8. Maaf.

1622 Kata
Rinaldy POV  “Nal, aku datang kesini itu tujuannya jelas.” Aku tidak tahu kenapa Harry tiba-tiba datang tanpa ada pemberitahuan lebih dulu. Dan, kami juga tidak membuat janji. Dia menatapku dengan tatapan menghakimi, entah apa yang salah dariku. Sejak dulu. Lebih tepatnya saat kuliah dulu. Aku tidak terlalu menyukai lelaki yang seenak jidatnya duduk di atas mejaku ini. Entahlah karena dia dulu menyukai Nina tapi terhalang karena status mereka sahabat, atau karena alasan lain? Tapi demi menghargai Nina, aku tidak pernah menunjukkan ketidaksukaan ku padanya. “Ada apa? Tolong jangan duduk di meja saya, Harry.” “Nal, kamu selingkuh dari Nina?” Sialan. Entah kenapa aku mulai muak dengan tuduhan itu. Harusnya Harry tau, jika pertanyaan itu sangat lelaki benci. Pertanyaan yang menuduh, menyudutkan dan memfitnah adalah sesuatu yang sangat dia benci. Dan Nina masih mencurigainya? “Nina yang cerita soal bajuku yang ada bekas lipstik?” Harry mengangguk, dia turun dari meja dan memilih duduk di sofa. Aku mengambil dua botol minum, dia merilekskan pandangannya begitu aku duduk di depannya dengan serius. “Jika Vira berpikir kau selingkuh, atas hal yang tidak kau lakukan, bagaimana perasaanmu, Harry?” “Tentu saja aku marah, tidak setuju jika…tunggu, jadi kau memang tidak melakukannya? Maksudku, aku paham perasaanmu sebagai seorang lelaki. Kita punya titik jenuh, lelah, atau bahkan bosan? Aku sangat paham, Nal. Tapi…kau memang tidak melakukannya kan?” “Sudah aku katakan. Bahkan pada Nina pun sudah aku jelaskan. Aku tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Tapi kadang dia sensitif.” “Aku percaya denganmu. Tujuanku datang kemari hanyalah untuk memastikan. Nina memang datang ke rumahku bersama anak-anak untuk bermain. Wajahnya tidak secerah biasanya. Kau tau sendiri kan jika Nina bukan orang yang cerita masalah keluarganya pada orang lain? Malam ini pun dia mau menginap.” “Jadi?” aku menatap Harry bingung. “Apa maksudmu.” “Dia tidak cerita apapun jika tidak aku paksa, jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh.” Demi alasan apapun, aku sempat khawatir jika Harry memang tahu sesuatu. Dia bangkit berdiri dan menepuk bahuku. “Kalau ada masalah, bicara baik-baik, Nal. Kau sendiri tahu bagaimana perjuanganmu untuk mendapatkan hatinya kembali. Sekali kau pernah melukai hatinya, dia masih bisa buta untuk mencintaimu. Namun kedua kali kau melakukannya, bisa jadi kau yang akan menyesal karena dia tidak akan lagi berpaling melihatmu. Aku pamit dulu.” “Haryy…” “Oh ya, sekretarismu lumayan juga.” “Dasar sialan kau.” “Pastikan kau memberinya bonus yang besar, setiap hari kau hanya bisa ganti asisten saja. Pertahankan saja dia.” Sarah? Entahlah bagaimana aku mendeskripsikan bagaimana dirinya. Bahkan sudah malam begini, dia masih bertahan di ruang kerjanya sampai aku benar-benar pulang. Sekretarisku sebelumnya bahkan tidak peduli jika aku pingsan di ruangan. “Belum pulang?”aku menatapnya. “Saya menunggu bapak.” Menungguku ternyata. Perasaanku hangat mendengar hal itu, segera aku mengambil tas dan kunci mobil lalu keluar ruangan. Dan dia masih di tempat yang sama. “Pulang naik apa?” “Saya dijemput, pak.” Aku tau dia berbohong. Di lift, aku tahu diam-diam Sarah memperhatikanku. Sebagai lelaki normal, jika bisa jujur, Sarah itu cukup menarik. Selain dia orangnya cekatan, lihai, perhatian, tubuhnya pun mendukung. Dan tebakanku benar. Sarah terlihat gelisah menunggu di depan lobby, apalagi sudah malam. “Masuk.” Wajahnya yang linglung rasanya lucu sekali. Dia mendekat, dan menundukkan badannya. “Kenapa, pak?” Shit. Aku baru menyadari dia sudah melepas blazernya, menyisakan kemeja putih yang rasanya sangat transparan sehingga aku bisa melihat branya yang berwarna merah dan ukuran gunung kembarnya yang penuh. Sial. Rinaldy, sadar. “Masuk.” Untungnya Sarah menurut. Aku berniat untuk mengantarnya karena kasihan, apalagi ini sudah malam. Dia juga lembur karena aku. Akhir-akhir ini pekerjaan menumpuk, sejak menikah dengan Nina, aku akui bahwa rezekiku semakin lancar. Perusahaan WO yang dulunya hanya 3 tingkat dengan karyawan bisa dihitung jari, kini bisa memiliki kantor di kawasan elit dengan karyawan lebih dari ratusan. Sesuatu hal yang harus aku syukuri. “Bapak tau apartemen saya?” Bodoh sekali. Kelihatan sekali jika aku pernah mengikutinya. “Ya.” “Tapi saya tidak pernah beritahu loh pak.” Bodoh. Bodoh. Rinaldy kau bodoh. “Saya ini bos kamu, saat mendaftar ditulis jelas ada alamat tinggal kan?”alibi untuk menyelamatkan diri. Aku tidak tahu semalu apa jika harus mengakui bahwa aku penasaran dia tinggal di apartemen mana. “Bapak baik sekali.” “Hmmm…Sarah?” aku menelan ludah, ukuran miliknya memang sangat besar. Aku tidak sengaja melihatnya saat sorot lampu mobil saat lampu merah mengarah ke arah kami. Aku menggigit bibir, pikiran ini sungguh bodoh. Tidak, kau punya keluarga Rinaldy. Kau punya istri yang kau perjuangkan dengan keringat darah. Jangan pernah kau khianati Nina. Tidak akan pernah. Tapi. Situasi ini berbeda. Semuanya seperti diluar kendaliku. “Ya pak?” “Tolong, jangan menggunakan baju transparan.”Aku memilih untuk menegurnya, aku tidak tahu kapan akan kehilangan kendali jika dia terus yang memulai. “Kenapa pak? Kan tidak ada larangan toh? Atau bapak jadi salah fokus?” Mulutmu Sarah. Aku ingin sekali membungkamnya dengan bibirku. Dia sengaja menggodaku. Sampai di depan apartemennya, aku hampir saja kehilangan kendali. Tubuhnya tiba-tiba bangkit dan menyudutkannya ke sandaran kursi. Hampir saja aku menyentuh wanita itu. Namun mataku tertuju pada boneka Nayara di belakang kursi. Perasaanku langsung dihantui rasa bersalah. Aku kembali menatap Sarah yang sudah menutup mata. Dia mengharapkannya, sama seperti niatku. Tapi aku lekas kembali, membuang muka. “Maaf. Kamu keluar saja.”aku sudah gila mengusir Sarah tiba-tiba tanpa meminta maaf. “Pak? Maksud bapak apa sih, kalo cuman mau main-main gak usah kayak gini. Saya jadi…” Suara Sarah tiba-tiba meninggi. Aku tau dia marah, wanita mana yang tidak akan diperlakukan begitu? “Jadi apa, Sarah? Kamu mengharapkan apa?” aku memberanikan menatap kedua bola matanya yang sialnya kembali menghipnotisku. Perasaanku langsung hancur melihat mata indah itu mulai berkaca-kaca. “Tidak ada, terima kasih sudah mengantar saya.” Tangannya sudah hampir membuka pintu mobil. Namun gilanya, aku menarik tubuhnya dengan kasar. Membungkam mulutnya. Dia mengalungkan tangannya, mengulum bibirku dengan rakus seolah dia sudah terbiasa. Aku mengikuti cara dia bermain. Gila. Aku kehilangan kendali jika sudah bersamanya. Aku mulai meremas gunung kembarnya yang tertutup baju. Sialan. Sesuai dugaanku barusan, itu memang lebih besar. Aku menelan ludah kasar saat dia mencium lehernya. Apakah aku harus melakukan ini? Kringgg Kegiatan kami berhenti saat ponselku berbunyi. Satu pesan masuk dari Nina. Buru-buru aku kembali duduk dan merapikan kemejaku. Sarah sudah berantakan, dan tidak hendak menyentuh milikku yang sudah mengeras. Aku menghentikan tangannya. “Kenapa, pak? Tanggung loh, biar Sarah kasih blow job.” “Tidak, keluar dari mobil saya.” “Ini gratis kok, pak. Khusus buat bapak.” “KELUAR SARAH!” Aku membentaknya. Dia terkejut saat melihat reaksiku. Tanpa mengatakan apapun, segera dia mengambil tasnya dan pergi. Aku juga lekas meninggalkan apartemennya. Rumah gelap, hanya ada lampu taman dan lampu luar. Oh iya, Nina menginap di rumah Harry. Bodoh. Apa yang sudah aku lakukan. “SIAL. APA KAU GILA HAH? ARGH…BODOH.” Satu dua pukulan mengenai dashboard mobil. Aku menyandarkan wajahku di atasnya, tidak peduli dengan tetes keringat yang membanjiri wajahku. Mandi air dingin mungkin akan lebih baik. Tapi, bahkan selesai mandi pun aku masih gelisah. Ruang tidur anak-anak kosong, Nina yang biasa tertidur di sofa juga tidak ada. Rasanya hampa. Perasaanku seperti sedang di uji. Apakah setiap pernikahan harus melalui ujian ini? Kakiku berlutut. Aku rasa, sudah lama sekali aku tidak melakukan ini. Dan rasanya sungguh luar biasa setelah mengeluarkan semua unek-unekku dengan-Nya. Bahkan air mataku sampai mengalir. Sehancur ini perasaanku. Berdoa memang jalan terbaik untuk meluapkan semua masalah. Segera aku mengambil kunci mobil. Aku harus minta maaf pada Nina. Pekan lalu aku membentaknya, aku membuatnya curiga. Aku membuatnya mengurus anak-anak sendiri. Padahal aku tidak buta, bahwa istriku adalah mukjizat dan jawaban dari doa yang selama ini aku panjatkan. Rumah Harry masih ramai. Ini sudah pukul sembilan, aku bisa mendengar suara tawa anak-anak. Debaran jantungku semakin kencang. Hal apa yang tadi hampir aku lakukan? “Papah?” Nayara yang sedang bermain dengan Abian langsung berhenti begitu melihatku, diikuti dengan semua orang yang ada di ruangan itu. “Papahhh…” “Putri papah.” Naya dan Abi berlari ke arahku, aku yang masih berdiri di depan pintu langsung berjongkok, mereka berdua memelukku dengan hangat. Aku mencium puncak kepala mereka dengan hangat. Nyaman sekali. Aku menghela nafas legah. Bagaimana bisa aku melupakan dua malaikat kecilku yang akan menungguku pulang ini? Nina berdiri di depanku. Dia tersenyum manis, melihatku dengan kepala yang miring dan kedua tangan di remas. Selalu seperti itu. Aku ikut tersenyum melihatnya. “Sayang.” “Mas.” “Maaf.” Aku menarik tangannya agar ikut memelukku. “Eh, kenapa, mas?” “Maaf, beberapa hari lalu mas bentak kamu. Mas juga buat kamu salah paham. Mas minta maaf sayang.” “Mas…jangan begitu.” Suara Nina bergetar, membuatku berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangan untuk menghapus air mataku. “Mas, jangan nangis. Nanti anak-anak ikutan nangis.” “Maafin mas ya. Mas jarang punya waktu buat kalian bertiga.” Pelukan Nina memang yang paling aku rindukan. Dia membuat perasaan gelisah, takut, hancur menjadi perasaan legah dan hangat. Aku tidak akan tahu bagaimana akhirnya jika aku mengikuti keinginan dagingku. Situasi hangat ini pasti akan membuatku rindu. “Loh, kenapa…” Harry dan Vira dengan piring yang penuh dengan makanan berhenti. Keduanya menatap ke arah kami. “Loh, Nal?” Vira tersenyum. “Nina sejak tadi nyariin kamu loh, mana pesannya gak kamu balas.” “Makanya dia langsung otw ke sini, sayang. Ayo, kalian jangan hanya berdiri di sana saja. Mari makan. Kau juga belum makan kan, Nal?” Harry mengedipkan matanya padaku. “Ayo, mari kita rayakan malam minggu ini. Sudah lama sekali tidak merasakan menjadi anak muda.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN