Jika Aku Pergi
Hujan turun deras malam itu.
Langit kota seperti ikut menekan d**a Nadira.
Ia berdiri di kamar, koper kecil sudah terbuka di atas ranjang.
Bukan karena ia ingin lari.
Tapi karena ia lelah.
Lelah harus kuat sendirian.
Lelah dianggap beban.
Dan yang paling menyakitkan…
Lelah meragukan apakah dirinya benar-benar diinginkan.
Suara pintu terbuka.
Arsen masuk.
Basah oleh hujan.
Tatapannya langsung jatuh pada koper di atas ranjang.
Rahangnya mengeras.
“Kau mau ke mana?”
Nada suaranya pelan. Tapi berbahaya.
Nadira menutup koper perlahan.
“Saya hanya butuh waktu.”
“Waktu dari siapa? Dari aku?”
Sunyi.
Hujan makin deras.
“Apa Anda percaya saya menikah demi uang?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Arsen terdiam.
“Jawab saya.”
“Aku hanya—”
“Jawab.”
Suara Nadira bergetar. Tapi tegas.
Arsen menatapnya dalam.
“Aku tidak percaya kau seperti itu.”
“Lalu kenapa Anda bertanya waktu itu?”
Karena aku takut.
Tapi Arsen tidak mengucapkannya.
Ia hanya berdiri diam.
Dan diamnya… lebih menyakitkan dari jawaban apa pun.
Air mata jatuh di pipi Nadira.
“Saya mungkin bukan wanita dari keluarga besar. Tapi harga diri saya bukan sesuatu yang bisa Anda ragukan.”
Arsen mengepalkan tangan.
“Kau pikir aku meragukanmu?”
“Anda meragukan alasan saya tinggal.”
Kalimat itu menghantam.
Arsen melangkah mendekat.
“Kau pikir ini mudah bagiku?”
“Apa yang sulit bagi Anda? Nama Anda tetap bersih. Posisi Anda tetap kuat.”
“Aku tidak pernah takut pada reputasi.”
“Lalu pada apa?”
Sunyi.
Hanya suara hujan.
Tatapan mereka bertabrakan.
Dan untuk pertama kalinya… Arsen kehilangan kendali.
“AKU TAKUT KEHILANGANMU!”
Suara itu menggema di ruangan.
Nadira membeku.
Arsen sendiri tampak terkejut dengan pengakuannya.
Napasnya berat.
“Aku tidak peduli dari mana kau berasal,” lanjutnya lebih pelan.
“Aku tidak peduli pada utang keluargamu. Aku tidak peduli pada omongan orang.”
Ia mendekat satu langkah lagi.
“Aku hanya… tidak tahu sejak kapan kau jadi penting.”
Air mata Nadira makin deras.
“Kita menikah karena kontrak.”
“Aku tahu.”
“Ini tidak seharusnya seperti ini.”
Arsen mengangkat tangan… ragu sejenak… lalu menghapus air mata di pipi Nadira dengan ibu jarinya.
Gerakan yang sangat lembut untuk pria setegas dirinya.
“Sejak kapan kau mulai ingin pergi?”
“Sejak saya merasa sendirian.”
Kalimat itu menghancurkan pertahanan Arsen.
Arsen tiba-tiba menarik Nadira ke dalam pelukannya.
Bukan pelukan posesif.
Bukan pelukan untuk pamer.
Tapi pelukan seseorang yang benar-benar takut ditinggalkan.
Tubuh Nadira gemetar.
Ia ingin mendorong.
Tapi justru menangis di d**a pria itu.
“Aku tidak pernah tahu bagaimana mencintai dengan benar,” bisik Arsen rendah di atas rambutnya.
“Semua hidupku selalu tentang menang.”
Tangannya makin erat.
“Dan aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau benar-benar pergi.”
Nadira merasakan dadanya bergetar.
Untuk pertama kalinya…
Arsen tidak terlihat seperti CEO dingin.
Tapi pria yang takut.
Ponsel Nadira berdering.
Layar menyala.
Nomor tak dikenal.
Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar.
Suara di ujung sana membuat wajahnya pucat.
“Benarkah Anda anak dari Pak Darto Pratama? Utang lama keluarga Anda akan kami proses kembali.”
Telepon terjatuh dari tangannya.
Arsen menangkapnya sebelum menyentuh lantai.
Tatapannya berubah.
“Siapa?”
Nadira menggeleng lemah.
“Mereka bilang utang lama Ayah akan dibuka lagi…”
Arsen langsung mengerti.
Vanessa.
Ini bukan lagi soal harga diri.
Ini ancaman nyata.
Arsen mengambil ponselnya sendiri.
Matanya gelap.
“Jika mereka menyentuh keluargamu, aku yang akan turun tangan.”
“Jangan… ini masalah saya.”
“Sekarang ini masalah kita.”
Kata itu terdengar berbeda.
Bukan kontrak.
Bukan kewajiban.
Tapi pilihan.
Nadira menatapnya.
“Kenapa Anda melakukan semua ini?”
Arsen terdiam sesaat.
Lalu, pelan sekali:
“Karena aku tidak ingin dunia tanpa kau di dalamnya.”
Hujan masih turun.
Tapi kali ini… Nadira tidak merasa sendirian.
Ia tidak tahu apakah ini cinta.
Atau hanya ketakutan.
Yang jelas—
Mereka sudah terlalu dalam untuk kembali seperti dulu.