bc

Terjebak Cinta CEO Dingin

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
family
HE
arranged marriage
drama
city
lies
like
intro-logo
Uraian

Menjadi istri CEO paling dingin di kota bukanlah impian Nadira.

Itu adalah hukuman.

Arsen Mahendra, pria yang selalu tampil sempurna dengan jas mahal dan tatapan tajamnya, menawarkan satu perjanjian: Menikah selama satu tahun. Setelah itu, mereka bebas.

Namun siapa sangka, pria yang katanya tak punya hati itu mulai cemburu, posesif, bahkan tak rela melihat Nadira disentuh pria lain.

Masalahnya satu…

Bagaimana jika pernikahan kontrak ini justru membuat Nadira jatuh cinta sungguhan?

Dan bagaimana jika Arsen menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Utang dan Takdir yang Memaksa** Hujan turun deras malam itu. Nadira berdiri di depan rumah kontrakan kecilnya dengan tangan gemetar. Air hujan membasahi rambut panjangnya, menempel di pipi yang sudah lebih dulu basah oleh air mata. “Ayah sudah tidak punya waktu lagi, Nadira!” bentak pria bertubuh besar di hadapannya. “Besok uang itu harus lunas!” Dua pria berpakaian hitam berdiri di belakang lelaki itu, menatapnya tanpa belas kasihan. Lampu jalan yang redup membuat suasana terasa semakin mencekam. “Aku… aku akan berusaha. Tolong beri kami waktu seminggu lagi,” suara Nadira bergetar. “Seminggu?” pria itu tertawa sinis. “Utang ayahmu satu miliar rupiah. Kamu pikir bisa lunas dengan wajah memelas seperti itu?” Satu miliar. Angka itu terasa seperti hukuman mati bagi keluarga sederhana seperti mereka. Ayahnya terjerat bisnis bodong. Awalnya hanya investasi kecil, tapi berakhir dengan pinjaman berbunga tinggi. Dan kini, semuanya runtuh. Ibunya sudah lama meninggal. Nadira satu-satunya yang tersisa untuk menanggung beban ini. “Kami sudah sabar,” lanjut pria itu dingin. “Kalau besok tidak ada uang, rumah ini kami sita. Dan ayahmu…” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Tapi ancamannya jelas. Nadira mengepalkan tangan. “Aku akan cari cara.” Pria itu menatapnya dari atas ke bawah. “Ada satu cara.” Tatapan itu membuat bulu kuduk Nadira berdiri. “Kau cantik. Banyak pria kaya yang mau membayar mahal untuk seorang wanita seperti kamu.” Tamparan keras mendarat di pipi lelaki itu sebelum Nadira sadar apa yang ia lakukan. Suasana mendadak hening. Mata lelaki itu berubah gelap. “Berani sekali kamu.” Salah satu pria di belakangnya maju, tapi sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari balik hujan. “Berhenti.” Semua kepala menoleh. Sebuah mobil hitam mewah berhenti di tepi jalan. Pintu belakangnya terbuka perlahan. Seorang pria keluar. Tinggi. Tegap. Jas hitamnya terlihat mahal meski terkena percikan hujan. Wajahnya tegas dengan rahang tajam. Tatapannya dingin, seperti tidak mengenal rasa takut. Nadira belum pernah melihat pria seperti itu sebelumnya. Pria itu melangkah mendekat tanpa tergesa. Seolah situasi mencekam di depannya hanyalah gangguan kecil. “Apa urusanmu?” bentak penagih utang. Pria itu mengabaikannya. Matanya justru tertuju pada Nadira. Hanya satu detik. Tapi entah kenapa jantung Nadira berdegup lebih cepat. “Aku akan melunasi utangnya.” Kalimat itu jatuh begitu saja, datar tanpa emosi. Semua terdiam. “Ha?” pria penagih itu menyeringai. “Satu miliar. Tunai.” Pria berjas itu memberi isyarat kecil. Seseorang dari mobil menyerahkan sebuah koper hitam. Ia membukanya. Uang. Tersusun rapi. Hujan masih turun, tapi dunia Nadira terasa berhenti. Penagih utang itu memeriksa sekilas, lalu tertawa puas. “Baiklah. Utang lunas.” Mereka pergi secepat kedatangan mereka. Kini hanya tersisa Nadira dan pria asing itu. “Siapa… Anda?” tanya Nadira pelan. Pria itu menutup koper kosong dan menyerahkannya pada asistennya. “Arsen Mahendra.” Nama itu terdengar asing, tapi caranya berdiri, caranya menatap—jelas bukan orang biasa. “Aku tidak mengenal Anda. Kenapa membantu saya?” Arsen menatapnya lurus. “Aku tidak membantu secara gratis.” Jantung Nadira kembali berdegup tidak nyaman. “Apa maksudnya?” “Aku butuh seorang istri.” Dunia Nadira kembali terasa goyah. “Istri?” suaranya hampir tak terdengar. “Pernikahan kontrak. Satu tahun.” Hujan seakan menjadi saksi tawaran yang tak masuk akal itu. “A-Anda bercanda…” “Aku tidak pernah bercanda.” Arsen mendekat satu langkah. Wajahnya kini lebih jelas. Tampan. Terlalu sempurna untuk berdiri di depan rumah reyot seperti ini. “Aku membutuhkan seorang istri untuk memenuhi syarat warisan perusahaan.” Perusahaan? Nadira menatapnya bingung. “Aku CEO Mahendra Group.” Mahendra Group. Nama itu seperti petir di kepalanya. Bahkan orang biasa seperti dia tahu perusahaan raksasa itu. Properti, hotel, investasi—semuanya milik mereka. Dan pria ini… CEO-nya? “Kau tidak perlu mencintaiku,” lanjut Arsen. “Kau hanya perlu memainkan peran sebagai istri yang baik di depan publik.” “Kenapa saya?” tanya Nadira. “Karena kau tidak mengenalku. Dan kau sedang butuh uang.” Jawaban yang kejam. Tapi jujur. Nadira menggigit bibir. “Setelah satu tahun?” tanyanya lirih. “Kita bercerai. Kau bebas. Aku akan memberimu kompensasi tambahan.” Semudah itu ia mengatakan kata cerai. Seolah pernikahan hanyalah transaksi bisnis. Nadira menatap rumahnya. Dinding lembab. Atap bocor. Di dalam sana, ayahnya terbaring lemah karena stres dan tekanan. Satu miliar sudah lunas. Tapi tanpa uang, mereka tetap tidak akan bertahan lama. Ini kesempatan. Atau jebakan. “Apa syaratnya?” akhirnya ia bertanya. Arsen tampak puas. “Tinggal bersamaku. Menghadiri acara resmi. Tidak ada hubungan pribadi.” Hubungan pribadi. Entah kenapa, kalimat itu terasa aneh. “Dan jangan pernah jatuh cinta padaku.” Tatapan pria itu dingin. Tegas. Seakan itu aturan paling penting. Nadira hampir tertawa. Jatuh cinta? Dengan pria yang baru dikenalnya sepuluh menit lalu? “Itu tidak akan terjadi,” jawabnya pelan. Untuk pertama kalinya, sudut bibir Arsen bergerak tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti senyum penuh perhitungan. “Kita akan menikah minggu depan.” “Apa? Cepat sekali?” “Aku tidak suka menunda.” Hujan mulai reda. Tapi badai di hidup Nadira baru saja dimulai. Arsen melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Nadira tanpa meminta izin. “Masuk. Kau akan sakit kalau terus di sini.” Perintah, bukan perhatian. Namun jas itu hangat. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya malam itu, Nadira merasa aman. Padahal mungkin ia baru saja menyerahkan hidupnya pada pria paling berbahaya yang pernah ditemuinya. Arsen berbalik menuju mobilnya. Sebelum masuk, ia menoleh sedikit. “Mulai sekarang, kau milikku… di atas kertas.” Jantung Nadira kembali bergetar. Di atas kertas. Tapi bagaimana kalau hatinya ikut terlibat? Nadira tidak tahu. Yang ia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah malam hujan ini. Dan ia belum sadar… Bahwa menikahi CEO dingin seperti Arsen Mahendra bukan hanya soal kontrak. Tapi tentang rahasia, kekuasaan, dan perasaan yang perlahan akan menghancurkan pertahanan mereka berdua.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
202.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.9K
bc

Kali kedua

read
222.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
16.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook