5. Pertengkaran Kecil

1309 Kata
Nina POV Sudah seminggu sejak pertemuanku dengan Luhan dan acara makan di kedai favoritku, tidak pernah lagi aku melihatnya di sana. Dia mungkin sibuk, begitu juga denganku. Rasanya hampir setiap hari yang mengurus anak-anak. Rinaldy makin sibuk dan tidak ada waktu di rumah. Seperti pagi ini, dia sudah berangkat ke kantor karena ada rapat di luar daerah. Begitu mengantar Abian, aku memutuskan untuk bersih-bersih rumah. Kebetulan sekali karena mbak—asisten rumah tangga—tidak bisa datang karena sakit. Setelah menikah, Rinaldy mempekerjakan ART untuk mempermudah urusanku. Dia tidak mau aku kelelahan. “Mama, Naya mau makan mie, boleh ya?” “Mie?”tanganku berhenti memilih-milih kemeja Rinaldy yang akan dicuci. “Boleh sayang, tapi setelah mama selesai beres-beres ya.” “Benar?” “Iya putri kecil mama, aigo…” Naya memeluk kakiku dan pergi bermain dengan kucingnya. Dia sangat bahagia jika sudah diberi kesempatan untuk makan mie. Tanganku lanjut memilah-milah dan berhenti di salah satu kemeja yang Rinaldy pakai semalam. Seperti istri pada umumnya yang memeriksa detail baju suaminya. Begitupun aku lakukan. Namun jantungku terasa berhenti sejenak begitu melihat bekas lipstik di kerah baju Rinaldy. Itu bukan aku. Sebab tidak pernah aku ingin menimbulkan cibiran pada suamiku. Tidak. Bisa jadi ini ulah temannya? Tapi siapa. Aku menahan diri, kepalaku terasa pusing. Rinaldy tidak mungkin selingkuh dariku, sudah 5 tahun sejak kami menikah, dia menjadi suami yang setia. Kami juga punya putra-putri lengkap. Jadi, apa maksudnya ini? “Mama? Kenapa bengong?” Buru-buru aku mengambil tissue, menghapus air mata dan menggendong Nayara. Tidak, aku harus bertanya padanya setelah pulang nanti sore. *** Rinaldy POV “Jadi, kamu yakin tidak ingin mampir, Sarah?” “Tidak pak, ini sudah larut. Istri anda pasti sudah menunggu, jadi lebih baik saya langsung pulang saja.” Aku mengangguk. Menatap ke arah rumah, lampu ruang tengah masih menyala, padahal sudah pukul 11 malam. Nina pasti menungguku. Sekali lagi aku menatap Sarah, dia sangat multitalenta. Aku juga bersyukur hari ini dia membawa mobil, jadi bisa mengantarku kembali. “Baiklah kalau begitu, terima kasih atas tumpangannya.” “Sebentar, pak!” Refleks aku memundurkan badan saat Sarah mendadak menaikkan tubuhnya. Sial. Belahan dadanya terlihat jelas di kedua mataku. Aku menelan saliva, jarak kami sangat dekat. Sungguh gila karena aku memejamkan mata. “Pak?” “Eh…ya?”aku membuka mata bingung melihat Sarah yang sudah kembali ke posisi duduknya. Dia tersenyum, seolah puas karena mengerjaiku. “Saya hanya membuka pintu pak, tidak lebih, kenapa bapak menutup mata?” Lihatlah. Walau masih baru menjadi sekretarisku, dia sudah berani menggodaku. “Ah…begitu? saya keluar dulu, Sarah. Hati-hati menyetirnya, jangan balapan di jalan.” “Bapak peduli dengan saya?” Tanganku yang sudah diganggang pintu, bersiap untuk mendorongnya keluar, mendadak berhenti dan menatap Sarah. Sial. Kenapa dia selalu berhasil membuatku gerah? Apalagi dengan tatapan jenakanya itu. “Ya, saya peduli. Urusan kantor masih banyak, apalagi akhir minggu ini masih ada proyek yang kita harus urus.” “Ohhh.” “Oh?” “Ya oh pak.” “Memangnya apa yang kamu harapkan?”Bodoh. Rinaldy kau bodoh. Dengan begitu, jelas sekali kau menunjukkan sisi lainmu bukan? “Tidak ada pak.” Aku bergegas keluar. Dan menatap mobil Sarah yang sudah menghilang di balik tembok. Senyumku terbit, dia gadis yang tidak mudah ditebak. Segera aku melangkah menuju rumah. Memasukkan kode pintu dan seperti dugaanku barusan. Nina pasti menungguku. Dia ketiduran di sofa dengan kening berkerut. Lelah sekali. Berulang kali aku bicara padanya agar tidak menungguku. Awal-awal kami menikah dan diperlakukan begini memang membuatku senang. Tapi tidak setelah melewati tahun kelima ini. Rasanya jenuh. Bahkan aku mulai merasa hampa. “Mas? Sudah pulang? Mau makan dulu?” “Aku sudah makan diluar, sayang. Sudah aku bilang kan, tidak usah menungguku. Kasihan kamunya. Badan kamu nanti sakit.” “Tidak apa-apa, mas.” Dia selalu saja menjadi seorang penurut. Aku hanya bisa pasrah saat dia bangkit dan mengambil tas kerjaku. Aku pikir dia sudah selesai, tapi balik dari dapur dia membawakan semangkuk kue? Aku tidak tahu apa maksudnya. Ini melelahkan sekali. “Naya tadi belajar buat kue, setidaknya cobalah sedikit.” “Besok saja, aku sudah kenyang.” “Sesuap aja.” Nina keukeuh dan menjulurkan sendok di depan mulutku. Padahal sudah aku bilang kan. Kenapa rasanya sedikit menyebalkan? Aku sedang tidak mood makan manisan. Tapi demi menghargai putri kami, aku memakan kue itu dan segera menuju kamar. “Mas?” “Aku lelah, Nina. Tidak kau lihat aku bekerja seharian, aku hanya ingin istirahat sejenak.” Nina POV Deg. Suara Rinaldy meninggi, apakah dia sekesal itu? Padahal kue ini hanya tidak akan bertahan sampai besok pagi. Rinaldy membanting pintu kamar cukup kuat, membuatku tidak bisa berkata-kata. Terdiam di meja makan. Apakah ini terlalu berlebihan? “Mas?” Rinaldy buru-buru menutup ponselnya dan menatapku, “ada apa lagi sih, Na? Aku capek tau gak sih, pagi sampe malam harus kerja. Kamu mana tau perasaan aku kan? Jadi diam aja deh, berisik banget.” Sakit? Iya. Sakit banget, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu di saat semua keputusan ini adalah hasil diskusi kami semua. Tapi ada satu hal yang perlu aku luruskan. “Aku mau minta maaf sudah ganggu. Tapi aku juga butuh klarifikasi dari, mas.” “Ada apa lagi?” Ekspresi wajah Rinaldy berubah. Dia terlihat terkejut saat aku menunjukkan bekas lipstik di kerah kemejanya. Dia buru-buru bangkit dari kasur dan menatapku geram. “Ini lipstik siapa, mas? Sejak pagi ini mengganggu pikiranku, kita sudah menikah 5 tahun dan punya prinsip, mas. Sekarang ini apa?” “Kenapa kamu sensitif banget sih, Na? Ini tuh cuman bekas lipstik, kami ada acara di kantor. Semua harus ikut bermain termasuk aku, ini bekas bibir salah satu kolage cowok aku. Kenapa sih kamu itu selalu negatif thinking sama aku?” “Mas, boleh aku pegang kata-kata kamu?” “I…iya, lagian kamu kurang kerjaan banget ya meriksa baju-baju aku? Kita sudah 5 tahun menikah, bahkan pacaran juga dulu pernah. Tapi kenapa akhir-akhir ini kamu bawaannya selalu nuduh, Na? Aku muak, tau gak sih?” Debaran jantungku semakin kencang. Apakah memang aku yang terlalu berlebihan? Kami diam sejenak, bibirku kembali menutup dan lekas keluar dari kamar. Ini sakit sekali. Apakah aku yang salah? Air mataku mulai mengalir. Rasanya sangat salah, entah kenapa hatiku tidak tenang walau sudah mendengar pengakuan dari Rinaldy. Kenapa? Kenapa harus malam ini juga. Padahal aku sudah merencanakan agar bertanya besok. Namun aku tidak bisa menunggu selama ini. Jika memang Rinaldy memiliki wanita lain, dia bisa bicara baik-baik agar aku bisa mengoreksi apa yang salah dari hubungan kami ini. Aku tau dia jenuh. “Aku mau tidur di luar saja, tolong jangan cari aku.” “Mas, mau kemana?” buru-buru aku berdiri dan menatap Rinaldy yang sudah mengambil kunci mobil. “Tidur di luar. Aku rasa salah satu dari kita harus menenangkan diri dulu, Na. Maaf sudah membentakmu tadi, aku pergi dulu.” “Mas, gak harus tidur di luar juga kan? Aku minta maaf, mas. Jangan begini.”Buru-buru aku berlari dan memeluk Rinaldy dari belakang sambil menangis. “Aku yang salah, mas. Jangan pergi, aku mohon.” Tubuh Rinaldy terasa keras, tapi juga tidak beranjak pergi. Aku menangis semakin menjadi-jadi. Menatap punggungnya. Dia melepas pelukanku, berbalik menatap dan menangkup wajahku. “Jujur aku sakit hati saat kamu mencurigaiku seperti ini, Nina. Aku juga seorang suami, maafkan aku juga ya. Maaf sudah membuatmu cemas. Aku minta maaf.” “Mas…” suaraku bergetar dan serak, “aku yang minta maaf.” “Ssstt…jangan menangis lagi, okey? Aku tidak kuat melihatmu menangis. Sekarang, kita kembali ke rumah, tenangkan diri masing-masing dan istirahat. Besok aku cuti, kita pergi jalan-jalan ya.” Bagaimana bisa aku membiarkan pikiran sesaatku merajalela dengan perkataan Rinaldy yang seperti ini? Aku benar-benar sudah hilang kendali. Kami kembali ke rumah, dia menyelimuti dan mencium keningku cukup lama. “Aku selalu ada disisimu. Remember that?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN