2. Kita Saling Kenal? (+)

1252 Kata
Dalam keadaan fokus sambil mengerjakan tulisannya, Nina mendadak berhenti dan menatap ke arah tempat tidur dimana putra putrinya sudah tertidur pulas. Setelah menikah, Nina berhenti bekerja di kantor, tapi tetap saja ingin melakukan sesuatu hal. Nina memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Cita-cita yang dulu pernah dia inginkan, walau tidak kecapaian karena prospek kerjanya tidak tentu. Keadaan Nina yang membutuhkan duit kala itu mengubur bakatnya. Tapi ada satu hal yang membebani pikirannya. Luhan. Lelaki yang seminggu lalu dia temui di toko ice cream. Mereka bertemu lagi sore ini di taman saat Nina membawa Abian dan Naya untuk mencari udara segar. Tidak mungkin kah? Rasanya benar-benar tidak masuk akal. “Ma, nanti Abi mau ice cream lagi, boleh?” Abian berbisik pelan sambil menatapnya manja. Nina mana mungkin bisa menolak permintaan sang buah hati? “Naya juga mau mama cantik, bisa kan?” Putrinya ikut-ikutan, semakin membuat Nina tidak bisa menolak. Pada akhirnya dia membawa mereka berdua ke gerai ice cream dan membeli masing-masing satu. Melihat bagaimana Abian memperlakukan Nayara kadang membuat Nina suka senyum sendiri. Dia membiarkan Abian dan Nayara berlarian di sekitar taman usai makan ice cream. Nina merasakan hidup yang lebih bermakna. Ternyata kehadiran buah hatinya adalah obat penguatnya. Memang tidak bisa langsung sembuh dari penyakit dan masa lalunya. Namun. Setidaknya Nina punya sesuatu yang untuk bertahan. Senyuman Nina terbit melihat Nayara yang kalah dan kini mereka berdua sedang berebut kembali padanya. “Permisi.” Suara rendah dan sedikit serak itu membuat Nina mengalihkan perhatian. Dan lelaki itu? Ingatan Nina tidak salah, lelaki dengan pakaian casual yang berdiri di sampingnya saat ini adalah sosok yang tidak sengaja dia temui di gerai seminggu lalu. Nina pikir lelaki itu salah orang lagi, tapi hanya dia yang berada di sana. “Iya? Ada yang bisa saya bantu?” Nina hendak berdiri. “Tidak usah berdiri, Nina.” Luhan yang pada akhirnya berjongkok. “Eh? Ada apa, mas? Butuh sesuatu?” “Jangan dekat-dekat mama Abi, gak boleh.” Abian yang menyadari ada sinyal bahaya lekas merentangkan tangannya di hadapan Luhan. Membuat lelaki itu tersenyum hangat menyaksikan bagaimana putra Nina sudah terlihat dewasa dan mengerti situasi. “Om yang juga di gerai ice cream. Om ini siapa, kenapa ngikutin kami terus sih?” “Sayang, sini duduk. Gak boleh gitu sama orang.” Nina menarik Abian agar duduk di sebelahnya. Feeling Nina berkata bahwa lelaki itu bukan orang jahat, juga tidak asing. “Putra putrimu lucu, Nina. Oh ya, maaf sudah membuat kalian merasa terganggu. Saya Luhan, kau masih tidak ingat?” Kening Nina berkerut. Dia masih tidak mendapat clue siapa lelaki di hadapannya ini. “Ah, mungkin nama itu tidak familiar denganmu. Saya Luhan Zayn Akbar. Dulu sering dipanggil Akbar ketika di panti asuhan.” Deg—jantung Nina terasa terkena berjuta goncangan. Dia terdiam membisu, tidak sanggup mengatakan apapun. Jelas sekali Nina ingat siapa Akbar. Sosok yang menjadi masa lalu, juga salah satu orang yang pernah singgah di hatinya. “Karena tuntutan pekerjaan dan zaman, sekarang saya sering dipanggil Luhan. Apa kau ingat? Dulu, kau juga sering memanggilku begitu kan? Walau jadi bahan ejekan Harry dan teman-teman yang lain. Mereka pikir panggilan itu istimewa darimu.” Mata Nina dalam sekejap berubah menjadi berkaca-kaca. Tentu. Tentu dia ingat siapa Akbar atau Luhan, panti asuhan, dan semua tentang lelaki itu. “Nina? Kenapa menangis?” “Mama kenapa menangis? Om sih, kenapa sih ngomong aneh-aneh sama mama saya.” Nayara dengan tubuh kecilnya mendorong tubuh Luhan, hingga lelaki itu terjatuh ke tanah dengan posisi duduk. “Tidak…ahh…maaf sayang. Jangan begitu sama paman Luhan. Hey…” Nina menghapus bulir air matanya sambil tersenyum, bodoh sekali dia sama-sekali tidak mengingat sosok itu. “Hey, apa kabar?” “Baik…baik sekali. Kabarmu bagaimana?” hening sejenak, “ahh…tentu saja kau bahagia bukan? Kau sudah memiliki dua buah hati, mereka mirip denganmu. Apalagi gadis kecil dan cantik ini.” Luhan memainkan rambut Nayara yang masih diam saja. “Mirip sekali.” “Luhan.” “Hey, ini sebuah kesempatan yang luar biasa bagiku. Sudah lama sekali bukan?” Nina dengan gerakan kaku mengangguk. Lama sekali malah mereka tidak pernah lagi bertemu setelah Luhan dulu memilih keluar dari panti untuk bersekolah. “Sayang?” Nina tersentak. Dia menoleh dan bertepatan sekali dengan wajah Rinaldy yang ada di sampingnya. Sejak kapan Nina melamun? “Mas? Sudah pulang ya, maaf, tadi aku sedang…” “Hey…” Rinaldy mencium kening Nina lama, “maaf ya, aku tidak sempat ikut menjaga anak-anak dan selalu pulang larut. Kamu pasti lelah ya.” Nina membalas ciuman itu dengan lembut. Akhir-akhir ini pekerjaan Rinaldy memang sangat menumpuk, lebih lagi dengan tugas luar kota yang membuat suaminya itu jarang di rumah. “Aku kangen mas.” “Aku juga.” *** Makan mie sambil menghabiskan waktu untuk bicara di malam hari memang jalan terbaik bagi pasangan suami istri yang tidak sempat menghabiskan waktu bersama. Nina baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan mulai mengeringkan rambut sebelum sebuah tangan mengambil hair dryernya. Nina dengan tenang menikmati sentuhan lembut itu. “Anak-anak sudah tidur.” Rindly mulai menyentuh tulang bahu Nina yang sengaja dibiarkan terekspos, “aku pengen, sayang.” Belum juga Nina sempat menjawab. Tubuhnya sudah digendong dan diletakkan pelan ke ranjang. Nina menggigit bibir bawah, dia juga merindukan sentuhan Rinaldy akan tubuhnya. “Aku juga kangen, mas.” Nina menaikkan pinggulnya merasakan sentuhan hangat Rinaldy di daerah gunung kembarnya. Ciuman lelaki itu mulai menuruni leher hingga ke arah dadanya. Rinaldy berhenti sejenak, menikmati Nina yang mendesah karena ulahnya. Dia juga meninggalkan jejak kepemilikan di leher wanitanya itu. Melihat gunung kembar Nina yang menantang, membuat pikiran Rinaldy semakin kacau. Matanya sudah dipenuhi oleh kabut gairah. “Mas…ahhh…iya, di sana.” Satu desahan keluar dari mulut Nina. Dia mendorong kepala Rinaldy untuk bermain lebih dalam di gunung kembarnya. Tidak lupa satu tangan lelaki itu yang sudah mengelus paha dalamnya. Membuat tubuhnya merinding. Tubuh polos mereka saling bersentuhan di atas ranjang. Rinaldy bangkit dan mengambil pengaman. Membiarkan miliknya yang sudah tegang dilihat oleh sang pemilik. Rinaldy kembali menindih tubuh Nina, mengelus bagian bawah Nina yang sudah basah. Membuatnya tersenyum miring. “Kamu sudah basah sayang.” “Ah…mas…jangan diliatin mulu.” “Siap, kapten,” Rinaldy mulai memasukkan miliknya perlahan. Desahan Nina lepas, membuatnya bangga. Dia selalu dibuat tidak berdaya jika sudah berada di atas ranjang dengan sang istri. Suara-suara kenikmatan terdengar di kamar. Rinaldy baru berhenti setelah mencapai puncak kenikmatan. Dia menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka berdua. Dia juga lelah setelah menghabiskan seharian di kantor. Tapi rasa lelahnya akan terbayar jika sudah bertemu dengan sang istri. Cup Rinaldy yang hampir terlelap mendadak terbangun merasakan ciuman di daerah dagunya. Dia menatap Nina yang sudah berada di atasnya. “Sayang?” “Aku masih pengen, mas.” “Kamu gak capek?” “Capek, tapi masih pengen.” Rinaldy memperbaiki posisi. Dia melebarkan kedua kakinya dan membiarkan Nina memimpin di atas. Kali ini gilirannya yang mendesah. Tangan lembut itu bermain di atasnya, membuat nafas Rinaldy tersenggal-senggal. Dia menekan panggul Nina agar menekan miliknya yang sudah kembali menegang. Tangannya tidak bisa menganggur melihat gunung kembar Nina yang menari-nari di depannya. “Mas aku masuk.” “Aku bantu sayang.” Rinaldy membantu Nina menggoyangkan pinggulnya, miliknya dihimpit sempurna membuat Rinaldy menjatuhkan tubuhnya ke ranjang sambil mendesah. Membiarkan permainan itu dipimpin oleh Nina—Women on top. Keduanya kembali keluar bersamaan. Nina tersenyum, dia mencium leher Rinaldy, meninggalkan bekas kepemilikan di sana baru memisahkan milik mereka. Dia memeluk sang suami. “Kamu hebat sayang.” Bisik Rinaldy, sambil memeluk tubuh Nina erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN