene.
“Ya...”
“Mmm... Ayo kita makan Maddalene!” Yasika segera berucap dan bergeser memberikan ruang untuk Maddalene duduk di sampingnya, kemudian ia segera merebut daun berisi daging itu dan tanpa ragu memasukan irisan daging asap itu ke dalam mulutnya.
Maddalene cukup terkejut melihat hal tersebut, padahal Yasika adalah orang yang tadi hampir di serang oleh makhluk aneh itu. Tetapi dia bisa memakannya seolah-olah itu adalah daging babi hutan biasa. Maddalene pun menelan ludahnya dengan keras dan bertanya pada Yasika, “A-apa kau selapar ini, Yasika?” Tanya Maddalene pada Yasika yang menoleh ke arahnya dan terkekeh pelan. Ia pun menganggukkan kepala dan memberikan daging itu pada Maddalene.
“Cicipilah ini Maddalene, ini enak!” Ucapnya. Maddalene mengangguk dan mencoba untuk memakan daging tersebut meski sebenarnya ia tidak mau. Namun saat ia mencicipi daging itu, tidak ada rasa yang berbeda dari daging babi hutan biasa sehingga ia pun bisa menelannya dan bahkan memakannya dengan nikmat bersama Yasika.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka setelah merasa kenyang memakan daging –makhluk yang menyerang Yasika- itu, dan membungkus beberapa iris daging untuk makan malam mereka nanti.
Hari berlalu dengan tanpa terasa, langit pun sudah semakin gelap di mana bulan berwarna perak itu menerangi malam bersama ribuan bintang yang bertaburan di sekelilingnya. Mereka berlima merasa harus cepat mencari tempat untuk beristirahat, dan mempercepat langkah mereka. Ketika mereka sedang berjalan untuk mencari tempat, Yasika yang menoleh ke arah kanan pun secara tidak sengaja melihat sebuah gubuk lapuk tak berdinding yang hanya beratapkan daun kering. Namun menurut Yasika, setidaknya gubuk itu cukup untuk mejadi tempat mereka berteduh dari benda yang mungkin saja jatuh dari langit saat mereka tidur nanti.
“Hai... Apakah kita bisa beristirahat di sana?” Yasika memanggil keempat temannya itu dan bertanya pada mereka, seraya menunjuk ke arah gubuk yang di kelilingi oleh pepohonan yang tinggi.
Adhair, Gaelan, Liam dan Maddalene pun menghentikan langkah mereka dan menoleh ke arah gubuk itu. Adhair melangkah dan berdiri di samping Yasika seraya mengusak rambut perempuan itu sambil berucap, “Kita bisa beristirahat di sana! Kerja bagus!” Pujinya pada Yasika yang merasa senang karena telah menemukan gubuk itu untuk mereka tempati.
Maddalene berlari dan memeluk Yasika dengan sangat erat sambil mengucapkan rasa berterimakasihnya dengan cara yang berbeda, “Oh... Kau adalah orang paling beruntung di dunia yang dapat menemukan gubuk ini!” Ucapnya pada Yasika. Perempuan itu hanya terkekeh pelan seraya menggelengkan kepalanya, kemudian mereka berdua menyusul langkah ketiga lelaki yang sudah lebih dulu berjalan menghampiri gubuk lapuk tersebut.
“Ah...” Liam menghela napasnya seraya duduk meluruskan kedua kakinya dengan kedua tangan yang menumpu badannya. Lelah, itulah yang ia rasakan saat ini, ia menatap pada Maddalene yang duduk di sebelahnya dan menatap Yasika yang masih berdiri menatap kearah utara dari posisi mereka.
Liam yang penasaran pun bertanya, “Yasika… Apa yang sedang kau perhatikan?” Tanyanya pada Yasika, sontak Maddalene, Gaelan dan Adhair ikut melirik ke arah Yasika yang berdiri itu.
Yasika segera menoleh ke arah Liam dan menggelengkan kepalanya, “Apa? Tidak ada!” Jawabnya yang kemudian duduk di samping Maddalene. Ia membuka tas yang di bawanya dan merogoh ke dalam tas untuk mencari sesuatu.
Adhair menaikan sebelah alisnya ketika memperhatikan Yasika, ia menyadari bahwa sikap perempuan itu berbeda dari biasanya. Yasika yang mereka kenal adalah seorang yang penuh dengan semangat dan ceria, di saat kapanpun sama seperti Liam. Namun saat ini perempuan itu lebih banyak terdiam, terutama saat setelah kejadian penyerangan makhluk tadi.
Bukan hanya Adhair yang merasakan keanehan itu, tetapi Gaelan pun merasakannya dan tidak mempercayai jawaban yang barusan Yasika berikan pada mereka.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Yasika?” Tanya Adhair.
To be continued