bc

CEO CANTIK JODOH KURIR IRENG

book_age18+
13
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
HE
arranged marriage
stepfather
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
witty
city
office/work place
lies
like
intro-logo
Uraian

Bagi Savanah Baskoro, pernikahan adalah janji seumur hidup—bukan sekadar formalitas keluarga. Namun, mimpinya hancur saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah amarah dan kerumunan karyawan, Savanah nekat menarik tangan seorang kurir bernama Sanji dan mendeklarasikannya sebagai calon suami. Sanji, pria sederhana dengan kulit legam karena kerja keras, tiba-tiba terseret masuk ke dunia glamor keluarga Baskoro. Akankah kebohongan ini membuka jalan menuju cinta sejati, atau justru menyeret mereka ke jurang yang lebih berbahaya?

chap-preview
Pratinjau gratis
MENDADAK JADI CALON
Suara hak sepatu tinggi beradu dengan marmer lantai gedung kantor Baskoro Group. Pukul delapan malam, kebanyakan karyawan sudah pulang, hanya tersisa beberapa staf lembur dan suara printer di ruangan keuangan. Savanah Baskoro, CEO muda sekaligus pemilik perusahaan itu, berjalan dengan langkah mantap menuju lift. Tubuhnya tegak, rambut cokelat gelap sebahu sedikit terayun setiap kali ia melangkah. Wajahnya, yang dikenal dingin dan tanpa ekspresi, malam itu tampak sedikit lelah. Ia baru saja menyelesaikan rapat daring dengan tim cabang Singapura. Namun sebelum pulang, ia teringat ada berkas properti penting milik perusahaan di London yang tertinggal di ruangannya di lantai 10. “Sekalian kuambil,” gumamnya datar. Jarum lift menunjuk angka tiga. Savanah menahan niatnya ke lantai 10. Ia ingat pesan singkat Monika, sahabatnya yang juga ketua tim pemasaran 1. Sav, tolong bawa obat pereda nyeri dong. Perutku mules banget. Savanah menghela napas. Meski sering jengkel dengan sikap centil Monika, ia tak pernah bisa benar-benar mengabaikan sahabatnya itu. Mereka bersahabat sejak kuliah, meski kepribadian keduanya bagaikan langit dan bumi. Pintu lift terbuka di lantai tiga. Sunyi. Hanya lampu-lampu redup menyala. Ia berjalan menuju ruang kerja tim pemasaran satu. Di tangannya, ia sudah membawa obat pereda nyeri. Namun langkahnya terhenti saat mendengar sesuatu. Samar… seperti suara erangan tertahan. Alis Savanah terangkat. Suara itu berasal dari kafetaria kecil di pojok lantai tiga. Ia menajamkan telinga. “Uh… ah… jangan keras-keras… nanti ada yang dengar…” suara perempuan. Lalu disusul suara lelaki berat, menahan desahan. Wajah Savanah seketika memanas. Ia bukan tipe yang mudah bereaksi emosional, tapi kali ini darahnya mendidih. Di seluruh kantor Baskoro Group ada aturan tegas: tidak boleh ada aktivitas tak senonoh, bahkan untuk pasangan sah sekalipun. Dengan langkah lebar, ia menghampiri pintu kafetaria. Tanpa pikir panjang, ia menghentak gagang pintu dan— BRUKK! Pintu terbuka keras. Dan pemandangan yang tersaji di hadapannya membuat dunia seolah berhenti. Xaverio Ananda—calon suami yang sudah ia tunangi enam bulan terakhir—sedang menindih tubuh Monika di atas sofa. Leher Monika dicecupi penuh gairah, tangannya melingkari punggung Xaverio. “XAVERIO! MONIKA!” Suara Savanah menggema begitu keras hingga jendela bergetar. Kedua orang itu refleks menoleh. Mata mereka melebar. “S-sav…” Monika tergagap, buru-buru menurunkan rok yang tersingkap. Wajahnya merah, entah karena malu atau karena darah yang masih mengalir deras akibat gairah. Xaverio bangkit berdiri, wajahnya tenang tapi penuh amarah terselubung. “Kamu nggak paham situasi ya, Sav? Ini—” “Diam!” Savanah menunjuk tepat ke wajahnya. “Jangan satu kata pun keluar dari mulutmu. Aku muak.” Suasana menegang. Nafas Monika memburu. Ia mencoba berdiri, tapi terhuyung. “Sav, dengar aku dulu, ini—” “Cukup! Kau sahabatku, Monika! Sahabat yang kucintai lebih dari saudara kandungku sendiri, dan kau…” suara Savanah tercekat. Mata hitamnya basah, tapi air mata itu tak sempat jatuh. “Kau menusukku dari belakang.” Debat sengit pecah. Xaverio membela diri dengan sikap arogan. Monika malah bersikap playing victim, menyalahkan keadaan, bahkan menyebut Savanah terlalu dingin sehingga Xaverio “kesepian.” “Kesepian, katamu?” Savanah tertawa getir. “Kalau kau butuh kehangatan, Xaverio, kau bisa beli selimut, bukan menghancurkan harga diriku.” Teriakannya memecah sunyi. Rupanya, suara itu menggema sampai ke lobby. Dalam hitungan menit, karyawan yang masih ada, termasuk satpam, berhamburan ke lantai tiga. Mereka berkerumun di depan pintu kafetaria, wajah-wajah penasaran bermunculan. Saat itulah pintu lift terbuka lagi. Seorang lelaki masuk sambil mengangkat kardus besar bertuliskan “Barang Fragile”. Jaket kurir birunya sedikit pudar terkena matahari. Keringat menetes di pelipisnya. “Permisi, paket untuk Satpam Arman… Loh? Orangnya ke mana?” Sanji Wahyudi, kurir itu, celingukan. Lalu ia melihat kerumunan dan mendekat. “Ada apa ini, ramai-ramai?” tanyanya dengan suara lantang. Beberapa pegawai langsung menoleh. “Pak Xaverio ketahuan selingkuh sama Bu Monika…” bisik seseorang. Sanji mengerjap. “Waduh, sinetron kantor live, nih?” gumamnya sambil nyengir kecut. Ia berniat mundur, tapi pandangannya justru bertemu dengan mata Savanah. Mata yang biasanya dingin kini menyala bagai bara. Tubuh wanita itu bergetar menahan marah. Lalu, tanpa bisa dicegah, ia melangkah cepat ke arah Sanji. Dalam sekejap, tangan dinginnya mencengkeram pergelangan Sanji. Semua orang terpaku. Savanah berdiri di tengah kerumunan, suaranya lantang dan bergetar penuh emosi. “Mulai saat ini… pria ini adalah calon suamiku.” “Hah?!” hampir semua yang hadir berseru bersamaan. Sanji membeku. “Ehhh… apa-apaan, Mbak? Saya cuma nganter paket…” Tapi Savanah tak peduli. Ia meraih cincin pertunangan yang masih melingkar di jari Xaverio. Dengan gerakan tegas, ia mencabutnya. Lalu, di hadapan semua pegawai, ia menyematkan cincin itu ke jemari Sanji. Xaverio terperangah. Wajahnya yang biasanya pongah kini memerah karena malu. Gedung kantor Baskoro Group seketika heboh. Sanji menatap jemarinya dengan wajah pucat. “Astaga naga… gue baru makan indomie tadi siang, tahu-tahu langsung dilamar CEO?” Beberapa karyawan nyaris tertawa, tapi mereka buru-buru menutup mulut melihat tatapan tajam Savanah. “Mulai hari ini,” suara Savanah kembali lantang, “aku tak punya hubungan apa pun dengan Xaverio Ananda. Jika ada yang bertanya, tunanganku adalah Sanji Wahyudi!” Savanah melirik papan nama di d**a kiri Sanji. Ruangan sunyi. Semua hanya bisa menatap adegan dramatis itu. Sanji mengangkat tangannya yang kini berhiaskan cincin perak berkilau. “Eh… ini beneran, Mbak? Jangan-jangan saya lagi mimpi ya?” Savanah menoleh sekilas, matanya tajam, suaranya dingin. “Diam. Ikuti saja alurnya.” Sanji menelan ludah. “Alurnya kayak sinetron jam prime time begini, mbak…” Xaverio maju selangkah, suaranya penuh amarah. “Savanah, kau pikir aku akan tinggal diam dipermalukan di depan semua orang?!” “Diam, Xaverio!” bentak Savanah. “Kau sudah cukup merusak hidupku. Jangan harap kau bisa mempermalukanku lagi. Mulai malam ini, aku yang memutuskan jalan hidupku sendiri.” Kerumunan bergemuruh. Satpam, pegawai, bahkan resepsionis yang baru datang dari bawah, semua membicarakan hal itu dengan bisik-bisik. Sanji sendiri hanya bisa menghela napas panjang. Dalam hati ia berkata: Ya Tuhan, hidupku bakal berubah sejak malam ini… dari kurir biasa jadi calon suami CEO. Tolong, jangan biarkan aku mati kaget dulu. Sanji Wahyudi berdiri kaku di tengah kafetaria lantai tiga, wajahnya seperti baru saja disambar petir siang bolong. Jemarinya yang kurus dan penuh kapalan kini dihiasi cincin perak yang berkilau terlalu indah untuk seorang kurir. “Bu… eh, Mbak… eh, Neng CEO…” suaranya gemetar. “Ini serius? Jangan-jangan hidden camera ya? Saya masuk TransTV tanpa audisi gini?” Kerumunan pegawai yang masih bertahan nyaris menahan tawa, tapi tatapan tajam Savanah segera membekukan senyum mereka. Aura CEO itu begitu dominan, bahkan di tengah skandal besar seperti ini. “Sanji Wahyudi,” ucap Savanah tegas, suaranya dingin namun bergetar karena emosi, “mulai malam ini kau tunanganku. Ikuti saja semua yang kukatakan.” Sanji menelan ludah. Dalam kepalanya, jutaan pertanyaan berloncatan. Tunanganku? Ini maksudnya apa? Bukannya aku cuma kurir? Astaga, ya Allah, aku belum sempat bayar kontrakan kos bulan ini! Xaverio, yang berdiri tak jauh dari sana, menggertakkan gigi. Wajah blasteran Amerika-Sunda itu memerah, bukan hanya karena malu, tapi juga marah besar. “Savanah! Jangan bercanda! Kau pikir kau bisa mempermalukanku seenaknya dengan membawa masuk seorang kurir rendahan?!” Sanji spontan menoleh. “Eh, halo, Bang. Saya ada di sini juga lho. Jangan ngomong kayak saya kardus yang lagi saya bawa.” Beberapa pegawai tertawa cekikikan. “Diam, Sanji!” bentak Savanah sambil meremas tangannya lebih keras. Sanji langsung bungkam. Waduh, baru detik ini juga jadi tunangan, udah kena bentak. Berat, Jir. Monika berdiri di belakang Xaverio, wajahnya penuh air mata palsu. “Sav… kumohon jangan lakukan ini. Kau salah paham. Aku… aku nggak tahu harus bilang apa.” Ia menutupi wajah dengan telapak tangan, bergaya seperti artis drama London-Bali yang gagal casting. Savanah mendengus sinis. “Salah paham? Kau pikir mataku buta? Aku melihat sendiri tubuhmu ditindih oleh pria yang seharusnya jadi calon suamiku.” Monika terisak, lalu menatap Xaverio seakan-akan mencari perlindungan. Xaverio melangkah maju, mencoba meraih tangan Savanah. “Dengar aku, Sav. Semua ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Savanah menepis tangannya dengan kasar. “Cukup. Pertunangan kita sudah berakhir. Dan jangan pernah kau berani menginjakkan kaki lagi di kantor ini.” Kata-kata itu bergema di seluruh lantai tiga. Semua pegawai saling berbisik, sebagian sudah sibuk mengabarkan gosip panas itu lewat grup w******p kantor. Sanji hanya bisa mematung. Ya Tuhan, aku ini kurir. Tiba-tiba dijadikan tunangan CEO. Kalau emak di kampung tahu, pasti dia kira aku dukun, bukan kurir. Savanah menarik tangan Sanji dengan paksa. “Ikut aku.” “Eh, mau ke mana, Bu—eh, Neng?” “Ke mobilku.” Sanji hampir tersandung karena langkahnya tertarik terlalu cepat. Pegawai-pegawai memberi jalan, menatap mereka dengan campuran kagum dan tidak percaya. Beberapa berbisik, “Gila, kurir itu hoki banget…” Begitu mereka sampai di lobby, Sanji masih mencoba protes. “Bu—eh, Mbak Savanah, saya ini cuma orang biasa. Saya nggak ngerti kenapa—” “Diam.” Savanah membuka pintu mobil sedan hitam mewahnya, lalu mendorong Sanji masuk ke kursi penumpang. “Waduh, baru aja masuk mobil CEO, langsung kayak penculik begini rasanya…” gumam Sanji. Mobil melaju kencang meninggalkan gedung. Di dalam, suasana begitu hening, hanya ada suara mesin dan tarikan napas berat Savanah. Sanji melirik cincinnya. “Jadi… ini beneran ya, Mbak? Saya tunangan Mbak sekarang?” Savanah menoleh sekilas, matanya tajam. “Ya. Setidaknya untuk saat ini.” “Setidaknya untuk saat ini…?” Sanji mengerjap. “Maksudnya gimana tuh? Saya kontrak harian kayak paket kilat gitu?” Savanah menghela napas panjang. “Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Yang jelas, aku butuh seseorang untuk menutup aib Xaverio malam ini. Dan kebetulan… kau ada di sana.” Sanji terdiam. Oh, jadi aku ini kayak figuran yang diseret ke panggung karena pemeran utama kabur. “Aku akan membayar semua jasamu,” lanjut Savanah tanpa ekspresi. “Kau hanya perlu berpura-pura menjadi tunanganku sampai aku menyelesaikan masalah ini.” Sanji berkedip cepat. “B-bayar, Mbak? Maksudnya saya jadi semacam pekerja sambilan? Jadi tunangan kontrak? Astaga, hidupku makin aneh aja.” “Anggap saja begitu.” Sanji menggaruk kepala. “Ya udah deh, kalau ada bayarannya, saya jalanin. Tapi tolong, jangan suruh saya pake jas mahal-mahal, Mbak. Saya lebih nyaman pake jaket kurir. Keringetan aja udah biasa.” Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Savanah sedikit terangkat. Sang CEO dingin itu seolah melihat sisi kocak Sanji yang entah kenapa membuat dadanya sedikit lega di tengah amarah. Namun, tatapan itu hanya berlangsung sebentar. Ia kembali memasang wajah kaku. “Mulai besok, semua orang harus percaya bahwa kita pasangan. Kau mengerti?” Sanji mengangkat tangan dengan cincin berkilau. “Dengan benda ini, gimana orang nggak percaya? Kalau emak di kampung lihat, pasti langsung bikin hajatan tujuh hari tujuh malam.” Mobil berhenti di depan apartemen mewah milik Savanah. Ia turun lebih dulu, lalu menoleh pada Sanji. “Ayo.” Sanji melangkah keluar, membawa kardus paket yang tadi belum sempat diantar. “Eh, ini paket buat Satpam Arman, Mbak. Gimana nasibnya? Dia pasti nungguin.” Savanah menatapnya dingin. “Lupakan paket itu. Aku akan mengganti rugimu.” Sanji menatap kardus, lalu menatap Savanah. “Waduh, Arman pasti marah. Tapi ya sudah, demi drama hidup ini, kurbanin aja.” Mereka masuk ke dalam apartemen. Ruangan itu luas, dengan jendela menghadap kota penuh cahaya. Sanji berdiri kikuk di depan sofa putih. “Duduk.” Suara Savanah tegas. Sanji patuh, lalu memandang sekeliling. “Gila… apartemen Mbak ini luas banget. Kalau emak saya datang, pasti dia bingung nyapu dari mana.” Savanah tak menanggapi. Ia membuka laptop, mengetik sesuatu sambil berkata, “Mulai besok, aku akan mengatur jadwal agar kau bisa menemaniku dalam beberapa acara publik. Aku tak mau ada gosip buruk menimpa perusahaan.” Sanji menyandarkan punggung, wajahnya masih linglung. Jadi beginilah hidupku sekarang… kurir siang, tunangan kontrak malam. Kalau tetangga kos tahu, pasti mereka kira aku main film sinetron jam tujuh. Sunyi sesaat, lalu Sanji menatap cincin di jarinya. “Mbak Savanah…” “Apa?” Sanji menatapnya serius, suaranya pelan. “Makasih. Saya tahu Mbak lagi marah, lagi sakit hati. Tapi… kalaupun saya cuma dipakai jadi tameng, setidaknya saya bisa bikin Mbak nggak keliatan kalah di depan orang-orang tadi.” Savanah terdiam. Tatapannya melembut sejenak, meski hanya sepersekian detik. “Aku tidak butuh belas kasihanmu, Sanji.” Sanji tersenyum tipis. “Saya nggak kasihan, Mbak. Saya cuma… ya begitulah, kurir. Hidup saya isinya nganter paket orang. Kalau kali ini saya nganterin sedikit rasa lega buat Mbak, ya syukur aja.” Ucapan sederhana itu membuat d**a Savanah sesak. Ia memalingkan wajah, tak ingin Sanji melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Di luar, lampu kota berkelip. Malam itu, hidup keduanya resmi berubah—CEO dingin yang dikhianati, dan kurir ireng yang tiba-tiba jadi tunangan kontrak. Dan tanpa mereka sadari, Xaverio yang dipermalukan … sudah menyusun rencana balasannya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
220.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.8K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook