Kesibukan Nina sama seperti hari-hari sebelumnya. Usai mengantarkan Abian ke sekolah, dia dan Nayara akan bermain, terkadang ke rumah sang nenek atau juga ke kantor Rinaldy. Seperti saat ini, Nina datang dengan bekal makan siang untuk Rinaldy.
Niatnya sih pengen buat surprise. Jadi Nina tidak memberikan kabar sama-sekali. Dia baru saja turun dari mobil, satpam yang masih mengenali Nina menyapanya hangat.
“Bu? Sudah lama sekali tidak datang ke kantor.”
“Bapak masih ingat saya ya.”
“Tentu saja.” Satpam itu tersenyum hangat, “mari bu, saya antarkan.”
“Tidak usah repot-repot, pak. Saya bisa sendiri, ayo Naya.”
Banyak mata yang jelas tertuju pada Nina. Sudah lama sekali dan sudah banyak perubahan di kantor. Tidak lagi seperti dulu saat dia masih sempat bekerja di sini. Pegawai dulu hanya beberapa yang tersisa dan karena sibuk juga, Nina tidak bermaksud untuk mengganggu mereka. jadilah dia terus menuju lift dan menekan lantai paling atas. Tempat dimana Rinaldy bekerja hari ini.
“Yeay, Naya ketemu papa.” Gadis umur 5 tahun itu tersenyum girang, sambil memegang tangan Nina erat. “Naya gak sabar ketemu papa.”
“Papa pasti senang, ada Naya sama ada bekal.”
Wajah Nina juga berseri-seri. Dia selalu bahagia jika sudah melihat sang suami. Tapi, langkah Nina berhenti di depan lift yang langsung memperlihatkan isi ruangan sang suami. Jantungnya berdebar tidak karuan, nafasnya terjeda selama beberapa menit. Dia tidak salah lihat kan?
Iya kan?
“Mama, kenapa berhenti?”
“Sayang…” Nina tersadar, dia berbalik sambil memegang bekal untuk suaminya. Dan setelah beberapa menit setelah dirinya tenang, dan setelah wanita di dalam ruangan Rinaldy keluar, barulah Nina melangkah mendekat.
Wanita yang duduk di depan ruangan Rinaldy. Jika tidak salah, dia adalah sekretaris baru sang suami. Tatapan wanita bernama Sarah itu seolah menilai. Nina tetap memasang senyuman walau hatinya sedang bergemuruh hebat. Dia melangkah mendekati wanita itu.
“Maaf, ibu cari siapa ya?” Sarah bertanya dengan nada datar, sambil menilai Nina dari atas ke bawah. Juga anak kecil yang terlihat takut saat melihatnya. Bodo amat, Sarah juga tidak suka anak kecil. Mereka sangat menyebalkan dan merepotkan.
“Saya, Nina. Mau ketemu sama Rinaldy.”
“Rinaldy? Maksud ibu, bapak Rinaldy?”Sarah terdiam sejenak, menilai siapa wanita aneh di hadapannya yang berani menyebutkan Rinaldy tanpa embel-embel. Satu kesimpulan, hubungan wanita itu dengan bosnya pasti dekat.
“Iya, oh iya, saya istrinya. Apa Pak Rinaldy sedang sibuk ya?”
Sial, Sarah membantin. Dia tidak tahu jika spek istri bosnya sangat rendah. Walau begitu, Sarah tidak meminta maaf dan tetap mempertahankan pandangan tidak sukanya pada Nina—saingannya.
“Kalo dari jadwal, bapak sibuk sih bu. Sebentar, saya masuk dulu.”
Selepas pintu ditutup, Nina terdiam sejenak. Tangannya mengelus dadanya agar lebih baik. Dia tidak boleh berpikir negatif. Apalagi melihat umur Sarah yang masih muda, dia juga masih anak baru. Bisa jadi Sarah baru tau jika Rinaldy sudah punya istri kan?
Pintu dibuka. Nina pikir itu Sarah, tapi suaminya. Senyumnya langsung terbit.
“Sayang? Kenapa gak bilang-bilang kalau mau datang.”
“Surprise papa, Naya bawain bekal buat papa.”
“Maaf ya, mas. Tadi Nina kepikiran aja buat surprise, mas sibuk ya?”
“Ehh…enggak kok. Ayok masuk saja.”
Sarah yang masih di dalam memutar bola matanya malas. Dia sangat tidak suka dengan pemandangan di hadapannya. Tapi walau begitu, Sarah tetap tersenyum. Apalagi di hadapan Rinaldy dia harus memberikan senyum terbaiknya.
Nina yang sudah masuk ke dalam ruangan menatap Sarah. Wanita itu tampak tidak berniat untuk keluar. Dan Rinaldy menyadari hal itu. Dia berdehem sejenak untuk mencairkan suasana.
“Oh ya Sarah, kamu masih baru dan saya belum memperkenalkan istri saya. Wanita cantik ini istri saya, lain kali, kalo datang tidak usah izin-izin ke kamu kecuali saya memang dalam keadaan tidak ingin diganggu atau rapat penting. Paham?”
“Iya…paham, pak.”
“Good. Kamu bisa keluar.”
Sarah mengangguk dan tersenyum lembut. Tidak seperti tadi. Nina juga ikut tersenyum. Mungkin dugaannya saja yang salah.
Rinaldy meletakkan Naya ke sofa. Mencium kening putrinya itu dengan senang. Sudah beberapa hari Rinaldy memang tidak merasakan makan siang istrinya. Tapi untuk kali ini, Rinaldy merasa bersalah. Tadi Sarah sudah memesan makan siang, dan mereka sudah memakannya.
“Mas, ini aku bukain ya. Buatan Naya juga loh ini, putri kamu ternyata suka memasak.”
“Sayang…” Rinaldy menghentikan gerakan Nina yang hendak membuka kotak bekal, “tadi kebetulan habis rapat aku sudah makan siang. Mungkin untuk nanti sore saja aku makan ya. tidak apa-apa kan sayang?” seru Rinaldy dengan nada tidak enak hati. “Aku menghargai usaha kamu dan putri kita, tapi perut aku bisa meledak jika harus makan hari ini.”
Tangan Nina berhenti. Rasanya sedikit aneh dan Nina tidak mengerti perasaan apa yang kini dia rasakan. Kesal? Sedikit. Namun Nina memilih untuk tersenyum dan mengangguk lalu mengelus rambut Naya yang terlihat kecewa. Walau masih kecil, putrinya itu sudah mengerti keadaan. Persis seperti saat Nina menemui Abian beberapa tahun lalu.
“Ya udah, mas. Tidak apa-apa kok. Oh ya, mas hari ini pulang ke rumah?”
“Iya sayang.” Rinaldy memeluk Nina dan mencium kening sang istri. Dia juga merasa tidak enak hati. “Lain kali, kirim pesan aja sayang kalo mau datang. Biar aku gak usah makan di luar. Maaf ya.”
“Iya, papa. Gak usah gitu, lain kali Naya bakal bilangin bunda.”
“Nah, ini baru putrinya papa.”
Berjam-jam mereka habiskan di ruangan Rinaldy. Dan itu membuat Sarah yang mendengarnya dari luar terasa panas. Dia menekan pulpennya saat menulis saling kesalnya. Dia tahu perasaannya salah pada lelaki yang sudah memiliki istri dan anak. Tapi salahkan dia? Sejak pertama kali melakukan wawancara dengan jabatan sekretaris, Sarah langsung jatuh cinta pada Rinaldy. Lelaki dingin tapi kalau kita effort, pasti dia akan luluh juga.
Seperti kejadian beberapa menit sebelum Nina datang dan menghancurkan perasaan senangnya.
“Pak, ini dokumen untuk minggu ini. Dan ini juga butuh tanda-tangan bapak.” Sarah sengaja merendahkan punggungnya saat meletakkan dokumen itu. Tatapannya tertuju pada Rinaldy yang terlihat stress dan bersandar di kursi.
“Iya, makasih, Sarah. Kamu bisa keluar.”
“Bapak capek ya?” Sarah tidak mau menyerah. Dia menatap Rinaldy yang sudah membuka kedua bola matanya dan sesuai keinginannya. Rinaldy terkejut saat melihat belahan dadanya yang jelas sekali berisi dan padat. Siap untuk disentuh olehnya. Sarah tidak berbohong. Dia rela melakukan apapun untuk menarik perhatian atasannya yang sangat menggoda iman itu.“Mau Sarah pijat, pak?”
Belum sempat menolak, tangan Sarah sudah lebih dulu menekan bahunya. Rinaldy diam, tubuhnya sedikit kaku, otaknya sedikit tidak bisa mencerna. Tapi pijatan Sarah memang luar biasa enak. Dia menikmatinya sambil memejamkan mata.
“Kalau butuh dipijat, bilang ke Sarah saja pak. Kasihan bapak udah hampir seminggu lembur terus.”
“Saya memang lelah.” Rinaldy membuka kedua mata dan menatap langit-langit ruangannya. Semenjak perusahaanya melebarkan sayap, urusannya pun semakin padat. Tapi buru-buru Rinaldy berdiri, dia tidak boleh terhanyut dalam sesuatu yang salah. dia memang butuh dipijat, tapi tidak dengan Sarah juga. Rinaldy tidak ingin menimbulkan tindakan yang nanti akan dia sesali.
“Kenapa, pak? Pijatan Sarah tidak enak ya?” Sarah menatap Rinaldy kecewa.
“Tidak, pijatan kamu enak kok. Tapi tolong, tidak usah melakukan hal itu kepada saya. Saya sudah punya istri dan anak, Sarah. Nanti orang yang melihatnya berpikir saya selingkuh, itu adalah kesalahan yang fatal. Dosa.”
Sarah tersenyum. Dia tidak mau menyerah semudah itu. Kakinya melangkah maju, menepis jarak diantara mereka. Tangan Sarah naik dan mengendurkan dasi Rinaldy, dia merasakan tubuh lelaki itu yang tegang. Membuat Sarah semakin tertarik.
“Maaf kalau Sarah lancang pak. Tapi Sarah tidak tega dengan keadaan bapak yang memprihatinkan. Saya cuman mau ngelonggarin dasinya bapak.”
Rinaldy menggigit bibirnya. Pikirannya terlalu kemana-mana.
“Kamu ngerjain saya?”
Sarah terkekeh ringan. “Memang bapak berharap apa?”
“Tidak…tidak ada. Sekarang keluar dari ruangan saya.”
Sarah terkekeh lagi dan keluar.
Dan kini, mengingat moment Rinaldy bisa gugup karena tingkah nakalnya semakin membuat Sarah merasa bersemangat. Ternyata bosnya tidak semenangkutkan apa yang diceritakan oleh mantan sekretarisnya dulu. Jika kompeten, maka tidak akan mungkin dipecat. Sejauh ini, Sarah langsung bisa beradaptasi dan bisa membaca seperti apa keinginan bosnya itu.
Pintu terbuka dan dua manusia itu akhirnya keluar. Sarah berdiri dan tersenyum pada Nina. Dia harus menjaga sikap juga.
“Sudah mau pulang ibu Nina?”
“Iya, sudah.”
“Bu, maaf ya, tadi sikap saya sedikit tidak bersahabat.”
Nina tersenyum hangat. “Iya, tidak apa-apa. Saya paham kok, kamu mungkin sering dimarahi suami saya ya? Kamu harus sabar, itu satu-satunya kunci agar tetap bisa bertahan di sini.”
“Iya bu Nina, terima kasih atas masukannya.”
“Saya dan Naya pamit dulu ya.”
“Baik ibu, hati-hati di jalan.”
Senyum Sarah berubah begitu Nina dan anak kecil itu hilang di balik lift. Pintu ruangan Rinaldy juga sudah ditutup. Bosnya itu pasti akan lembut lagi, seperti malam-malam sebelumnya. Apalagi sebentar lagi akan ada audit eksternal. Dan Sarah juga harus bersiap untuk lembur.