Nina POV
“Luhan? Itu kau bukan?”
Langkah lelaki dengan tubuh lebih tinggi darinya itu berhenti. Aku tidak salah, lelaki itu memang Luhan. Aku tidak mengira akan bertemu dengan lelaki itu di penerbit, dan membuatku berpikir, apa yang lelaki itu kerjakan. Aku juga baru ingat tidak bertanya apa yang kini Luhan geluti.
“Ahh…Nina? Kau ada disini juga?”
Jika aku tidak salah tebak, Luhan terlihat terkejut mendapatiku di penerbit. Apakah seharusnya aku tidak menyapa saja. Tapi aku tetap penasaran dan ingin bertanya, termasuk wanita cantik di sebelahnya. Senyum wanita itu mengingatkanku pada seseorang.
Dia sangat cantik. Aku tidak berbohong.
“Iya, hari ini mau bertemu dengan editorku.”
“Editor?”wanita di sebelah Luhan bertanya sopan. Aku beberapa kali melihatnya juga di penerbitan, tapi tidak menyapa karena tidak pernah ada urusan dengannya. “Anda penulis bukan?”
“Ahh…iya, pak Lucas, beliau editor saya.”
“Oalah, pak Lucas toh. Bapaknya masih ada rapat dengan para pimpinan redaksi lainnya. Beliau tadi memberi saya pesan jika melihat Anda. Oh ya, dengan ibu Nina bukan?”
“Iya benar dan kamu masih belum menjawab pertanyaanku, Luhan.”aku sengaja mengulang karena Luhan sejak tadi diam saja. Seperti berubah menjadi patung. “Kau sedang gugup di hadapan wanita cantik ini?” aku melihat Laras—nama wanita tadi—tersenyum malu-malu saat aku berbicara demikian.
“Anu…aku hanya ada urusan dengan Laras, Nina. Oh ya, aku baru tau jika kau sekarang menjadi penulis.”
“Ini satu-satunya pekerjaan yang bisa aku lakukan saat ini. Sebenarnya suamiku—Rinaldy, tidak setuju. Dia takut aku jadi kelelahan, tapi bagiku, menulis itu sungguh asyik.”
“Ohhh…”
Jawaban Luhan singkat. Dia mengemasi barang-barangnya.
“Kalau begitu, aku kembali ke kantor dulu. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.”
“Tunggu.”
Deg—aku tiba-tiba mematung melihat Laras menggandeng tangan Luhan. Lelaki itu juga tidak keberatan dan balas menatap Laras.
“Jangan lupa datang ke acara ulang tahunku nanti, Luhan. Aku mengundangmu khusus. Okey? Tidak perlu banyak alasan, aku sudah bertanya jadwalmu pada Bryan. Dia bilang kau tidak banyak klien seminggu ini, jadi kau harus datang ya. Aku memaksa.”
Ya Tuhan. Perasaan apa yang kini sedang hinggap di benakku? Ini tidak benar, sangat menyalahi yang seharusnya.
“Aku akan berusaha, Laras. Kadang aku mendapat panggilan mendadak dari kantor, jadi aku pamit dulu. Sampai jumpa lain waktu, Laras, Nina.”
“Ah…iya. Hati-hati, Luhan.”
Ruangan benar-benar terasa hening saat Luhan pergi. Ada apa sih? Kenapa mendadak aku merasa aneh.
“Bu Nina? Kenapa malah bengong, silahkan duduk bu.”
“Ah iya, tapi sebelumnya maaf, Luhan kerja dimana ya?”
“Luhan?” Laras diam sejenak, “dia seorang pengacara. Firma tempat dia bekerja tidak jauh dari penerbit ini. Dan kantor ini sudah lama sekali bermitra dengan firma itu, itu awal saya kenal dengan Luhan. Tapi kelihatan kalian sudah kenal lama?”
Nina tersenyum lembut dan mengangguk. “Kami kenalan lama.”
“Pantas saja.”
“Kenapa pantas?”
“Luhan biasanya tidak punya banyak kenalan, selain Bryan, hampir tidak pernah dia berbicara dengan lawan jenis. Dia dijuluki sebagai ice prince, jika jadi pemeran di novel, dia itu idaman semua wanita.”
Sangat jelas bahwa Laras tertarik. Tapi sifat Luhan memang tidak berubah banyak, aku masih bisa merasakan dirinya yang dulu, perhatiannya yang dalam walau kadang tidak dia tunjukkan. Luhan. Lelaki dan masa lalu kami yang indah.
***
Sudah menjelang siang, untungnya hari ini Abian dijemput oleh supit dan Nayara sedang di rumah neneknya. Sedangkan Rinaldy akan lembut lagi hari ini. Jadi aku bisa punya waktu sendiri. Seperti biasa, dengan semangkuk mie panas dengan topping potongan daging bebek di padu dengan dinginnya lemon tea menemani hariku.
Hatiku langsung terasa lebih baik. apalagi saat satu suapan memasuki mulutku. Rasanya tidak pernah berubah. Aku memejamkan mata sejenak, menikmati setiap hidangan di depanku.
Toko ini tepat sekali berada di pinggir trotoar jalan. Sangat ramai. Tapi karena ini sudah lewat jam makan siang, ada sedikit space untukku. Seperti biasa, pekerja disini sudah sangat mengenalku. Sebab hampir setiap hari jika senggang aku menyempatkan diri untuk datang. Posisi dudukku-pun sama. Di kiri paling pojok, dekat jendela. Jadi aku bisa melihat lalu lalang pejalan kaki dan mobil-mobil yang melaju kencang.
Biasanya aku lebih sering sendiri kemari. Juga untuk hari ini.
“Maaf, bisakah aku bergabung, nona?”
Suara itu. Mirip suara Luhan. Aku mendongak dan dugaanku tadi benar. Lelaki itu mengenakan kemeja biru laut dan dua kancing bagian paling atas dibiarkan dibuka. Terakhir kali, Luhan tingginya masih di bawahnya. Tapi sekarang, dia sangat gagah. Bisa aku tebak jika dia juga rajin olahraga. Ditambah lagi dengan senyumannya yang manis.
Deg . Aku menunduk sejenak. Ini tidak benar, aku tidak boleh memiliki rasa kagum pada lelaki lain. Sadar Nina, kau sudah bersuami.
“Aku ditolak ya?”Luhan kembali bersuara, kini ekspresi wajahnya terlihat kecewa.
“Bukan begitu. Silahkan bergabung saja. Aku tidak ada masalah.”
“Benarkah?”ekspresi wajah Luhan dalam hitungan detik langsung berubah. Dia tersenyum, menarik kursi di hadapanku dengan pelan lalu duduk. Pesanannya tidak lama kemudian datang.
“Hari ini Anda punya teman baru, ibu Nina?”
“Ahh…iya, kenalkan, dia Luhan. Teman lamaku.”
“Namanya ganteng, seperti orangnya.”
Aku hanya tersenyum menanggapi waitress yang baru saja menyajikan menu yang sama denganku? Kedua kali aku memastikan bahwa Luhan juga memesan semangkuk mie dengan topping daging bebek ditambah ice lemon tea.
“Wah…ternyata seleramu sangat enak. Aku sengaja memesan apa yang tadi kamu pesan, sebab aku tidak punya referensi di kedai mie ini.”Luhan tersenyum, “tadi aku melihatmu sedang memejamkan mata sambil makan dari luar, aku jadi teringat seharian ini belum makan. Dan ingin merasakan hal yang membuatnya senyum sebahagia itu.”
Dasar Luhan. Aku hanya bisa tersenyum.
“Ini menu terbaik di kedai mie ini, aku sangat suka.”
“Mungkin juga akan segera menjadi list favoritku.”
Luhan menggulung lengan kemejanya. Entah aku yang kebiasaan saja, aku malah membantunya. Tapi 5 detik kemudian, aku sadar dengan apa yang sudah aku perbuat. Apalagi dengan tatapan Luhan yang tertuju padaku.
“Maaf, aku refleks saja. Suamiku sering meminta hal kecil ini.”
“Hahaha, tidak apa-apa.”
Canggung sekali. Aku menarik nafas dalam. Kadang, bertemu dengan seseorang di masa lalu, bisa membuat kita senang. Tapi bisa juga menjungkir balikkan perasaan kita dalam waktu sesaat. Sama seperti yang aku rasakan saat ini. Semua yang aku rasanya terasa seperti masa lalu.
Kami berdua. Aku dan Luhan. Dimana dulu kami menjadi dua anak-anak yang berjanji untuk menghabiskan masa tua bersama. Namun, aku malah mengingkari janji itu. Perasaan bersalah jelas ada.
“Jika hanya menatapku saja, makananmu bisa dingin, Na.”
Terdengar seperti candaan. Tapi juga terdengar serius. Aku berdehem dan lanjut makan.
“Oh ya, aku sampai lupa, jadi kau adalah seorang pengacara ya? Laras tadi cerita sedikit tentangmu.”
“Tidak usah terlalu didengar, Na. Kadang Laras kalo ngomong itu suka melebih-lebihkan.”
“Kau hebat.”
Luhan berhenti mengunyah dan menatapku.
“Dulu kau juga bercita-cita menjadi pengacara dan sekarang kau bisa mendapatkannya. Sungguh hebat sekali.”
“Kau masih mengingatnya?”
“Ya, tentu saja. Bagaimana bisa aku melupakan masa-masa kita dulu itu?”
Luhan meletakkan garpu, menghapus jejak makanan dari bibirnya dan menghabiskan segelas lemon teanya. Aku juga melakukan hal yang sama, karena makananku kebetulan sudah habis. Rasanya Luhan ingin mengatakan sesuatu.
“Begitu ya? Masa-masa dulu itu.”
“Luhan, aku…”
“Lantas, apa kau masih ingat juga dengan janji kita dulu, Nina?”
Deg. Ya Tuhan, aku tidak siap dengan pertanyaan mendadak ini, walau aku yakin Luhan pasti akan menagihnya kapan saja.
“Luhan, aku minta maaf. Aku...”
“Tidak perlu minta maaf. Lagipula aku sadar diri, janji kita dulu hanyalah sebatas janji yang tidak ada artinya. Sudah lama sekali juga dan bisa saja kau tidak akan ingat janji itu jika aku tidak muncul dihadapanmu.”
Aku meremas tangan. Aku mohon, Luhan, jangan begitu.
“Pasti banyak hal yang sudah kamu alami. Lantas, bagaimana dengan keluargamu? Apa Rinaldy pernah menyakitimu?”
“Dia baik sekali.”
“Kelihatan juga.”
Diam lagi. Baik aku dan Luhan sama-sama tidak punya topik. Tapi ekspresi Luhan yang terlihat baik-baik saja membuatku terluka. Bisa jadi dia merasa sakit hati kan?
“Ini sudah gelap, Laras sudah menungguku, aku keluar duluan ya. Oh ya, karena ini acara reuni kita, aku sudah membayarnya tadi.”
“Tapi…”
“Aku pergi dulu.”
Sebelum Luhan pergi, dia mengacak rambutku pelan. Tubuhku sekarang benar-benar panas dingin. Apakah dia tidak tahu jika efek dari tindakannya itu sangat fatal? Aku meremas baju, menahan air mata yang hampir turun.
Luhan maaf. Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik.