Batas yang Hancur**
Pintu penthouse tertutup pelan di belakang mereka.
Keheningan langsung terasa berbeda.
Tidak ada tamu. Tidak ada kamera. Tidak ada sandiwara.
Hanya Nadira dan Arsen.
Arsen melonggarkan dasinya tanpa bicara. Wajahnya kembali datar, seolah resepsi tadi hanyalah formalitas.
“Kau bisa istirahat,” katanya singkat.
Nada itu terdengar biasa.
Tapi bagi Nadira, malam ini terasa tidak biasa.
Ia naik ke kamar utama dengan langkah pelan. Jantungnya belum stabil sejak akad tadi. Kata “istri” masih terasa asing.
Begitu masuk kamar mandi, ia berdiri di bawah pancuran cukup lama. Air hangat mengalir di kulitnya, mencoba menenangkan pikiran yang berantakan.
Mereka punya kontrak.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada hubungan pribadi.
Tapi tetap saja… malam ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri.
Ketika ia membuka lemari, matanya tertuju pada gaun tidur tipis berwarna putih lembut. Bahannya jatuh ringan, membalut tubuh tanpa banyak lapisan.
Tangannya ragu.
Lalu ia tetap mengenakannya.
Bukan untuk menggoda.
Bukan untuk melanggar aturan.
Entah kenapa… ia hanya ingin terlihat cantik.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah, jatuh di bahunya. Kulitnya tampak lebih cerah di bawah cahaya lampu redup.
Arsen berdiri di dekat jendela.
Dan saat ia menoleh—
Waktu seperti berhenti.
Tatapan Arsen tidak langsung berpaling.
Untuk pertama kalinya, Nadira melihat sesuatu yang berbeda di mata pria itu.
Bukan dingin.
Bukan acuh.
Tapi tertahan.
Napas Arsen berubah sedikit lebih berat.
“Kau…” suaranya rendah. “Kenapa memakai itu?”
Nadira menggenggam ujung gaunnya, mencoba terlihat tenang. “Ini kamar saya juga.”
Hening.
Arsen berjalan mendekat satu langkah.
Hanya satu langkah… tapi udara di antara mereka terasa berubah.
“Kita punya aturan,” katanya pelan.
“Dan tadi kita sah sebagai suami istri.”
Jawaban itu membuat rahang Arsen mengeras.
Ia terbiasa mengendalikan segalanya—rapat, bisnis, emosi. Wanita-wanita yang mendekat padanya tak pernah membuatnya goyah.
Tapi malam ini, wanita yang berdiri di hadapannya bukan mencoba merayunya.
Ia hanya berdiri di sana.
Dan itu sudah cukup membuat pertahanannya retak.
Arsen mengangkat tangannya, hampir menyentuh pipi Nadira… lalu berhenti di udara.
Jarak mereka kini begitu dekat hingga Nadira bisa merasakan hangat napasnya.
“Nadira…” suaranya berubah serak.
Degup jantung Nadira semakin tidak terkendali.
Ia tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.
Yang ia tahu, detik berikutnya tangan Arsen sudah melingkar di pinggangnya.
Sentuhan itu membuat tubuhnya merespons spontan. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram kemeja pria itu.
“Ini salah,” gumam Arsen, tapi suaranya terdengar seperti ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Nadira menggeleng pelan.
“Kalau ini salah… kenapa terasa begitu nyata?”
Kalimat itu seperti pemicu.
Ciuman pertama mereka malam itu bukan lembut.
Itu penuh tekanan yang tertahan sejak pertama kali mereka bertemu.
Arsen mencium Nadira seolah ia berusaha mengendalikan, tapi juga kehilangan kendali dalam waktu bersamaan.
Napas Nadira terlepas dalam hembusan yang tidak bisa ia tahan. Dadanya naik turun cepat ketika ia merasakan sentuhan yang semakin dalam.
Semua aturan dalam kontrak seperti kabur.
Tangan Arsen yang awalnya ragu kini semakin yakin. Ia menarik Nadira lebih dekat, seakan takut jarak sedikit saja akan mengembalikan logikanya.
Lampu kamar meredup.
Bayangan mereka menyatu di dinding.
Arsen berhenti sejenak, keningnya menempel pada kening Nadira. Napas mereka bercampur.
“Katakan aku harus berhenti,” bisiknya rendah.
Tapi Nadira tidak mengatakannya.
Ia justru menarik pria itu kembali.
Dan malam itu, mereka berhenti berpikir.
Bukan lagi CEO dan wanita yang terjebak kontrak.
Hanya dua manusia yang saling merasakan.
Ketegangan berubah menjadi kehangatan.
Dan kehangatan itu menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa mereka abaikan.
Pagi datang terlalu cepat.
Cahaya matahari menyelinap masuk melalui tirai tipis.
Nadira membuka mata perlahan.
Untuk beberapa detik, ia lupa segalanya.
Lalu ia merasakan sisi tempat tidur kosong.
Arsen sudah berdiri di depan cermin, mengenakan kemeja kerja. Wajahnya kembali tenang. Terkendali.
Seolah malam tadi hanyalah gangguan kecil.
“Kita perlu meluruskan sesuatu,” ucapnya tanpa menoleh.
Jantung Nadira kembali tegang.
“Apa yang terjadi semalam… tidak akan terulang.”
Kalimat itu dingin.
“Anggap saja itu tidak pernah ada.”
Nadira duduk perlahan. “Bagaimana bisa tidak pernah ada?”
Arsen akhirnya menatapnya.
Tatapannya bukan tanpa emosi.
Tapi tertahan.
“Aku tidak mencampuradukkan bisnis dengan perasaan.”
“Itu hanya bisnis bagi Anda?”
Keheningan menggantung beberapa detik.
Arsen tidak menjawab.
Ia mengambil jasnya.
“Jangan biarkan satu malam mengubah kesepakatan kita.”
Lalu ia berjalan keluar.
Pintu tertutup.
Dan Nadira masih duduk mematung.
Bagaimana mungkin pria yang semalam kehilangan kendali kini berbicara seperti tak terjadi apa-apa?
Tangannya menyentuh cincin di jarinya.
Lalu ia teringat ayahnya.
Rumah kecil mereka.
Utang yang telah lunas.
Ia ada di sini karena itu.
Bukan karena cinta.
Namun entah kenapa, hatinya terasa lebih berat pagi ini.
Karena untuk pertama kalinya…
ia tidak yakin Arsen benar-benar tidak merasakan apa pun.