Luhan POV
Hampir dua hari sejak kejadian dimana aku bertemu dengan Nina, hari-hariku jauh lebih suram. Aku menyesal kenapa meninggalkannya di gerai saat itu dan harus melibatkan Sarah. Padahal aku jelas tidak ada hubungan dengannya, walau aku tahu Sarah menyukaiku. Sikapnya terang-terangan.
“Lu, kau tau, kita ada kasus yang harus ditangani dalam waktu dekat ini.”Bryan menarik kursi kerjaku agar lebih dekat dengannya. Oh iya, dia ini adalah salah satu pengacara dan kami berteman saat menangani kasus yang sama. Walau dulu kami sempat menjadi rival karena memiliki klien yang berbeda, “dan itu kasus salah satu keluarga konglomerat.”
“Apa menariknya menangani kasus mereka?”aku menghembuskan nafas kasar.
“Jelas ini menarik, Luhan. Kasus keluarga orang kaya itu tidak pernah sederhana, selalu saja ada motif, pelaku, dan yang menjadi kambing hitam. Kau tidak tahu? Akhir-akhir ini kasus kopi sianida itu kembali menjadi buah bibir masyarakat setelah dokumenter netflix. Jujur, dari dulu aku sangat tertarik, tapi dari kacamata pandangku, itu tidak akan pernah sederhana.”
“Lantas…” aku menatap Luhan bingung.
“Lantas itu yang membuatnya menarik. Dan kasus yang akan kita tangani, milik salah satu pemilik perusahaan besar di dunia. Bukan hanya di negara kita saja. Kasusnya tentang ahli waris, aku tahu kau tidak terbiasa dengan dunia ini, tapi kau harus melakukannya demi aku.”
“Aku tidak tertarik, lebih baik menangani kasus yang lain.”
“Ayolah, Lu. Aku butuh kemampuanmu agar kita bisa menyelesaikan masalah ini.”
“Tidak.”
Bryant menatapku sedih, segera aku mendorong kursi dan kembali kemeja. Di dunia pengacara, semua juga punya spesialis di bidangnya. Biar aku jelaskan, umumnya ada 4 jenis pengacara. Pengacara di bidang bisnis, ini yang akan menangani semua urusan dengan koorporate. Pengacara keluarga, dengan spesialis membantu sebuah keluarga dalam masalah yang tergantung dengan kejadian yang dihadapi. Lalu ada pengacara pembela pidana, dan pengacara ketenagakerjaan dan buruh.
Jika Bryan berada di spesialis pengacara bisnis, maka aku sudah lebih dari 5 tahun menjadi pengacara ketenagakerjaan dan buruh. Dan aku tidak pernah tertarik untuk mengurus urusan di bidang lain.
Itu yang membuat Mr.Copin, pimpinan di firma hukum ini selalu kesal denganku. Entah kenapa mereka selalu saja memaksaku untuk masuk di pengacara spesialis bisnis. Sesuatu yang melelahkan, apalagi jika sudah menyangkut dengan orang kaya.
“Kau yakin tidak ingin ikut?”
Bulu kuduk di sekitar leherku berdiri saat merasakan nafas hangat itu. buru-buru aku menatap ke arah Bryan, jaraknya sangat dekat. Sialan. Aku sangat benci jika dia sudah mulai berbisik di telingaku.
“Menjauh atau aku akan memenggal lehermu, berengsek.”
“Ara…ara, kau sangat kaku sekali. Pantas saja wanita itu lari darimu.”
“Wanita?”
“Ya, wanita yang kita ditemui di gerai ice cream itu. Kau tidak pernah cerita dia siapa dan sikapmu berubah semenjak bertemu dengannya. Jangan bilang dia adalah cinta pertamamu.”Bryant terkekeh, tapi kemudian berhenti saat menatapku. “Tunggu, jangan bilang wanita itu…daebak, jadi dia wanita yang selama ini kau ceritakan? Wanita dari masa kecilmu?”
“Ck, diamlah.”
“Ya Tuhan, akhirnya kau bertemu dengannya. Tapi…bukankah dia sudah memiliki keluarga? Jadi itu…”
“DIAM atau aku akan menutup mulutmu dengan sepatuku.”
Bryant mengunci bibirnya dan kembali ke meja kerjanya. Aku menghela nafas, dia membuatku semakin kacau.
“Kau benar.” Setelah cukup lama diam dan memandang gelang di kotak yang selalu aku jaga, akhirnya aku bicara juga. Dan tanpa diminta, Bryan sudah langsung berada di sampingku. Tipe manusia kepo tingkat tinggi.
Menutup mata sejenak, mengembalikan memori masa kecilku yang tidak seberuntung orang-orang. Gambaran masa kecil dengan senyumannya yang selalu membuatku bertahan. Gelang ini juga pemberiannya saat aku ulang tahun.
Kali pertama dalam hidupku mendapatkan kado.
“Aku bisa beralih profesi menjadi pengacara khusus cinta, Luhan. Aku akan membantumu merebut wanita itu jika kau mau.”
“Berhenti bicara omong kosong, Bry.”
“Bagaimana dengan burger di perempatan jalan dengan segelas kopi, Lu? Aku rasa itu lebih baik sekarang. Mr.Copin juga sedang tidak di kantor, kita bisa keluyuran di jam segini.”
Dan gerai penjual burger langganan kami selalu saja ramai. Dari semua kalangan menggandrunginya. Pemiliknya asli dari Dubai, itu yang membedakan cita rasanya.
“Seperti biasa, pak pengacara?”
“Ya, Mr.Johan, seperti biasa, dua porsi ya.”
“Temanmu Bryan pasti sedang membeli kopi bukan?”
Aku mengangguk dan tersenyum. Sejak bekerja di Kota Besar, aku pertama kali mampir untuk sarapan di sini. Karena terlalu sering mampir, terjadilah percakapan yang membuat kami tidak canggung lagi. Dia bahkan sudah hafal dengan menu yang akan aku pesan. Bryan masih mengantri, kedai kopi langganan kami juga sangat ramai.
“Mama, Naya pengen burger itu.”
Deg. Suara anak kecil itu. mataku sontak mencari di kerumunan jalan kaki lima, mencari sumber suara itu. Dan tidak jauh, aku melihat dua sosok yang berjalan ke arah kami. Debaran jantungku semakin cepat saat melihat Nina berjongkok dan merapikan baju anak kecil itu. Senyumannya yang tulus, kasih sayang seorang ibu dan pemandangan itu.
Harusnya.
Aku berdiri tidak jauh dari mereka. Menggenggam tangan mereka berdua dan berjalan sambil tersenyum. Rasanya sungguh tidak terima, tapi aku juga tau bahwa perasaanku salah. Luhan, dia sudah bahagia dengan lelaki lain. Jaga sikapmu.
“Pak pengacara?”
“Eh?”aku terkesiap dan menatap Mr.Johan yang ikut menatap ke arah pandangku tadi. “Ahhh, keluarga itu, mereka sangat serasi bukan?”
“Anda mengenalnya?”
Mr.Johan mengangguk. “Mereka sudah beberapa kali mampir di sini. biasanya sih bertiga, tapi kali ini berdua saja.”
“Bertiga?”
“Ya, satu lagi anak laki-laki yang sangat tampan.”
Oh. Aku mengangguk, anak Nina memang cantik dan tampan. Apalagi Naya, dia mewarisi wajah ibunya dan warna bola matanya. Niatnya aku ingin buru-buru pergi, tapi mereka lebih dulu melihatku.
“Luhan?”
“Paman Luhan, Naya mau beli hamburger tapi kata mama gak boleh.”
Ya Tuhan. Suara anak kecil itu. Aku berjongkok, mensejajarkan tinggi dengan Naya. Matanya sudah berkaca-kaca, merengek minta dibelikan.
“Bukan begitu, tapi semalam dia baru makan mie, Luhan.”
Rasanya kenapa seperti mereka laporan padaku ya? Apalagi Nina yang ikut berjongkok tepat di sebelahku. Hari ini dia mengenakan dress biru dongker selutut, sangat indah sekali, senada dengan kemejaku.
“Kan sudah janji sayang sama mama, kalo udah makan mie, berarti anak mama harus makan yang sehat.”
“Paman Luhan.”
Deg. Jantungku berpacu lebih kencang saat Nayara memelukku erat. Kini dia sudah mulai menangis.
“Astaga keponakan om yang lucu. Na, kali ini aja ya.”
“Tapi…”Nina menghela nafas, “baiklah, tapi janji ya kali ini. Karena ada om Luhan makanya mama setuju.”
Aku berdiri dan menggendong Nayara yang langsung tersenyum. Mengeluarkan sapu tangan dan menghapus air matanya. Dia mencium pipiku.
“Makasih om.”
Bibirku sontak tersenyum dan mengangguk, sambil menatap Nina yang sudah memesan. Tidak lama, sebab Mr.Johan langsung mempersiapkan. Aku dan Nayara duduk di kursi, tidak lama Bryan juga datang.
“Eh, anak siapa? Eh…dia…”Bryan terdiam melihat gadis kecil di pangkuanku dan juga Nina yang baru saja bergabung.
“Maaf merepotkanmu, Luhan. Nayara sejak tadi pagi memang banyak maunya. Sini sama mama sayang, kita pulang ya.”
“Tidak apa-apa Nina, makan saja dulu. Oh iya, Bryant, ini Nina. Aku rasa kamu pernah melihatnya waktu itu di gerai.”
Wajah Bryan masih melongo, membuatku ingin sekali memukulnya.
“Oh iya, sama kenal, saya Bryant.”
Pada akhirnya, kami duduk dan makan bersama di meja pinggir jalan ditemani dengan hilir mudik di sore hari. Untungnya Bryant kali ini tidak bertingkah, jadi aku bisa fokus bermain dengan Nayara yang rasanya sudah sangat akrab. Padahal ini pertemuan ketiga kami. Dulu dia pernah menolakku, tapi berbeda dengan hari ini.
Dia sangat betah duduk di pangkuanku. Rasanya aku seperti seorang ayah yang sedang menghabiskan sore harinya dengan keluarga kecil yang bahagia.
“Oh ya, ini sudah terlalu sore. Kami pulang dulu ya, terima kasih atas traktiran kopinya, Bryant.”
“Tidak diantar saja, Nina? Kebutuhan Luhan juga sedang menganggur, daripada kalian naik kendaraan umum kan.”
Bryan menatapku sambil memainkan alisnya. Dasar teman lucknut. Dia sangat senang sekali mempermainkanku.
“Tidak apa, kami naik kendaraan umum saja, nanti…”
“Tidak apa-apa, Na. Sebentar aku ambil mobil dulu, Nayara juga sudah mengantuk. Lebih baik aku mengantar kalian sekalian. Mari, ikut denganku.”dan bodohnya, aku malah bersemangat untuk mengantar mereka. Biarlah, aku hanya kasihan dengan Nayara. Tidak lebih.