Alasan di Balik Pilihan**
Seminggu sebelum malam hujan itu…
Arsen Mahendra tidak pernah percaya pada kebetulan.
Sebagai CEO termuda di Mahendra Group, hidupnya dipenuhi angka, strategi, dan keputusan tanpa emosi. Termasuk soal pernikahan.
Kakeknya, pendiri perusahaan, meninggalkan satu syarat dalam surat wasiat:
Arsen harus menikah sebelum ulang tahunnya yang ke-30 jika ingin mengambil alih seluruh saham mayoritas.
Dan ulang tahunnya tinggal satu bulan lagi.
“Aku tidak akan menikah dengan wanita pilihan keluarga,” ucap Arsen dingin di ruang rapat pribadi.
Di hadapannya, tangan kanannya, Rangga, berdiri dengan tablet di tangan.
“Keluarga besar sudah menyiapkan beberapa kandidat,” ujar Rangga hati-hati.
“Aku butuh istri, bukan boneka keluarga.”
Arsen menginginkan seseorang yang tidak terlibat dunia sosialita. Tidak punya kepentingan terhadap hartanya. Dan yang paling penting—mudah diajak kerja sama.
Ia hanya butuh pernikahan kontrak. Formalitas. Setahun cukup untuk mengamankan posisi.
“Cari seseorang yang butuh uang,” ucapnya akhirnya. “Seseorang yang tidak akan menuntut lebih.”
Dan Rangga melakukannya.
Nama Nadira muncul dari laporan kecil yang hampir tak berarti.
Ayahnya terjerat pinjaman dari perusahaan investasi ilegal yang sedang dalam penyelidikan Mahendra Group. Arsen sedang membersihkan anak perusahaan yang bermasalah, dan nama keluarga Nadira masuk dalam daftar korban.
Awalnya, itu hanya data.
Seorang gadis 23 tahun. Lulusan manajemen. Bekerja paruh waktu di kafe kecil. Menjadi tulang punggung keluarga setelah ibunya meninggal.
“Utang satu miliar rupiah. Tenggat tujuh hari,” lapor Rangga.
Arsen menatap foto Nadira di layar.
Wajah sederhana. Tatapan mata yang tidak terlihat lemah meski jelas hidupnya berat.
“Apa dia tahu soal perusahaan kita?” tanya Arsen.
“Tidak, Tuan. Mereka hanya korban dari pihak ketiga.”
Arsen bersandar di kursinya.
Seorang wanita yang sedang terdesak. Tidak punya koneksi dengan dunianya. Tidak mengenalnya.
Itu sempurna.
Tapi bukan hanya itu.
Beberapa hari kemudian, tanpa sengaja, Arsen melihat Nadira secara langsung.
Ia sedang mengunjungi salah satu kafe cabang yang ternyata tempat Nadira bekerja. Gadis itu tidak tahu siapa dirinya. Ia hanya melihat Nadira dimarahi pelanggan dengan tetap menahan air mata, namun tidak membalas kasar.
Ada harga diri di sana.
Bukan wanita manja. Bukan pemburu harta.
Saat itu Arsen tahu.
Kalau ia menawarkan kontrak, Nadira akan menerimanya bukan karena serakah—melainkan karena terdesak.
Dan wanita seperti itu lebih mudah dipercaya.
Malam hujan itu bukan kebetulan.
Rangga sudah melacak jadwal penagihan. Arsen datang tepat waktu.
Ia tidak menyelamatkan Nadira karena iba.
Ia datang karena sudah memilihnya.
Kembali ke masa kini.
Gaun putih sederhana membalut tubuh Nadira.
Semua terasa seperti mimpi yang bergerak terlalu cepat.
Pernikahan itu digelar tertutup. Hanya keluarga inti dan beberapa petinggi perusahaan. Media tidak diundang, tapi tetap saja kabar itu akan tersebar.
Nadira berdiri di depan cermin ruang rias hotel bintang lima. Tangannya dingin.
Seminggu lalu ia hampir kehilangan rumah.
Hari ini ia akan menjadi istri seorang CEO.
“Kenapa aku merasa ini gila…” bisiknya pada bayangan sendiri.
Pintu terbuka.
Arsen masuk dengan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat semakin tak terjangkau.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap melalui pantulan cermin.
“Kau siap?” tanyanya singkat.
Nadira mengangguk pelan. “Aku masih tidak mengerti… kenapa saya?”
Arsen mendekat.
“Karena kau tidak mencintaiku.”
Jawaban itu membuat d**a Nadira terasa aneh.
“Dan karena kau butuh uang,” lanjutnya tanpa emosi.
“Jadi saya hanya solusi praktis?”
“Ya.”
Kejujuran yang menyakitkan.
Tapi ini kesepakatan sejak awal.
Arsen mengulurkan tangan. “Waktunya.”
Ruang pernikahan dipenuhi bunga putih dan cahaya lampu kristal.
Saat musik mulai mengalun, Nadira melangkah perlahan menuju altar.
Setiap langkah terasa berat.
Ia mencoba tidak melihat para tamu yang berbisik-bisik. Mereka pasti bertanya-tanya siapa gadis biasa ini yang berhasil menikahi Arsen Mahendra.
Di ujung sana, Arsen berdiri tegap.
Tatapannya lurus ke depan. Wajahnya tanpa ekspresi.
Pria itu tidak terlihat gugup. Tidak terlihat bahagia.
Seolah ini hanya rapat bisnis berikutnya.
Ketika Nadira tiba di sisinya, untuk sesaat jari mereka bersentuhan.
Hangat.
Dan anehnya, sentuhan itu membuat jantung Nadira kembali berdebar.
Prosesi berlangsung cepat.
Janji diucapkan.
Tanda tangan dilakukan.
Dan dengan satu kalimat resmi dari penghulu, status mereka berubah.
Sah.
Istri CEO.
Arsen menoleh padanya.
“Selamat, Ny. Mahendra.”
Nada suaranya tenang. Namun tatapannya sulit dibaca.
Nadira menelan ludah. “Selamat juga… suamiku.”
Kata itu terasa asing di lidahnya.
Tepuk tangan terdengar.
Lampu kamera berkilat.
Untuk pertama kalinya, Arsen merangkul pinggang Nadira di depan umum.
Dekat.
Terlalu dekat.
“Mulai sekarang,” bisiknya pelan tanpa menggerakkan bibir, “ingat satu hal.”
“Apa?”
“Kau harus selalu berada di sisiku. Apa pun yang terjadi.”
Nada itu bukan romantis.
Itu peringatan.
Malam resepsi berjalan formal. Nadira dipaksa tersenyum pada orang-orang yang tidak ia kenal. Semua memanggilnya “Nyonya”.
Ia merasa seperti sedang memainkan peran dalam film mahal.
Ketika akhirnya mereka masuk ke mobil menuju penthouse Arsen, keheningan memenuhi ruang di antara mereka.
Nadira menatap cincin di jarinya.
Satu miliar rupiah telah menyelamatkan ayahnya. Rumah mereka tidak jadi disita. Semua masalah finansial selesai.
Tapi harga yang ia bayar…
Apakah terlalu mahal?
“Berhenti terlihat seperti korban,” suara Arsen memecah pikirannya.
“Apa?”
“Kau membuat orang akan menganggapku memaksamu.”
“Saya memang terpaksa.”
Arsen menoleh perlahan.
“Tidak. Kau punya pilihan.”
“Pilihan apa?”
“Menolak.”
Nadira terdiam.
Ia memang bisa menolak. Tapi konsekuensinya?
“Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin,” lanjut Arsen tiba-tiba.
Kalimat itu membuat Nadira menoleh cepat.
“Pernikahan ini kontrak. Aku bukan pria yang mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan.”
Nada itu dingin. Terukur.
Seolah perasaan hanyalah gangguan.
Mobil berhenti di depan gedung tinggi dengan pemandangan kota malam yang berkilauan.
Inilah dunia Arsen.
Dan kini, juga dunianya.
Saat pintu penthouse terbuka, Nadira menyadari satu hal:
Ia mungkin telah menikahi pria paling berkuasa di kota ini.
Tapi pria itu menyimpan sesuatu di balik tatapan dinginnya.
Dan entah kenapa, jauh di dalam hati kecilnya, Nadira merasa—
Arsen tidak memilihnya hanya karena uang.
Ada alasan lain.
Dan ia baru saja melangkah masuk ke dalam permainan yang belum ia pahami.