Tatapan yang Berubah**
Pagi itu, Nadira turun dari mobil hitam mewah milik Mahendra Group dengan langkah pelan.
Gedung tinggi menjulang di hadapannya. Logo perusahaan terpampang besar dan elegan.
Ini dunia Arsen.
Dan sekarang… ia harus berdiri di dalamnya sebagai Ny. Mahendra.
Begitu pintu lobi terbuka, suasana langsung berubah.
Semua mata tertuju padanya.
Bisikan terdengar samar.
“Itu istrinya Pak Arsen?”
“Cantik juga…”
“Katanya bukan dari keluarga konglomerat…”
Nadira menelan ludah, berusaha tetap tenang. Ia mengenakan dress krem sederhana yang elegan. Tidak mencolok, tapi cukup membuatnya terlihat anggun.
Ia ingat pesan Arsen tadi pagi sebelum berangkat:
“Datang jam sepuluh. Kau harus menemani makan siang dengan klien asing.”
Tidak ada nada lembut. Hanya instruksi.
Pintu lift khusus terbuka.
Rangga sudah menunggunya.
“Silakan, Nyonya,” katanya sopan.
Saat pintu lift terbuka di lantai paling atas, udara terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih eksklusif.
Dan di ujung lorong kaca itu, Arsen berdiri.
Tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya dingin seperti biasa.
Tatapan mereka bertemu.
Selama sepersekian detik, Nadira melihat kilatan sesuatu yang familiar—sisa ketegangan malam tadi.
Tapi Arsen segera kembali netral.
“Kau terlambat dua menit,” ucapnya.
Nadira mengangkat alis. “Lift umum lebih lambat.”
Beberapa staf menahan napas.
Tak ada yang pernah berbicara santai pada CEO mereka seperti itu.
Anehnya, Arsen tidak marah.
Ia justru menatap Nadira sedikit lebih lama.
“Masuk.”
Acara makan siang berlangsung formal.
Klien asing itu ramah dan tampak terkesan pada Nadira yang bisa berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Ia tersenyum, menjawab pertanyaan dengan percaya diri.
Arsen mengamati dalam diam.
Ia tidak menyangka Nadira bisa beradaptasi secepat ini.
Saat klien itu berkata, “You are a very lucky man, Mr. Mahendra,” Arsen hanya tersenyum tipis.
Lucky.
Kata itu terngiang di kepalanya.
Masalahnya muncul setelah makan siang selesai.
Seorang manajer muda bernama Kevin menghampiri Nadira di area lounge kantor.
“Bu Nadira, kalau ada waktu, saya bisa menunjukkan ruang kreatif perusahaan. Ibu pasti tertarik.”
Nadira tersenyum sopan. “Oh, boleh juga.”
Arsen yang berdiri beberapa meter dari sana langsung menghentikan langkahnya.
Ia melihat bagaimana Kevin tersenyum terlalu lebar.
Melihat bagaimana Nadira tertawa kecil.
Sesuatu di dalam dadanya terasa tidak nyaman.
Aneh.
Ia tidak pernah peduli.
Ini hanya kontrak.
Tapi kenapa tangannya mengepal sekarang?
Kevin berdiri sedikit terlalu dekat.
Dan sebelum Nadira sempat melangkah, suara berat Arsen terdengar.
“Kevin.”
Satu kata.
Tapi cukup membuat udara membeku.
Kevin langsung menegakkan tubuh. “Pak!”
“Laporanmu sudah selesai?”
“Sudah hampir, Pak.”
“Kalau begitu, kembali ke ruanganmu.”
Nada itu datar.
Namun tegas.
Kevin langsung pergi tanpa berani membantah.
Nadira menoleh pada Arsen.
“Kenapa Anda mengusirnya?”
“Aku tidak mengusir.”
“Dia hanya ingin menunjukkan ruangan.”
Arsen melangkah mendekat.
Terlalu dekat.
“Dan kau terlihat terlalu nyaman.”
Kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahannya.
Nadira terdiam.
“Apakah itu masalah?” tanyanya pelan.
Arsen menatapnya dalam.
Ini bukan cemburu.
Ini hanya… menjaga citra.
“Kau istriku,” ucapnya akhirnya. “Ingat posisimu.”
“Di kontrak tidak ada larangan berbicara dengan pria lain.”
Kalimat itu membuat rahang Arsen mengeras.
Nadira melihatnya jelas sekarang.
Tatapan itu bukan sekadar profesional.
Itu posesif.
Dan untuk pertama kalinya… Arsen tidak bisa menyembunyikannya.
“Jangan mengujiku, Nadira,” ucapnya rendah.
Nada suaranya berbeda.
Bukan marah.
Lebih seperti peringatan.
Jantung Nadira berdebar, bukan karena takut—tapi karena cara Arsen menatapnya terasa terlalu intens.
“Kenapa?” bisiknya pelan. “Anda takut melanggar kontrak lagi?”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Arsen terdiam.
Malam itu terlintas di pikirannya.
Sentuhan. Napas. Kehangatan.
Ia menarik napas panjang, berusaha kembali rasional.
“Itu tidak akan terulang.”
“Yakin?”
Nadira tidak tahu dari mana keberanian itu datang.
Mungkin karena ia lelah dianggap hanya bagian dari transaksi.
Mungkin karena ia ingin tahu apakah Arsen benar-benar tidak merasakan apa pun.
Arsen tiba-tiba meraih pergelangan tangan Nadira.
Tidak kasar.
Tapi cukup kuat untuk menghentikannya.
“Kau ingin jawaban jujur?” suaranya rendah.
Nadira menelan ludah.
Arsen mendekat sedikit, napasnya menyentuh kulitnya.
“Aku tidak suka melihat pria lain menatapmu seperti itu.”
Kalimat itu keluar pelan.
Terlalu jujur.
Dan itu membuat suasana di antara mereka berubah lagi.
Tapi detik berikutnya Arsen melepaskannya.
Wajahnya kembali dingin.
“Kembali ke ruanganku. Kita punya jadwal foto untuk pengumuman resmi pernikahan.”
Dan ia berjalan pergi.
Meninggalkan Nadira berdiri dengan jantung yang tidak lagi stabil.
Untuk pertama kalinya, Nadira sadar sesuatu.
Arsen mungkin bisa mengendalikan kata-katanya.
Bisa berpura-pura bahwa malam itu kesalahan.
Tapi tubuhnya…
Tatapannya…
Reaksinya…
Tidak bisa berbohong.
Dan mungkin—
Kontrak ini akan jauh lebih rumit dari yang mereka bayangkan.