Bab 8

730 Kata
Luka Lama yang Dibuka Kembali Tiga hari setelah konferensi pers. Sorotan media memang mulai mereda. Tapi badai belum selesai. Karena Vanessa bukan tipe wanita yang kalah hanya karena satu ciuman di depan kamera. Dia tipe wanita yang menunggu… lalu menyerang di titik paling lemah. Pagi itu Nadira dipanggil ke ruang HR. Wajah manajer HR terlihat canggung. “Ada seseorang yang meminta data lama Anda… termasuk riwayat keluarga.” Nadira membeku. “Siapa?” “Kami tidak bisa menyebutkan nama, tapi permintaan itu datang dari keluarga Pramudya.” Vanessa. Jantung Nadira terasa jatuh. Malamnya, Arsen menerima amplop cokelat tanpa pengirim. Di dalamnya: beberapa fotokopi dokumen lama. Tagihan rumah sakit. Catatan utang. Dan satu foto lama. Foto Nadira berdiri di depan rumah kecil yang hampir roboh… bersama seorang pria tua berwajah lelah. Ayahnya. Arsen membaca perlahan. Matanya mengeras. Sebuah pesan tertulis di belakang foto: “Kau yakin wanita seperti ini pantas berdiri di sampingmu?” Di tempat lain, Vanessa tersenyum tipis. “Aku hanya ingin keluarga Mahendra tahu… siapa sebenarnya menantu mereka.” Keesokan paginya. Rumor baru muncul. Bukan di media besar. Tapi di forum anonim bisnis. “ISTRI CEO TERNYATA ANAK BURUH BERUTANG.” “KELUARGA BERMASALAH KEUANGAN.” “MENIKAH UNTUK MENYELAMATKAN HIDUP?” Bisikan mulai berubah arah. Sekarang bukan soal kontrak. Tapi soal martabat. Nadira sedang di pantry ketika dua staf berhenti bicara saat ia masuk. Ia pura-pura tidak mendengar. Tapi kalimat itu tetap masuk ke telinganya. “Pantas saja dia langsung terima dinikahi.” “Kalau aku di posisi dia juga mau.” Tangan Nadira gemetar. Ia pergi ke toilet dan mengunci diri di dalam bilik. Menahan napas. Menahan air mata. Luka lama yang susah payah ia tutup… kini dibuka paksa. Ia memang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya pernah bangkrut. Rumah mereka hampir disita. Dan Nadira bekerja keras bertahun-tahun untuk keluar dari bayangan itu. Tapi sekarang… Semua itu dijadikan senjata. Pintu toilet terbuka. Langkah sepatu hak tinggi terdengar. Vanessa. “Ah, kau di sini.” Nadira menghapus air matanya cepat. “Saya sedang bekerja.” Vanessa tersenyum manis. “Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.” Nada itu palsu. “Pasti berat ya… ketika semua orang tahu latar belakangmu.” Nadira mengepalkan tangan. “Masa lalu saya bukan kejahatan.” “Tidak,” Vanessa mendekat pelan, “tapi dunia Arsen bukan tempat untuk orang yang membawa beban seperti itu.” Kalimat itu seperti racun halus. Vanessa berbisik rendah: “Keluarga Mahendra tidak akan pernah menerima menantu dari keluarga bangkrut.” Sunyi. Nadira menatapnya lurus. “Dan Anda pikir uang membuat Anda lebih layak?” Vanessa tersenyum tipis. “Bukan uang. Status.” Sore itu Arsen memanggil Nadira ke ruangannya. Ia sudah tahu semuanya. Tatapannya berbeda. Lebih dalam. “Kau tidak pernah menceritakan tentang ayahmu.” Nadira terdiam. “Karena itu bukan sesuatu yang ingin saya banggakan.” “Apakah kau menikah denganku untuk menyelamatkan keluargamu?” Pertanyaan itu pelan. Tapi menusuk. Nadira menatap Arsen tak percaya. “Jadi Anda juga meragukan saya?” “Aku hanya ingin tahu.” Sunyi panjang. Air mata akhirnya jatuh. “Saya menikah karena Anda menawarkan solusi… bukan karena saya memohon.” Suara Nadira pecah. “Saya mungkin miskin. Tapi saya tidak pernah menjual diri.” Kalimat itu membuat Arsen terdiam. Dan untuk pertama kalinya… Ia menyadari betapa kerasnya Nadira bertahan sendirian. Malam itu, Arsen mendatangi rumah utama keluarganya. Vanessa sedang duduk bersama ibunya. “Apa yang kau lakukan?” suara Arsen dingin. Vanessa tersenyum santai. “Aku hanya membantu keluargamu mengenal menantunya.” Arsen mendekat. “Aku tidak peduli dari mana dia berasal.” Vanessa berdiri. “Sekarang mungkin tidak. Tapi saat saham jatuh? Saat investor mempertanyakan latar belakang keluarganya?” Arsen menatapnya tajam. “Jika kau menyentuhnya lagi… ini bukan lagi soal masa lalu.” Udara terasa tegang. Vanessa menyadari satu hal yang mengerikan. Arsen tidak marah karena reputasi. Ia marah karena Nadira terluka. Dan itu berarti… Perasaan itu sudah tumbuh. Di apartemen, Nadira berdiri sendirian di kamar. Menatap cincin di jarinya. Ia berbisik pelan, “Mungkin saya memang tidak cocok di dunia Anda…” Pintu terbuka. Arsen masuk. Langkahnya pelan. Ia berdiri di belakang Nadira. “Jika kau pergi karena tekanan… aku akan menghentikanmu.” Nadira tidak menoleh. “Dan jika saya pergi karena hati saya mulai tidak kuat?” Sunyi. Arsen tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya… Ia takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia akui sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN