Sarah POV
Aku mulai merapikan berkas diatas meja, tidak tahu apa yang terjadi dengan pak bos, tapi sudah hampir dua hari ini dia diam terus. Bahkan mengabaikan keberadaanku. Yang benar saja, ini tidak boleh dibiarkan.
Awalnya aku ingin masuk, tapi tertahan karena kedatangan seorang lelaki dengan tubuh menjulang tinggi. Beberapa menit dia menarik perhatianku, sampai menjentikkan tangannya beberapa kali.
“Maaf, nona manis. Saya tau saya tampan, tapi saya sudah punya istri.”
“Eh…” bodoh, dasar Sarah bodoh. Kau sudah menunjukkan kebodohanmu, “maaf, pak. Ada yang bisa saya bantu.”
“Saya Harry, bukan Harry Potter si penyihir.”
Ganteng sih ganteng. Tapi ini manusia apakah sedikit punya otak miring?
“Jadi pak?”
Harry terkekeh, “Maaf, pasti kamu bingung ya. Saya Harry, temannya Rinaldy. Dia belum bilang kalau saya mau datang?”
“Maaf pak, saya konfirmasi dengan Bapak Rinaldy dulu.”
“Baiklah.”
Rinaldy langsung membuka pintu, sebelum aku mengetuk. Tatapannya sangat menyeramkan, dia seperti tidak tidur beberapa hari ini.
“Masuk aja, Harry.”
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi itu cukup lama sehingga membuatku tertahan di meja kerja. Padahal ini malam minggu dan lebih baik menghabiskan malam di club. Aku sudah merindukan sentuhan-sentuhan hangat dari pada lelaki tampan itu.
Apalagi akhir-akhir ini aku tidak lagi mendapatkannya karena sangat sibuk dengan pekerjaan. Rinaldy memang sangat gila jika dalam bekerja. Pantas saja sekretarisnya banyak yang resign walau gajinya dua digit plus tunjangannya banyak.
Memang sepadan dengan apa yang dikerjakan.
“Loh, nona manis masih di sini?”suara Harry membuatku buru-buru bangkit berdiri. “Ini sudah larut malam, kenapa tidak pulang?”
“Saya menunggu anda selesai, pak. Sudah menjadi job desk saya, siapa tahu bapak tiba-tiba memberi perintah.”
“Nal, kamu itu loh kebangetan. Masa wanita cantik kayak sekretaris kamu ini disuruh kerja sampai malam? Syukur kalo tunjangannya sesuai.”
Rinaldy hanya menatapku dalam diam, tidak memberi reaksi apa-apa.
“Kau harusnya pulang lebih awal.”
“Dasar, kalau begitu, aku pamit dulu. Terima kasih sudah mendengarkan curhatanku, semoga kamu bisa memikirkannya dengan matang. Oh ya, Nina juga menginap di rumahku malam ini.”
“Menginap?”
“Sudah aku katakan, dude. Dia itu teman baikku, jadi perubahan kecil yang dia rasakan pasti aku akan mengetahuinya. Semoga kau bisa intropeksi diri, bye, aku pulang dulu. Bye nona manis.”
Sepertinya ada yang berbeda. Bahkan wajah lelah lelaki itu terlihat semakin terlihat suram. Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Harry sudah pergi, dari penglihatanku, sepertinya dia tipe teman yang setia. Kini tinggal aku dan Rinaldy yang sudah mengacir ke ruangannya.
Tapi tidak lama dia keluar.
“Kau masih di sini?”
“Saya menunggu bapak.”
“Oh.”
Oh? Demi apa? Sialan, aku pikir karena insiden beberapa hari lalu, dia sudah mulai melunak. Tapi tetap saja menjadi prince ice , aku heran kenapa istrinya bisa mendapatkan laki-laki setampan Rinaldy. Apakah memang dia make pellet? Udah muka pas-pasan, gada hal yang bisa dibanggain juga.
“Pulang naik apa?”
Hampir saja aku menabrak punggungnya karena tiba-tiba berhenti. Rinaldy berbalik dan menatapku. Sialan, hanya ditatap saja jantungnya langsung berdebar. Tatapannya dingin sekali, dan tertuju ke mataku.
“Saya dijemput, pak.”
Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Dasar manusia menyebalkan. Di lift kami juga hanya diam. Tapi aku tidak bisa menghindari bahwasanya aku gugup, dia berdiri di belakang dan memejamkan matanya. Aku bisa melihat pantulannya dari cermin kaca.
Lobby sudah sepi, aku turun duluan sedangkan Rinaldy langsung ke parkiran. Hanya ada satpam dan pegawai yang mungkin lembur? Dasar bos tidak peka, aku ini tidak dijemput. Itu hanya alibi saja, tapi apa yang aku harapkan? Minta diantar? Itu bukan hal yang bisa terjadi. Dia sudah punya istri dan aku seharusnya menjaga sikap.
Seharusnya begitu.
Sebuah mobil berhenti di depan anak tangga depan lobby, tempat aku menunggu. Itu tidak familiar, sampai saat kaca jendelanya dibuka. Rinaldy? Wait, sejak kapan dia ganti mobil.
“Masuk.”
Aku turun ke bawah. “Kenapa, pak?”
“Masuk.”
“Eh, tapi saya…”
“Ini perintah, kamu tidak dengar?”
Sarah. Kamu harus sabar, selama ini juga begitu kan? Segera aku masuk di kursi depan, tidak enak juga jika duduk di belakang. Dia jadinya seperti supir. Tapi jujur aku jadinya malu, sepertinya dia tahu jika aku tidak dijemput.
Mungkin aku tidak pernah diantar atau mengatakan dimana apartemenku berada, tapi arah jalan yang kami lalui benar.
“Bapak tau apartemen saya?”
“Ya.”
“Tapi saya tidak pernah beritahu pak, kok bapak bisa tau?”
Gelagat Rinaldy sedikit aneh, tapi itu cukup menghibur.
“Saya ini bos kamu, saat mendaftar ditulis jelas ada alamat tinggal kan?”
“Jadi bapak ingat?” ujarku disela dengan tawa candaan. Tapi situasi berubah saat di lampu merah, dia menatapku terus terang dan tatapan itu rasanya menusuk dan terlalu liar dalam waktu bersamaan. Aku baru ingat jika pulang tadi, aku melepas blazerku, menyisakan kemeja putih yang cukup transparan. Apalagi aku mengenakan bra merah yang terlihat jelas. Aku bisa melihat sekilas tatapan Rinaldy tertuju ke arahnya.
“Ya.”dia berdehem sejenak, mungkinkan Rinaldy mulai tertarik?
“Bapak baik sekali.”
“Hmmm...Sarah?”
“Ya pak?”aku menatapnya cukup lama, sialan, fokusku tertuju pada otot lengannya yang sangat menggoda.
“Tolong, jangan menggunakan baju transparan.”
Shit. Dugaanku benar.
“Kenapa pak? Kan tidak ada larangan toh? Atau bapak jadi salah fokus?” aku sedang memancingnya.
Hening. Situasi di dalam mobil cukup panas. Tatapan Rinaldy lurus ke depan. Tapi mendadak dia melepas seat beltnya, lalu menuju ke arahku. Sialan, aku menelan ludah kasar, menyandarkan tubuh ke kursi. Aroma tubuhnya sangat menggoda sekali.
Tatapan Rinaldy fokus ke arah dadaku.
Bibirnya semakin dekat. Aku memejamkan mata, merasakan nafas hangat yang menerpa wajahku. Menguji Rinaldy adalah hal yang menantang maut, tapi menyenangkan dalam waktu bersamaan.
Aku sudah berharap bahwa malam ini aku mendapat jackpot. Tapi begitu membuka mata, Rinaldy sudah kembali ke bangkunya dan bunyi klik terdengar. Sial. Wajahku sudah memerah, apa maksudnya ini?
“Maaf. Kamu keluar saja.”
“Pak? Maksud bapak apa sih, kalo cuman mau main-main gak usah kayak gini. Saya jadi…”
“Jadi apa?”
Demi apa? suara serak Rinaldy dan nafasnya yang tenang mampu menghanyutkan akal pikiranku ke lembah paling dalam. Tapi, tidak, Sarah? Kau punya harga diri juga. Jangan sia-siakan sekolahmu yang tinggi. Lelaki seperti Rinaldy memang spesies seperti itu kan?
“Jadi apa, Sarah? Kamu mengharapkan apa?”
“Tidak ada, terima kasih sudah mengantar saya.”
Aku sudah terlanjur marah, satu tanganku menekan tombol pintu dan hendak keluar. Tapi tubuhku mendadak ditarik, hingga jatuh kembali ke kursi. Aku pikir Rinaldy marah, tapi demi apa?
Badanku menegang. Rasanya seperti disengat saat bibir kami saling bersentuhan. Aku refleks mengalungkan tangan dan mengulum bibir seksi yang selama ini menjadi mimpi burukku. Persetann dengan statusnya. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini, selagi Rinaldy tidak sadar apa yang dia perbuat.
Kali ini aku menang Nina. Aku berhasil membuat suamimu bimbang.