Wanita dari Masa Lalu**
Pagi itu suasana kantor Mahendra Group terasa berbeda.
Nadira baru saja duduk di ruang kerja kecil yang disiapkan khusus untuknya ketika suara sepatu hak tinggi terdengar di lorong.
Bukan langkah biasa.
Percaya diri. Tegas. Seolah pemilik tempat ini baru saja kembali.
Beberapa staf langsung berdiri lebih tegak.
“Dia datang lagi…”
“Bukannya pertunangan mereka sudah batal?”
Nadira mengangkat kepala ketika pintu ruang Arsen terbuka tanpa diketuk.
Seorang wanita masuk.
Tinggi. Rambut panjang terawat. Gaun merah elegan yang jelas bukan sembarang merek. Aura mahal dan superior menyelimuti dirinya.
Arsen yang sedang berdiri di dekat meja hanya menatap datar.
“Kau kembali tanpa janji temu,” ucapnya dingin.
Wanita itu tersenyum tipis. “Aku tidak butuh janji temu untuk menemui calon suamiku.”
Kalimat itu membuat Nadira membeku.
Calon suami?
Wanita itu baru menyadari keberadaan Nadira. Tatapannya turun perlahan, menilai dari ujung kepala sampai kaki.
Ah. Tatapan seperti itu.
Menghakimi.
“Jadi ini wanita yang kau nikahi?” suaranya lembut, tapi jelas meremehkan. “Arsen, seleramu turun jauh sekali.”
Ruang itu mendadak sunyi.
Nadira merasakan panas di dadanya. Tapi ia tidak ingin terlihat lemah.
Ia berdiri perlahan.
“Saya istrinya,” ucapnya tenang. “Dan Anda?”
Senyum wanita itu melebar. “Vanessa Adipratama. Tunangan resmi Arsen selama tiga tahun.”
Nama keluarga itu tidak asing. Salah satu konglomerat terbesar di kota.
Nadira menoleh pada Arsen.
Dan yang membuatnya lebih sakit—Arsen tidak langsung membantah.
“Pertunangan itu sudah berakhir,” ucap Arsen akhirnya.
“Belum secara resmi,” potong Vanessa cepat. “Keluarga kita masih punya perjanjian.”
Ia melangkah mendekat pada Arsen, seolah Nadira tidak ada di sana.
“Ini hanya pernikahan pura-pura untuk warisan, bukan?” bisiknya cukup keras untuk didengar. “Kau tidak mungkin serius memilih gadis seperti ini.”
Nadira mengepalkan tangan.
Gadis seperti ini.
Arsen akhirnya bergerak.
Ia berdiri di antara mereka.
Dan tanpa sadar—tangannya meraih pinggang Nadira.
Gestur itu tegas.
Protektif.
Vanessa terdiam sejenak.
“Dia istriku,” ucap Arsen pelan, tapi suaranya mengandung peringatan. “Hati-hati dengan kata-katamu.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Vanessa berubah.
“Kau membelanya?”
Arsen tidak menjawab.
Tapi tangannya tidak melepaskan Nadira.
Sentuhan itu membuat jantung Nadira berdetak cepat.
Apakah ini hanya sandiwara?
Atau…
Vanessa tertawa kecil. “Baiklah. Kita lihat saja berapa lama pernikahan ini bertahan.”
Ia melirik Nadira dengan tatapan penuh tantangan.
“Kau mungkin punya cincin di jarimu sekarang. Tapi kau tidak punya kelas, koneksi, atau posisi untuk bertahan di dunia ini.”
Setelah itu, ia berbalik dan pergi.
Pintu tertutup.
Keheningan menggantung.
Nadira perlahan menjauh dari sentuhan Arsen.
“Kenapa Anda tidak bilang kalau masih ada urusan dengan dia?”
Arsen menghela napas pelan. “Itu urusan lama.”
“Urusan lama yang masih merasa berhak atas Anda.”
Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu yang tidak nyaman di d**a Nadira.
Cemburu.
Dan ia membencinya.
“Ini sebabnya aku tidak ingin melibatkan perasaan,” ucap Arsen datar.
“Siapa yang melibatkan perasaan?” balas Nadira cepat.
Arsen mendekat sedikit.
“Ketika dia meremehkanmu, kau terlihat terluka.”
“Tentu saja saya terluka,” suara Nadira melemah sedikit. “Saya manusia.”
Untuk beberapa detik, Arsen terdiam.
Lalu dengan nada lebih rendah ia berkata,
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan istriku.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa membuat napas Nadira tercekat.
Istriku.
Bukan kontrak.
Bukan formalitas.
Istriku.
Namun detik berikutnya Arsen kembali dingin.
“Jangan terlalu memikirkannya. Dia hanya masa lalu.”
“Tapi masa lalu itu terlihat belum selesai,” bisik Nadira.
Arsen tidak menjawab.
Dan di dalam hatinya sendiri, ia tahu—kedatangan Vanessa bukan kebetulan.
Keluarga besar pasti marah atas pernikahan ini.
Dan Nadira baru saja resmi masuk ke dalam lingkaran konflik yang jauh lebih besar dari sekadar kontrak.
Saat jam kerja hampir selesai, berita mulai menyebar di kalangan staf.
Mantan tunangan CEO kembali.
Dan ia tidak terlihat menyerah.
Nadira berdiri di depan jendela kantor Arsen, memandangi kota di bawah sana.
Ia tiba-tiba merasa kecil.
Apakah ia benar-benar bisa bertahan di dunia ini?
Tiba-tiba, Arsen berdiri di belakangnya.
Dekat.
“Tadi,” ucapnya pelan, “apa yang dia katakan tidak benar.”
“Bagian mana?” tanya Nadira lirih.
“Kau cukup.”
Jawaban itu membuat Nadira terdiam.
Arsen bukan pria yang sering memberi validasi.
Tapi hari ini, ia melakukannya.
Namun di balik ketenangan wajahnya, Arsen menyadari satu hal yang mengganggunya:
Ia tidak suka melihat Vanessa menantang Nadira.
Bukan karena citra.
Bukan karena kontrak.
Tapi karena ia tidak ingin wanita itu merasa tersaingi.
Dan itu berarti—
Ia sudah mulai peduli.