Bab 7

771 Kata
Skandal di Balik Nama Besar Pagi itu, Mahendra Group tidak pernah seramai ini. Bukan karena peluncuran produk. Bukan karena merger besar. Tapi karena satu berita. Di layar televisi ruang tunggu, headline merah menyala: “CEO MUDA ARSEN MAHENDRA DIDUGA MENIKAH KONTRAK DEMI MENOLAK ALIANSI BISNIS!” Foto lama pertunangan Arsen dengan Vanessa terpampang jelas. Disandingkan dengan foto Nadira yang diambil diam-diam di parkiran kantor. Tampak sederhana. Tanpa riasan mewah. Judulnya lebih kejam: “SIAPA WANITA INI?” Nadira membeku di depan layar. Bisik-bisik mulai terdengar. “Katanya cuma staf biasa.” “Pantas saja…” “Kasihan Vanessa…” Jantung Nadira terasa diremas. Ia berbalik cepat dan masuk ke lift. Tangannya gemetar. Begitu pintu ruang CEO terbuka— Brak. Arsen membanting koran di atas meja. Wajahnya dingin. Tapi matanya menyala. “Siapa yang membocorkan ini?” suaranya rendah, berbahaya. Asisten pribadi berdiri tegang. “Kami sedang melacak sumbernya, Tuan.” Nadira berdiri di ambang pintu. Arsen langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya… Nadira melihat kemarahan Arsen bukan karena bisnis. Tapi karena dirinya. “Apa Anda percaya berita itu?” suara Nadira pelan. Ruangan mendadak hening. Arsen melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa berat. “Aku tidak peduli apa yang media katakan.” “Tapi semua orang percaya saya menikah demi uang,” bisik Nadira. Arsen berhenti tepat di depannya. “Biarkan mereka bicara.” “Mudah bagi Anda. Nama Anda kuat.” Nada Nadira mulai bergetar. “Saya yang terlihat seperti wanita murahan.” Kalimat itu menggantung di udara. Dan sesuatu di wajah Arsen berubah. Tangannya terangkat… memegang dagu Nadira dengan lembut tapi tegas. “Jangan pernah merendahkan dirimu seperti itu.” Sentuhan itu membuat Nadira terdiam. Di sisi lain kota… Vanessa duduk santai membaca berita yang sama. Sudut bibirnya terangkat tipis. Teleponnya berdering. “Semuanya sesuai rencana, Nona.” Vanessa tersenyum. “Bagus. Kita lihat seberapa kuat pernikahan kontrak itu bertahan di bawah sorotan publik.” Siang itu, saham Mahendra Group mulai bergetar. Investor meminta klarifikasi. Ayah Arsen menelepon dengan suara penuh tekanan. “Kau mempermalukan keluarga!” Arsen menutup telepon dengan rahang mengeras. Ia menatap Nadira yang duduk diam di sofa. Untuk pertama kalinya… ia terlihat lelah. “Jika kau ingin pergi sekarang,” katanya rendah, “aku tidak akan menghentikanmu.” Nadira tertegun. “Pergi?” “Aku bisa mengurus semuanya. Tanpa menyeretmu lebih jauh.” Kalimat itu seperti pisau tipis. Jadi ini hanya soal beban? Air mata hampir jatuh, tapi Nadira menahannya. “Saya tidak akan lari hanya karena rumor.” Arsen menatapnya dalam. “Kenapa?” “Karena saya tidak bersalah.” Sunyi. Beberapa detik yang terasa panjang. Lalu Arsen mengambil keputusan. Sore itu. Semua media menerima undangan konferensi pers mendadak. Ruang utama kantor penuh kamera. Lampu kilat menyilaukan. Nadira berdiri di belakang panggung kecil, jantungnya berpacu. “Jika Anda ingin mundur—” bisik Arsen. Nadira menggeleng pelan. “Apa pun yang terjadi… saya tetap istri Anda.” Kalimat itu membuat d**a Arsen menghangat. Untuk pertama kalinya. Ia tidak merasa sendirian dalam perang ini. Arsen melangkah ke depan mikrofon. Suasana langsung hening. “Saya Arsen Mahendra.” Tatapannya tajam. Tegas. “Berita mengenai pernikahan saya adalah spekulasi tidak berdasar.” Seorang wartawan berdiri. “Apakah benar ini hanya pernikahan kontrak untuk menghindari aliansi bisnis dengan keluarga Pramudya?” Sunyi. Semua kamera mengarah. Arsen terdiam sesaat. Lalu— Ia mengulurkan tangan ke belakang. Menarik Nadira berdiri di sampingnya. Gasps terdengar di ruangan. Tangan Arsen melingkari bahu Nadira. Protektif. Tegas. “Dia istriku,” ucapnya jelas. “Dan keputusan menikah adalah keputusan pribadi. Bukan strategi bisnis.” “Kabarnya Anda masih memiliki hubungan dengan mantan tunangan Anda?” Tatapan Arsen mengeras. “Masa lalu saya sudah selesai.” Ia menoleh pada Nadira. Tatapan mereka bertemu. Dan tanpa direncanakan… Arsen mengecup kening Nadira di depan semua kamera. Bukan ciuman penuh nafsu. Tapi cukup untuk menghentikan semua rumor. Ruangan gempar. Lampu kilat menyala tanpa henti. Nadira membeku. Sentuhan itu hangat. Nyata. Dan terlalu tulus untuk sekadar sandiwara. Di apartemennya, Vanessa menjatuhkan gelas anggur. Wajahnya pucat. “Itu tidak mungkin…” Tangannya mengepal. “Arsen tidak mungkin sejauh itu.” Tapi gambar di layar televisi jelas. Cara Arsen menatap Nadira… bukan pura-pura. Dan untuk pertama kalinya… Vanessa merasa terancam. Malam itu, setelah semua berakhir… Nadira berdiri di balkon apartemen mereka. Angin malam menyapu rambutnya. Arsen berdiri di belakangnya. “Maaf karena menyeretmu ke dalam ini.” Nadira menoleh pelan. “Kenapa Anda mencium saya tadi?” Pertanyaan itu menggantung. Arsen mendekat satu langkah. “Karena aku ingin.” Jantung Nadira berhenti sepersekian detik. Bukan karena kamera. Bukan karena publik. Tapi karena ia ingin. Dan itulah yang paling berbahaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN