Bab 6

731 Kata
Meja Makan Penuh Racun Malam itu rumah utama keluarga Mahendra diterangi lampu kristal yang berkilauan. Para tamu penting sudah hadir. Direktur cabang. Investor lama. Kerabat jauh. Dan tentu saja… Vanessa. Nadira berdiri di depan cermin kamar tamu. Gaun hitam sederhana yang Arsen pilihkan membalut tubuhnya anggun namun tidak berlebihan. Ia menarik napas panjang. Ini bukan sekadar makan malam. Ini medan perang. Arsen masuk tanpa mengetuk. Setelan hitamnya membuatnya terlihat semakin dominan. Tatapan mereka bertemu di cermin. Arsen mendekat pelan. “Kau gugup?” “Saya hanya tidak ingin mempermalukan Anda.” Arsen berhenti tepat di belakang Nadira. Tangannya terangkat… merapikan helaian rambut yang jatuh di bahunya. Sentuhan ringan itu membuat Nadira menegang. “Siapa pun yang mencoba mempermalukanmu… akan berurusan denganku,” ucap Arsen rendah. Tatapan mereka terkunci beberapa detik terlalu lama. Lalu Arsen menjauh. “Siap?” Nadira mengangguk. Begitu mereka turun ke ruang utama, percakapan mereda. Semua mata tertuju pada pasangan itu. Vanessa berdiri di sisi Ibu Arsen. Gaun merah marunnya mencolok. Percaya diri. Seolah dia tuan rumah sebenarnya. “Nah, ini dia,” ujar Ibu Arsen dengan senyum tipis. “Istri Arsen.” Nada itu bukan sambutan hangat. Vanessa melangkah mendekat. “Cantik juga,” katanya manis. “Meski sedikit… terlalu sederhana untuk keluarga Mahendra.” Beberapa tamu tersenyum kaku. Nadira tersenyum sopan. “Sederhana tidak selalu berarti rendah, Nona.” Vanessa mengangkat alis. “Oh, tentu saja. Hanya saja keluarga ini terbiasa dengan standar tertentu.” Sindiran pertama. Halus. Tapi menusuk. Makan malam dimulai. Vanessa duduk tepat di seberang Nadira. Setiap kalimatnya seperti dirancang. “Arsen dulu sangat ambisius,” katanya sambil menatap pria itu lembut. “Dia bahkan menunda pernikahan kita demi ekspansi perusahaan.” Nadira terdiam. Arsen memegang gelasnya tanpa ekspresi. “Vanessa,” suaranya rendah. “Itu masa lalu.” Vanessa tersenyum tipis. “Ah ya… masa lalu yang hampir menjadi masa depan.” Beberapa keluarga mulai berbisik. Kemudian serangan berikutnya datang. “Ngomong-ngomong, Nadira,” Vanessa menyandarkan dagu di tangan. “Kau bekerja di cabang pemasaran, bukan?” “Iya.” “Pasti sulit ya, beradaptasi dengan dunia elit seperti ini.” Nada lembut. Tapi jelas merendahkan. Sebelum Nadira menjawab, Ibu Arsen ikut berbicara. “Memang tidak mudah menjadi bagian dari keluarga besar seperti ini.” Udara terasa makin berat. Namun Nadira tidak menunduk. “Benar, Bu,” jawabnya tenang. “Tapi saya percaya kemampuan seseorang tidak ditentukan dari latar belakangnya… melainkan dari bagaimana dia belajar dan bertahan.” Suasana hening. Vanessa menyipitkan mata. Tiba-tiba Vanessa berdiri. “Arsen, kau ingat lagu favorit kita?” Dia berjalan ke arah piano besar di sudut ruangan. Tanpa menunggu jawaban, dia mulai memainkan melodi lembut. Lagu yang jelas memiliki kenangan. Semua mata beralih pada Arsen. Vanessa bernyanyi pelan. Penuh emosi. Seolah ingin menunjukkan: aku yang mengenalnya lebih dulu. Nadira merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Cemburu. Tapi dia menahannya. Arsen menatap Vanessa tanpa ekspresi. Namun ketika lagu selesai… Vanessa berjalan kembali. “Beberapa kenangan memang sulit dilupakan, ya, Arsen?” Dan saat itulah… Arsen berdiri. Dia berjalan mendekati Nadira. Semua orang memperhatikannya. Tangan Arsen terulur. “Maukah kau berdansa denganku?” Nadira terkejut. “Di sini?” “Ya.” Musik kembali diputar pelan. Arsen menarik Nadira ke tengah ruangan. Tangannya melingkari pinggang Nadira dengan tegas. Terlalu dekat. Terlalu intim untuk sekadar sandiwara. “Kenapa Anda melakukan ini?” bisik Nadira. Arsen menunduk sedikit. “Karena aku tidak suka permainan murahan.” Tatapan mereka bertemu. Dan kali ini… Arsen tidak berpaling. Vanessa menggenggam gelasnya lebih kuat. Wajahnya tetap tersenyum. Tapi matanya menyala marah. Saat tarian berakhir, Vanessa mendekat lagi. “Bagus sekali aktingnya,” ucapnya pelan hanya untuk Nadira. “Tapi Arsen tidak pernah jatuh cinta pada wanita biasa.” Nadira membalas dengan senyum tipis. “Lalu kenapa dia memilih saya, bukan Anda?” Vanessa terdiam sepersekian detik. Dan itu cukup. Malam belum berakhir. Di balkon rumah besar itu, Vanessa menghampiri Arsen sendirian. “Apa kau benar-benar menyukainya?” Arsen menatap kota yang bercahaya. “Itu bukan urusanmu lagi.” “Kalau hanya kontrak, kau bisa batalkan.” “Tidak semua hal bisa dihitung dengan bisnis, Vanessa.” Kalimat itu membuat Vanessa sadar… Ada sesuatu yang mulai berubah. Di dalam ruangan, Nadira berdiri sendiri. Merasa kecil di antara kemewahan. Namun ketika Arsen kembali dan berdiri di sisinya… Untuk pertama kalinya, Nadira merasa tidak sendirian. Malam itu… permainan baru saja dimulai. Dan Vanessa tidak akan menyerah begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN